Hampir dua dekade runtuhnya rezim otoritarian Soeharto nampak belum membawa kesejahteraan bagi rakyat, khususnya kelas buruh. Lepas dari kontrol represif kapitalis-birokrat, kroni Soeharto masuk dalam bulan-bulanan alam berbahaya neoliberalisme. Di bawah neoliberalisme, negara menyediakan instrumen dalam bentuk kebijakan serta alat-alatnya untuk menjamin akumulasi kapital berjalan mulus. Sektor yang paling menjadi sorotan yaitu penyediaan iklim pasar tenaga kerja fleksibel. Pasar kerja fleksibel mensyarakan interaksi bebas antar pengguna tenaga kerja dengan tenaga kerja, dianggap mampu menciptakan iklim produksi yang efisien. Pengguna tenaga kerja bebas mencari tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan rasional pengguna, sedangkan pekerja bebas menentukan pilihan pengguna tenaga kerja sesuai dengan pilihan rasional pekerja (Purdy, 1988).Read More →

Khamid Istakhori Panggung di Convention Hall Kampus Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Jogjakarta itu tampak terlalu luas, jika hanya diisi oleh tiga lelaki berperawakan kecil. Di atas pangggung seluas 8 x 6 meter itu, suara-suara mereka menggemakan seisi gedung. Mereka adalah Nyonyor yang sepanjang hidupnya Numpang Tenar. Sampai tulisan ini dibuat, ia tak bersedia menyebut nama aslinya. Hanya mau disebut Nyonyor Numpang Tenar, sebagaimana ditulis di profil facebook-nya. Nyonyor berambut gimbal, seperti pemusik legendaris Bob Marley. Ia memang penyuka musik Reggae. Ada pula Ridlo Sorak, bukan pula nama sesuai kartu tanda penduduk. Orang ini pandai bermain musik balada. Ia hampir menghabiskan hari-harinya di metro miniRead More →

April Perlindungan Karena ketidakadilan agraria, ribuan perempuan buruh migran dikirim ke luar negeri. Akibat kehilangan tanah, perempuan buruh dipancung di Arab Saudi. Karena ketimpangan penguasaan tanah, di pabrik-pabrik buruh perempuan diupah murah. Karena tiada lahan, perempuan perkotaan sulit cari air bersih, sulit cari penghidupan. Karena laut ditimbun, perempuan nelayan tak dapat ikan. Karena kesehatan mahal, reproduksi perempuan terancam. Jika perempuan belum bangkit melawan, bertarung dalam dinamika gerakan sosial dan politik, untuk merebut kekuasaan, merebut ruang, merebut sumber-sumber agraria, maka perempuan akan selalu marjinal. Rebutlah sumber-sumber agraria Kelola dengan batin perempuan, dengan cara perempuan dengan konsep perempuan dengan penguasaan perempuan Karena, penguasan sumber agraria oleh perempuanRead More →

Bambang TD Berminggu-minggu Bambang Harri terbaring di rumahnya. Sakit. Hari itu ia dilarikan ke Rumah Sakit Santo Yusuf, Bandung, setelah mengeluh sesak nafas. Berita menyebar cepat melalui telepon dan pesan singkat (sms). Keluarga dan teman-teman dekat bergantian menemaninya di rumah sakit. Beberapa kawan dari luar kota berdatangan menjenguk. Di ruang tunggu bangsal rumah sakit dering telepon genggam hampir tidak henti. Kawan lama menelepon menanyakan perkembangan keadaan Bambang Harri. Semua yang menunggu di rumah sakit tampak tertekan dan prihatin. Bambang Harri tubuhnya kurus kering digerogoti kanker getah bening. Bermacam peralatan bantu menempel ditubuhnya. Sebentar-sebentar hilang kesadaran dan melewati beberapa kali keadaan kritis. Sesudah empat hari dirawatRead More →

Mohammad Setiawan Hingga Minggu kedua Januari 2017 linimasa media sosial saya diramaikan tentang sosok Wiji Thukul dan film Istirahatlah kata-Kata. Film tersebut diputar serentak di 19 Januari di 19 Kota. Tak berhenti dengan jumlah tersebut, bertambah pula beberapa kota lainnya. Per 24 Januari, saya pun berkesempatan menghadiri salah satu rangkaian acara untuk mengenang Wiji Thukul, di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Selain menonton film, acara tersebut diiringi pula dengan ngamen puisi. Ngamen puisi dibuka oleh beberapa pembacaan puisi dua sampai tiga orang. Di acara itu Fitri Nganti Wani (27) dan Fajar Merah (22), dua anak Wiji Thukul, tampil memukau di hadapan sorotan mata seusia saya.Read More →