Cerita Tiga Buruh Perempuan di Serang 

Oleh Mukhlis

Relawan di Lembaga Informasi Perburuhan Sedane 

 

“Kerja di pabrik itu persis kuda. Kalau kita nggak jalan pasti dicambuk, dipaksa jalan”  (Aber, pemilik kamar sewa sekitar PT Nikomas Gemilang).

Mulyani: Pabrik dan Rumah Tangga 

Namanya Mulyani, usia 28 tahun. Ia berasal dari Rumpin, Kabupaten Bogor. Di usianya tersebut berbagai pekerjaan telah dilakoni. 

Mulyani mulai mengenal kerja berupah ketika usia 13 tahun, setelah lulus sekolah dasar.  Ia pernah kerja di usaha konveksi, di warung makan dan restoran. Ia juga pernah bekerja di Muara Karang, Jakarta, sebagai tukang dekorasi di acara pernikahan, pesta keagamaan, dan perayaan lainnya. Pekerjaan yang terakhir ini biasa disebut event organizer. Istilahnya diinggriskan ketimbang disebut serabutan, mungkin biar tampak mentereng atau untuk menutupi jenis pekerjaan yang tanpa kepastian pendapatan dan perlindungan itu.

Pergulatan dengan dunia dekorasi mengantarkan Mulyani bertemu seorang laki-laki yang berasal dari Cikande, Serang. Singkat cerita, keduanya menikah pada 2012. Mulyani pun memutuskan pindah dan tinggal di Serang, ikut suaminya.

Setahun setelah menikah, Mulyani memutuskan bekerja di PT Eagle Nice, pabrik garmen yang terletak di Serang. Umumnya, orang yang baru masuk di Eagle Nice akan menempuh masa training dengan upah harian. Rupanya Mulyani beruntung. Saat itu, ia diberikan pekerjaan di bagian penjahitan. Dengan pengalamannya bekerja di konveksi di Jakarta, Mulyani mudah mengoperasikan mesin jahit. Mulyani pun langsung diangkat sebagai buruh tetap setelah melalui dua hari training.

Kebijakan menjadikan buruh tetap bagi mereka yang sudah berpengalaman menjahit tidak hanya berlaku untuk Mulyani, tapi juga pada buruh-buruh lain. Harga pengalaman dan keterampilan itulah yang dikonversikan menjadi nilai buruh tetap. Jika setiap perusahaan hanya bersedia merekrut buruh berpengalaman dan berketerampilan, berarti narasi bahwa investasi akan secara otomatis mengurangi jumlah pengangguran, tidak akan pernah terwujudkan.  

Di Eagle Nice, biasanya, buruh harian lepas dibayar Rp 60 ribu per hari dan bekerja selama 8-10 jam. Upah hariannya sebenarnya adalah Rp 80 ribu tapi calo memotong Rp 20 ribu. Informasi yang saya temukan, hampir semua orang yang akan masuk ke Eagle Nice harus melalui calo tenaga kerja. Setidaknya kejadian ini berlaku sejak 2010 sampai 2016. 

Buruh harian lepas merupakan istilah yang merujuk pada cara perhitungan upah berdasarkan kehadiran di tempat kerja. Artinya, selama buruh bekerja dalam hari tertentu, itulah yang diperhitungkan sebagai basis pengupahan. Cara membayarkan upahnya bisa perminggu atau perbulan disesuaikan dengan kesanggupan kasir keuangan perusahaan. Dalam peraturan perundangan tersirat bahwa total upah buruh harian dalam sebulan tidak boleh lebih rendah dari upah minimum. Tapi siapa yang bisa memastikan bahwa buruh-buruh harian tersebut total upahnya setara sesuai upah minimum, apalagi mendapat perlindungan jaminan kesehatan?

Agak berbeda dengan harian lepas adalah buruh borongan. Istilah borongan merujuk pada cara perhitungan upah berdasarkan hasil yang diperoleh. Berdasarkan ‘permainan manajemen’, harga buruh harian ditentukan dengan harga per hari kerja, sementara harga buruh borongan ditentukan dengan harga satuan hasil, yang ditentukan sepihak oleh manajemen. 

***

Di Eagle Nice, pabrik yang menjadi supplier untuk brand Nike ini, manajemen pabrik menetapkan bahwa setiap buruh yang baru masuk dibayar sebesar Rp 80 ribu rupiah per hari. Katanya, buruh yang baru masuk dan tidak memiliki keahlian adalah masih dalam ‘tahap belajar’. Mereka diharuskan menjalani training selama tiga bulan. Setelah itu, akan ada penilaian yang menentukan lolos tidaknya buruh tersebut. Jika lolos berarti akan menjadi buruh tetap. Jika tidak, berarti berakhir masa kerjanya. Buruh yang dianggap lulus masa training akan diberikan KPK (kartu pengenal kerja) dan menerima upah sesuai upah minimum Kabupaten Serang. 

Tahap belajar sekadar istilah manajemen. Meski dalam ‘tahap belajar’, barang yang dihasilkan oleh buruh raining merupakan bagian dari seluruh barang yang diperjualbelikan dan merupakan sejumlah barang yang dicapai dalam target produksi harian. 

Mulyani melamar di Eagle Nice menggunakan ijazah sekolah dasar. Begitu juga teman-temannya yang masuk di sekitar 2013. Menurut Mulyani, sepertinya pendidikan formal tidak menjadi pertimbangan utama dalam perekrutan buruh. Kemampuan kerja, ‘kuat mental’ dan siap kerja dalam tekanan, dan punya pengalaman menjahit, cukup untuk diterima bekerja. Selain itu, seseorang harus bisa baca tulis dan siap diajari cara kerja. 

Selama masa training, buruh yang belum bisa apa-apa akan diajari sampai bisa. Selama masa ini juga mereka akan mengalami cacian dan makian. Tidak jarang umpatan bahkan lemparan diterima. Mulyani mengatakan, “Makanya harus kuat mental.” 

Kini, meskipun sudah lebih dari 7 tahun bekerja dan mendapat jabatan yang berbeda, upah Mulyani masih tetap UMK. Upah pokoknya, Rp 4.251.000. Selain untuk kebutuhan keluarga, Mulyani juga mengirim uang kepada orang tuanya di kampung. Bapak dan ibunya sudah tua, tidak lagi bisa bekerja. Setiap bulan, Mulyani mengirim sebanyak Rp 300 ribu kepada orang tuanya. Di luar itu, ibunya sering meminta tambahan untuk membeli obat atau membeli alat dapur atau pakaian.

Penghasilan suami Mulyani yang bekerja sebagai tukang las tidaklah menentu. Seringkali, seluruh upah Mulyani habis untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Suaminya mengantar menjemputnya setiap hari dengan sepeda motor. Seminggu sekali Mulyani memberi suaminya uang rokok dan bensin. Mulyani juga menyiapkan uang jajan anaknya yang berumur 4 bulan. 

Suami Mulyani memiliki bengkel las sendiri. Bengkelnya memproduksi pagar besi, kanopi, dan lain-lain. Sebenarnya, modal membuka bengkel las tersebut dari Mulyani. Setiap bulan, selama empat tahun, Mulyani menyisihkan uang dari upahnya yang tidak seberapa itu untuk modal. Mulyani berharap suaminya akan bisa membantu meringankan bebannya dengan memiliki usaha sendiri. “Bengkel Las aja habis Rp 30 juta. Itu modalnya dari saya dari hasil menabung selama bertahun-tahun,” ungkapnya dengan bangga suatu hari. 

Namun, meskipun sudah ada bengkel las, order sering sepi. Untuk bisa menabung, Mulyani kerja lembur. Menurutnya, ia lebih senang upahnya dibayarkan dua minggu sekali. “Tidak akan keteteran waktu uang habis,” katanya. Ditambah lembur, Mulyani bisa menerima upah sekitar Rp 6 juta rupiah per bulan. 

Belakangan ini Mulyani sering mengeluh. “Bekerja Eagle Nice semakin lama semakin banyak aturan. Kalau saya bisa memilih, lebih baik jadi operator dari pada jadi IT (industrial technology) atau IE (industrial engineering) karena sama aja gajinya”. 

Sebenarnya, Mulyani tidak begitu mengetahui pengertian IT/IE. Ia hanya menjalankan tugasnya sebagai orang yang menghitung dan menentukan target. Sebagai IT/IE Mulyani harus mendorong operator agar setiap hari mencapai target produksi. Mulyani merasa tugas sebagai IT/IE sangat berat. 

Pada April 2021, masih di tengah pandemi Covid-19, Eagle Nice mengalami kebanjiran order. Perusahaan mewajibkan buruh kerja lembur selama tiga jam sehari. Biasanya, paling lama lembur dua jam sehari. Lembur wajib diterapkan khusus untuk line atau bagian yang memproduksi Nike. 

Pabrik yang memproduksi jaket Nike Jordan seharga Rp 4 juta ini, hanya membayar uang lembur buruh sebesar Rp 28.000 per jam, dari jam pertama sampai jam-jam selanjutnya atau disebut dengan Jam Mati. Dalam satu line terdapat 28 operator jahit. Target produksi per line adalah 25 pieces jaket per hari dengan lama bekerja 7 jam. Jika kita buat simulasi, selama tiga jam lembur per line bisa menghasilkan 12 pieces jaket. Dengan harga jual jaket Rp 4 juta rupiah, per line bisa menghasilkan Rp 48 juta rupiah. Sementara yang dibayarkan ke buruh selama tiga jam lembur hanya Rp 28.000 x 3 jam x 28 operator, hasilnya Rp 2.3 juta atau hanya 4,8 persen dari total penghasilan.

Dengan lembur wajib, setiap hari Mulyani bekerja selama 11 jam. Ia harus tiba di tempat kerja jam 06.30 pagi dan baru pulang dari pabrik jam 17.30. Kemacetan di jalan kerap membuat Mulyani terlambat sampai di pabrik ataupun di rumah. Selama bulan puasa, ia seringkali terpaksa berbuka di jalan. Jikalau berhasil pulang ke rumah sebelum magrib, ia mesti langsung memasak atau menyiapkan makanan untuk berbuka puasa. Setelah beres makan ia sering sekali tertidur karena kecapekan. 

Di malam hari, ketika ia tidur, tidak jarang ia terbangun dan seringkali susah kembali tidur. Ia memikirkan target di pabrik yang belum tercapai di hari sebelumnya atau target yang harus dicapai esok hari. Ia merasa sangat terbebani jika ada target yang belum tercapai, karena  itu akan jadi hutang kerjaan yang wajib di bayar di hari berikutnya. 

Mulyani memutuskan untuk berhenti bekerja ketika ia hamil 4 bulan anak kedua.. Ia sangat khawatir dengan kondisi kandungannya. Pabrik memang memberikan cuti melahirkan ketika kandungan berumur 7 bulan. Namun, ia tidak mau menunggu. Menurutnya, itu terlalu berisiko. 

Anak pertamanya meninggal di Rumah Sakit ketika berumur satu bulan. Waktu itu, Mulyani terus bekerja seperti biasa sepanjang kehamilannya. Tidak ada perhatian khusus dari pabrik bagi ibu hamil. Misalnya, rutin mendapatkan susu untuk ibu hamil, kompensasi waktu kerja,  dikurangi beban kerja, atau dipindahkan ke bagian kerja yang setidaknya lebih aman. Ia menduga kematian anak pertamanya karena terlalu capek bekerja di pabrik.

Jam kerja panjang dan beban kerja yang berat membuatnya tidak punya banyak waktu memperhatikan kesehatannya. Pengalaman menyakitkan kehilangan anak pertamanya ini membuatnya mengambil keputusan untuk berhenti bekerja sementara, sampai anaknya lahir. Ia tidak mau malapetaka berulang menimpanya. 

Namun, Mulyani tidak mendapatkan pesangon. Kata pabrik, tidak ada pesangon baginya karena itu keputusannya berhenti bekerja. Pabrik tidak mau tahu alasan seorang buruh berhenti bekerja. Padahal, Mulyani berhenti bekerja karena berkaitan dengan kehamilannya.

Mulyani bercerita bahwa dia sering bertengkar dengan suaminya. Suaminya tidak suka Mulyani berteman dengan laki-laki sesama buruh di pabrik, baik berteman langsung maupun di media sosial. Karena hal-hal ini, terkadang suaminya memarahinya. Padahal, menurut Mulyani, itulah caranya menghibur diri. Sebaliknya, suaminya sering keluar malam nongkrong bersama teman-temannya atau main game online. Tidak jarang, suaminya pulang larut; pukul 2 malam bahkan Subuh baru nongol di rumah. Ketika suaminya keluar rumah, tak jarang Mulyani dikunci dari luar. 

Suatu malam ketika mereka sedang makan bersama di rumah, tiba-tiba sebuah panggilan video masuk ke handphone Mulyani. Suaminya seketika marah dan menyita telepon genggam Mulyani. Seluruh aplikasi telepon genggam Mulyani dihapus. 

Rina: Pabrik merenggut harapan kuliah

Rina  berasal dari Muara Enim, Sumatera Selatan. Ia lahir pada 1995. Rina memutuskan ikut kakak perempuannya ke Serang, pada akhir 2015, tepatnya tanggal 20 Desember. Waktu itu, kakaknya bekerja di PT Eagle Nice. 

Rina berangkat dengan dibekali uang Rp 300 ribu oleh orangtuanya. Menurutnya, itu tidak cukup. Untung saja, dia punya sedikit tabungan. Total uang yang dipegangnya waktu itu Rp 800 ribu. Ia terpaksa irit menggunakannya uang untuk kebutuhan sehari-hari sebelum mendapatkan pekerjaan. Seminggu pertama, Rina tinggal di rumah paman dan tantenya di Cikupa, Tangerang dan seminggu berikutnya di Cikande Permai, Serang, di rumah pamannya yang lain. 

Selang waktu dua bulan sejak kedatangannya, tepatnya awal 2016 awal, Rina diterima bekerja Eagle Nice. Setelah bekerja Rina pindah ke mess yang disediakan pabrik karena tidak terlalu betah tinggal di rumah saudara mereka. Lagi pula, Rina kadang harus bekerja shift 2, sehingga pulang jam 11 malam. Kamar messnya ukuran 3 x 3 meter yang dihuni tiga sampai lima orang. 

“Masuk kerja di situ cukup mudah, tidak perlu bayar atau sogok, bahkan ijazah SD diterima. Yang penting kuat fisik dan mental,” kenang Rina. “Dulu nggak pakai calo, ‘orang dalam’ bisa masukin kerja, tapi kerjanya masih HL (harian lepas).  Kalau sekarang nggak bisa, mesti lewat calo dan bayar mahal,” tambah Rina. 

Rina juga menjadi buruh harian lepas dengan menerima upah Rp 80 ribu per hari, bekerja selama 8 – 10 jam. Waktu itu, hanya ada dua shift: shift 1 masuk 06:30 pagi, pulang jam 02:30 sore; dan shift 2 masuk 02:30 sore, pulang jam 11:00 malam. Untuk mendapatkan kartu pengenal kerja harus melewati masa training selama 3 bulan.  

Awal bekerja di Eagle Nice, Rina merasa tidak yakin dengan kemampuannya. Tapi keluarganya selalu menyemangati, terutama kakak perempuannya. Bekerja di pabrik adalah pengalaman. Salah satu penyesuaiannya adalah tidur larut malam. Sebelum bekerja di pabrik, ia biasa pergi tidur jam 9 malam. Setelah kerja di pabrik, apalagi jika ia bekerja shift 2, ia terpaksa tidur larut malam. Ia masuk kerja jam 3 sore, dan pulang jam 11 malam. Baru bisa pergi tidur lewat tengah malam. 

Sejak menjadi buruh, ia mulai sering sakit-sakitan. Ia kena maag, asam lambung, sering demam dan masuk angin. Padahal, sebelumnya, ia tidak punya masalah dengan kesehatannya. “Aku selama hidup di kampung nggak pernah masuk angin, apalagi sampe dikerok. Di sini (Serang) doang aku pertama kalinya dikerok.” Sejak bekerja di pabrik, Rina terbiasa makan apapun yang ada di Warteg, atau mie instan.  

Suatu hari Rina dan kakanya jatuh sakit. Mereka pergi ke klinik tempat biasa kakaknya berobat. Kata dokter, jangan makan pedas dan mie instan. Rina heran. Ketika di kampung, Rina juga sering makan mie instan, bahkan sejak kecil. Tapi, ia tidak pernah sakit seperti sekarang. 

Kini, setelah lebih dari empat tahun bekerja di PT Eagle Nice, Rina telah mengetahui kebiasaan orang-orang di pabrik. Dia bersumpah pada dirinya sendiri tidak akan pernah pacaran dengan teman kerja satu pabrik. Laki-laki dan perempuan di pabrik punya hobi selingkuh. 

Selain perselingkuhan, terjadi pelecehan yang dilakukan buruh laki-laki kepada buruh perempuan. Misalnya, merayu, mengajak makan malam Minggu padahal sudah beristri, minta nomor Whatsapp, colek-colek, dan ngomong jorok. Rina tidak bebas dari pelecehan. Ketika ada seseorang yang menggoda, ia hanya tersenyum dan berusaha merespons dengan baik. “Untuk keamanan, jaga-jaga”, ungkapnya. 

Suatu hari, seorang bapak-bapak menggodanya. Ia tidak ingin memberi kesan marah kepada si penggoda. Sebab ia akan dibilang cuek, ngambek dan menjadi bahan bully-an teman-temannya, pelaku, dan bahkan teman-teman pelaku.

Ia pernah merespon sebuah godaan dengan marah dan ia dibully “Ih, apaan sih Rina, anaknya sombong, jutek, nggak asik!” dan berbagai omongan lain. Omongan yang demikian membuatnya terkesan bukan orang yang menyenangkan dan ia bisa dikucilkan dari pergaulan di dalam pabrik. 

Sebelum memutuskan ke Serang, Rina pernah kuliah di Universitas Terbuka, tapi hanya beberapa bulan. Ia jarang mengikuti jadwal kuliah, lalu memutuskan berhenti. Rina sempat berpikir untuk meneruskan kuliahnya. Namun, jangankan waktu untuk kuliah, untuk dapat libur satu hari dalam seminggu saja sulit. Untuk sekadar pergi refreshing atau jalan-jalan ke tempat rekreasi pun sulit. Setiap pulang kerja dari pabrik, ia masih harus bekerja, membuat laporan catatan harian target kerja.

Rina sejak kecil bercita-cita menjadi guru, bahkan, sekarang pun masih menyimpan harapan itu. Ia sering membayangkan betapa senangnya membagikan raport sekolah dan murid-muridnya memberinya amplop tanda terima kasih kepadanya. Keinginannya yang sebenarnya bukanlah bekerja di pabrik. Tapi, ia tidak punya banyak pilihan. “Lagian mana ada orang yang punya cita-cita kerja di pabrik,” kata Rina sambil tertawa. 

Melihat foto teman-temannya di kampung bersama keluarga masing-masing ketika lulus kuliah, Rina merasa sedih. Ia menghibur dirinya dengan berkata, “Mungkin nggak jodoh jadi guru dan ini sudah diatur sama Allah. Kalau dibilang nyesel, nyesel-nya karena nggak bisa kuliah. Tapi mau gimana lagi mungkin ini sudah jalannya.” 

Rina berusaha menerima kondisinya sekarang, paling tidak dengan kerja di pabrik ia sudah bisa menabung, mencukupi kebutuhannya sendiri dan membantu keluarga. Jika pun jadi guru belum tentu sekarang bisa menabung dan membantu orangtua. Kita tahu berapa honor jadi guru di kampung. Kecuali jadi PNS, itu pun bukan perkara mudah.  

Kini Rina tinggal sendiri di kontrakan di Gorda Asem, tidak jauh dari Eagle Nice. Kakaknya sudah menikah, dan tinggal di kampung bersama suaminya. Kamar kontrakan Rina penuh dengan perabotan seperti kulkas, TV LED, dan lain sebagainya. Menurutnya, itu cara dia memanjakan diri. 

Di pabrik banyak buruh yang mengeluh dengan perlakuan perusahaan. Mereka terkadang merasa aneh dengan tindakan perusahaan yang memindah-mindahkan (mutasi) bagian kerja para buruh, sampai pada akhirnya banyak yang mengundurkan diri. Perusahaan justru merekrut buruh baru yang baru lulus sekolah dan belum bisa apa-apa. Pabrik tidak mau membayar tunjangan buruh yang sudah lama bekerja. “Itulah taktik pabrik,” kata Rina. 

“Perusahaan itu lebih cerdik daripada kita,” lanjut Rina. Biasanya buruh yang masa kerjanya sudah lama akan patuh terhadap peraturan pabrik. Namun pabrik akan mencari-cari kesalahan buruh sebagai alasan bagi buruh itu untuk tidak dimutasi. Awalnya dimutasi beberapa kali, lalu lama-lama buruh tidak betah dan akhirnya mengundurkan diri.  Dengan begitu, perusahaan terhindar membayarkan pesangon. Pabrik enggan membayar pesangon karena jumlahnya besar. Mereka sering menggunakan berbagai cara untuk menghindari kewajibannya itu.

Rina sudah mempersiapkan diri jika ia di-PHK. Jika itu terjadi, ia akan mendapatkan uang pesangon sesuai dengan peraturan. Dengan uang itu, ia ingin membuat usaha sendiri atau jika gagal, ia bisa masuk pabrik lagi dengan membayar uang calo. 

Seorang teman Rina dipermainkan oleh pengawas. Kerjaannya bagus, hanya jarang masuk kerja. Pengawas tidak menyukai buruh yang demikian. Mestinya, buruh bekerja rajin dan hasil kerjanya bagus. Pengawas lalu memindahkan temannya ini berulang kali sampai temannya tidak betah bekerja. Manajemen memberi dua pilihan: mutasi atau PHK. Temannya memilih di-PHK.

Mirna: Mantan buruh migran dan bekas suaminya yang kasar

Mirna bekerja di PT Nikomas Gemilang sejak 2010. Ibu dua anak ini lahir pada 1986. Ia berasal dari Ciruas, Desa Luncang Serang, Banten, sekitar 20 km dari Nikomas.

Sebelum di Nikomas, Mirna pernah bekerja sebagai pekerja rumah tangga (PRT) di Arab Saudi selama lebih dari tiga tahun.  Bekerja sebagai PRT di Arab Saudi tidak mudah. Ia harus meninggalkan seluruh ruang hidupnya di kampung, terutama meninggalkan anak laki-lakinya yang berumur 3 tahun.

Mirna menguatkan diri dengan mencari berbagai alasan. Di antaranya, jika bekerja di luar negeri ia akan memiliki penghasilan lebih baik, bisa membangun rumah dan kehidupan keluarganya. Apalagi, Mirna yang hanya lulus SD akan teramat sulit mendapatkan pekerjaan di Serang. Ia tidak punya kenalan atau saudara yang bisa “membawanya” bekerja. Ia juga tidak punya uang untuk bayar masuk kerja di pabrik. 

Selain itu, suaminya waktu itu tidak punya penghasilan yang jelas. Suami Mirna bekerja sebagai kuli serabutan, kadang membuat batu bata, kuli bangunan, buruh tani di kebun atau sawah orang, seringkali juga menganggur. Jangankan untuk membangun rumah, untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari saja sulit bagi mereka berdua. 

Pada 2006, Mirna memutuskan bekerja di Arab Saudi. Selama di sana, ia rutin mengirim uang ke suami dan keluarganya setiap bulan. Ia juga menyisihkan uang untuk ditabung, untuk membangun rumah.  

Setelah lebih dari tiga tahun di Arab Saudi, Mirna pulang kampung. Rumahnya belum selesai dibangun. Suatu hari ada tetangganya yang sudah 25 tahun bekerja di Nikomas, menawarinya bekerja pabrik itu. Si tetangga mendapat jatah dari pabrik untuk memasukkan seorang pekerja. Dengan membayarkan uang sebesar Rp 1,5 juta kepada tetangganya, Mirna langsung bekerja di Nikomas. 

Kini, uang sejumlah itu tidak mungkin bisa membuat seseorang bisa bekerja di Nikomas. Harga ‘lamaran kerja’ sudah hampir sepuluh kali lipat. Untuk perempuan, harga lamaran kerja bisa mencapai Rp 12 sampai 14 juta rupiah. Sedangkan untuk laki-laki bisa mencapai Rp 25 juta rupiah. Tentu saja itu bukan kebijakan resmi perusahaan, namun orang-orang penting di perusahaan maupun pejabat dinas tenaga kerja setempat sulit menyangkal keadaan tersebut. 

Setelah hampir 10 tahun menjadi buruh di Nikomas, akhirnya Mirna berhasil membangun rumahnya. Rumahnya betul-betul selesai pada 2019. Anak-anaknya sudah tumbuh besar. Mirna bahagia, rumah impiannya terwujud. Namun, bukan kehangatan keluarga yang ia dapatkan. Mirna justru kehilangan semuanya. 

Mirna tidak tahan dengan perlakuan suaminya. Bukan karena penghasilan suaminya yang kecil, tapi karena suaminya kasar dan pemarah. Semua keputusan dibuat oleh suaminya. Mirna tidak memiliki hak untuk membuat keputusan. Ia merasa dipaksa ‘manut’ kepada suaminya. Mirna ingin sekali mengubah situasi itu. Ia ingin didengar oleh suaminya. 

Pada 2020 ia memutuskan bercerai. Sekarang ia terpaksa pulang ke rumah kedua orangtuanya dan meninggalkan rumah yang ia bangun dengan susah payah. Kedua anaknya menolak ikut Mirna. Mereka memilih ikut bapaknya. Bahkan, kedua anaknya enggan untuk sekedar menginap di rumah ibunya. Yang dilakukan kedua anak Mirna hanya meminta uang lalu pergi lagi. 

***

Ketiga cerita di atas memang tidak sepenuhnya unik. Ada jutaan buruh perempuan yang mengalami hal yang kurang lebih sama. Ketiganya mewakili kehidupan sehari-hari buruh perempuan yang harus memikul beban ganda di tempat kerja dan di rumah. Setelah diperas keringat dan tenaganya di pabrik, perempuan masih harus melakukan berbagai pekerjaan di rumah. Masuk ke asar kerja tidak dengan sendirinya mengurangi beban pekerjaan reproduksi di rumah.

Perempuan buruh  tidak serta merta lepas dari “kewajiban” memasak dan bersih-bersih, bahkan sekedar membuat teh atau kopi untuk suami. Di sisi lain, laki-laki yang tidak bekerja atau bekerja di rumah tidak membuat mereka merasa “wajib” mengerjakan pekerjaan rumah, atau bahkan mampu membuat kopi sendiri.

Perempuan berupah juga tidak serta merta menaikan posisi tawar di hadapan laki-laki. Cerita Mulyani Rina dan menunjukan bagaimana kemandirian secara ekonomi (tidak bergantung kepada laki-laki) tidak membuat perempuan bisa ikut serta dalam mengambil keputusan di dalam rumah mereka. Suami mereka masih tetap menjadi pengambil keputusan. Suami adalah kepala keluarga yang mencukupi kebutuhan keluarga, sedangkan istri adalah ibu rumah tangga yang jika berpenghasilan dianggap sebagai ‘membantu’ perekonomian rumah tangga. Mulyani dan Mirna (juga Rani), tiga dari ratusan ribu perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga, pencari nafkah utama atau bahkan satu-satunya. 

Bagi laki-laki, rumah adalah tempat beristirahat dan memulihkan tenaga sepulang bekerja atau bermain. Kebanyakan dari mereka tidak akan menyentuh gelas, piring, pakaian, dan atau rumah yang kotor untuk dibersihkan. Bagi perempuan, rumah adalah tempat berganti pekerjaan. Waktu istirahat sangat pendek, bahkan hari libur yang semestinya digunakan untuk beristirahat, dipakai untuk bekerja lagi: mencuci, memasak, mengepel, mengasuh anak.