KEHARUSAN MUDIK SAAT LEBARAN

 

Sumber: http://lifestyle.liputan6.com/read/2537624/kartun-mudik-lebih-awal-hindari-macet-dan-tiket-mahal

Saat seluruh umat muslim menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan, saat itu pula seluruh disibukkan dengan persiapan-persiapan  menjelang Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran. Tentu saja itu semua terjadi di tengah kenaikan harga-harga sembako dan bahan bakar minyak. Kenaikan harga yang selalu melambung tinggi setiap menjelang Lebaran, seakan tak mau ketinggalan. Seolah-olah mereka itu sudah satu paket.

Semua orang sibuk mengejar target untuk memenuhi semua keperluan, seperti beli baju baru, beli tiket mudik, dan lain-lain. Bahkan, tiket kereta sudah dijual sejak beberapa bulan sebelum lebaran. Begitu pula dengan diriku.

Aku yang baru tiga bulan melangsungkan pernikahan pun jadi ikut terseret. Di tengah penyesuaian, normalilsasi dari minimnya keuangan kami, harus mulai memikirkan bagaimana caranya agar bisa mudik. Dan, beli baju baru adalah satu hal yang tidak mungkin. Apalagi bisa membelikan baju orangtua, hanya sebatas mimpi!

Sebenarnya aku sudah bilang agar mudik ke Garut tidak perlu ke Jawa Timur, rumah suami.  Karena keponakanku mau menikah. Pertimbanganku selain jarak yang cukup jauh, keuangan pun tipis.

“Malu kalau pulang tanpa bawa uang. Kalau ada sedikit uang mending dikirimin saja untuk anak dan adek Mas untuk beli baju di kampung, “ ucapku meyakinkan suami.

“Aku tuh mudik cuma setahun sekali yaitu Lebaran. Aku ingin Lebaran sama anak, ” dalih suamiku.

“Tapi ponakanku akan menikah, Mas. Gak enak kalau tidak hadir,” aku merajuk.

“Ya sudah kamu pulang ke Garut saja dan aku pulang ke Jawa. Kita berbagi,” suamiku menantang.

“ Whaaat..**** !!!!!??? yang benar saja?!”

Setiap kali membicarakan mudik kami pun terlibat percekcokan. Aku rasa situasi ini dialami banyak orang, apalagi pasangan-pasangan yang penghasilannya empet-empetan.

Aku pun merasa malas untuk membahas tentang mudik lagi. Sementara mertua sudah menelpon terus menanyakan kapan pulang. Pusing… pusing… pusing…

Seminggu sebelum hari H kami masih belum tahu akan pulang kemana, tanggal berapa suami mulai libur, kapan THR (tunjangan hari raya) diterima, upah pun belum kelihatan batang hidungnya. Tadinya kalau pun harus pulang ke Magetan aku ingin memanfaatkan fasilitas mudik gratis yang diselenggarakan oleh pemerintah dan beberapa instansi. Tapi sayang waktu libur yang tidak jelas  menghalangi maksud kami.

Aku pun sibuk mencari tempat penukaran uang untuk mendapatkan uang recehan baru untuk dibagikan saat di kampung nanti. Aku merogoh kocek sebesar Rp 700 ribu untuk ditukar uang receh sepuluh ribuan. Karena membagikan uang kepada sanak-saudara seperti sudah menjadi ritual wajib saat Lebaran.

Beruntung aku memiliki tetangga yang kerja di bank. Jadi penukaran uangku utuh. Kalau menukarnya di pinggir jalan atau yang sengaja menyediakan penukaran biasanya akan berkurang jumlahnya. Misalnya, dari Rp 100 ribu dihargai Rp 90 ribu. Mereka mengambil keuntungan Rp 10 ribu. Menukar uang saat lebaran merupakan bisnis tersendiri bagi pihak-pihak tertentu. Semestinya tukar-menukar uang ini tidak perlu terjadi, seandainya uang bukan segala.

Kamis, tiga hari menjelang lebaran kami masih belum mendapatkan kesepakatan, dan hari libur pun masih belum pasti. Efek dari perusahaan tak jelas tempat suamiku bekerja itu. Akhirnya suami memutuskan tidak masuk kerja dan berangkat ke pool bis untuk membeli tiket bis ke Jawa Timur. Aku hanya bisa pasrah. Padahal sehari sebelumnya kami mendapat kabar kalau ibuku jatuh sampai tak bisa berjalan karena keseleo. Berita itu tak mengubah niatnya  untuk pulang ke kampungnya.

Gak apa-apa aku ikut pulang ke Jawa, tapi lebaran hari kedua kita sudah berangkat ke Garut untuk menghadiri pernikahan keponakanku,” tegasku. Suamiku bergeming.

Dengan berbekal uang Rp 200 ribu rupiah suamiku datang ke pool bus untuk membayar uang muka tiket. Biasanya Rp 200 ribu per orang sebagai uang muka. Sisanya akan dibayarkan saat keberangkatan sambil menunggu uang THR. Tak lama kemudian suamiku kembali tanpa tiket. Ternyata harga tiketnya Rp 499.500 per orang. Uang muka yang dibawa tidak diterima. Artinya kenaikan harga tiket lebaran tahun ini mencapai lebih dari 100 persen. Akhirnya aku harus mengambil uang simpanan kami untuk beli tiket. Lebih menyakitkan, karena sampai keberangkatan pun THR yang kami harapkan tak kunjung tiba.

Aku ingin menegaskan, saat banyak orang membutuhkan perjalanan mudik, para pebisnis transportasi memanfaatkannya untuk meraup untung besar. Upaya pemerintah dan beberapa pihak menyediakan transportasi mudik gratis untuk menyaingi ketersediaan kendaraan mudik, nyaris tidak membuat harga tiket menjadi lebih murah. Karena bisnis transportasi sudah dikuasai oleh pihak-pihak tertentu. Pemerintah tidak bertindak tegas terhadap para pemilik bus yang menaikan harga tiket seenak udelnya.

***

Setelah berkemas dan membawa pakaian alakadarnya kami pun berangkat sore harinya. Dari Cikarang Bekasi menuju Magetan Jawa Timur. Setelah semalaman melalui perjalanan yang begitu panjang dan untuk pertama kalinya bagiku, akhirnya kami sampai di kampung halaman suamiku, Jumat siang hari. Keluarga suamiku pun menyambut kami dengan gembira walaupun kami tidak bisa membawa oleh-oleh yang super seperti orang-orang.

“Kalian bisa sampai kesini dengan selamat saja, itu udah alhamdulilah,” ucap ibu mertuaku yang baru pertama kali ini kami bertemu.

Esok harinya ibu mengajakku ke pasar besar yang ada di Madiun. Aku berniat membelikan ibu, adik dan anak suamiku sandal. Karena kami tidak pegang uang akhirnya kami mencari ATM untuk ambil uang terlebih dahulu. Lalu kami pun berbelanja semua kebutuhan lebaran termasuk daging, dan sebagainya. Tentu saja kami gunakan uang simpanan, karena uang THR dan upah suami bulan ini belum juga kami terima.

Akhirnya hari yang dinantikan pun tiba: malam takbiran Lebaran. Saat suara takbir berkumandang melalui pengeras suara dari tiap penjuru. Saat orang-orang begadang dan memanjatkan puji, aku terlelap dalam mimpi, merasakan lelahnya sehabis perjalanan kemarin.

Pagi harinya kami melaksanakan salat Idul Fitri di lapangan yang sudah disediakan oleh panitia. Selesai salat kami berjalan pulang sambil bersalaman dengan orang-orang yang kami temui di jalan. Sampai di rumah kami bersalaman dengan keluarga lalu makan bersama.

Aku pun mulai membagikan amplop khusus lebaran yang sudah aku isi dengan uang. Yang aku beri pertama kali adalah kedua mertuaku, lalu adik, dan anak tiriku. Tentu saja nominalnya lebih dari isi amplop yang lain yang rata-rata Rp 10 ribuan.

Tidak lama kemudian tamu mulai berdatangan. Suamiku menyuruhku membagikan amplop yang berisi uang Rp 10 ribuan tadi kepada setiap anak yang datang. Lalu kami mulai bersilaturahmi ke tetangga dekat yang mayoritas masih saudara dengan suami. Aku lihat, setiap rumah yang kami datangi si empunya rumah pasti sudah memegang dompet besar yang isinya uang untuk dibagikan ke anak-anak yang mendatanginya. Tak ketinggalan jamuan seperti kue-kue, biscuit, pudding, bahkan es krim pun mereka sajikan. “Sepertinya toko sudah berpindah ke rumah seluruh penduduk di sini, “ ucapku dalam hati. Karena perutku masih kenyang aku pun memasukan wafer dan sosis kedalam tasku dan mengundang tawa adik dan saudaranya yang ikut bersama kami. Ternyata kebiasaanku di organisasi terbawa saat mudik, yaitu bungkus makan.

Tak ada rumah yang aku temui tanpa membagikan uang, padahal usia mereka rata-rata sudah usia lanjut yang mungkin sudah tidak produktif lagi.

“Dari mana mereka mendapatkan uang sebanyak itu untuk dibagi-bagi ya? Apa iya mereka orang berada semua? sehingga tak perlu susah payah untuk mendapatkan uang? Rumahnya saja tampak sederhana,” pikirku sambil melihat sepasang kakek dan nenek yang sedang membagikan uang pada anak-anak yang datang ke rumahnya.

Terus terang tradisi di sini sangat berbeda dengan yang ada di kampungku. Di kampungku, kami hanya membagikan uang pada keluarga terdekat saja seperti adik dan keponakan. Tidak seperti di sini, semua yang ditemui diberi uang. Sampai-sampai, 20 amplop yang sudah aku sediakan pun ludes. Sisanya aku bagikan tanpa amplop.

***

Sepertinya silaturahmi di sini tak ada habisnya. Magrib kami baru bisa pulang ke rumah dengan muka yang sudah pada lecek akibat kelelahan. Setelah istirahat sebentar, aku berangkat ke mushola. Tetiba bapak mertuaku bilang kalau kita masih harus silaturahmi ke adiknya yang dekat terminal Maospati.

“Itu besok aja, Pak. Sambil kita nyari tiket buat pulang,” sahutku.

“Besok kita jangan pulang dulu karena adiku yang dari Ponorogo mau ke sini,” suamiku menyela.

“Aku kan udah bilang besok kita harus pulang,” tegasku sambil membanting pintu dan menuju mushola. Aku gak peduli apa pendapat mertuaku. Aku kesal dengan keegoisan suamiku. Entah apa yang dia pikirkan. Aku punya keluarga dan harus melihat ibuku yang lagi sakit. Sepulang dari mushola aku langsung membereskan pakaianku. Suamiku masuk dan bilang, “Kita jangan pulang dulu ya.”

“Terserah! Mas mau pulang atau nggak,  aku tetap mau pulang besok. Karena yang punya keluarga bukan cuma Mas. Aku juga punya keluarga. Apalagi Mas tahu kalau ibuku lagi sakit,” sahutku dengan penuh emosi. Suamiku berlalu tanpa bicara. Gak lama ibu mertuaku datang dan membujukku agar mengurungkan niatku pulang karena masih kangen. Aku tetap dengan niatku, dan akhirnya ibu mertuaku membolehkan aku pulang.

Hari senin, hari kedua Lebaran. Setelah mendapatkan tiket kami pun berangkat dengan naik bus jurusan Bandung. Saat berpamitan Bapak mertua berpesan, “Kalau ada masalah sebaiknya di bicarakan dulu baik-baik, jangan ribut.” Mungkin karena melihat tingkahku kemarin. Aku menanggapinya dengan tersenyum. Malah ibu mertuaku yang mewakiliku menjawabnya: “Iya,” sambil tersenyum padaku.

Saat membeli tiket kami ditawari dua pilihan harga tiket patas biasa dan VIP. Aku pun dengan semangat memilih VIP. Kebetulan harga tiket lumayan murah dibanding patas biasa dari Cikarang kemarin. Pikirku, “Murah nih Rp 300 ribu sudah VIP, ada toiletnya, pasti busnya bagus.”

Tak berapa lama petugas agen yang ada di luar berteriak agar kami bersiap-siap karena bus sudah datang. Kami bergegas keluar ruangan dan pandanganku langsung tertuju pada bus yang ditunjuk oleh orang itu. Sebuah bis yang melaju terseok-seok miring kekanan memasuki area terminal. Aku pun bengong melihat kondisi bus yang sangat memprihatikan dan jauh dari angan-anganku: VIP?!

Dengan langkah gontai kami pun masuk bus, lalu mencari nomor kursi. Kami menemukan kursi yang sudah dipesan. Wadooouh… sarung joknya sudah robek-robek, dan posisinya depan toilet pula. Alhasil selama perjalanan kami sangat tersiksa, tidak ada kenyamanan sama sekali, apalagi bisa tidur. Kepala sampai pusing karena terbentur sandaran kursi akibat bus yang jalannya gludak-gludak dan oleng-oleng. Makin BT saat harus melihat muka suami yang cemberut terus karena merasa terpaksa ikut pulang

“Cuma tiga hari aku bersama orangtuaku,” gerutunya.

***

Selasa pagi hari kami sampai di Limbangan Garut. Aku menelpon adikku agar menjemput kami untuk menghemat ongkos. Untuk mencapai kampungku tidak mudah; harus naik angkot lalu naik ojek. Setelah menunggu setengah jam jemputan pun datang. Dua motor adik dan kakak iparku.

Sesampainya di rumah kami disambut seluruh keluarga yang masih berkumpul. Selain suasana Lebaran, mereka tengah mempersiapkan pernikahan keponakanku yang akan diadakan hari Rabu, besoknya. Setelah istirahat, sore hari kami mendatangi rumah kakakku yang sedang hajatan. Tanpa bisa banyak membantu karena badanku masih cape, setelah memberikan amplop pada kakakku, kami pun pulang ke rumah ibuku.

Esok harinya setelah acara digelar, kami pamit pulang dan kami harus ngejar bus sore untuk ke Cikarang. Hari kamis, besoknya, suamiku sudah harus masuk kerja. Cuma satu malam bersama keluargaku, memang terlalu memaksakan sih. Tapi ini yang terbaik agar tidak membuat kecewa salah satu pihak. Semua keluarga menyayangkan kami  yang cepat-cepat pulang. Tapi mau bagaimana lagi. Aku tahu keuangan suamiku mulai menipis dan aku pun sudah gak pegang uang lagi.

Saat mengantar ponakanku mengambil uang di ATM, aku pun meminjam uang pada keponakanku Rp 200 ribu untuk beli tiket bus ke Cikarang. Dia memberikannya. Untung uang buat ibuku sudah aku titipkan terlebih dahulu pada adikku.

Pukul 3 sore dengan diantar oleh adik dan kakak iparku, kami berangkat menuju terminal Limbangan. Saat berpamitan kakak iparku seolah mengerti kesulitanku, dia memberikan uang Rp 50 ribu.

Setelah menunggu di halte hampir setengah jam di tengah kemacetan pasar Limbangan, akhirnya kami mendapatkan bus jurusan Cikarang yang masih sedikit kosong. Dan alhamdulilah, harga tiket yang tertera di kaca bus tersebut hanya Rp 62 ribu, sama seperti tarif hari biasa. Kami menaiki bus ekonomi, tanpa AC.

Walaupun kepanasan aku tetap bersyukur bisa mendapatkan bus yang tepat menuju Cikarang. Bisa duduk dengan nyaman pula.

Pukul setengah sembilam malam kami tiba di terminal Cikarang. Sebelum masuk terminal kami turun dan memesan mobil online. Memesan mobil online lebih mudah, aman dan relatif lebih cepat. Lagi pula badan kami sudah terlalu lelah untuk dibawa naik angkutan umum. Jika menggunakan transportasi umum terlalu banyak yang harus kami korbankan. Kebanyakan kendaraan umum harus ngetem menunggu penumpang penuh. Belum soal ongkos yang sulit diperkirakan. 

Dengan memesan kendaraan online, cukup membayar Rp 50 ribu dan tiba di rumah kontrakan kami dengan tenang. Setelah bersih-bersih sebentar kami pun beristirahat dan tertidur pulas tanpa harus pusing memikirkan mudik lagi.

Masih ada ganjalan, bagaimana kami bisa makan besok hari sebelum upah suamiku turun, sementara keuangan kami sudah menipis. Wallahu alam. Sampai sekarang, saat kami mengalami kesulitan keuangan aku selalu mengungkit tindakan dia yang nekad memaksakan diri  pulang kampung. Dia cuma menjawab, “Masih itu aja yang dibahas?!”

Siti Saroh, anggota Forum Buruh Perempuan Bekasi

 

Leave a Reply