Reading Time: 10 minutes
image_pdfPDFimage_printPrint

Awal

Suatu hari, Wati, seorang staff keuangan di sebuah pabrik, menghubungiku. Dia mau bercerita tentang “kekerasan” yang menimpanya beberapa minggu yang lalu. Karena cerita ini begitu sensitif dan menyangkut pelaku yang adalah orang penting di tempat dia bekerja maka pertemuan kami atur serapi mungkin.

Singkat cerita. Wati diperkosa oleh atasannya di ruangan kerjanya. Bapak ini dulu adalah atasannya di perusahaan tempat dia bekerja sebelumnya, PT X. Perusahaan tempat Wati bekerja sekarang adalah anak perusahaan PT X. Oleh Si Bapak, Wati dipindahkan ke anak perusahaan ini dengan posisi yang lebih tinggi dan upah yang lebih besar. Kurang lebih, Si Bapak ini merasa berjasa kepada Wati dan saatnya meminta balas jasa.

Kami bertemu di sebuah cafe di sebuah pusat perbelanjaan. Kami memilih tempat yang agak terpisah agar pembicaraan kami tidak terdengar orang lain. Kami juga berbicara dengan suara yang pelan, meskipun saya ingin sekali misuh-misuh. Wati bercerita dengan datar saja. Walaupun menurutnya, ia tidak lagi punya emosi apa-apa tentang peristiwa itu. Namun saya menolak untuk mendengar detail ceritanya. Seperti dalam tulisan saya sebelumnya Omelan tentang Kekerasan, ketika mendengar cerita Wati, teman-temannya justru menyalahkan Wati. “Kamu kali yang nggodain,” “Kok kamu nggak teriak sih?”, “Kok kamu diem aja, nggak nglawan?” “Kok kamu nggak lapor?” Bahkan ada yang justru menimpakan ‘malu’ kepada Wati “Kamu nggak malu masih kerja di sini?”

***

Bagi teman-teman buruh yang bekerja di sektor garmen, pelehan seksual adalah hal biasa yang bisa ditemukan sehari-hari. Bahkan terjadi sejak awal, di fase rekrutmen. Misalnya ketika wawancara, seorang perempuan yang melamar kerja akan diminta untuk catwalk, berjalan lengang-lenggok laksana seorang model. Perlu dicatat, salah satu faktor penting untuk diterima bekerja adalah muda, segar dan berpenampilan menarik.

Setelah diterima kerja, setiap hari, ketika keluar dan masuk ke ruang produksi, buruh harus melewati body check oleh Satpam. Karena, bagi manajemen sebuah pabrik, buruh adalah pencuri. Pemeriksaan seringkali menjadi kesempatan bagi yang memeriksa untuk melakukan tindakan pelecehan terhadap buruh perempuan. Walaupun, akhir-akhir ini, banyak pabrik yang kemudian mempekerjakan Satpam perempuan, tetapi bukan berarti buruh yang diperiksa akan merasa nyaman dan aman dari tindak pelecehan.

Laporan penelitian Perempuan Mahardika (2017) di Kawasan Berikan Nusantara (KBN) menunjukkan bahwa 437 dari 773 buruh perempuan di pabrik garmen mengalami pelecehan seksual, baik secara fisik maupun verbal. Bentuk yang paling umum adalah “menyentuh bagian tertentu dari badan” seperti tangan, lengan, atau punggung. Selain disentuh, disuit-suit dan dipanggil secara nakal, digoda, dilirik, dicolek/ditepok pantat, disenggol payudra dan seterusnya.i

Baca juga:   Omelan tentang Kekerasan

Karena pelecehan seperti di atas adalah hal umum terjadi, maka ia menjadi biasa dan dianggap hal sepele. “Kalau cuma ditarik tali beha, ditepok pantat, atau diintip sama mekanik mah udah biasa. Itu kejadian sehari-hari.ii

Pelaku pelecehan seksual biasanya adalah mekanik, operator, supervisor, tukang parkir dan seterusnya. Bagi mereka yang mempunyai jabatan lebih tinggi seperti manajer atau kepala bagian, bentuk pelecehan lebih jauh lagi, yaitu permintaan berhubungan seks. Di beberapa tempat, layanan seks bagi atasan adalah faktor penentu untuk mempertahankan pekerjaan. Berbagai macam risiko akan diterima seorang buruh jika tidak memenuhi permintaan pelayanan seks oleh seorang atasan. Kontrak kerja bisa tidak berlanjut, tidak dapat lembur, atau dimutasi ke posisi yang lebih rendah. Misalnya, seorang operator jahit dimutasi menjadi helper atau menjadi petugas kebersihan saja.

Kerja, kerja, kerja!

Bagi buruh garmen, pelecehan seksual sebagaimana tersebut di atas bukanlah satu-satunya tindakan kekerasan di pabrik. Ada hal yang lebih sistematis dan terstruktur, yaitu target produksi. Target produksi adalah kekerasan itu sendiri, sebagaimana cerita yang saya dapatkan dari pengalaman teman-teman buruh di KBN Cakung.

Di kawasan ini, ada hari yang disebut dengan “hari ekspor”. Entah apa maksud yang sebenarnya dari kata itu. Yang pasti, pada ‘hari ekspor’ buruh harus bekerja lebih banyak. Tidak boleh pulang sebelum target terpenuhi. Seringkali mereka harus bekerja semalaman dan tidak dihitung sebagai kerja lembur. Bahkan dianggap sebagai hukuman karena target tidak terpenuhi. Dalam buku yang berjudul Buruh Menuliskan Perlawanannya, Lami menceritakan:

“… Tiba-tiba ADM1 memberitahu mendadak kita cuma kerja sampai jam 9 malam terus boleh pulang, langsung kita loncat- loncat bersama bergembira. Tiba–tiba Mr Park turun dari tangga dan teriak “Aima aigo sakia a’ cepat cepat a’ expor sudah jam berapa… cepat sakiaa… Akhirnya semua bubar dan pura-pura kerja cepat, menutupi kegembiraan. Sementara kami dengan yang lain gedebag-gedebug kerja. Suami, pacar menunggu di pagar pabrik sambil tertidur di atas motor. Ada juga yang tertidur di bangku kantin menunggu istri atau kekasih. Hampir pagi, menjelang suara azan subuh terdengar, tubuh kami lemas, rambut awut-awutan, mata cekung wajah pucat, tergeletak di kolong meja mesin, tidur di lantai beralaskan karton. Lalu terdengar pintu kontainer tertutup, ekspor siap berangkat.iii

Di Kabupaten Sukabumi lain lagi. Tidak ada target yang berhubungan dengan jadwal ekspor. Target adalah aktivitas harian. Sebuah pabrik yang menyuplai pakaian untuk GAP menargetkan 70 – 100 potong setiap 23 menit pada setiap line, tergantung pada kompleksitas model dan jumlah komponen yang harus dijahit. Setiap selesai 23 menit, target diperbaharui jika barang dengan model tertentu selesai dikerjakan. Dalam satu hari, selama delapan jam kerja, akan ada 18 target yang terus menerus diperbarui.

Seorang operator mesin jahit menceritakan bahwa ia harus menyelesaikan satu potong dalam 30 detik. Sebuah target yang tidak mungkin bisa dicapai, bahkan selalu ditambah:

“Dulu, untuk model GAP yang sama targetnya 45 piece setiap 23 menit. Kita bisa mencapai targetnya. Lalu target dinaikan menjadi 60 piece per 23 menit. Kita bisa mencapainya. Sekarang 80 piece per 23 menit. Jika kami bisa mencapai target ini, pasti nanti bakal dinaikan terus. Mungkin bisa jadi 100 piece per 23 menit.iv

Seorang buruh pabrik yang menyuplai Nike mengatakan:

Line saya mengerjakan Nike. Pernah membuat celana pendek perempuan. Sejam harus selesai 200 potong. Kalau sehari bisa menyelesaikan 1800 sampai 2000 potong. Kalau membuat celana klub olahraga bisa mencapai 500 potong sehari. Kerjaanya keteter”.v

Seorang operator harus memenuhi target. Jika target belum tercapai, mereka tetap terus bekerja walaupun jam kerja sudah habis. Di KBN, Tangerang, Sukabumi, ada sebuah istilah yang disebut dengan “skorsing”. Skorsing adalah jam kerja tambahan untuk menyelesaikan target hari berjalan. Di Semarang dan Serang, hal yang sama disebut dengan “jam molor” yang oleh buruh disebut dengan ”pek se pek dar” yang dalam bahasa Indonesia berarti “sampai selesai, sampai mati”. Tambahan jam kerja seperti ini tidak dianggap lembur yang, dengan demikian, tentu saja tidak dibayar.

Baca juga:   Ayu Lestari, Rezim Target Produksi dan Perlawanan Buruh

Pemaksaan tambahan waktu, yang disebut ‘jam molor’ atau ‘skorsing’, menundukkan buruh sedemikian rupa hingga buruh memaksa diri sendiri untuk datang lebih pagi dan mengabaikan waktu istirahat demi memenuhi target. Demi menghindari ‘jam molor’, buruh bahkan datang dan kerja 30 menit lebih awal dari jam resmi agar bisa memenuhi target. Bahkan ada yang melanjutkan pekerjaan setelah mengisi absen pulang.

Jam 4 kita ceklok kartu absen, semuanya. Tapi nggak pulang. Balik lagi ke dalam dan kerja lagi sampai targetnya selesai. Kadang-kadang sejam, kadang juga lebih.vi

Di Cimahi, seorang buruh yang tidak memenuhi target dipermalukan di depan yang lain dengan cara memajangnya di dalam sebuah kotak transparan hingga bisa dilihat semua orang. Di Sukabumi, sebuah perusahaan yang memproduksi untuk H&M memajang buruh yang tidak mencapai target di atas sebuah podium di hadapan ribuan buruh yang lain.

Agar buruh bekerja lebih cepat, supervisor, apalagi ketika dia melihat tumpukan komponen jahitan di atas meja jahit, akan marah sekali dan berteriak, “kerja lebih cepat!! Kalian ngapain aja??!! Tidur?!” Jika masih menemukannnya untuk kedua kali, maka supervisor itu akan berteriak dengan umpatan yang lebih kasar lagi, “Hei, bisa kerja gak? Kalau tidak bisa kerja, pulang aja jual gorengan di pinggir jalan.” Teriakan dan makian seperti ‘bodoh’, ‘idiot’, ‘goblok, ‘babi’, ‘anjing’ adalah hal sangat biasa didengar di ruang produksi. Sering kali juga, teriakan dan makian itu disertai dengan gebrakan meja dan lemparan sesuatu ke muka buruh.

“Satu ketika aku melihat temanku yang bekerja di bagian sewing (jahit) dibentak-bentak oleh pengawasnya, karena tidak dapat target sesuai yang diharapkan. Aku juga menyaksikan buruh pingsan di ruang produksi karena tidak diijinkan pulang saat sakit.”vii

Buruh yang paling banyak diteriaki dan dimaki adalah operator dan helper. Helper adalah buruh yang mengambil dan membawakan satu komponen jahitan kepada operator. Helper juga yang membantu operator membawa hasil jahitan ke bagian quality control. Helper ini adalah lapisan paling rendah dalam organisasi produksi dan kebanyakan adalah perempuan yang tidak bisa menjahit. Kadang-kadang helper ini malah dimaki oleh rekannya sendiri, operator.

Makian dan umpatan di pabrik tidak melulu dalam bentuk lisan, kadang ditulis pada sebuah karton dan digantung, seperti yang bisa dilihat pada gambar. Agar tidak termasuk golongan orang bodoh, maka buruh tidak boleh komplain, cari cara untuk menyelesaikan target. Seorang buruh yang bekerja di KBN Cakung pernah menjelaskan bahwa tulisan seperti ini sangat banyak ditemukan di pabrik tempat dia bekerja.

Menghardik dan memaki tidak saja menimpa buruh perempuan. Operator jahit berjenis kelamin laki-laki juga mendapatkan hal yang sama, “kerja, jangan kayak nenek-nenek!”, “cepat, kerja, hei…, kamu perempuan?!”, dan lain sebagainya.

Selain supervisor, yang sering berteriak adalah “Onny”. Onny adalah sebutan untuk perempuan yang biasanya jadi manajer di pabrik-pabrik asal Korea. Sebagai orang asing, bahasa Indonesia yang dia tahu hanya makian dan umpatan. Seorang buruh menceritakan:

“Aku bekerja berdiri sama dengan yang lain, tidak ada yang berbicara. Semua diam, fokus bekerja. Begitu juga aku, hanya keringat dingin mengucur. Bila aku dengar teriakan orang marah-marah di sebelah sana, kata yang lain “Itu Onny lagi ngamuk, karena tidak dapat target.” Aku tetap membisu dan berkeringat dingin sekaligus haus. Mataku sedikit melirik dengan takut ketika aku melihat di hadapanku ada Onny yang berdiri mengawasi aku bekerja. Mungkin dia tahu aku anak baru. Setelah Onny pergi, aku ditawari minum teman semeja di bagianku.” viii

Seorang buruh dari Sukabumi menjelaskan bahwa gaya memaki Onny seringkali juga ditiru oleh bawahannya.

“Waktu Onny bernama Miss Kim bekerja di sini, dia sering teriak-teriak dan maki-maki. Saya waktu itu I Line 20 dan saya bisa dengar dia teriak-teriak, maki-maki di line 1. Waktu itu juga staff lain juga kasar dan sering maki-maki.”

Selain teriakan dan makian, agar proses produksi tidak terhambat sedikit pun, pabrik biasanya mengatur waktu ke toilet. Di beberapa pabrik, ada aturan akses ke toilet dengan menggunakan kartu. Mereka yang tidak punya kartu – tidak berizin – tidak bisa sama sekali ke toilet. Itu pun harus ada buruh pengganti. Tanpa buruh pengganti, buruh yang ingin ke toilet tidak akan dapat kartu.

Tidak bisa ke toilet bagi buruh perempuan akan sangat berbahaya, apalagi kalau dia sedang menstruasi. Dia tidak akan bisa mengganti pembalut dan akan berujung kena penyakit. Banyak cerita yang menjelaskan bahwa kebanyakan buruh perempuan menderita infeksi saluran kencing.

Selain urusan ke toilet, target kerja juga menghalangai buruh pabrik untuk melakukan shalat. Atau melakukan shalat buru-buru karena dihantui oleh target yang harus diselesaikan.

“Kalau bagian sewing, selalu dikejar target. Kalau jam istirahat, hanya sempat makan. Kadang belum waktunya salat, udah salat duluan. Kata teman-teman, walaupun belum waktunya salat, ya gak apa-apa, kan Tuhan Maha Mengetahui.ix

Kekerasan itu Menyakitkanx

Bagi mereka yang mengalami kekerasan akan sangat sulit untuk menceritakannya kembali. Karena ketika seorang penyintas kekerasan menceritakan pengalamannya, ia sudah menyederhanakannya sedemikian rupa. Lagi pula, bahasa yang digunakan pasti tidak mampu menampung rasa sakit yang sebenarnya. Biasanya, rasa sakit ini mengambil bentuk yang beragam seperti apa yang diceritakan oleh seorang buruh sebagai berikut.

Kita sebut saja namanya Gina. Pertama kali Gina dimaki-maki oleh Mandor Codot adalah ketika ia datang terlambat ke pabrik karena terlambat bangun setelah semalam begadang menunggui teman sebelah kontrakan yang demam. Awalnya, Gina menganggapnya biasa saja, bahkan ia menganggap layak dimaki-maki karena melakukan kesalahan. Tapi makian seperti tidak hanya datang sekali, bahkan ketika dia tidak melakukan kesalahan apapun. Makian selanjutnya datang tanpa sebab yang jelas. Lalu datang lagi dan lagi. Sumpah serapah Mandor berisi nama binatang, ‘bodoh’, ‘tolol’, ‘dasar perempuan nggak becus’, ‘lambat kayak nenek-nenek’, ‘dasar tidak berguna’, ‘dasar lambat’, ‘tidak tahu terima kasih’, dan lain sebagainya.

Setiap pulang kerja, di dalam kontrakan sempitnya, matanya menonton TV, tapi ia memikirkan apa yang dikatakan Mandor Codot. “Jangan-jangan aku memang bodoh, memang tidak becus, dan lambat. Besok aku akan bekerja lebih cepat dan lebih baik.”

Esoknya ia bekerja lebih rajin, masuk tepat waktu, tidak membuat kesalahan. Namun, Mandor Codot tetap sama memaki-maki, dengan makian yang kurang lebih sama. Gina tidak melakukan apa-apa. Ia menahan tangis dan menahan marah.

Sepulang dari kerja, di kontrakannya malam itu, ia menangis sejadi-jadinya. Meluapkan segala kesal dan marah. Ia marah kepada Mandor Codot dan juga kepada dirinya sendiri yang tidak punya keberanian menentang makian yang ia terima. Ia merasa sangat lemah.

Esoknya, ia berangkat bekerja seperti biasa. Merasa was-was dan khawatir akan menerima makian Mandor lagi. Hari itu, Si Mandor sedang baik hati. Tak ada makian. Tapi setiap kali Sang Mandor lewat di dekatnya, hatinya berdebar-debar, tangannya gemetar dan keringat dingin mengucur. Terkadang, nafasnya tiba-tiba menjadi berat. Bahkan belakangan, ketika ia di kontrakan, sendirian, tiba-tiba teringat akan Mandor Codot dan makiannya, nafasnya tiba-tiba menjadi pendek dan ia merasa ketakutan.

Gina tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya tahu bahwa ia harus menyelamatkan diri dengan cara keluar dari pekerjaannya. Sekarang, meski ia tidak lagi bekerja di pabrik itu, ketika ia teringat Mandor Codot dan makiannya, ia akan kehilangan nafas dan berkeringat dingin.

Cerita di atas hanya satu dari sekian banyak cerita yang tidak gampang digali, diceritakan ulang dan dituliskan. Tidak semua orang yang pernah mengalami kekerasan mau dan mampu menceritakannya kembali. Kadang-kadang, pengalaman ini hanya menjadi coretan makian di toilet pabrik.xi

Akhir

Kekerasan di tempat kerja atau di pabrik bukanlah sesuatu yang bisa disederhanakan begitu saja sebagai kenakalan pelaku atau kelengahan korban. Karena sebuah praktik kekerasan tertentu mengandaikan kondisi-kondisi serta tujuan yang memungkinkan hal itu terjadi. Jika dipelajari lebih lanjut, maka bisa dilihat bahwa kekerasan itu, apapun bentuknya adalah sesuatu yang melekat pada proses produksi itu sendiri.

Nyawa dari proses produksi di dalam pabrik adalah adalah kerja selama mungkin dengan hasil sebanyak-sebanyaknya. Untuk itu, sistem produksi harus dibuat ketat dan terukur. Buruh harus dikontrol dan ditundukkan apa pun caranya. Sistem produksi harus dikembangkan seilmiah mungkin. Ada banyak sistem produksi yang dikembangkan para ahli untuk digunakan di industri garmen, seperti flexible flow system, one piece flow, straight-line atau syncrho-system dan lain sebagainya. Kesemuanya mempunyai ciri yang sama, yaitu menyederhanakan buruh menjadi hanya sebagai sebuah instrumen kerja yang bisa diukur bahkan sampai hitungan detik. Buruh dilucuti semua ciri-ciri kemanusiaannya sampai ke level yang sangat rendah.

Sistem produksi di atas, bersama-sama dengan teori-teori tentang pengelolaan “sumber daya manusia”, mewujud dalam praktik kekerasan yang beragam. Mulai pelecehan seksual, permintaan layanan seks oleh seorang manajer sampai ke disiplin akses ke toilet adalah bagain dari praktik kekerasan yang terhubung langsung dengan gagasan tentang produktivitas.

Selain dua hal di atas – gagasan tentang produktivitas dan praktik kekerasan yang mengikutinya – pabrik juga dibangun dengan pengalaman akan tubuh lelah dan lunglai ribuan buruh yang harus kerja sampai pagi mengejar target ekspor, tangis dan keterhinaan menahun seorang buruh yang dipaksa melayani selera seks atasannya. Dan seterusnya. Pengalaman-pengalaman seperti ini sangat sulit ditangkap, karena rasa tidak bisa ditangkap oleh sebuah kosa kata. Biasanya, pengalaman-pengalaman ini akan mewujud menjadi perlawanan-perlawanan kecil. Misalnya dalam bentuk coretan-coretan di toilet. Pisuhan. Atau bahasa-bahasa bikinan untuk menggantikan istilah-istilah resmi di dalam pabrik.

Sebagai penutup, dengan melihat tiga hal di atas – praktik kekerasan, konsep dan teori tentang sistem produksi dan pengalaman menyakitkan yang diderita oleh buruh – maka pabrik tidak bisa dilihat sebagai tempat kejadian kekerasan, tetapi pabrik adalah sebuah ruang sosial yang dibangun dengan kekerasan. Lebih kasar lagi, pabrik adalah kekerasan itu sendiri!

____

1 ADM singkatan dari administrasi, artinya manajemen perusahaan.

i Perempuan Mahardhika, Pelecehan Seksual dan Pengabaian Hak Maternitas Pada Buruh Garmen, Kajian Kekerasan Berbasis Gender di KBN Cakung, (2018, 26)

ii Yuni (40 th), pseudonym, 7 April 2018, Sukabumi. Yuni sudah bekerja di berbagai pabrik selama 18 tahun terakhir.

iii Lami, Belajar, Bertindak bersama Organisasi, Buruh Menuliskan Perlawanannya, LIPS dan Tanah Air Beta (2015)

iv Rusmi, (47 th) pseudonym, obrolan tentang target Desember 2018

v N, perempuan 41 tahun. Sembilan belas tahun N bekerja di PT Kaho 2 Bekasi Jawa Barat http://majalahsedane.org/robotisasi-generasi-buruh-kontrak-dan-pencabutan-order-nike-dari-indonesia/

vi Yanti (19) bekerja di pabrik yang membuat lingerie merk Lululemon. Pabriknya di Ungaran, Kabupaten Semarang.

vii Jumisih, “Aku Buruh Pabrik, Aku Perempuan, Aku juga Ibu, dan Aku Bisa”, hal 174 of Menolak Tunduk, LIPS dan Tanah Air Beta (2017)

viii Lami “Belajar, Bertindak bersama Organisasi”, page 145, Buruh Menuliskan Perlawanannya, LIPS dan Tanah Air Beta (2015)

ix  T, perempuan 37 tahun, 20 tahun bekerja di Kaho 2 Bekasi http://majalahsedane.org/robotisasi-generasi-buruh-kontrak-dan-pencabutan-order-nike-dari-indonesia/

x Bagian ini sudah saya tuliskan di artikel yang lain berjudul “Omelan tentang Kekerasan” di http://majalahsedane.org/omelan-tentang-kekerasan/

xi Cerita ini serta analisis yang agak berbeda bisa dilihat pada catatan saya yang lain. Bisa dilihat di http://majalahsedane.org/omelan-tentang-kekerasan/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *