DARI RUSUH DI HAMBURG

‘Welcome to hell’: G20 protesters start fires after riot police hit them with water cannons and pepper sprays in clashes ahead of Hamburg summit. (Jay Akbar and Iain Burns, Daily Mail. 7 Juli 2017)

Pagi hari 5 Juli 2017, Pesawat Kepresidenan Indonesia meninggalkan Bandar Udara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, menuju Eropa. Sementara Jokowi bepergian, segelintir elit politik Jakarta menghibur diri dengan gunjingan kurang bermutu tentang perlu tidaknya Jokowi membawa serta sedemikian banyak anggota keluarganya ke luar negeri.  Presiden singgah dua hari di Turki, untuk kunjungan resmi dan menandatangani dua dokumen kerjasama. Memang kunjungan singkat. Dia tak akan berlama-lama, karena sudah ditunggu di Hamburg untuk pertemuan lain yang jauh lebih penting.

Pertemuan puncak G-20 resmi dibuka 7 Juli 2017 oleh Perdana Menteri Jerman, Angela Merkel. Media utama, termasuk yang di Jakarta, rupanya berusaha memberitakan pertemuan puncak ini secara manis. Dengan main tebak-tebakan soal siapa gerangan yang akan duduk di sebelah siapa pada sesi pembukaan dan photo bersama. Atau tentang pantas atau tidaknya Ivanka Trump, yang cuma anak presiden, hadir pada jamuan makan malam resmi. Pemberitaan yang sama murahannya dengan gosip elit Jakarta.

Siapapun yang mengharapkan pertemuan ini bakal berlangsung baik-baik saja, niscaya akan kecewa.

Perhelatan berlangsung jauh dari tentram, malahan riuh-rendah hingar-bingar. Dan bintang pertemuan bukan Merkel, bukan Putin, bukan Xi Jinping, bukan semua kepala Negara yang hadir. Bukan pula semua Trump, baik Donald yang presiden, Melania yang mantan model, ataupun Ivanka yang pebisnis fashion.  Tidak pula semua anggota delegasi di pertemuan resmi.  Bintangnya adalah semua orang di jalanan,  yang menggalang protes untuk menggagalkan pertemuan puncak ini. Dan, jumlah mereka banyak. Ribuan.

Welcome to Hell

Sejak Angela Merkel mengemukakan keinginannya, menyelenggarakan pertemuan puncak G-20 di Hamburg, polisi sebenarnya sudah dibikin sakit kepala. Membikin pertemuan di Hamburg ibarat menantang kelompok anti kemapanan. Inilah kota yang tak pernah kurang orang untuk meramaikan peringatan May Day, kandang dari para penantang kapitalisme. Seperti sudah diperhitungkan sebelumnya, mendekati pertemuan puncak, berbagai kelompok protes mengalir memasuki Hamburg. Dari berbagai kota di Jerman. Juga dari negara-negara Skandinavia, Swis, dan Italia. Mereka adalah kelompok anti kapitalisme, kelompok lingkungan, kiri, anarkis, feminis, tolak privatisasi air, kelompok perlawanan Kurdi, kelompok kebudayaan, dan seterusnya. Sebut saja yang mana, semua ada.

Untuk menghadang protes, polisi mengerahkan berbagai akal. Upaya pertama adalah pakai otot, dengan menyiagakan 15.000-20.000 polisi penangkal huru-hara. Sementara di Eropa harga air bersih makin mahal, polisi menggunakan meriam air (water-cannon) untuk menghalau demonstran. Harap tahu, ini adalah meriam air canggih yang bertekanan kuat.  Semoga saja polisi Jerman tak ikut-ikutan polisi dari sebuah negara sahabat, yang suka mengisi tanki meriam dengan air sembarang comberan. 

Berbagai teknologi untuk memata-matai warga sendiri (surveillance) dikerahkan, termasuk pesawat drone berkamera; dan helicopter yang sibuk mondar-mandir di langit Hamburg. Selain cara canggih, ada juga cara yang terdengarnya cukup biasa. Yaitu dengan menggosok ormas lokal untuk menggelar aksi tandingan, yang dijuduli: “pawai perdamaian dan hak asasi manusia.” Aih, mengingatkan pada kejadian di tempat lain.

Jauh hari sebelumnya, para demonstran sudah dituduh bukan hendak “melakukan sekedar aksi damai duduk-duduk.” Karena itu, ada laporan bahwa polisi memeriksa, menggeledah, dan menyita barang-barang milik warga yang diduga bisa digunakan sebagai senjata. Semula ada usul untuk melarang segala bentuk demonstrasi di pusat kota. Usul ini batal karena ditentang para politisi setempat. Lagipula, kalau diteruskan akan bikin malu, karena sama saja dengan memberangus kebebasan berpendapat. Padahal Jerman selalu mengecam tindakan serupa yang misalnya dilakukan oleh Rusia. Tak urung, mendekat tanggal pertemuan puncak, polisi tetap mengeluarkan larangan berkumpul di kawasan seluas 38 km persegi, dari Bandar udara internasional sampai gedung pertemuan.

Himbauan resmi untuk menghindari keramaian, penutupan dan pengamanan jalan, semua gagal mencegah kelompok-kelompok memenuhi jalanan. Bentrokan akan susah dicegah. Pemanasannya sudah terjadi hari Minggu malam, 2 Juli. Beberapa orang luka-luka dan hiji ditewak.  Hari berikutnya, orang-orang tetap berkeliaran di jalanan. Main kejar-kejaran, petak umpet, dan timpuk-timpukan botol air melawan polisi. Jalanan diduduki demonstran, banyak anggota delegasi tertahan di hotel, dan gagal mencapai gedung pertemuan pada waktu pembukaan pertemuan puncak. Termasuk Presiden Jokowi, yang tertahan di hotel bersama Perdana Menteri Australia, Malcolm Turnbull.

Hingga pertemuan puncak disudahi, sudah tiga hari pula terjadi bentrok antara polisi dan massa. Kerugian yang timbul jelas besar. Entahlah, tapi pasti mencapai jutaan Euro. Sekitar 500 polisi dilaporkan luka-luka.  Beberapa hari sesudah pertemuan puncak berakhir, ada desakan agar walikota Hamburg mundur saja karena dianggap gagal. Saking kesalnya, Menteri Kehakiman Heiko Mass menyatakan tak usah lagi ada pertemuan besar semacam ini lagi di Jerman. Menurut dia, para perusuh itu kebanyakan berasal dari luar Jerman. Jadi, adalah penting jika negara-negara Eropa punya database para “ekstrimis” dan mengembangkan kerjasama pertukaran data. Wah, dia marah betulan rupanya.

Begitulah, para penentang kapitalisme sekedar menepati janjinya. Untuk menyambut yang terhormat para kepala negara dan delegasi G-20; dengan cat warna-warni, dengan musik dan seni pertunjukkan. Dengan pawai, poster, blokade dan petasan. Dengan protes dan olok-olok. Welcome to Hell… Untuk tidak melebih-lebihkan cerita, temukan saja photo dan videonya yang banyak bertebaran di internet.

Pertemuan Besar untuk Siapa?

Mengapa pilih di Hamburg? “Karena ini adalah pertemuan besar, yang membutuhkan infrastruktur kota besar,” begitu Merkel membela pendapatnya. Memang benar ini adalah pertemuan besar.  Tapi pertemuan besar untuk siapa?

Pertemuan puncak G-20, Group of Twenty, adalah pertemuan kepala negara dari dua puluh negara dengan ekonomi kuat atau ekonomi besar. Sebenarnya tidak tepat dua puluh, hanya sembilan belas, karena tiket terakhir diberikan untuk wakil dari Uni Eropa. Tadinya pertemuan puncak hanya dihadiri oleh menteri keuangan dan gubernur bank sentral masing-masing negara anggota; mengingat bahwa cikal bakal G20 adalah negara-negara yang mengangkat dirinya sendiri sebagai panitia dunia untuk pemulihan krisis 2008. Dan karena itulah, tugas utama G20 adalah menjaga kestabilan sector keuangan.

Kalau hanya pertemuan dua puluh orang, mustinya tidak repot-repot amat. Ketahuilah, peserta pertemuan lebih dari dua puluh orang. Masing-masing Negara tentulah membawa serta tim ekonominya. Pertemuan puncak niscaya akan dihadiri oleh petinggi dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia (World Bank).

Di luar lingkaran utama G20, yakni para kepala Negara; ada lingkaran pertemuan yang lain, yakni pertemuan T-20, alias Think-thank 20. Mereka adalah para juru ukur, juru gambar, dan juru ukir seluruh permukaan bumi hingga ke dasar lautannya; yang akan memikirkan dan merenungkan wilayah bumi mana yang akan dijadikan untuk apa, dan mendaftar kekayaan apa yang perlu dikeruk dari penjuru bumi sebelah mana. Selain itu ada pula ahli juru hitung manusia; yang akan merancang bagaimana anak cucu penduduk bumi kelak perlu dididik dan dipekerjakan lalu diberi uang secukupnya untuk hidup. Dan diberi hiburan sekedarnya, supaya tak merasa terlalu bernasib naas.  Rombongan penting lainnya adalah B-20, Business 20. Dari namanya saja sudah jelas bahwa mereka adalah para saudagar. Di kelompok B-20, Indonesia diwakili oleh Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO). Nama yang terakhir adalah organisasi yang kemarin memperkenalkan sebuah kosakata baru: upah padat karya. Tak usah dijelaskan lagi bahwa upah padatkarya adalah upah yang lebih khusus murahnya daripada upah minimum. Dengan susunan peserta seperti itu, di luar pertemuan puncak, ada banyak pertemuan bisnis penting baik formal maupun informal.

Pertemuan G-20 tahun ini memang berlangsung di tengah politik dunia yang lebih rumit; dan kerjasama para pemimpin itu tidaklah berlangsung baik-baik saja. Di tengah memudarnya kekuatan ekonomi Amerika, Trump tetap bergaya mempertahankan proteksionisme, untuk mempertahankan dukungan dari permilh di dalam negeri. Macron baru saja terpilih menjadi perdana menteri Perancis, dan para pemilh belum lupa akan janji-janji kesejahteraan masa kampanye. Cina enggan mengambil-alih kepemimpinan dari Amerika, sambil tetap mendanai pembangunan infrastruktur di luar negerinya sendiri.

Pertemuan berakhir pada Sabtu, 8 Juli 2017,  dengan sedikit drama. Merkel jengkel karena Trump emoh melanjutkan kesepakatan untuk menanggulangi perubahan iklim. Namun demikian, Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde boleh cukup senang, karena beberapa kata kunci tercantum dalam Komunike Bersama. Itu antara lain adalah: investasi untuk infrastruktur, reformasi sektor perburuhan. dan reformasi perdagangan. Pada Komunike Bersama, seperti biasa kita akan membaca kalimat berbunga-bunga untuk mengambil manfaat kesejahteraan sebesar-besarnya dari globalisasi Termasuk dari sektor-sektor ekonomi (dan ekploitasi) baru seperti ekonomi digital dan kesehatan.

Hamburg sudah berakhir, pesta telah usai. Dan Komunike Bersama di akhir pertemuan sama sekali tidak menghibur untuk orang-orang muda kaum pekerja yang kemarin memenuhi jalanan Hamburg. Mereka sudah tahu bahwa  harga makanan dan minuman akan tetap mahal, dan pekerjaan berupah layak tetap susah dicari. Anak-anak muda London juga sudah paham bahwa mereka mustahil memperoleh apartemen harga terjangkau, sesudah ribuan hektar lahan sudah dikuasai para investor. Sama halnya dengan lorong antara Terusan Pasteur dan Gedung Sate yang akan semakin dikuasai raksasa perhotelan dan wisata. Anak keturunan dari penduduk yang dulu terusir dari kampong Cipedes, barangkali sekarang sudah terlempar ke Subang, bekerja di pabrik garment untuk membuat kaya Ivanka Trump. Bagi mereka, bola-bola semen penghias sepanjang trotoar Dago pun sama tidak menghiburnya.

Terakhir, sekedar mengingatkan, perhelatan besar berikutnya adalah pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional-Bank Dunia (IMF-World Bank) di Bali, pada Oktober 2018.

 

Leave a Reply