ADAKAH LAILATUL QADAR BUAT NURATMO ?

Foto: Nuratmo dan kawan-kawan protes kondisi kerja dan hubungan kerja yang buruk di Pertamina. Kredit: Mulyadi.

Kemarin malam, saat jeda salat Isya dan Tarawih, di mimbar masjid seorang penceramah memberikan kuliah pendek, yang disebut dengan Kultum. Isinya pengantar mengenai Ramadan yang sudah memasuki sepertiga terakhir.

Penceramah mengatakan, pada sepertiga Ramadan yang terakhir ini Gusti Allah menurunkan sebuah malam yang sangat istimewa; malam kemuliaan, Lailatul Qadar. Di malam Lailatul Qadar, apabila seorang hamba menjalankan ibadah pahalanya setara dengan seribu bulan atau kisaran waktu 83 tahun. Luar biasa sekali. Siapa yang tidak tertarik dengan janji Allah tersebut.

Sebagai penutup Kultum, penceramah mengajak jamaah untuk menjalankan i’tikaf atau berdiam di masjid selama sepuluh hari tersisa di bulan suci ini.

Isi ceramah demikian sudah sering saya dengar. Isi ceramah yang populer di tengah-tengah masyarakat. Materi ceramah  yang selalu menyertai penutup Ramadan kariim yang akan segera berlalu. Didorong dengan niat yang tulus, hampir seluruh kaum muslim berlomba menyambut malam Lailatul Qadar. Saya, sebagai muslim, meyakini secara mutlak akan datangnya Lailatul Qadar tersebut.

Tapi, sejak selesai tarawih kemarin malam, dan pada tarawih malam ini, pikiran saya tak berhenti berpikir ingin mengetahui apa yang sedang dikerjakan oleh Nuratmo, Ketua Awak Mobil Tanki Pertamina. Ia sedang berhadapan dengan tekanan yang luar biasa. Tekanan, yang kelak akan dia ceritakan dengan bangga pada anak cucunya ketika usianya senja. Untuk lelaki seperti ini, saya berkali-kali menyebutnya sebagai sosok yang menantang badai.

Entah kapan saya mengenal Nuratmo. Lelaki dengan aksen Jawa yang kental. Entah doa apa yang disematkan orangtuanya menamai Nuratmo. Saya menebak-tebak. Nur berasal dari bahasa Arab. Artinya cahaya. Sementara Atmo mengingatkan saya pada puisi Rendra, Balada Terbunuhnya Atmo Karpo. Puisi tersebut menceritakan raja yang bergelimang harta sementara rakyatnya sengsara dan kelaparan. Rendra menampilkan Atmo sebagai tokoh yang merampok harta kerjaaan untuk dibagikan kepada rakyat. Atmo melawan raja demi membela kaum miskin. Kemudian Atmo diburu dan terbunuh.

Saya bertemu Nuratmo pada November 2016 di Depo Plumpang. Saat itu Jakarta dihebohkan dengan ‘Aksi Bela Islam’. Sementara Nuratmo sibuk mengorganisasikan pemogokan awak tanki pertamina. Tentu saja pemogokan itu tidak memiliki kaitan dengan kehebohan Pilkada Jakarta. Inilah pemogokan pertama kawan-kawan Nuratmo. Saat itu saya datang bersama-sama serikat maritim Australia. Kami melibatkan diri dan menjadi bagian dari pemogokan tersebut.

Ah, kembali pada Lailatul Qadar. Keheranan saya belum terjawab ketika harus mengaitkan kemuliaan malam Ramadan dengan Nuratmo. Dengan gegabah tebersit dalam pikiran saya, Nuratmo dan ribuan sopir tanki pengirim bahan bakar minyak itu sedang ketiban ‘sial’. Ketika orang-orang bersila dengan tenang, memanjatkan doa kepada Sang Khalik, berurai air mata, dan melewati keheningan malam dengan khalwat, Nuratmo dan kawan-kawannya sedang bersabung nyawa; bertarung dengan maut di jalanan. 

Nuratmo dan ribuan sopir mobil tanki, justru sedang menanggung beban berlipat ganda dari majikannya menjelang hari-hari terakhir Ramadhan. Mereka bekerja dalam waktu yang lebih panjang,  menempuh rute lebih jauh dan memikul tanggung jawab yang lebih keras. Doktrinnya jelas: kamu bertangung jawab atas distribusi BBM ke semua SPBU dan memastikan para pemudik aman sentosa. Kalau kerjamu tidak benar maka akan menelantarkan jutaan kaum muslimin yang akan merayakan Hari Kemenangan bersama sanak keluarganya di kampung-kampung. Begitulah setiap tahun, mereka menanggung derita.

Kini, Nuratmo dan kawan-kawan bangkit. Tapi lagi-lagi mereka divonis ‘bersalah’. Pesan siaran dari Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga Rudy Permana menyebar di Whatsapp. Dia mengatakan, buruh-buruh tanki yang hendak menuntut haknya melalui mogok, sudah selayaknya dipecat. Pesan itu hendak menutupi buruknya kondisi kerja dan hubungan kerja di PT Pertamina.

Secara sederhana saya akan mengilustrasikan begini. Selama bertahun-tahun nyaris tidak ada yang mengajukan pertanyaan terbalik. Misalnya, ketika kendaraan bermotor mengantri mengisi bahan bakar, siapa yang memastikan bahan bakar minyak sampai di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) tepat waktu? Tahukah Anda bahwa para pengirim bahan bakar minyak (BBM) ke SPBU tersebut harus mandi keringkat di perjalanan selama 12 jam per hari dan 48 jam per minggu? Padahal peraturan mengatakan bahwa jam kerja normal adalah 8 jam per hari dan 40 jam per minggu. Nah, sisa kelebihan jam lembur tersebut tidak dihitung sebagai lembur. Tahukan Anda selama mengendarai pengiriman BBM mereka juga tidak memiliki jaminan keselamatan dan kesehatan kerja? Bagaimana jika mereka mengalami tabrakan di jalan hingga melepas nyawa? Risiko tanggung sendiri! Bertahun-tahun mereka disebut sebagai buruh kontrak yang dilempar kesana-kemari oleh penyalur tenaga kerjanya. Tunjangan Hari Raya (THR)? No way!

Saya meyakini, pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak muncul. Apalagi di era digital sekarang semuanya adalah kapitalisasi uang semata. Iklan-iklan bernuansa Islam dan Ramadan berseliweran di televisi, di papan iklan, dan di media sosial. Ramadan yang mulia ini juga tak lepas dari sekadar lirikan mata para majikan berebut tumpukan duit bermiliar rupiah. Dan lebaran? Adalah adu cepat memberikan citra nomor satu mendapatkan tumpukan rupiah. .

Nuratmo beserta ribuan sopir yang tenaganya diperas demi kenyamanan ritual tahunan bernama mudik, silaturahmi di bulan baik, dan wira-wiri manusia bersuka cita, kini sedang terpojok di belakang kemudi. Saat ini mereka terpojok oleh api kemarahan yang membakar hatinya. Betapa tidak, perusahaan minyak negara itu, justru memberikan parsel lebaran yang pahit. Sedikitnya 300 orang temannya dipecat tanpa alasan jelas hanya melalui pesan pendek telepon genggam. Kisah ini mirip sepatu lars yang mampir di batok kepala seseorang yang sedang ditimpa duka lara.

Malam-malam ini, menjelang pemogokan yang telah dideklarasikan akan dimulai 19 Juni 2017, saya yakin seluruh energi Nuratmo terkuras memikirkan ribuan temannya yang masa depannya membara selaksa api disiram Pertamax. Saya berpikir sederhana, akankah Nuratmo dan kawan-kawan kehilangan kesempatan Lailatul Qadar karena mereka berada di jalanan?! Tidak! Mereka sedang menyambut Lailatul Qadar dengan cara mereka; tegak berdiri bersama orang-orang tertindas; orang-orang yang sudah kehilangan masa depannya untuk waktu yang tak tentu, terjepit di lorong hitam gelap.

Malam semakin larut, bintang-bintang di langit semakin redup seperti kekurangan minyak. Sayup terdengar orang mengaji di mushala, berburu Lailatul Qadar. Saya berbisik, “Gusti, berikan malam kemuliaan untuk orang-orang tertindas ini, sebagaimana janji-Mu dalam KitabMu:

“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi dan hendak menjadikan mereka sebagai pemimpin dan menjadikan mereka sebagai pewaris (bumi).” (al-Qashashah: 5)

Ampuni kami dan kabulkanlah doa-doa kami. Amin.

Nuratmo, Ayo! Mogokkan semua Depo. Biar orang tahu, seperti apa malam-malam gelap telah menghantuimu bertahun-tahun.

Hormatku untukmu dan semua buruh yang bertarung!

Ekamas,  21 Ramadhan 1438 H.

Khamid Istakhori, Komite Eksekutif Serikat Buruh Kerakyatan (Serbuk) dan Pengurus Pusat Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI).

Leave a Reply