Reading Time: 4 minutes
image_pdfPDFimage_printPrint

Oleh, Salma YT

 

Jam di tangannya sudah menunjukan pukul 17.15, itu artinya sebentar lagi buka puasa. 

Langit gelap, awan hitam seakan terus  mengikuti putaran roda motornya. Sebentar lagi hujan akan mengguyur kota yang dijuluki “kota seribu industri” ini. Sudah hampir tiga hari  ini hujan terus tumpah.

Saiful tidak menggubris cuaca murung. Motornya terus dipacu. Jarum di-dashboard motor tidak beranjak dari angka 40 km. Pandangan kosong menatap jalanan di depannya.

Masih terngiang ucapan manager HRD sore tadi sebelum pulang kerja. Saiful dipanggil bersama 57 orang temannya di ruang pertemuan yang sempit tanpa AC.

“Mohon maaf. Seperti yang kalian tahu, sejak pandemi covid-19 produksi kita menurun, dengan terpaksa kalian mulai besok akan kami rumahkan sampai waktu yang tidak ditentukan. Dan karena situasi keuangan perusahaan sangat minim kami tidak bisa membayar gaji kalian. Tapi jangan khawatir THR akan kami transfer dua minggu lagi. Terimakasih. Doakan semoga pandemi ini segera berakhir agar kita bisa produksi lagi dan kalian nanti akan kami panggil bekerja kembali.”

Walau perkataan itu disampaikan dengan suara yang diatur pelan, Saiful merasa seperti ledakan bom. Dua puluh hari lagi Idul Fitri, hari kemenangan umat Muslim. Beberapa hal yang tadi dia pikir adalah kebutuhan keluarga untuk dipenuhi, kini berubah menjadi masalah.

Nabila, anak sulungnya, meminta ayahnya membelikannya mukena, sepatu dan sandal baru. Dalam hitungan minggu, Mala, istrinya yang sedang hamil besar, akan melahirkan anak kedua mereka. Selain itu, cicilan kredit motor masih menggantung sembilan bulan lagi.

Mengingat hal-hal itu, Saiful ingin tidak ingin lebih cepat sampai di rumah. Ia tidak tega melihat reaksi wajah Mala ketika mendengar ceritanya.

***

Pukul 20.22 Saiful tiba di depan rumah kontrakan. Mala dengan daster warna maroon yang biasa ia kenakan, sedang di depan TV dan mencoret sesuatu di buku.  Saiful merasakan kakinya berat, padahal pintu rumah hanya selangkah.

“Ayah kok pulangnya malam, bawa martabak nggak?”

Nabila, yang akan memasuki usia 8 tahun, tiba-tiba sudah memeluk ayahnya.

“Kok Ayah baru pulang, emang lembur? Sudah buka puasa belum?” sapa istrinya dengan wajah sedikit heran. “

“Ayah mandi dulu ya, gerah nih,” kata Saiful, yang berlalu ke kamar mandi dengan air mata yang hampir jatuh.

***

“Ayah ada masalah apa?“ Mala menyapa kemudian duduk di samping suaminya. Mereka berdua duduk di teras kontrakan.

Saiful mematikan rokok dan menyesap kopi yang setengah dingin.

“Nabila sudah tidur?” tanyanya.

“Sudah, dia takut bangun kesiangan untuk sahur” jawab Mala sambil menatap wajah suaminya.

Saiful akhirnya memberanikan diri menceritakan kesedihan itu.

“Ayah di-PHK bun, tadi sore ayah bersama teman-teman baru diberitahu. Katanya sih nanti THR ditransfer penuh. paling telat tanggal 11 Mei. Tapi ayah tidak dapat pesangon. Kondisi perusahaan sedang rugi karena covid-19 ini. Tapi kata HRD, nanti kalau kondisinya sudah normal, Ayah dan teman-teman akan dipanggil bekerja lagi.”

Sambil meraba tangan istrinya untuk mencari kekuatan, ia melanjutkan, “Bun, gimana kita ke depan? Ayah sudah tidak punya gaji, lalu sebentar lagi bunda akan bongkar muatan (baca: melahirkan). Gimana buat bayar kontrakan sama biaya si dedek nanti?”

“Ayah ingat nggak waktu Nabila usia 4 bulan dan ayah di-PHK, lalu Bunda juga di PHK karena demo?”

“Iya Ayah ingat. Kenapa ya bun, setiap akan melahirkan, kondisi ekonomi menurun begini, di-PHK. Kenapa ya, apa salah kita kok nasib kita begini?”

“Ayah jangan begitu, ini cobaan buat kita. Dulu kita bisa lewati walaupun berat, iya kan? Allah SWT pasti akan ngasih rejeki sama si utun (bakal nama anak kedua), sama kayak dulu Nabila, nggak disangka-sangka Ayah dapat pekerjaan walaupun bunda belum dapat pesangon. Rejeki mah ada saja kan? Yang penting sekarang kita berdoa semoga Allah segera ngasih jalan kepada kita Yah”.

Jawaban yang tidak pernah Saiful sangka-sangka keluar dari mulut istrinya, menjadi suntikan semangat.

“Sudah malam hayu tidur, nanti kesiangan makan sahur,” ajak Mala yang beranjak ke dalam rumah.

***

Ditatapnya wajah tenang istrinya yang terlelap, ingatannya melayang ke delapan tahun lalu. Waktu itu dia bekerja di pabrik makanan dan kemudian diputus kontrak.

Nabila baru berusia empat bulan dan istrinya masih kerja di salah satu pabrik sepatu merk internasional. Setiap hari dia mengantar jemput istrinya. Di waktu siang dia membantu mertua menjaga Nabila.

Mala dan teman-teman sekerjanya akhirnya di-PHK karena ikut melakukan demonstrasi menentang keputusan manajemen. Mereka tidak mendapat kompensasi apapun.

Setelah itu Mala sempat bekerja di beberapa pabrik garmen. Ketika Saiful mendapat pekerjaan di pabrik mebel, Mala berhenti kerja untuk mengurus anak. Meski begitu, ia juga tetap aktif berjuang bersama teman-teman organisasi.

Aktif di organisasi membuat Mala dapat belajar dan mengasah keberanian. Mala tidak lagi segan berbicara. Ada kemajuan dalam pola pikirnya.

Mala kemudian berjualan online. Saiful sendiri tidak tahu dari mana istrinya mendapat ide jualan online, yang sampai sekarang terus digeluti. Saiful bersyukur karena dengan jualan online, Mala bisa menambah uang untuk kebutuhan sehari-hari. Semenjak jualan online istrinya itu tidak pernah meminta uang untuk keperluan pribadinya kepada Saiful.

***

Beberapa waktu setelah peristiwa PHK, keluarga kecil Mala dan Saiful ada di depan bilik ATM. Mala masuk dan menggesek kartu ATM. Ia tercenung mendapati saldo rekeningnya di luar perkiraan.

Dalam acara berhitung keuangan bersama suaminya semalam sebelumnya, jika saldo lama ditambah THR, kira-kira akan ada delapan juta rupiah di rekening mereka. Cukup untuk membiayai semua keperluan mereka selama dua bulan ke depan.

Nyatanya saldo di ATM mereka tertera Rp 5.678.000. Mala memberitahu Saiful dan suaminya itu kaget. Rupanya THR yang dijanjikan hanya dibayar setengah. Suami istri itu lama terbengong.

Ih bunda hayu, lama amat” suara Nabila mengagetkan ibu dan ayahnya.

Bayar kontrakan RP. 800.000, Cicilan Motor Rp. 1.000.000/bulan, biaya persalinan, persiapan lebaran. Biaya kebutuhan-kebutuhan ini tidak mau hilang dari pikiran orang tuanya.

Baca juga:   Better Work Indonesia: Proyek Misterius Organisasi Perburuhan Internasional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *