I’tibar Perang Badar untuk Kawan-kawan Awak Mobil Tangki

Saat jutaan umat Islam seantero negeri sedang menapaki paruh kedua bulan Ramadan; mengisinya dengan ibadah wajib dan sunah. Sebagian, bahkan, sudah ada yang mempersiapkan diri guna menyambut hari kemenangan, Idul Fitri. Ada yang mulai mengisi toples-toples kaca mereka dengan segala panganan khas lebaran. Dalam aura kemenangan di akhir Ramadan, ternyata terdapat 350 Awak Tangki Pertamina Patra Niaga dan PT Elnusa Petrofin harus menghadapi tindakan kesewenang-wenangan pemilik modal. Mereka sejak awal bulan puasa -hanya dengan sebuah pesan singkat (sms)- dinyatakan: tidak lagi menjadi awak mobil tangki (AMT) alias di-PHK sepihak. Kenyataan ini jelas seburuk-buruknya mimpi yang menjadi nyata. Bagaimana tidak, AMT yang bertahun-tahun bekerja tanpa upah lembur, jaminan keselamatan kerja, jaminan kesehatan, bukannya mendapatkan perhatian dari perusahaan, malah di-PHK.

Demi mendapatkan keadilan, sejak akhir Mei Awak Mobil Tangki yang tergabung dalam Federasi Buruh Transportasi Perjuangan Indonesia (FBTPI) telah menempuh berbagai cara; dari berunding dengan perusahaan sampai mengadukan nasibnya kepada pemerintah. Sampai detik ini hasilnya, nol!

Seperti yang tertulis dalam poster kawan-kawan AMT, PHK bukan melemahkan semangat, justru menjadi bahan bakar untuk perlawanan yang lebih menghebat. Dan, pada akhirnya kawan-kawan telah mengambil sikap, mogok kerja! Atas banyaknya pelanggaran UU ketenagakerjaan yang dilakukan PT Pertamina Patra Niaga.

Kawan-kawan AMT yang terhormat,

Bulan ini, di mana kawan-kawan akan melakukan aksi mogok kerja bertepatan dengan bulan Ramadan. Ketahuilah, bahwa Ramadlan adalah bulan perlawanan. Tak luput dalam catatan sejarah banyak peristiwa besar dan kemenangan-kemenangan mengagumkan terjadi di Bulan Suci ini. Fathul Makkah atau Pembebasan Makkah oleh Nabi Muhammad dan kaum muslimin dari kekuasaan kaum Quraisy, pembebasan Andalusia di Semenanjung Iberia yang dipimpin Panglima Islam bernama Tariq bin Ziyad, Penyerahan Kota Thaif, Perang Badar dan tentu kemerdekaan Indonesia terjadi di Bulan Ramadlan.

Tentang Perang Badar. Perang ini terjadi pada 17 Ramadlan Tahun 2 Hijriah. Peristiwa ini amat masyhur bagi umat Islam. Bagaimana tidak, 313 pasukan Islam yang dipimpin oleh Nabi SAW berhasil mengalahkan 950 pasukan Quraisy Mekah yang bersenjata lengkap. Saking hebatnya peristiwa ini, Allah namakan hari terjadinya peristiwa tersebut dengan Yaumul Furqan (Hari Pembeda atau Pemisah). Karena pada waktu itu Allah SWT hendak membedakan antara yang haq dengan yang batil.

Perang yang dimenangi secara gemilang oleh kaum muslimin itu dilatarbelakangi oleh kesewenang-wenangan penguasa, yaitu:

Pertama, pengusiran kaum muslimin dari Kota Makkah serta perampasan harta benda mereka. Dalam sebuah riwayat diceritakan, bagaimana orang kafir Quraisy merampas dan menguasai harta benda Shuhaib. Sebagai imbalan, Shuhaib diizinkan untuk hijrah ke Madinah. Kita pun dapat menyaksikan bagaimana mereka merampas rumah-rumah dan peninggalan kaum muslimin yang ditinggal oleh pemiliknya.

Kedua, penindasan terhadap umat Islam hingga Kota Madinah yang dilakukan penguasa Kota Makkah terhadap umat Islam. Itu semua dilakukan tidak hanya kepada mereka yang berada di Kota Makkah. Di bawah Pimpinan Kurz bin Habbab Al-Fihri, mereka memprovokasi kaum musyrikin lainnya untuk menyerang, meneror, dan menguasai harta benda milik kaum muslimin yang ada di Kota Madinah.

Kawan-Kawan AMT yang belum bergabung dalam barisan,

Satu pelajaran menarik dari Perang Badar ini, semoga bisa meneguhkan hati kawan-kawan untuk melibatkan diri dalam perjuangan.

Ketika Nabi Muhammad SAW semakin yakin bahwa yang akan ditemui adalah pasukan perang dan bukan kafilah dagang. Nabi mulai cemas dan khawatir terhadap keteguhan dan semangat shahabat. Beliau sadar bahwa pasukan yang akan beliau hadapi kekuatannya jauh lebih besar dari pada kekuatan pasukan yang beliau pimpin. Meski semangat para komandan pasukan Muhajirin, seperti Abu Bakar dan Umar bin Al Khattab sama sekali tidak mengendor, dan lebih baik maju terus. Namun, hal tersebut belum dianggap cukup oleh Rasulullah. Beliau masih menginginkan bukti konkret kesetiaan dari sahabat yang lain. Untuk menghilangkan kecemasan itu, Nabi Muhammad mengajukan pertanyaan: Apakah melanjutkan Perang atau kembali ke Madinah. Seketika Majelis menjadi hening. Majulah Al-Miqdad Bin ‘Amr memecah keheningan:

“Wahai Rasulullah, majulah terus sesuai apa yang diperintahkan Allah kepada Anda. Kami akan bersama Anda. Demi Allah, kami tidak akan mengatakan sebagaimana perkataan Bani Israil kepada Musa: ‘Pergi saja kamu, wahai Musa bersama Rab-mu (Allah) berperanglah kalian berdua, kami biar duduk menanti di sini saja.’”

Kemudian Al-Miqdad melanjutkan, “Tetapi pergilah Anda bersama Rabb Anda (Allah), lalu berperanglah kalian berdua, dan kami akan ikut berperang. Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, andai Anda pergi membawa kami ke dasar sumur yang gelap, kami pun siap bertempur bersama engkau hingga engkau bisa mencapai tempat itu.”

Kemudian Rasulullah SAW memberikan komentar yang baik terhadap perkataan Al-Miqdad dan mendoakan kebaikan untuknya.

Setelah mendengar pernyataan beberapa pemimpin pasukan kaum Muhajirin, Rasulullah SAW berkata, “Wahai orang-orang, siapa lagi yang akan melontarkan pendapatnya kepadaku?”

Dengan pertanyaan tersebut Rasulullah memaksudkan untuk memancing pendapat dan pandangan dari para pemimpin pasukan Anshar. Sebab, mereka adalah bagian terbesar dari tentara Islam waktu itu. Di samping itu, karena perjanjian Aqabah Kubra pada dasarnya juga tidak mewajibkan masyarakat Anshar untuk melindungi Rasulullah SAW di luar kota Madinah.

Lantas Sa’ad ibn Muadz, pembawa bendera Anshar, angkat suara. Ia memahami maksud perkataan Rasulullah SAW tersebut. Ia pun segera bangkit dan berkata,
“Demi Allah, benarkah yang Engkau maksudkan adalah kami?”
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Benar.”
Sa’ad berkata,
“Kami telah beriman kepadamu, sehingga kami akan selalu membenarkanmu. Dan kami bersaksi bahwa ajaran yang Engkau bawa adalah benar. Karena itu, kami berjanji untuk selalu menaati dan mendengarkan perintahmu. Berangkatlah wahai Rasululah Shalallahu ‘alaihi wasallam jika itu yang engkau kehendaki. Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan nilai-nilai kebenaran, seandainya engkau membawa kami ke laut itu, kemudian engkau benar-benar mengarunginya, niscaya kami pun akan mengikutimu. Sungguh, tidak akan ada satu pun tentara kami yang akan tertinggal dan kami tidak takut sedikit pun kalau memang engkau mempertemukan kami dengan musuh-musuh kami esok hari. Sesungguhnya, kami adalah orang-orang yang terbiasa hidup dalam peperangan dan melakukan pertempuran. Semoga Allah memperlihatkan kepadamu berbagai hal dari kami yang dapat memberikan kebahagiaan bagimu. Maka, marilah kita berjalan menuju berkah Allah.”

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam merasa bahagia dengan ucapan Sa’ad tersebut hingga beliau semakin bersemangat. Kemudian, beliau berkata,

“Berjalanlah kalian (menuju medan perang) dan beritahukan berita gembira ini. Karena Allah telah menjanjikan kepadaku akan memberi salah satu dari kedua belah pihak. Demi Allah, sekarang ini aku seperti melihat tempat kekalahan kaum (Quraisy).” Lalu, mereka pun berangkat.] sumber: Nabil mufti

Kawan-Kawan AMT yang bersiap untuk mogok,

Perang Badar memberikan pelajaran yang luar biasa bagi kita semua. Kekurangan bukan menjadi penghambat perjuangan. Kekurangan harusnya membuat kawan-kawan semakin awas, waspada dan mengukur setiap tindakan mana yang perlu dilakukan dan mana yang tidak perlu dikerjakan. Sebab tidak semuanya harus menunggu sampai sempurna untuk melawan penindasan, kesewenang-wenangan.

Pada akhirnya, meminjam kata-kata Maxim Gorky: kebenaran harus diperjuangkan agar ia menjadi benar. Dan kemenangan tidak sekedar mimpi bagi mereka yang berjuang. Yakinlah!

Bangkit, Lawan, Hancurkan Tirani.

Happy Nur Widiamoko, anggota Serikat Buruh Kerakyatan (Serbuk) Jogjakarta.

Leave a Reply