Reading Time: 5 minutes

Seperti tahun-tahun sebelumnya. Pagi-pagi 1 Mei, saya sudah berada di sekitar Monas. Di Patung Arjunawiwaha atau yang lebih dikenal dengan Patung Kuda. Di tempat itu sudah berkumpul massa SPN (Serikat Pekerja Nasional). SPN tahun ini tidak seperti tahun sebelumnya, tidak bersama dengan KSPI (Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia). SPN bersama dengan FNPBI (Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia), SBMI (Serikat Buruh Migran Indonesia), SPOI (Serikat Pekerja Otomotif Indonesia), SRMI (Serikat Rakyat Miskin Indonesia), dan LMND (Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi). Beberapa tuntutan yang mencolok adalah “Bubarkan BPJS”.

Di ujung lain, terdapat kelompok terdiri tidak lebih dari 25 orang. Mereka adalah “buruh Nike” yang masih menunggu kedatangan teman-teman mereka dari Karawang dan Tangerang. Kelompok ini terdiri dari SEBUMI KASBI (Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia) PT Kaho Indah Citragarment, FSPEK KASBI (Federasi Serikat Pekerja Karawang Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia) PT Dream Sentosa Indonesia, FSBN KASBI (Federasi Serikat Buruh Nusantara Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia) PT KMK Global Sports Indonesia, dan SEBUMI KASBI (Serikat Buruh Merdeka Indonesia Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia) PT Bintang Indokarya Gemilang.

Sambil menunggu kelompok lain datang, saya berjalan ke arah jembatan penyeberangan di jalan Merdeka Barat, tempat biasa saya mencari sudut terbaik mengambil gambar. Namun, yang saya temukan adalah barikade tiga lapis: kawat berduri, beton dan pasukan polisi. Di belakang, terlihat water canon dan pasukan Brimob dengan peralatan lengkap sedang bersiap-siap.Akibat blokade jalan Merdeka Barat ini, tidak hanya saya kehilangan spot mengambil foto, tentu saja massa aksi tidak akan mampu mendekati istana. Kabar yang saya dengar, blokade tidak hanya dilakukan terhadap jalan-jalan besar namun juga gang-gang kecil di sekitar Istana.

Sambil menunggu kelompok massa berikutnya, saya pun berkeliaran di sekitar Patung Kuda. Lalu saya melihat ada beberapa orang berkaos merah bertuliskan “Labour Inspector”. Ada juga yang berbahasa Indonesia “Pengawas ketenagakerjaan”. Karena penasaran, saya bertanya kepada salah satu dari mereka tentang apa itu “Labour Inspector” dan apa saja tugasnya.

Laki-laki berkaus merah itu menjawab bahwa mereka adalah satuan di bawah Kementerian Ketenagkerjaaan. Jumlahnya sekitar 80 orang. Tugasnya adalah memantau pelaksanaan undang-undang ketenagakerjaan tetapi bukan pengawasan. Karena pengawasan ada di Dinas Ketenagkerjaaan Provinsi. Ketika saya tanya apakah mereka menerima laporan pelanggaran undang-undang ketenagakerjaan? Dia menjawab “iya”, caranya datang saja ke Kementerian lalu sampaikan laporan dan pengaduan. “Ikuti saja mekanismenya,” katanya dengan yakin.

Hal yang baru di tahun ini adalah KSPN menurunkan massa yang cukup besar. Tidak seperti biasanya yang memfokuskan massa di Semarang, tahun ini KSPN membawa massa ke Jakarta.

Baca juga:   Peringatan May Day 2018 di Berbagai Negara

Mereka datang dari Pekalongan, Kabupaten dan Kota Semarang, Magelang, Boyolali dan Sukoharjo. Sepulang kerja tanggal 30 April mereka berangkat dari kota/kabupaten masing-masing. Pagi sampai di Jakarta, sore perjalanan pulang. “Tidur di jalan,” jelas salah seorang peserta aksi. Mereka datang dengan menggunakan 15 bus.

Massa berkaus dan berbendera putih ini berhenti di depan barikade polisi dan berorasi. KSPN (Kesatuan Serikat Pekerja Nasional) hanya membawa beberapa spanduk besar. Poster-poster kecil berisi tuntutan bisa dihitung dengan jari.

Menyusul KSPN ada kelompok AJI dan Sindikasi. Massanya tidak terlalu besar, mungkin sekitar 80 sampai 100 orang.

Beberapa kelompok SPSI LEM Jakarta Barat ada di Jalan Merdeka Selatan melakukan orasi di depan Balai Kota. Mereka tidak berniat ke Istana ataupun ke Patung Kuda. Salah satu poster kelompok ini berbunyi “Mayday is fighting Day”.  Sementara itu di lajur sebelah Monas di jalan yang sama, FSP LEM SPSI AHM bersiap-siap menuju Patung Kuda. Menyusul kemudian FSP KEP SPSI menggelar aksi teatrikal yang menunjukkan bagaimana kapitalis menyengsarakan manusia. Kaos kelompok ini bertuliskan “1 Mei bukanlah hari libur pekerja.”

Masih SPSI, kelompok FSP PPMI SPSI Bekasi juga menurunkan massa. Meski, lagi-lagi tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya.

KSBSI hanya menurunkan sedikit massanya. Garteks yang sudah sampai lebih dulu dengan membawa tidak lebih dari 30 orang, membubarkan diri sebelum rombongan KSBSI lainnya sampai.

Lepas tengah hari, massa FPR memasuki Jalan Merdeka Selatan. Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, massa FPR tahun ini lebih sedikit. Biasanya FPR membawa properti aksi yang menarik, namun tahun ini semakin banyak bendera dan semakin sedikit poster yang dibawa.

Baca juga:   May Day, Hari Libur, dan Jam Kerja: Peringatan dan Perayaan 1 Mei di Indonesia dari 1918 hingga 2015

Mayday 2019 ditutup dengan kedatangan Gebrak (Gerakan Buruh untuk Rakyat). Aliansi beberapa organisasi masyarakat sipil yang dibentuk tahun lalu ini membawa massa yang cukup besar. Sebelumnya mereka dihadang barikade di Bundaran HI dan tidak tidak diperbolehkan lewat. Setelah negosiasi alot dan insiden kecil, mereka berhasil menerobos barikade dan meneruskan longmarch menuju Patung Kuda. Seperti tahun lalu, Gebrak membawa isu ‘Membangun Politik Alternatif’.

Secara umum, isu menolak pemagangan, lawan kontrak dan ousourcing, cabut PP 78, Jaminan Kesehatan Gratis adalah isu utama Mayday 2019. Beberapa kelompok membawa isu pendidikan gratis, turunkan harga bahan pokok, penjarakan koruptor, serta hentikan penggusuran dan perampasan tanah. Sementara isu-isu spesifik buruh perempuan yang muncul adalah pelecehan seksual dan kekerasan berbasis gender di tempat kerja dibawa oleh SPN dan Garteks. Cuti melahirkan 14 minggu dibawa oleh KSPN.

Saya tidak memiliki foto dari KSPI, KSPSI Andi Gani, GSPMII, PPMI (Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia), FSBDSI dan KRPI (Konfederasi Rakyat Pekerja Indonesia) yang tahun lalu melalukan debut dalam Mayday tahun ini. Selain itu, serikat-serikat BUMN seperti SP PLN, SP Pos, SPKA juga tidak tampak di sekitar Patung Kuda.

Eh tapi tunggu dulu, ada yang tertinggal. FSPMI SPAMK (Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia Serikat Pekerja Automotif Mesin dan Komponen) PT Suzuki membawa beberapa puluh massa membawa spanduk bertuliskan tuntutan seperti yang dituliskan FSPMI dalam siaran persnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *