Laissez Faire Regional, dari Maquiladora ke MEA

Azhar Irfansyah

 

Judul: Maquilapolis (City of Factories)

Tahun Rilis: 2006

Sutradara: Vicky Funari & Sergio De La Torre.

Durasi: 68 Menit

 

Ilmuwan sosial, menurut Ha-Joon Chang dalam Economics: The User’s Guide, mengemban tanggung jawab moral untuk menghindari uji coba terhadap masyarakat (Chang, 2014). Tanggung jawab moral inilah yang memberi arti penting menyimak sejarah bagi ilmuwan sosial.Dengan menyimak babak-babak sejarah, kita dapat melihat pola-pola sebab-akibat dan mengambil ibroh.Perang dunia I dan II misalnya, menjadi pelajaran penting bagi masyarakat Eropa untuk memelihara keamanan regional.

Bagaimana dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan diberlakukan pada Januari 2016 nanti? Dari babak sejarah mana kita dapat menerawang dampak-dampak yang kelak akan dibawa MEA?

Meskipun tergolong sebagai kebijakan baru di tingkat regional Asia Tenggara, karakteristik-karakteristik dari kebijakan MEA sebenarnya dapat dilihat pula pada kebijakan tingkat regional lain. Laissez faire (doktrin neoliberal, diambil dalam bahasa Prancis yang artinya “biarkan saja mengalir”). Termaktub dalam elemen-elemen inti MEA adalah kebebasan arus barang, jasa, investasi, modal, dan pekerja terampil. “Kebebasan-kebebasan” macam ini sebenarnya sudah menjadi mantra lama dari perancang kesejahteraan neoliberal, terutama di negara-negara Dunia Ketiga. Dapat dibilang tak ada nilai kebaruan dari MEA sebagai kebijakan laissez faire regional.

Border Industrialization Programm, lebih dikenal sebagai Maquiladora. Program yang diterapkan pemerintah Meksiko dan Amerika Serikat pada 1960-an.  Merupakan salah satu babak sejarah laissez faire industri paling awal di Dunia Ketiga. Maquiladora inilah yang kemudian memuluskan jalan menuju North American Free Trade Agreement (NAFTA) pada 1996. Film dokumenter besutan Vicky Funari dan Sergio De La Torre, Maquilapolis: City of Factories, menunjukkan dampak-dampak laissez faire regional di tataran lokal.

Dalam pembuatan dokumenter Maquilapolis, Funari dan De La Torre berkolaborasi dengan aktivis-aktivis buruh perempuan Tijuana.Kolaborasi inilah yang membedakan Maquilapolis dari film-film dokumenter kebanyakan. Maquilapolis tak menempatkan para buruh Tijuana sebagai obyek atau korban yang patut dikasihani, melainkan sebagai subyek yang mampu menyusun perspektif dan agenda politiknya sendiri.

“Kami ingin merengkuh subyektivitas mereka sebagai nilai, lalu memadukan pembuatan film kami dengan suara mereka,” terang Funari tentang kentalnya subjektivitas dalam Maquilapolis (PBS, 2006).

Salah satu dampak dari kolaborasi dengan subyek cerita adalah kaburnya batas antara ranah publik dan ranah personal dalam Maquilapolis. Dikaburkannya batas ini membantu kita untuk melihat dampak yang dibawa Maquiladora Program baik di ranah publik (pabrik, kota) maupun di ranah personal (keluarga, rumah). Seperti dijelaskan De La Torre, Maquilapolis “Bukan hanya menjabarkan fakta, namun juga menukik ke realitas sehari-hari.“ (PBS, 2006)

Banyak cuplikan dalam Maquilapolis ditampilkan sebagai video diary dari dua aktivis buruh perempuan Tijuana, Carmen dan Lourdes. Carmen orang tua tunggal bagi tiga anak. Ia bekerja selama enam tahun di pabrik televisi Sanyo, merakit bagian flyback. Sanyo hanya salah satu pabrik perakitan televisi dari ribuan pabrik yang bergerak di bidang yang sama. Karena banyaknya jumlah pabrik perakitan televisi, Tijuana menyandang gelar “Ibu Kota Televisi Dunia”.

Selama bekerja, Carmen terpapar zat-zat kimia yang menggerogoti kesehatannya. Carmen kemudian mengidap anemia, kadang ia tiba-tiba mimisan saat bekerja shift malam. Assembly line juga memaksa Carmen bekerja tanpa henti dengan jam istirahat yang minim. Ia harus menahan buang air kecil hingga berjam-jam, sampai-sampai fungsi ginjalnya terganggu. Setelah memaksa para buruh mengorbankan kesehatannya untuk menghasilkan keuntungan bagi perusahaan, Sanyo dengan entengnya memindahkan pabrik ke Indonesia demi tenaga kerja yang lebih murah lagi. Sanyo juga menolak membayar pesangon.

Lourdes juga buruh yang bekerja untuk salah satu pabrik di Tijuana. Namun cerita dari video diary Lourdes lebih banyak mengulas dampak lingkungan Maquiladora Program di Tijuana. Lourdes yang tumbuh besar di Tijuana melihat sungai yang melintas di depan rumahnya tercemar dan rusak oleh derasnya industrialisasi. Sungai yang dulunya jernih jadi berwarna, berbusa, dan berbau. Di masa kanak-kanak Lourdes seringkali berenang di sungai itu, sementara keluarganya berkemah di tepian. Kini sungai di depan rumah Lourdes bukannya membawa kebahagiaan, melainkan epidemik penyakit. Dari alergi kulit, gangguan pernapasan, hydrocephalus, hingga bayi yang lahir tanpa kuku harus ditanggung penduduk yang bermukim di dekat sungai.

Bukan hanya sungai, infrastruktur pemukiman di lingkungan para buruh juga tak terurus. Meskipun dijadikan salah satu pusat perakitan elektronik dunia, listrik rumah tangga di pemukiman buruh Tijuana bergantung pada jejaring kabel yang kondisinya sangat memprihatinkan. Kabel-kabel yang mengalirkan listrik dibiarkan terjulur sembarangan di tanah, beberapa bagian mendesis karena terendam air. Anak perempuan tetangga Lourdes yang masih kecil pernah tersengat listrik hingga hampir tewas saat terjatuh di atas juluran kabel.

Lourdes juga mengarahkan kameranya ke limbah yang dengan seenaknya ditinggalkan pabrik ketika pindah dari Tijuana. Salah satunya adalah 6000 ton limbah besi dan baterai yang ditinggalkan begitu saja oleh Metales y Derivados. Pemiliknya kabur dan hidup enak di San Diego, wilayah Amerika Serikat yang berbatasan langsung dengan Tijuana.

Meskipun memulai ceritanya dari risiko yang harus ditanggung buruh dan penduduk Tijuana, Maquilapolis tak hanya mendokumentasikan nelangsa untuk menerbitkan rasa iba penonton. Maquilapolis juga menunjukkan bagaimana Carmen, Lourdes, dan para buruh lainnya di Tijuana bangkit sebagai subyek politik untuk merumuskan agendanya sendiri melawan kesewenang-wenangan modal.

Sejak dipecat tanpa pesangon oleh Sanyo, Carmen yang sebelumnya loyal pada perusahaan menjadi aktivis—melakoni pertarungan tak imbang yang ia sebut sebagai “Daud melawan Goliath.” Sementara Lourdes menggalang dukungan penduduk sekitar untuk memaksa pemerintah Meksiko dan Amerika Serikat memperhatikan soal lingkungan yang tercemar. Ia menggelar kampanye dengan mengusung slogan “Tijuana bukan tempat sampah!”. Carmen dan Lourdes belajar bersama aktivis-aktivis akar rumput lain yang menamakan diri promotoras. “Dari awalnya menjadi murid, kemudian secara bertahap kamu juga menjadi guru,” begitu Carmen menggambarkan proses belajar bersama para promotoras yang kebanyakan perempuan.

Kebanyakan buruh, sekitar 80 persen, yang bekerja di Maquiladora Program adalah perempuan. Ini karena buruh perempuan dianggap lebih murah dan penurut. Banyak diantara buruh perempuan juga berstatus orang tua tunggal seperti Carmen.

Meskipun harus hidup dalam kondisi lingkungan dan kesehatan yang memprihatinkan, ditambah dengan perjuangan berat yang harus mereka hadapi, para promotoras tak kehilangan selera humor dan apresiasi terhadap seni. Adegan ketika para promotoras berdiri terpaku dengan tatapan kosong lalu melakukan gerakan pantomim seolah mereka sedang bekerja di depan assembly line menjadi sangat khas dalam Maquilopolis.

Kadang gestur assembly line itu diikuti narasi puitis dari salah satu aktivis buruh. “Tekan, lepas, tekan, lepas..sementara saya terus bertanya-tanya bagaimana keadaan di rumah. Apakah anak laki-laki saya sudah pulang? Bagaimana keadaannya? Sudahkah ia makan? Bagaimana dengan gadis-gadis kecil saya?Apakah mereka bermain di luar? Sudahkah mereka menyelesaikan pekerjaan rumah? Apakah mereka bertengkar satu sama lain..? Lalu saya menekan melepas, menekan, melepas..begitu terus sampai selesai,” begitu bunyi salah satu narasi. Inilah puisi khas seorang ibu yang bekerja di pabrik.

Ada pula adegan para aktivis buruh menyebutkan nama-nama perusahaan yang mempekerjakan mereka di pabrik. “Santomi, Sanyo, Panasonic, Deltech, Optica Sola, Samsung, La Estrela..”Cara para aktivis buruh menyebutkan nama-nama perusahaan tersebut mengingatkan pada Arya Stark dalam Game of Thrones yang menyebutkan nama-nama orang yang menzalimi keluarganya.

Perjuangan Carmen dan Lourdes akhirnya membuahkan hasil setelah dilakoni bertahun-tahun. Para buruh yang dipecat Sanyo mendapat pesangon sebesar 2.500 USD, jumlah ini jauh lebih besar dari besaran pesangon yang biasanya diberikan perusahaan-perusahaan di Tijuana.Carmen menggunakan uang pesangonnya itu untuk memperbaiki rumahnya yang bobrok. Sementara Lourdes dan kawan-kawan akhirnya memaksa pemerintah Amerika Serikat dan Meksiko untuk lebih perhatian pada limbah. Metales y Derivados yang mangkrak selama bertahun-tahun akhirnya dibersihkan. Tapi kemenangan-kemenangan kecil ini masih menyisakan jalan perjuangan yang panjang. Selain Carmen, masih banyak buruh lain yang kesehatannya digerogoti bahan-bahan kimia di pabrik. Angka pabrik yang hengkang ke Asia untuk mencari tenaga kerja yang lebih murah juga semakin meningkat, menyisakan banyak kasus macam Sanyo. Dalam hal lingkungan, seberapa jauh pemerintah Meksiko dan Amerika Serikat akan menjalankan komitmennya? Sementara sungai di depan rumah Lourdes mungkin tak akan bisa kembali seperti sedia kala lagi.

Laissez faire di Tijuana mungkin dapat disimpulkan melalui pernyataan Magdalene, aktivis Coalicion de Salud Ambiental yang membantu Lourdes.“Perusahaan-perusahaan dapat pergi bebas kemana pun di dunia. Namun datangnya modal diikuti dengan dampak-dampak yang harus ditanggung lingkungan dan masyarakat,” ujar Magdalene.

Masyarakat Asia Tenggara yang sedang mengantisipasi datangnya MEA barangkali perlu belajar dari Carmen dan Lourdes, dari Maquiladora. Impian membangun pasar regional yang terbuka dan kompetitif dapat berujung pada kemalangan kelas-kelas sosial yang selama ini sudah sedemikian tertindas. “Ketidak menentuan pekerjaan dan perampasan lahan akan terjadi lebih marak lagi,” begitu prediksi Ibon Foundation yang berbasis di Filipina. Beberapa rezim mungkin akan mengorbankan kemanusiaan demi menjadi kompetitif (Diplomat, 2015).

Perlu diingat pula kesenjangan antara negara-negara di Asia Tenggara sangat lebar. Di satu sisi ada Singapura dan Brunei yang termasuk dalam lima negara terkaya di dunia, di sisi lain ada Burma yang menempati posisi 23 negara termiskin di dunia (Business Insider, 2015). Kesenjangan ini menandakan kesiapan yang berbeda dari masyarakat di negara-negara Asia Tenggara dalam menghadapi MEA.

Barangkali tanggapan terhadap MEA akan bergantung kelas sosial masing-masing. Bagi kelas sosial menengah ke atas, MEA berarti liburan murah ke negara tetangga atau barang-barang bermerek dengan harga yang lebih terjangkau.Sedangkan bagi petani dan kelas pekerja, MEA berarti perampasan lahan yang semakin gila-gilaan dan status pekerjaan yang semakin tak menentu.Meskipun dikatakan hanya pekerja berketerampilan yang dapat keluar-masuk dengan bebas, modal yang semakin mudah datang dan pergi dapat membuat nasib buruh di perkotaan semakin tak pasti.

Laissez faire kebebasan pasar, yang kita antisipasi dalam MEA, hanyalah kebebasanya segelintir orang. Bukan kebebasannya para petani dan buruh yang merupakan mayoritas penduduk Asia Tenggara.

 

 

film Maquilopolis: City Of Factories dapat ditonton melalui Youtube https://www.youtube.com/watch?v=WUQgFzkE3i0

 

 

Referensi:

Ha-joon Chang.Economics: The User’s Guide. 2014. London: Pelican.

‘Maquilopolis: city of factories’. PBS.10 Oktober 2006.http://www.pbs.org/pov/maquilapolis/film_description.php

Mong Palatino. ‘Who will benefit from the ASEAN economic community?’.5 Mei 2015.http://thediplomat.com/2015/05/who-will-benefit-from-the-asean-economic-community/

Barbara Tasch. ‘The 23 poorest countries in the world’.13 Juli 2015.http://www.businessinsider.com/the-23-poorest-countries-in-the-world-2015-7

Barbara Tasch. ‘The 23 Richest countries in the world’.13 Juli 2015.http://www.businessinsider.com/the-23-richest-countries-in-the-world-2015-7

 

Leave a Reply