‘Istirahatlah Kata-kata’ dan Generasi Millenial

Mohammad Setiawan

Hingga Minggu kedua Januari 2017 linimasa media sosial saya diramaikan tentang sosok Wiji Thukul dan film Istirahatlah kata-Kata. Film tersebut diputar serentak di 19 Januari di 19 Kota. Tak berhenti dengan jumlah tersebut, bertambah pula beberapa kota lainnya.

Per 24 Januari, saya pun berkesempatan menghadiri salah satu rangkaian acara untuk mengenang Wiji Thukul, di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Selain menonton film, acara tersebut diiringi pula dengan ngamen puisi. Ngamen puisi dibuka oleh beberapa pembacaan puisi dua sampai tiga orang. Di acara itu Fitri Nganti Wani (27) dan Fajar Merah (22), dua anak Wiji Thukul, tampil memukau di hadapan sorotan mata seusia saya.

***

Sebagai generasi yang tumbuh di era 2000-an, terasa sulit memahami Wiji Thukul. Di ruang tertentu narasi Wiji Thukul bertarung dengan poster-poster bergambar Soeharto disertai kalimat khas, ‘Enak Zaman Ku Tho!’. Berdesakan dengan sinetron-sinetron remaja, Anak Jalanan dan sejenisnya. Keduanya seperti hendak meyakinkan bahwa  di periode 1965 hingga sekarang tidak ada masalah apapun. Tahun-tahun di bawah kekangan Soeharto bahkan didaku lebih baik. Semuanya berjalan kedamaian, ketenangan dan harga-harga barang terjangkau.

Saat Wiji Thukul dan kawan-kawannya diburu rezim Soeharto, orang-orang yang seumuran saya masih asyik main gundu atau main layangan. Saya sendiri tidak dapat membayangkan perasaan Fitri dan Fajar, saat umur 10 tahun dan 6 tahun ditinggal bapaknya. Kemudian bapaknya tidak pernah lagi hadir. Sementara ibunya, hidup dalam penantian yang tidak pasti. Kalimat, jika mati di mana kuburannya dan jika masih hidup di mana keberadaannya, memang mewakili rasa penantian itu. Penantian untuk memutuskan perjalanan hidup.

Saya lebih mengenal penggalan kata, Hanya Satu Kata: Lawan! Di kemudian hari saya baru mengetahui bahwa itu adalah satu dari bait sajak Peringatan, yang ditulis oleh Wiji Thukul.

Puisi Wiji Thukul sarat dengan protes dengan mengangkat berbagai isu. Ada soal pembangunan yang tidak adil, perampasan tanah kaum tani, kesehatan yang mahal, dan yang paling menonjol adalah puisi-puisi tentang perlawanan buruh. Puisi protes itulah yang melekatkan nama Thukul sebagai penyair politik gerakan buruh. Ia juga aktif menghidupkan teater buruh di kalangan buruh. Semua puisinya tidak mungkin diukur dan dinilai dari kacamata sastra pada umumnya. Wiji Thukul menyodorkan gaya sastra sendiri; penindasan harian dan perlawanan.

Saya kasih dua contoh potongan puisi Wiji Thukul yang ditulis di periode 1992.

Bukan di Mulut Politikus, Bukan di Meja SPSI

hari depan buruh di tangan kami sendiri
bukan di mulut politikus
bukan di meja spsi.

 

Satu Mimpi Satu Barisan

….

….

dimana-mana ada sofyan ada sodiyah ada bariyah
tak bisa dibungkam kodim
tak bisa dibungkam popor senapan
di mana-mana ada neni ada udin ada siti
di mana-mana ada eman
di bandung – solo – jakarta – tangerang
tak bisa dibungkam kodim
tak bisa dibungkam popor senapan

satu mimpi
satu barisan
***

Melalui sosok Wiji Thukul, saya kira kita bisa memahami situasi di periode 1990-an dengan lebih baik; bagaimana rezim memperlakukan rakyat dengan semena-mena. Jika kenakalan remaja saja dapat diseret dan diinterogasi aparat keamanan, apalagi tindakan yang jelas-jelas melawan. Dalam situasi yang serba represif itulah pengorganisasian perlawanan dilakukan.

Memahami perlawanan Wiji Thukul berarti adalah upaya menyelami bentuk-bentuk perlawanan di era represi dengan medium komunikasi di masanya. Tidak ada telepon genggam, apalagi media sosial. Menelusuri kembali perlawanan kaum tani di Kedung Ombo di periode 1980-an, demonstrasi 1 Mei di Semarang serta pemogokan 15 ribu buruh Sritex Solo dan perlawanan buruh di Medan di akhir pertengahan 1990-an.

Dalam pemogokan Sritex, mata kanan Wiji Thukul digebuk aparat keamanan. Lima belas kawan Wiji Thukul ditangkap. Pemogokan itu sekadar menuntut pemenuhan hak yang sudah diatur dalam peraturan perundangan, seperti upah minimum, hak cuti haid, cuti tahunan dan dihapuskannya sistem target yang tidak manusiawi. Keluhan lainnya adalah tentang sistem hukuman yang tidak manusiawi.  Hingga sekarang, kondisi kerja tersebut tidak banyak berubah, namun setidaknya buruh dapat lebih leluasan berorganisasi. Tidak ada lagi todongan senjata di atas kepala ketika demonstrasi atau pembubaran lingkaran diskusi dengan alasan subversi. Karena itu saya heran kalau ada pemimpin serikat buruh yang merasa pengen balikan lagi dengan zaman represi Soeharto.

Seperti tergambar dari berbagai tulisan tentang Wiji Thukul, salah satu metode pengorganisasian yang mengemuka di saat itu adalah membangun sanggar-sanggar kebudayaan; membuat dan membaca puisi, latihan teater, belajar bersama anak-anak keluarga buruh. Tentu saja yang lebih penting adalah melatih keberanian dan percaya diri. Misalnya tergambar dalam salah satu bait puisi berikut ini, yang ditulis pada 14 Maret 1988 di Solo.

Jangan Lupa Kekasihku

Jangan lupa, kekasihku

jika terang bulan

yang tidur di depan rumah

di pinggir selokan

itu tetangga kita, kekasihku

 

jangan lupa, kekasihku

jika sore pukul lima

buruh-buruh perempuan

yang matanya letih

jalan sama-sama denganmu

berbondong-bondong

itu kawanmu, kekasihku

jangan lupa, kekasihku

jika kau ditanya siapa mertuamu

jawablah: yang menarik becak itu

itu bapakmu, kekasihku

jangan lupa, kekasihku

pada siapapun yang bertanya

sebutkan namamu

jangan malu

itu namamu, kekasihku

 

Saya dan Film Istirahatlah Kata-kata

Film Istirahatlah Kata-kata, merupakan satu episode kehidupan Wiji Thukul: pelarian Wiji Thukul ke Pontianak. Film yang digarap oleh Yosep Anggi Noen hendak menampilkan Thukul sebagai orang biasa, seperti manusia pada umumnya, sebagai bapak dan sebagai suami. Beberapa kalangan menilai bahwa film ini hendak menyapa kalangan anak muda, seperti saya, agar tidak lupa sejarah.

Pengejaran terhadap Wiji Thukul beserta kawan-kawannya yang tergabung dalam PRD terjadi setelah peristiwa 27 Juli 1996 di Jakarta. Rezim saat itu menuding PRD sebagai biang peristiwa yang disebut Kudatuli (Kerusuhan Duatujuh Juli). Melalui media televisi, pemerintah mengumumkan struktur dan bagan organisasi serta nama sejumlah yang dianggap bertanggung jawab. Sejak awal Januari 1998, Wiji Thukul dihilangkan!

Sebelum maupun sesudah diputar serentak, film ini menjadi bahan perdebatan di kalangan aktivis. Ada yang mempertanyakan media pemutarannya, bioskop komersil. Ada pula yang menyayangkannya bahwa film tersebut tidak memperlihatkan dengan terang tentang kebengisan aparatus rezim Soeharto.

Akankah film Istirahatlah Kata-kata memiliki nilai tersendiri di kalangan anak muda? Pada kenyataannya, anak-anak muda yang tumbuh di periode 2000-an, bahkan aktivis sekalipun lebih tertarik film Ada Apa Dengan Cinta 2. Demi film itu, teman saya rela meminjam uang dan mengantri berjam-jam, demi melihat adegan kecupan Dian Sastro kepada Rangga.

Film Wiji Thukul merupakan satu di antara ratusan sinematika yang menampilkan tentang kekerasan dan penghilangan paksa oleh rezim Soeharto. Kita masih bisa menyebut film semisal The Act of The Killing: Jagal, Senyap, dan lain-lain dalam bentuk dokumenter. Ada pula yang ditampilkan secara popular, semacam Gie, Di Balik 98, dan lain-lain.

Cerita tentang film saya punya pengalaman. Sebagai anak desa, saya dan kawan-kawan sebaya memang tidak mengenal kisah kelam sejarah Indonesia. Film-film yang diproduksi ditayangkan secara komersial maupun ‘bergerilya’ ke kampung-kampung masih kalah pamor dengan kisah matinya si Boy dalam sinetron televisi Anak Jalanan. Pembicaraan kami lebih asyik ketika acara dangdutan dan saweran dalam hajatan tetangga. Atau, sekadar mencandai kedengkian Haji Muhidin dalam cerita Tukang Bubur Naik Haji.

Saya adalah generasi yang buta dengan kekejaman Soeharto. Tumbuh dalam situasi yang berbeda. Menikmati beberapa kemudahan informasi, yang terkadang terganggu dengan poster ‘Enak Zaman Ku Tho!’

Setelah pemutaran serentak di bioskop kemarin, saya adalah bagian dari orang-orang yang menunggu untuk mendapatkan film bajakan tersebut. Berharap dapat menanyangkannya di tempat tinggal buruh. Barangkali ini pula yang sedang ditunggu oleh generasi seusia saya.

Mohammad Setiawan, aktif di Bhineka Ceria Purwokerto dan Lembaga Informasi Perburuhan Sedane (LIPS)

Leave a Reply