Mohammad Setiawan Hingga Minggu kedua Januari 2017 linimasa media sosial saya diramaikan tentang sosok Wiji Thukul dan film Istirahatlah kata-Kata. Film tersebut diputar serentak di 19 Januari di 19 Kota. Tak berhenti dengan jumlah tersebut, bertambah pula beberapa kota lainnya. Per 24 Januari, saya pun berkesempatan menghadiri salah satu rangkaian acara untuk mengenang Wiji Thukul, di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Selain menonton film, acara tersebut diiringi pula dengan ngamen puisi. Ngamen puisi dibuka oleh beberapa pembacaan puisi dua sampai tiga orang. Di acara itu Fitri Nganti Wani (27) dan Fajar Merah (22), dua anak Wiji Thukul, tampil memukau di hadapan sorotan mata seusia saya.Read More →

Syarif Arifin Ilustrasi.  Soeharto menghabisi nyawa manusia dengan mudah dan murah. (Sumber: http://www.kumpulangambar.com/gambar-lucu-enak-jamanku-toh.php Dua tahun lalu, di sebuah diskusi serikat buruh di Bekasi Jawa Barat. Seorang pengurus serikat buruh mengeluhkan pertumbuhan cepat jumlah serikat buruh dan keadaan perburuhan semakin tidak menentu. Ia menandaskan bahwa pada zaman dulu, serikat buruh bersatu dipayungi FBSI (Federasi Buruh Seluruh Indonesia). Baru-baru ini pun tersiar kabar. Ada keinginan dari beberapa federasi serikat buruh di Jakarta ‘menyederhanakan’ kembali serikat buruh. Katanya, pendirian serikat buruh yang terlalu mudah membuat serikat buruh ‘terpecah’. Keadaan yang menguntungkan buruh dan persatuan buruh merupakan dua variabel yang berbeda. Relasi keduanya tidak linier. Tulisan ini tidak membahasRead More →

Gafur Gavara[1] Suatu petang selepas Magrib di sebuah warung jamu di pinggiran ibu kota. Di luar sana suara hujan rintik, ditimpali parau teriakan kenek memanggil-manggil penumpang dan deru angkot yang ngetem dan lalu-lalang. Kami duduk melamun menghalau lelah, disertai beberapa gelas kecil bening jamu kuat, kawan sejati bagi kami untuk berlomba-lomba mengais rezeki. “Bray, maneh udah tahu kabar baru ?“ sapa si Ujang mengagetkanku. “Kabar apa?“ “Perusaahan kita mau di akusisi sama bule jepang.“ “Akuisisi apa?“ “Itu maksudnya sahamnya diambil.“ “Kata siapa Lae? Jangan aneh-aneh! Awak masih capeknya pun, baru kelar urusan kerja, kau pulak datang tak karuan,“ David menimpali. “Aku teh denger kabar teuRead More →

Syarif Arifin “Emak-emak ini terbagi dua. Ada yang bekerja dan ada yang tidak. Emak-emak PDK ini sudah teruji. Banyak pengalaman yang didapat,” kata Kokom. Bagaimana perempuan pembuat sepatu Adidas dan Mizuno itu berpartisipasi di organisasi? Berhadapan dengan represi yang rumit metodologi pembangunan serikat buruh diuji. Rerata pendidikan perempuan tersebut sekolah menengah atas, sisanya adalah sekolah menengah pertama dan tamatan sekolah dasar. Lama-tidaknya sekolah formal memang tidak memiliki korelasi dengan keberanian melawan. Namun, berpengaruh terhadap kerangka pendidikan dan pengorganisasian yang dilaksanakan oleh serikat buruh. Rupanya kegiatan pendidikan tidak dibatasi dengan belajar peraturan perundangan. Mereka belajar teknik menulis, mempelajari ekonomi-politik, dan sebagainya. Selain itu, “Untuk meningkatkan pengetahuanRead More →

Syarif Arifin Protes yang diinisiasi oleh buruh PT PDKB tidak lazim. Mereka tidak memilih menyelesaikan kasus ke Pengadilan Hubungan Industrial (PHI). Munculnya isu suap hakim adhoc di PHI Jawa Barat, mendorong ketikdapercayaan terhadap PHI. Ada pula kejadian langsung yang mendorong pilihan tersebut. Kokom Komalawati dan Djamal Fikri adalah dua pengurus yang menolak pemecatan dengan dalih efisiensi. Mereka mengadukan kasusnya ke Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Tangerang. Anjuran Disnaker agar keduanya dipekerjakan digugat oleh perusahaan ke PHI.  Sementara Djamal menerima kebijakan kompensasi, Kokom menjalani proses pengadilan. Ternyata PHI mengeluarkan putusan bahwa Kokom diputus hubungan kerjanya. Karena alasan-alasan itulah para buruh memutuskan bahwa keadilan tidak  didefinisikan dan diberikanRead More →