Review Buku: Buruh Menuliskan Perlawanannya

Jafar Suryomenggolo

 

Info Buku;

Buruh menuliskan perlawanannya. Bogor: Lembaga Informasi Perburuhan Sedane (LIPS) bekerjasama dengan Tanah Air Beta, 2015. 400 halaman +xviii

Penulis: Agus Japar Sidik, Atip Kusnadi, Budiman, Dayat Hidayat, Gito Margono, Hermawan, Lami, Fresly Manulang, Salsabila, Nuzulun Ni’mah, Sri Jumiati, Sugiyono, Supartono, Samsuri, Muryati.

Editor: Bambang Dahana, Syarif Arifin, Abu Mufakhir, Dina Septi, Azhar Irfansyah, Alfian Al-Ayubby Pelu.

 

“Adalah tugas serikat buruh untuk tetap mengimbangi tuntutan kaum majikan,” tutup Lucie Baud di bagian akhir tulisannya di satu majalah lokal yang terbit di tahun 1908. Lucie Baud adalah seorang buruh perempuan Perancis, yang lahir di tahun 1870. Di dalam tulisannya itu, dia menceritakan kisah perjalanan hidupnya sejak mulai bekerja di pabrik saat berusia 12 tahun, mengenal serikat buruh dan juga, keterlibatannya di dalam serikat, hingga dirinya dipecat dari pekerjaan. Semua itu dikisahkannya dengan lugas, tanpa tedeng-aling bunga-bunga bahasa, dan tak bertujuan minta dikasihani oleh pembaca tulisannya. Menurut sejarahwati Michele Perrot, keberanian Lucie Baud dalam menuliskan kisahnya inilah yang menjadi tema utama perjuangan buruh Perancis awal abad 20. Lucie bukan sekedar buruh biasa yang bekerja mengais upah dan berkeringat dalam lembur, ataupun penggiat serikat yang kerap membusungkan dada di dalam aksi-aksi. Tapi juga, seorang buruh yang telah mampu menuangkan pikiran dan perasannya dalam bentuk tulisan.

Buku Buruh menuliskan perlawanannya merupakan sumbangsih penting di dalam khazanah literatur buruh Indonesia. Mengapa penting? Karena buku ini menjadi bukti utama bahwa dunia tulis-menulis bukan lagi semata-mata milik para sarjana ataupun penggiat LSM. Selama ini para sarjana dan penggiat LSM – meskipun punya niatan yang baik dan bukannya tanpa pamrih – menuliskan kisah dan suara para buruh yang diandaikan begitu saja sebagai kaum tidak-terdidik. Kini, para buruh bisa dengan lantang dan juga tanpa takut menuliskan sendiri kisah dan suara mereka. Buruh tidak lagi bergantung pada kata-kata para sarjana ataupun penggiat LSM. Buruh mampu merangkai sendiri kata-kata dan menjadikan tulisannya itu sebagai alat perjuangan. Demikianlah, tulisan buruh menjadi loncatan penting di dalam bentuk perlawanannya atas kaum majikan dan gurita modal, seperti yang diisyaratkan oleh Lucie Baud juga.

Buku ini memuat tulisan 15 orang buruh – yang juga, dalam keseharian mereka sebagai penggiat serikat buruh, memuat kisah perjalanan hidup, dunia kerja, dan juga kegelisahan dan harapan dalam perjuangan mereka. Mereka semua datang dari beragam latar belakang, berbeda asal kota di pulau Jawa dan juga, memiliki pengalaman organisasi yang tidak seragam. Lima di antara mereka adalah perempuan: Lami, Nuzulun Ni’mah, Muryanti, Sri Jumiati, Salsabila (nama samaran). Tiap penulis memiliki titik-berat yang berbeda di dalam tulisannya. Pula, memiliki tema masing-masing yang kiranya penting untuk dicermati lebih lanjut secara lebih mendalam. Kiranya cukup disimpulkan bahwa tiap penulis punya perhatian yang beragam, yang sesuai dengan latar belakang dan pengalamannya masing-masing.

Sebagai kumpulan tulisan dari para buruh, buku ini dapat disejajarkan dengan karya serupa dari beberapa negara lain. Di beberapa negara industri maju, tulisan para buruh umumnya sudah dikategorikan khusus sebagai “pustaka proletar”. Di dalamnya termasuk: otobiografi, memoar, buku harian – yang semuanya ditulis para buruh. Seperti contoh, tulisan Lucie Baud dari Perancis awal abad 20. “Pustaka proletar” tidak hanya terbatas tulisan dari kaum buruh pabrik, tapi juga buruh rumah tangga (PRT) dan juga buruh dari beragam sektor lain. Contohnya, buku memoar Below Stairs (artinya: Di bawah tangga) karya Margaret Powell, seorang mantan buruh rumah tangga dan juru-masak lepas di Inggris tahun 1950-an, yang terbit pertama kali tahun 1968. Para buruh dari negara industri maju memang telah lebih dulu menuliskan pengalaman dan pikiran mereka. Ini tentunya terkait dengan laju industrialisasi yang mereka alami lebih dulu, dan juga latar belakang budaya baca-tulis yang mereka resapi. Dari Asia, dapat juga kita sebut misalnya tulisan beberapa buruh perempuan dari Korea Selatan tahun 1970-1980-an yang secara umum dikelompokkan sebagai “nodong munhak” (pustaka buruh). Tulisan para buruh perempuan Korea Selatan ini mencakup berbagai hal. Dari pengalaman keseharian sebagai buruh pabrik, kerasnya kehidupan sebagai perempuan dalam masyarakat yang patriarkis, dan juga harapan mereka akan perubahan sosial.

Membandingkan buku ini dengan karya-karya sejenis dari negara lain, kita dapat membaca tulisan 15 orang buruh ini sebagai genggaman pengalaman buruh Indonesia di dalam proses industrialisasi dan juga tantangan globalisasi awal abad 21. Yaitu, menjadi catatan awal dari pengalaman ini dirasakan, dialami dan juga ditulis ulang oleh para buruh sendiri. Sejauh para buruh dapat melihat pengalaman ini sebagai bagian dari kehidupannya dalam memanusiakan dirinya sendiri.

Sesungguhnya pula perlu kita sebut beberapa karya tulisan para buruh migran Indonesia (BMI) yang telah lebih dulu mengambil pena perjuangan. Misalnya, buku Catatan harian seorang pramuwisma karya Rini Widyawati, yang mengisahkan pengalamannya sebagai buruh migran di Singapura, yang terbit di tahun 2005. Juga, buku Geliat sang kung yan karya Maria Bo Niok (nama asli: Siti Mariam Ghozali) terbit tahun 2007, yang mengisahkan pengalamannya sebagai buruh migran domestik di Hongkong (disebut sebagai “kung yan”, yang artinya: buruh domestik). Ada juga buku Aku bukan budak karya Astina Triutami yang terbit tahun 2011, yang mengisahkan pengalamannya sebagai calon buruh migran di penampungan dan juga di masa awal penempatannya. Demikianlah, buku Buruh menuliskan pengalamannya dapat dibaca melengkapi karya tulisan buruh migran domestik yang sudah ada sebelumnya.

Pengalaman 15 orang buruh di dalam buku Buruh menuliskan pengalamannya merupakan cermin bagi buruh industri pabrik umumnya. Jika buruh sudah mampu menulis, maka besar harapan sesama buruh juga akan membacanya. Menjadikan siklus baca-tulis sebagai bagian dari pengalaman buruh Indonesia adalah perjuangan tiada henti. Perjuangan ini juga menjadi ujung tombak tugas serikat buruh – seperti yang ditulis Lucie Baud, untuk tetap mengimbangi tuntutan kaum majikan.

Leave a Reply