Di Sukabumi, Irfan tidak diperpanjang kontrak kerjanya karena sedang berusaha mendirikan serikat buruh. Ahmadi Suandi tidak diperpanjang kontrak kerjanya akibat protes pada sikap atasan yang sering berkata kasar. Sumiarti tidak diperpanjang kontrak akibat mempertanyakan hak cuti melahirkan. Dan masih banyak lagi nama-nama lainnya. Secara “resmi” perusahaan menyatakan bahwa yang bersangkutan tidak diperpanjang lagi kontraknya karena berkurangnya pekerjaan yang ada. Meski faktanya kemudian perusahaan merekrut lagi orang baru untuk meggantikan mereka. Sehingga alasan berkurangnya pekerjaan sulit diterima akal bahkan dapat dikatakan tidak benar adanya. Bahkan mayoritas nama-nama di atas tercatat memiliki kondite kerja yang baik. Dan secara “resmi” pula, isi paragraf pertama di atas adalah tuduhanRead More →

Mungkin ini hal yang membosankan untuk terus dibicarakan. Tapi, aku rasa, tidak ada salahnya membicarakannya kembali; sistem kerja kontrak. Pengalaman langsung yang memberikan gambaran lebih lengkap tentang persoalan-persoalan yang dihadapi buruh kontrak. Ingatan Awal Sistem kerja kontrak ini mulai disahkan dalam peraturan negara sejak 1997 dengan terbitnya Undang-Undang Ketenagakerjaan Nomor 25. Dalam Pasal 16 disebut perjanjian kerja untuk waktu tertentu.  Model kerja demikian muncul atas desakan IMF (International Monetary Fund) dan World Bank terhadap Indonesia, sebagai syarat bantuan yang diberikan pada saat krisis ekonomi 1997. Desakan tersebut termuat nota kesepakatan antara Indonesia dan IMF pada butir ke 37 dan 42. Sistem kerja kontrak disebut sebagaiRead More →