Reading Time: 4 minutes
image_pdfPDFimage_printPrint

Aksi Gerak Perempuan berawal di depan Kantor Bawaslu. Pengamanan garis depan oleh Satpol PP. Sekelompok Polwan, baru datang menjelang jam 11 siang. Tidak terlihat polisi selain yang mengatur lalu lintas. Bersamaan dengan Polwan, datang polisi bersepeda motor dan bersenjata.

Massa aksi didominasi oleh anak muda, laki-laki, perempuan, transgender. Kelompok yang berpartisipasi lebih beragam. Dari pandangan mata terlihat kelompok PRT, SRMI, OPSI (Organisasi Perubahan Sosial Indonesia), SBMI, Migrant Care, kelompok berbendera pelangi, transgender, LBH Apik, dan masih banyak lagi. Massa kurang lebih 500 orang. Mereka bernyanyi dan meneriakkan yel-yel, “lawan patriarki sekarang juga.”

Di beberapa tempat, terlihat massa aksi berseragam merah, hitam dan biru berkelompok. Mereka enggan bergabung dengan massa aksi karena belum ada instruksi. Ketika massa aksi mulai bergerak, mereka tidak ikut dalam barisan dan menunggu kedatangan mobil komando.

Massa aksi sudah mulai bergerak meninggalkan Kantor Bawaslu ketika mobil komando KASBI datang. KASBI menurunkan dua mobil komando; dari Tangerang dan Karawang. Massa pun berhenti di depan menara Thamrin untuk mengatur barisan. KASBI membawa massa dari Cimahi (3 bis), Karawang (2), Subang (2) dan Tangerang. Tidak lama setelah mokom Kasbi datang, mokom KPBI datang diikuti oleh massa KPBI yang tidak banyak.

Massa buruh hari itu adalah KASBI, KPBI, GSPB, KSN. Pengaturan formasi massa aksi berlangsung agak lama. Paling depan adalah tiga mobil komando, lalu Bara KASBI, banner besar yang dibawa oleh massa KASBI, lalu disusul dengan pengusung poster, lalu spanduk besar khas aksi KASBI.

Massa non-buruh “tergeser” ke belakang. Mereka “terpaksa” menunggu pengaturan formasi yang cukup lama, dan terpaksa mau diatur oleh mobil komando. Aksi secara resmi dibuka dengan yel-yel khas aksi buruh dan orasi Nining Elitos, Ketua Umum KASBI. Nining mengingatkan bahwa Omnibus Law tidak akan hanya berdampak pada buruh saja, namun juga petani, nelayan, bahkan orang-orang yang bekerja di kantor.

Yel-yel “Rakyat bersatu tolak omnibus law” dan orasi dari atas mobil komando ditanggapi dingin oleh massa aksi nonburuh. Beberapa massa aksi nonburuh justru menertawai isi orasi dan teriakan pembakar semangat dari mobil komando. Setelah menunggu pengaturan formasi yang tidak selesai-selesai, di bawah matahari terik dan orasi di mobil komando yang banyak berisi tentang PHK dan kondisi kerja, sebagian massa dari kelompok nonburuh keluar dari barisan.

Sebenarnya tidak benar juga membagi isu antara buruh dan nonburuh. Aksi IWD 2020 adalah aksi aliansi yang terdiri dari banyak organisasi seperti Solidaritas Perempuan, Komnas Perempuan, yang fokus di berbagai isu seperti LGBT, buruh Migran, Pekerja Rumah Tangga, Trangender, dan lain-lain. Maka sudah sewarjarnya jika isu yang dibawa juga beragam. Namun, melihat formasi aksi dan besarnya massa yang hampir setengah-setengah antara massa buruh dengan nonburuh, maka dengan sangat mudah melihat perbedaan isu yang diusung.

Massa buruhNon-Buruh
Isu:
Omnibus Law
RUU Ketahanan Keluarga
Kekerasan sistematis terhadap perempuan

KASBI membawa satu banner “Bebaskan kawan kami yang ditahan oleh Polresta Tangerang”
Isu:
Kendali atas tubuh
pelecehan seksual
Menyalahkan korban (victim blaming)
seksualitas

Sebagian besar poster berbahasa Inggris

Tuduhan berdasarkan aksi IWD ini adalah isu-isu “maju” seperti seksualitas, politik tubuh, hak yang berhubungan dengan seksualitas, pelecehan dan kekerasan seksual lebih menarik untuk anak-anak muda ketimbang isu-isu “tradisional” seperti jaminan sosial, penitipan anak, cuti haid dan cuti melahirkan, apalagi upah yang cukup bagi perempuan.

Baca juga:   Protes dan Perayaan: Hari Perempuan 2018 di Berbagai Negara

Selain menarik anak muda, isu-isu “maju” juga lebih menarik bagi kelas selain buruh, misalnya akademisi, pekerja kantoran.

Demonstrasi Hari Perempuan Internasional, 8 Maret 2020. Jakarta. Foto: LIPS/Oza

Kembali ke aksi. Akhirnya aksi bergerak maju. Namun pelan-pelan dan beberapa kali behenti. Setiap kali orasi, massa aksi dihentikan. Orasi di mobil komando tidak terdengar sampai ke belakang. Massa di belakang menggerutu.

Saya mendengar kabar bahwa di Monas ada rombongan lain yang sudah menggelar aksi. Komite Perempuan IndustriAll memulai aksi jam 9 pagi dari Patung Kuda dan mengakhiri aksi menjelang jam dua belas siang.

Saya ingin melihat kelompok di Monas, maka saya meninggalkan rombongan Gerak Perempuan menuju Monas. Di sepanjang jalan ke Monas banyak orang duduk-duduk menunggu massa aksi. Mereka akan bergabung dengan massa aksi tapi tidak mengikuti long march dari Kantor Bawaslu.

Tidak biasanya pengamanan selonggar ini. Kementerian Pertahanan biasanya dijaga ketat dan disiapkan kawat besi untuk blokade di depannya. Namun kali ini tidak ada. Sampai di depan MK (Mahkamah Konstitusi) baru terlihat satu kendaraan lapis baja, sekompi Brimob berpakaian dan bersenjata lengkap bersiap-siap menyambut kedatangan massa aksi.

Tidak lama kemudian, sekompi tentara berpakaian dan bersenjata lengkap, termasuk tameng, dipindahkan dari Monas ke depan MK. Rupanya mereka berencana menghadang massa aksi. Ketika massa mencapai depan Gedung MK, saya sudah di Monas. Aksi Komite Perempuan IndustriAll sudah selesai. Namun sempat bertemu dengan beberapa teman yang masih di sana.

Baca juga:   Para Pengingat Hak-hak Perempuan

Komite Perempuan IndustriAll mengangkat isu cuti melahirkan 14 minggu, ratifikasi Konvensi ILO 190, dan hentikan kekerasan terhadap perempuan. Massa berjumlah sekitar 200 orang.

Massa Gerak Perempuan dihentikan oleh blokade Polisi dan Tentara di depan Gedung MK. Beberapa perwakilan bernegosiasi. Polisi berdalih bahwa ini bukan blokade tapi izin aksi hanya di tiga lokasi dan tidak melewati RRI. Polisi mengatakan bahwa tidak boleh lewat depan RRI. Polisi juga mengatakan bahwa mereka sedang merekayasa jalan agar massa aksi bisa lewat jalur sebelah kiri alih-alih sebelah kanan yang melewati RRI.

Sementara Ketua Umum KASBI dan perangkat aksi bernegosiasi dengan Polisi, pelan-pelan massa aksi nonburuh bergerak ke Monas sedikit demi sedikit, tidak peduli dengan mobil komando yang diblokir di depan Gedung MK. Sebagian yang lain balik kanan dan pulang. Juga tanpa peduli dengan mobil komando yang diblokir.

Massa yang besar dengan perangkat aksi yang lengkap dan formasi aksi yang bagus memang terlihat kompak, “terorganisir” dan “terdidik” seperti slogan kelompok buruh. Tetapi massa besar dengan menggunakan mobil komando mengandung kerugian seperti yang terjadi kemarin, ketika dihadang maka tidak akan bisa lari. Sedangkan massa cair tanpa perangkat aksi yang besar-besar, tanpa formasi tertentu dan tanpa mobil komando adalah mereka bisa berkumpul kapan saja dan bubar kapan saja tanpa terpengaruh oleh blokade yang dilakukan oleh polisi dan tentara.

Meskipun kelompok yang tidak diblokir sampai di Monas lebih dahulu, mereka tidak melanjutkan aksi. Atau, mungkin lebih tepat melanjutkan aksi dengan duduk berkumpul di bawah pohon sambil menunggu massa aksi yang diblokir. Dan, pemblokiran memang tidak lama. Sekitar jam setengah tiga, ketiga mobil komando melewati pemblokiran dan tiba di Monas. Orasi demi orasi pun dilakukan.

Saya memutuskan pulang bahkan sebelum aksi menunjukkan tanda-tanda selesai. Lelah.

Di jalan pulang, saya merenung dan bertanya apa yang hilang dari aksi IWD tahun ini? Oh iya, Women’s March! Sejak 2017, Women’s March mengorganisasikan aksi massa IWD di beberapa kota di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Namun, tahun ini Women’s March tidak melakukannya. Women’s March cukup berhasil memperkenalkan cara aksi baru, yaitu dengan pengorganisiran isu dan mobilisasi massa melalui media online, peserta aksi datang sendiri-sendiri, membawa poster tuntutan sendiri, dan bubar atas kemauan sendiri juga. Cara aksi begini sepertinya diminati oleh kaum muda dan mampu mengundang keterlibatan orang dari kelas yang berbeda. Kelompok berjilbab besar juga tidak muncul dalam aksi kali ini. Tahun lalu mereka membawa poster Peserta aksi berjilbab besar dan pembawa tuntutan seperti “jangan atur pakaianku” dan “Makanya tutup auratmu, biar tidak dilecehkan.”

 

Penulis: Dina Septi dan Lukman

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *