Lebih dari 150 aksi sudah dilakukan, belasan lembaga negara didatangi, aliansi internasional dibangun, sampai kini kasus PHK 1300 buruh PT Panarub DwiKarya (PDK) belum juga menemukan titik akhir. Bahkan ILO pun sudah mengeluarkan rekomendasi kepada pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini dengan cara yang sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. Kasus ini berawal pada 2012, ketika itu buruh PDK sepakat untuk mendirikan serikat. Perusahaan merespons hal tersebut dengan memecat sembilan orang pengurusnya. Serikat melawan PHK dengan melakukan mogok kerja yang diikuti lebih dari seribu orang buruh. Perusahaan melakukan serangan balik dengan memecat1300 orang yang terlibat pemogokan. Hak-hak 1300 buruh yang di-PHK inilah yang masih diperjuangkan sampai hari ini.[i] BeberapaRead More →

Dua minggu sebelum Mayday aku jatuh sakit yang membuat Aku harus “merayakan” Mayday di rumah. Kecewa dan sedih karena tidak bisa bergabung dengan teman-teman di Jakarta. Namun, biar tampak sibuk dan tak mau ketinggalan cerita, aku mengumpulkan berita seputar Mayday di beberapa daerah dengan bantuan mbah google. Hasilnya lumayan. Macam-macam bentuk ‘perayaan’ dilakukan. Tentu saja dengan ‘dongeng’ mayday-nya masing-masing. Tulisan ini mencoba merangkum ragam kegiatan mayday di berbagai daerah dengan cara dikelompokkan berdasarkan tema. Kegiatan yang dicatat di sini termasuk kegiatan sebelum 1 Mei, tetapi berhubungan dengan mayday. Untuk kegiatan mayday di Jakarta dalam beberapa bentuk, akan saya rangkum dalam bagian tersendiri. Rangkuman ini ditujukanRead More →

Introduction This writing will discuss buruh borongan system in a factory located in BIIE (Bekasi International Industrial Estate) in Bekasi District, West Java, the working condition caused by this system and how workers resisted it. Buruh borongan in this factory is a peculiar implementation of piece-rate system that has put workers in precarious situation for long time. The questions to be addressed are what is buruh borongan? And how is it implemented? How is the working condition and the labor resistance? In so doing, in the first section of this paper, I will discuss piece-rate system as capital strategy to increase surplus value. In theRead More →

Oleh, Dina Septi “Bagi buruh perempuan tidak ada waktu, tidak ada lagi tenaga! Apalagi jarak antara rumah dengan kantor serikat yang terlalu jauh membuat mereka kurang aktif di serikat dan program pendidikan apapun yang diselenggarakan. Buruh perempuan susah diajak ‘kumpulan’ karena Sabtu lembur. Sedangkan hari Minggu milih nyuci, setrika atau kumpul sama anak. Walaupun saya juga ada lembur di hari Minggu, tapi kalau tidak sedang lembur saya selalu datang ke pendidikan. Sabtu masuk setengah hari, jadi Sabtu sore masih bisa ‘kumpulan’. Bagaimana caranya membuat buruh perempuan mau lebih aktif di serikat?”  ~Narti, buruh PT Alim Rugi Bekasi.   Buruh Perempuan: Ibu dan Buruh Lebih dari sepertiga waktuRead More →