Fauzi Abdullah (1949-2009): Obor yang Tak Pernah Padam

Sebuah Kabar Sedih  

Sesaat sepeda motorku diparkir, sementara istriku menghampiri teman-temannya. Sore itu, 27 November 2010 bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha, rasanya waktu yang tepat untuk bertemu dengan beberapa teman. Sekadar bersilaturahmi dan bersantai. Tiba-tiba seorang teman menelpon. Dia menanyakan, “Sudah denger kabar Babeh meninggal?”. Saya dan kawan-kawan yang berada di Lembaga Informasi Perburuhan Sedane (LIPS) memanggil Fauzi Abdullah, Babeh. Mendengar kabar tersebut, badan ini lemas. Setengah tidak percaya. “Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun,” jawabku.

Aku pun memerhatikan beberapa pesan singkat yang masuk ke telepon genggamku. Ternyata Mbak Dwi, istri Fauzi Abdullah, sudah mengirimkan sms mengenai wafatnya seorang teladan aktivis perburuhan. Seketika, berita itu aku kabarkan ke istriku. Aku menyebarkan informasi memilukan itu ke semua orang yang dikenal. Mi Oji, demikian aku biasa memanggil, telah mengorbankan hidupnya untuk kemajuan serikat buruh pada Hari Raya Kurban 1431 H.

Dua hari sebelumnya aku menjenguk beliau bersama teman-teman dari Oxfam Australia. Sebelum berpamitan, Tim Connor (Oxfam Australia) sempat menyampaikan rasa hormat dan terima kasihnya kepada Mi Oji atas kontribusi yang sangat besar pada gerakan buruh di Indonesia. Dia mendoakan agar Mi Oji segera pulih. Ternyata pertemuan tersebut adalah yang terakhir. Beliau dimakamkan berdekatan dengan kuburan ayah dan saudaraku.

**********

Persentuhan dengan Mi Oji

Sejak kecil aku telah mengetahui Mi Oji. Waktu itu, ayahku adalah teman karib dia dalam kegiatan teater dan sastra. Kebetulan dia juga adalah teman ibuku di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Bogor Jawa Barat. Karena itu, kami sering bertemu. Dalam pikiranku waktu itu, orangtuaku memiliki teman yang bertubuh besar, hitam dan selalu berpeluh. Belakangan aku mengetahui bahwa peluh itu karena kegemaran dia berjalan kaki. Mi Oji selalu berjalan kaki, berkaos oblong dan bersandal jepit.

Ingatanku selanjutnya adalah ketika dia selalu memberi “sangu” untuk jajan. Kebetulan aku bersekolah SMA di Bandung. Jadi, kalau berlibur ke Bogor, meski banyak saudaraku di Bogor, aku hanya menemui Mi Oji. Pikiranku waktu itu, dia orangnya baik. Salah satu kebaikannya adalah memberi “sangu”, ketika berpamitan dari rumahnya. Bagi orangtuaku, Mi Oji bukan sekadar teman SMA dan teater. Dia banyak membantu memecahkan persoalan-persoalan pelik yang kami hadapi.

Kualitas pertemuan dengan Mi Oji terjadi ketika masa kuliah. Waktu itu, gerakan sosial sedang menggeliat. Pula, gerakan mahasiswa sedang naik daun karena mereka terlibat dalam pendampingan kasus-kasus perburuhan dan sengketa tanah. Jika semasa SMA bertemu Mi Oji dengan berharap diberi “sangu”, kali ini pertemuan itu diisi diskusi. Tidak jarang diskusi itu menghabiskan waktu istirahat Mi Oji juga jatah makan dia. Diskusinya sangat serius, yang terkadang mengharuskanku menginap di rumahnya. Pertemuan “serius” tersebut mengantarkanku berkenalan dengan aktivis perburuhan lain, semisal Bambang Harri (alm.). Bambang Harri adalah salah satu aktivis yang sederhana dan banyak menghabiskan waktu untuk memikirkan dunia perburuhan di Bandung (Lihat, Mengenang Bambang Harri, Jurnal Sedane, Vol. 6. No. 2. 2008). Di kemudian hari, Bambang Harri ikut merintis pendirian Perkumpulan Sedane, organisasi payung Lembaga Informasi Perburuhan Sedane (LIPS). LIPS sebuah organisasi yang berkonsentrasi dalam isu-isu perburuhan.

Dari Rumah Sederhana Semua Dimulai

Mi Oji tinggal di rumah sederhana dan bersahaja di tengah perkampungan orang-orang Arab,  tepatnya di Jalan Sedane Gang Banjar No. 37 Empang Bogor Jawa Barat. Konon, rumah tersebut merupakan milik ibunya, yang dibeli oleh beliau. Sewaktu gerakan buruh gempita, rumah tersebut dijadikan basecamp para buruh untuk berdiskusi, bercengkrama, bersilaturahmi dan menginap. Rumah itu seperti “sarang” perencanaan gerakan buruh, yang waktu itu ditindas rezim represif Orde Baru. Represivitas rezim Orde Baru tidak mengampuni semua gerak-gerik yang dapat mengganggu kekuasaan dan pemusatan kekayaan. Sebagaimana diketahui, struktur pemeritahan Orde Baru mampu memonitor orang dan semua aktivitasnya. Rumah tersebut tampak menjadi persembunyian aman. Tetangga, bahkan keluarga Mi Oji tidak mengetahui persis apa yang dilakukan oleh Mi Oji bersama teman-temannya.

Dari rumah itu pula aktivitas LIPS pertama dimulai. Awal 1990-an, LIPS dioperasikan oleh Mi Oji dan Mbak Nina. LIPS saat itu hanya melakukan pendokumentasian: mengkliping berita perburuhan dari media cetak. Sehingga rumah itu dipenuhi dengan berbagai dokumen, buku dan kliping. Sesekali, aktivitas LIPS dioperasikan sebuah gedung yang terletak di tengah pasar: Jl. Dewi Sartika 52 F Pasar Anyar Bogor. Gudang tersebut, sejak 1993/1994 menjadi Kantor LIPS. Kalau gudang tersebut sedang dikontrakkan atau direnovasi, LIPS akan dioperasikan di Komplek Perumahan Pagelaran, Ciomas Bogor, yakni rumah Mbak Sylvia Tiwon.

Pergulatan Awal di LIPS

“Itu mah bukan mengorganisir, tapi memprovokasi,” ungkapnya kala itu. Kata-kata tersebut membuat merinding, malu dan kaget. Ucapan itu muncul ketika aku menceritakan pengalaman pendampingan buruh-buruh PT Kahatex Bandung Jawa Barat. Tren aktivis mahasiswa pra-Reformasi memang terlibat bersama buruh: berdiskusi dan merencanakan aksi. Sebuah tren yang hampir tidak dilakukan oleh mahasiswa pasca-Reformasi. Mi Oji memberikan komentar pendek dan kena terhadap aktivitas yang cenderung terburu-buru: menyemangati tapi tidak membangkitkan kesadaran. Komentar itu, sampai sekarang begitu relevan, bahwa pengorganisasian membutuhkan ketelatenan, kesabaran dan ketekunan.

Aku mulai terlibat dalam aktivitas LIPS sekitar 2001, di saat LIPS memulai memublikasikan jurnal. Setelah itu, aku mulai terlibat penuh dalam aktivitas LIPS, bahkan terlibat dalam pendirian Perkumpulan Sedane. Mi Oji,  pada awal pendirian Perkumpulan Sedane dipilih sebagai Ketua Pengurus Perkumpulan. Bersama pengurus lain beliau membuat kebijakan-kebijakan umum organisasi untuk dilaksanakan oleh LIPS. Sebagai Ketua Perkumpulan, kami memosisikan Mi Oji sebagai “penasihat” LIPS. Karena itu, kerap kami mengundang beliau untuk berdiskusi.

Dinamika dan Pergulatan Organisasi

Di LIPS, Mi Oji biasa dipanggil Babeh. Entah sejak kapan panggilan itu muncul. Yang jelas, Mi Oji selalu bersikap “menengahi” ketika kami memperdebatkan persoalan perburuhan. Dalam soal umur Mi Oji memang lebih tua daripada orang-orang LIPS. Pun dalam soal pengalaman dan pengetahuan perburuhan. Namun, Mi Oji bersikap egaliter kepada semua, termasuk kepada orang-orang yang baru terlibat di LIPS. Beliau tidak segan untuk membuat minuman sendiri, walaupun sudah ditawarkan untuk dibuatkan. Beliau juga rela untuk mencuci piring yang dipakainya, bahkan piring yang dipakai orang lain. Dalam memperlakukan personil LIPS, atau tamu yang lebih muda, dia tidak memosisikan diri sebagai figur senior yang gila penghormatan. Semangat dan praktik egaliter sangat terasa, terkadang membuat malu orang yang menghadapinya. Tapi, beliau selalu dapat membuat hubungan serta suasana sangat cair dan hangat. Beliau humoris. Dia tidak marah ketika kawan-kawan yang lebih muda mencandainya. Meskipun akan terlihat serius ketika berdiskusi, selalu saja dibumbui dengan guyon. Persoalan yang pelik dan teoretik terkesan mudah beliau sampaikan.

Menanggapi persatuan gerakan sosial misalnya, dengan cergas ia mengatakan, “Semua serikat pengen bersatu, tapi semua serikat pengen mimpin. Ayo bersatu, asal gue yang mimpin. Repot kalau begitu,” ujarnya sambil tertawa geli. Dengan tenang dan pelan beliau menjelaskan dan berdiskusi tentang berbagai hal, khususnya isu perburuhan. Tampaknya, beliau salah satu dari orang yang percaya kepada proses. Setiap orang, termasuk dirinya harus melakukan proses pembelajaran. Ketika orang lain berbicara, tampak ia sangat memerhatikan dan mendengarkan dengan seksama. Sekalipun berbeda dengan pendapatnya. Menghadapi perbedaan pendapat tidak lantas membuat Mi Oji ketus berdiskusi.

Suatu waktu, Mi Oji terlibat perdebatan, apakah Organisasi Non-Pemerintah (ornop) harus melebur bersama serikat atau tetap berada di luar? Di kalangan aktivis 80-an, persoalan ini cukup pelik. Bahkan, telah menjadi persoalan teoretik. Lebih jauh, persoalan tersebut akan mengantarkan pada pertanyaan-pertanyaan turunan: apakah funding itu bersifat menghambat gerakan atau memajukan, apakah ornop pendukung perubahan atau aktor perubahan dan pertanyaan-pertanyaan lain yang cenderung ideologis. Tidak sedikit perbedaan pendapat harus memisahkan Mi Oji dengan teman-temannya. Ketika teman-temannya memilih meleburkan Ornop dengan serikat buruh, Mi Oji masih saja memilih mempertahankan LIPS dan melakukan kerja-kerja “kecil”: fokus pada beberapa kelompok kecil, dengan bayangan ke depan kelompok-kelompok tersebut akan melanjutkan dan memperluas kerja-kerjanya, sehingga dalam waktu panjang akan terbangun sebuah gerakan yang solid dan besar. Cita-cita Mi Oji adalah terbangunnya gerakan buruh yang memunyai kekuatan bargain yang besar serta punya kesadaran politik yang tinggi.

Mi Oji tidak meleburkan Ornop dengan serikat, karena khawatir terjadi kesenjangan pengalaman, pengetahuan dan akses informasi yang membuat hubungan tidak sejajar. Menurutnya, Ornop mesti terus menerus memperbaiki perannya menopang dan mendorong pekerjaan-pekerjaan yang belum mampu dilakukan oleh serikat buruh. Beliau berharap bahwa keberadaan LIPS dapat melengkapi peranan serikat buruh. Dengan demikian, serikat buruh semestinya dibangun, diperluas, dan dikuatkan oleh buruh itu sendiri. Kesenjangan pengalaman dan pemahaman di serikat buruh dapat diatasi dengan mempraktikan demokrasi, sebagi nilai harian serikat buruh. Karena itu, informasi harus dibuka dan akses terhadap informasi harus dipermudah.

Mengingat lebih dari 32 tahun hegemoni Orde Baru terhadap serikat buruh buruh, mewujudkan gagasan mengubah serikat dari dalam bukan pekerjaan mudah. Hanya orang yang memiliki kesabaran dan ketelatenan yang dapat melakukannya. Menurut Mi Oji, pendidikan adalah kunci utama dalam proses tersebut.

Dalam pandangang Fauzi Abdullah, pendidikan adalah pembentukan nilai. Bentuknya bisa beragam dari kelompok-kelompok informal hingga pendidikan formal semacam training. Namun yang lebih penting dari kerja-kerja pendidikan serikat buruh adalah menyediakan kondisi kepada anggota agar bersedia mengikuti pendidikan. Karena itu, wujud pendidikan bukan memindahkan pengetahuan tapi menggali pengalaman. “Penting sekali menanyakan dan mendengarkan aspirasi anggota; apa pendapat mereka dan bagaimana pengalaman mereka,” katanya sekali waktu. “Membuat orang marah (provokasi) lebih mudah. Dan, membangun kekuatan yang instan tidak akan menjawab persoalan, karena serikat akan lebih rentan hancur dalam waktu singkat bila tidak dipersiapkan dan dibangun dengan sungguh-sungguh”, ujarnya. 

Ketika berhadapan dengan funding, Mi Oji memiliki pandangan tersendiri. Sekali waktu ia pernah berujar, “Uang seringkali menjadi pangkal kehancuran organisasi”. Pandangannya tersebut ia ejawantahkan di LIPS. Ia berpandangan bahwa funding dapat mengintervensi kedaulatan organisasi. Sikap yang tidak mau diintervensi menyebabkan aktivitas LIPS “naik turun”. Pembiayaan operasional LIPS banyak didapatkan dari kantong pribadinya dan/atau bantuan dari beberapa koleganya, baik di dalam ataupun luar negeri. Kalau pun ada pembiayaan, lebih karena tawaran kerjasama dalam jangka pendek dan jumlah kecil. Sekali waktu, karena tidak ada biaya sama sekali, Jurnal Sedane yang telah selesai tidak dapat diterbitkan, sehingga tertunda dalam waktu cukup lama.

Dalam sehari-hari, Mi Oji memperlihatkan bagaimana demokratisasi pengetahuan dilakukan dan nilai-nilai universal dipraktikkan. Beliau tidak sungkan untuk bertanya mengenai isu-isu baru dan berita-berita teranyar mengenai perburuhan. Selain itu, beliau tidak pernah terlihat jumawa karena lebih tua atau lebih mengetahui persoalan. Juga, ia tidak pelit untuk membagi pengalaman dan pengetahuan. Kalau berdiskusi, sikap kebapakan dan kesabaran terlihat ketika menjelaskan argumentasinya dan mengajak orang lain mempertimbangkan argumentasinya. Dan, memberikan kesempatan kepada orang lain mempertahankan keyakinannya.

Meniti Jalan Mewujudkan Mimpi Membangun Gerakan Buruh

Melalui LIPS, Mi Oji ingin mewujudkan mimpi-mimpinya membangun gerakan buruh yang mempunyai kekuatan politik yang diperhitungkan oleh berbagai kalangan. Gagasan tersebut disederhanakan dalam pikiran-pikiran bagaimana membangun serikat yang kuat dan demokratis.

Mi Oji meyakini bahwa demokrasi bukan sekadar prosedur tapi nilai-nilai yang terejawantahkan dalam kehidupan harian serikat buruh dan tecermin dalam program perjuangan dan pengelolaan organisasi. Dalam kesempatan lain, ia pun berharap bahwa gerakan buruh merupakan bagian integral dari gerakan sosial. 

Menurut Mi Oji, organisasi bukan tujuan, tapi sebagai wadah berjuang dan proses pembelajaran. Untuk itu, organisasi harus demokratis dan membuka ruang bagi seluruh anggota untuk berpartisipasi seluas-luasnya, termasuk bagi buruh perempuan. Ketika sebuah serikat oligarkis maka akan terjadi kesenjangan antara pengurus dan anggota. Akibatnya, pengurus serikat tidak ada yang mengontrol. Lebih jauh, serikat akan kehilangan peran dan fungsi sejatinya. Dalam konteks demikian, tidak akan terjadi regenerasi dan organisasi menjadi jumud.

Selain itu, menurutnya, pengurus serikat kerap mengabaikan anggota. Pengabaian terhadap anggota diperlihatkan dengan ragam bentuk. Mempertahankan struktur serikat yang tidak demokratis, adalah salah bentuk pengabaian terhadap amanat anggota. Juga, membuat pendidikan tidak berdasar pengalaman buruh, merupakan bentuk pengabaian.

Mi Oji juga memandang bahwa perubahan dari rezim otoritarian menuju “demokratis” tidak mendorong serikat menjadi lebih kuat. Asumsi tersebut muncul dari berbagai peristiwa perburuhan yang semakin terpuruk. Fleksibilitas tenaga kerja, PHK besar-besaran dan pemberangusan serikat dan persoalan lain dari luar organisasi semakin memperlemah serikat. Banyak serikat yang kehilangan anggota karena pemecatan dan banyaknya buruh kontrak menjadi dilema bagi serikat buruh. Dengan pikiran itulah, Mi Oji berharap paradigma lama keserikatburuhan warisan Orde Baru harus ditinjau ulang, terutama menyangkut peningkatan kapasitas. Pasalnya, peningkatan kapasitas seringkali disempitkan menjadi sekadar keterampilan bukan membangkitkan kesadaran buruh. Ia pun mengingatkan mengenai pentingnya mengatasi fragmentasi serikat buruh dengan mengasah bersolidaritas sesama buruh maupun dengan gerakan sosial lainnya.

Sang Guru Kehidupan

Mi Oji, adalah sosok sederhana penuh pengorbanan. Penulis berpikir, sikap tersebut merupakan satu kesatuan dari pemahamannya tentang kaum tertindas dan bagaimana praktik-praktik itu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sisi manusia dan kemanusiaannya begitu mendalam dan tecermin dalam membangun hubungan dengan siapapun; dari orang kecil sampai orang-orang “besar”. Dengan sadar, beliau memilih jalan hidup dan bergaya layaknya buruh-buruh pabrik.

Dengan tas tenteng yang seringkali sudah rusak ritzletingnya, untuk membawa dokumen kerja. Dalam banyak kesempatan beliau terlihat mengenakan sarung, baik ketika bekerja atau sedang memfasilitasi pertemuan buruh, “Lebih adem dan nyaman”, kilahnya.

Mi Oji terbiasa bangun pagi hari kemudian jalan-jalan pagi. Biasanya tempat yang dituju pertama kali adalah mencari pasar tradisional untuk sekadar mencari kopi dan sarapan kecil atau makanan khas setempat, setelah itu belanja buah-buahan, khususnya Durian. Sebagai keturunan Arab, Mi Oji penggemar daging. Beliau sangat bandel dalam hal ini, ketika saran dokter untuk mengurangi mengurangi makan daging, dia hanya berseloroh, “Kata ibu gue, gak ada orang yang mati karena makan daging kambing!”. “Gue disuruh vegetarian, padahal kambing juga vegetarian.”

Mi Oji adalah sosok yang tersembunyi sorot lampu dan jepretan kamera wartawan. Dan, lebih memilih tetap bergulat dan bergelut dengan realitas kaum yang sudah sejak awal dicintainya: kaum buruh. Dengan setia dan penuh kesabaran, keramahan, canda dan guyonnya mendidik kaum lemah dan tertindas serta orang-orang yang mau belajar. Beliau adalah obor penerang yang tak pernah redup atau pun padam; menerangi jiwa-jiwa dan pikiran kaum yang selama ini terpinggirkan dan terabaikan. Obor tersebut akan terus menyala dan menyalakan obor-obor lain, yang akan menerangi dunia.

Sejak terserang stroke yang pertama kali beberapa tahun yang lalu, kesehatan Mi Oji menurun terus. Aktivitas yang biasa dilakukannya sedikit banyak terganggu. Dalam beberapa bulan terakhir, kondisi badannya melemah, badannya semakin kurus kering. Sampai terdengar kabar Mi Oji harus masuk rumah sakit. Tiga minggu beliau berada di rumah sakit. Meskipun kawan dan karibnya mengharapkan keberadaan Mi Oji, Tuhan memiliki rencana sendiri. Hambanya yang mulia tersebut dipanggil ke pangkuan-Nya di hari penuh pengorbanan. Mungkin ini pengingat kita semua, bahwa dialah “nabi kaum buruh”, yang telah mengorbankan hidupnya. Beliau telah menunaikan tugas suci dan kemanusiaannya dengan baik di dunia fana ini. Tinggallah orang-orang yang ditinggalkan untuk meneruskan tugas “kerasulan”, agar kaum lemah dan tertindas dapat meniti jalan menuju kemenangan.

 ***

Tulisan ini pernah terbit di Jurnal Sedane Vol. 8 No. 2 Tahun 2009. Diterbitkan ulang dengan beberapa penyesuaian.

Penulis : Fauzan Mahdami, anggota Perkumpulan Sedane

 

Leave a Reply