Ficky Alfira Wiratman

Aku bekerja di PT Grahawita Cendikia, perusahaan yang mengelola bisnis perhotelan, yaitu Hotel Santika Bogor. Aku bekerja sebagai steward di Departement Food and Beverage Product.

Pada 22 Juli 2016 aku menandatangani kontrak kerja dengan status daily worker dengan gaji Rp 125.000 per hari. Dalam surat perjanjian tercantum hanya 8 jam kerja. Nyatanya, aku bekerja 12 jam per hari.

Selama bekerja aku membeli sendiri atribut sebagai pekerja, seperti sepatu safety.

Posisiku bekerja yaitu di dapur selalu berurusan dengan alat-alat dapur, pengoperasian mesin, chemical dan air.

Alat dan bahan-bahan yang aku kerjakan turut merusak sepatu kerja. Lapisan kulit luar sepatu akan terlihat rusak dan air mulai merembes ke dalam sepatu. Rasanya tidak nyaman. Akhirnya, tiga bulan sekali, terkadang, aku harus segera mengganti sepatu. Dengan uang sendiri.

Ternyata tak hanya aku yang mengalami hal tersebut. Teman-temanku yang lain merasakan hal serupa. Mereka pun harus segera mengganti sepatunya jika sudah mulai terlihat rusak. Teman-temanku tidak selalu membeli sepatu baru, tapi mencoba mencari pinjaman sepatu yang masih bisa dipakai kepada kawan-kawan di bagian cook atau helper.

Tempat kerja tidak aman

Bekerja di lingkungan dapur tidak aman, karena berurusan dengan benda-benda tajam seperti pisau; cair seperti air dan minyak; dan panas, seperti api. Sayangnya, selama bekerja kami tidak mendapatkan bekal mengenai kesehatan dan keselamatan kerja. Memang tidak ada tim dari perusahaan yang menangani bidang tersebut.

Aku lihat dalam situasi kerja seperti ini sangat rentan terjadi kecelakaan kerja yang serius. Di lapangan hanya sebatas panduan teknis penggunaan alat-alat serta cairan kimia. Jumlah Alat Pelindung Diri terbatas. Selebihnya, tentang dampak-dampak bahan kimia di ruangan kerja di tanggung masing-masing orang.

Kami bekerja dengan jam kerja yang tinggi. Tekanan terhadap pekerjaan pun cukup intensif dan pengetahuan yang minim. Mau tidak-mau, kami dipaksa untuk selalu siap secara fisik, memiliki tenaga ekstra, serta selalu berhati-hati. Hanya itu bekal kami.

Selain rentan mengalami luka goresan logam, kami perlu berhati-hati pula dengan alat-alat kerja yang terhitung tua. Alat-alat yang berada di area perusahaan belum diganti sejak perusahaan berdiri, yaitu pada 2008.

Misalnya mesin diswashing hanya ada satu buah di area dapur. Mesin ini tidak pernah diadakan maintenance. Jika mesin ini mengalami kerusakan dan dalam keadaan perbaikan, kami bekerja manual. Berarti waktu yang diperlukan lebih banyak.

Mengoperasikan mesin tua, adalah kendala. Kendala lainnya kadang muncul dari bagian teknisi. Ketika mesin mengalami kerusakan, tak jarang para teknisi itu malah menyalahkan kami. Bagiku cara seperti ini tidak masuk akal. Bagaimana tidak, mesin yang dioperasikan 24 jam dan setiap hari tidak pernah ada maintenance, tidak mengalami kerusakan?!

Sempat beberapa kali aku merekomendasikan kepada bagian teknisi. Mesinnya memang sudah selayaknya harus diganti dengan yang baru. Katanya, pihak teknisi sudah berbicara dengan general manajer hotel. Seperti diduga, pergantian mesin tak pernah terwujud. Aku menyerah dan bekerja seperti biasa saja.

Tiba-tiba dipecat

Setengah bulan bekerja. Aku menemukan hal yang aneh dengan kebijakan perusahaan. Kawan-kawanku yang sudah bekerja 2 tahun tiba-tiba mendapatkan pemutusan kontrak kerja. Dalihnya, pemutihan.

Tak hanya itu. Ada juga kawanku yang sudah bekerja selama lebih dari 5 tahun statusnya kontrak; kontraknya diputus juga. Ternyata kebijakan itu bekerja semua departmen.

Menurutku ini adalah dalih PHK massal secara beruntun dalam kurun waktu satu tahun. Agar buruh lama diganti dengan yang buruh baru. Kalau buruh yang baru akan lebih turut pada kebijakan perusahaan. Menurutku, pergantian ini bukan soal skill dalam bekerja tapi tentang kepatuhan-buta terhadap perusahaan.

Pernah ada buruh baru. Aku biasa memanggilnya Abah, karena lebih tua dariku, sekitar 44 tahun. Dia bagian engineering. Abah baru bekerja dua bulan. Tiba-tiba putus kontrak.

Cerita Abah yang putus kontrak, memang ada unsur persaingannya sesama buruh. Awalnya departemenku meminta bagian engineering memperbaiki mesin dishwashing. Abah pun memperbaikinya. Setelah diperbaiki semua sudah berjalan kembali total dan tidak pernah ada kendala lagi.

Menurutku executive engginering merasakan cemburu karena melihat kemampuan Abah, buruh yang baru bekerja tapi paham di bidangnya. Abah pun di-cut tanpa alasan yang jelas.

Sempat aku mempertanyakan kepada executive engginering: mengapa Abah diputus kontrak. Katanya, faktor umur.

Aku pun mempertanyakan kepada HRD. Tapi jawabannya berbeda. Katanya, Abah diterima bekerja hanya untuk mengisi kekosongan buruh yang sedang pemutihan.

Setelah pengurangan buruh lingkungan kerja semakin memburuk. Pernah aku bekerja selama 15 jam karena kekurangan tenaga kerja. Sebenarnya 15 jam itu tidak termasuk jam lembur otomatis tanpa uang lembur.

Peran dan tugas sebagai steward memang bertumpuk. Terkadang aku dan rekanku harus membuat list barang yang dihitung manual yang disebut dengan inventory.

Inventory dilakukan satu kali sebulan. Aku mulai me-list barang-barang sekitar pukul 23.00 sampai subuh tiba. Ironisnya inventory yang aku lakukan tidak ada hasilnya. Upah lembur pun tidak aku dapatkan.

Sekitar Juli aku mendapat kabar. Kabarnya, rekan kerjaku di bidang yang sama dan masa kerjanya berbeda sebulan denganku akan habis masa kerjanya. Namun hal lain terjadi di executive chef. Semuanya diminta membuat dan mengajukan CV baru. Aku pun diminta demikian.

Mendengar kabar itu, aku langsung mempertanyakan kepada rekan-rekan kerjaku. Jawabannya sama. Tapi rekan kerjaku menilai lain. Katanya kemungkinan akan ada pengangkatan jabatan menjadi staff perusahaan. Aku ragu, bahkan khawatir jika ini hanya permainan saja; sebatas kompetisi sesama buruh.

Tibalah masa tersebut. Dugaanku benar-benar terjadi. Rekan kerjaku tidak terpilih menjadi staff, tapi aku yang mungkin akan terpilih. Tebersit dalam pikirkanku,

“Jika aku yang diangkat staff, kemungkinan akan mendapatkan tekanan berat. Aku harus menerapkan semua standar operasional dengan sempurna. Aku pun harus mengedukasi kawan-kawan yang baru bekerja di bidangku. Aku akan berhadapan dengan kawan sendiri, bahkan menekan mereka. Aku tidak sanggup!”

Tibalah masanya aku menghampiri akhir kontrak kerjaku. Jalan yang aku pilih adalah mengikuti kontrak kerja yang sudah aku tandatangani. Aku keluar dari pekerjaan.

Beberapa rekan kerjaku bertanya, “Mengapa aku keluar?” “Mengapa tidak bersedia diangkat menjadi staff”

Langkah yang aku ambil tentu berisiko. Semua upayaku memperbaiki kondisi kerja ternyata tidak membawa dampak apapun. Setahuku, di perusahaan tersebut tidak pernah ada yang menolak pengangkatan jabatan, inilah perlawananku.

 

Baca juga:   Derita Tahunan Buruh Transjakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *