Nikomas dan Jawara: Politik Pengendalian Buruh

Abu Mufakhir

Buruh Nikomas: Perempuan, Muda, Pendatang

Jumat, pukul 4 sore tahun 2010, saya datang ke kelurahan Tambak, Serang Timur, Banten, lokasi di mana pabrik sepatu Nikomas berdiri. Pabrik terbesar di Asia Tenggara yang mempekerjakan 75.000-80.000 pekerja.

Kurang lebih 3 kilometer sebelum sampai ke gerbang utama, jalanan sudah mulai macet. Angkutan umum, bus jemputan karyawan, truk-truk peti kemas, ribuan sepeda motor, seluruhnya berjalan merayap. Di samping kiri-kanan jalan, ribuan pekerja Nikomas berjalan kaki dengan wajah lelah. Semakin mendekati pabrik Nikomas, kemacetan semakin parah, angkutan umum semakin sulit bergerak. Di sekitar pabrik Nikomas, berjejer pedagang kaki lima menjual pakaian, buah-buahan, makanan, dan DVD bajakan. Berjejer juga warung makan, salon, mini market, toko elektronik, toko baju, dan toko kelontongan.

Beranjak pukul tujuh malam, suasana menjadi lebih longgar, dan antrian kendaraan semakin berkurang. Tak lama, dari balik pabrik raksasa Nikomas, perempuan-perempuan muda keluar dengan wajah lebih segar. Mereka menikmati malam Sabtu, dimana sebagian tidak perlu bekerja esok harinya. Mereka memilih menikmati makan di luar daripada masak di kontrakan. Beberapa juga berbelanja di minimarket atau pergi ke salon.

Kala itu penulis melihat mayoritas pembeli, dan orang yang sedang berjalan-jalan adalah perempuan berusia muda. Di warung makan, seluruh pembelinya adalah perempuan, di mini market pun begitu, di dalam angkutan umum pun sama.

Dua desa yang berada di sekitar gerbang pabrik Nikomas merupakan kawasan padat yang dihuni oleh ribuan pekerja perempuan, usia mereka antara 18-25 tahun. Mayoritas tinggal di kontrakan-kontrakan di sekitar pabrik Nikomas.

Ada beragam kisah di balik kedatangan mereka untuk bekerja di Nikomas. Salah satu teman bersedia berbagi cerita. Ia datang bersama dengan ketiga adik perempuan dan satu adik laki-laki dari suatu desa transmigran di Lampung, untuk bekerja di pabrik Nikomas. Orang tuanya berasal dari satu desa di Jawa Tengah yang mengikuti program transmigrasi pada awal tahun 1980an. Berpindah dari desa di Jawa Tengah yang dilanda kekeringan, untuk mengubah dataran rawa menjadi perkampungan transmigrasi baru di daerah Lampung. Kini, perkampungan transmigrasi itu telah dikepung oleh areal perkebunan kelapa sawit.

Bagi perempuan dari perkampungan transmigrasi, tidak banyak pilihan yang tersedia begitu lulus sekolah menengah atas. Menurutnya, ia hanya punya dua pilihan: menikah atau keluar dari kampung untuk bekerja. Sepuluh tahun yang lalu, teman itu memutuskan untuk bekerja di Nikomas. Adik-adiknya, satu persatu setelah lulus sekolah, juga turut bekerja di Nikomas.

Setelah sembilan tahun bekerja di Nikomas, dan seluruh adiknya telah mendapatkan pekerjaan, ia merasa sudah lelah. Alarm HP-nya—sejak kemacetan semakin parah—berbunyi sejak jam 4 pagi. Ia berangkat kerja jam 4.30 subuh untuk menghindari kemacetan yang akan memaksanya turun dari angkot dan berjalan kaki menuju pabrik. Ia, bersama ribuan temannya, harus berada tepat di depan mesin jam 7.15 pagi. Kemacetan itu pula yang membuatnya baru dapat sampai ke kontrakan paling cepat jam 7 malam, dalam kondisi serba lelah. Terus melakukan pekerjaan yang sama, target kerja yang semakin melelahkan, mandor yang kasar, setiap hari, bertahun-tahun. Ia kemudian memutuskan berhenti bekerja. Kini ia telah kembali ke kampung halamannya di Lampung, memutuskan menikah, dan tinggal bersama suaminya yang bekerja di perkebunan sawit.

Sejak beroperasi tahun 1993, Nikomas Gemilang terus memperluas areal pabriknya. Kini luasnya lebih dari 2,3 juta meter persegi (230 hektare). Selain itu, Nikomas juga membangun pabrik baru di daerah Sukabumi. Merk-merk sepatu besar seperti Nike,Adidas, Puma, diproduksi Nikomas setiap hari. Pada tahun 2002, pekerja di Nikomas masih berkisar 24.000.[1] Sepuluh tahun kemudian, jumlahnya naik lebih dari tiga kali lipat. Jika pabrik di Serang dan Sukabumi digabungkan, total pekerja Nikomas mencapai 120.000 orang buruh, dan itu setara dengan seperlima dari seluruh buruh alas kaki di Indonesia.

Nikomas merupakan salah satu pabrik terpenting bagi industri sepatu ekspor berskala besar. Di Nikomas, merk sepatu Adidas diproduksi lebih dari 1,2 juta pasang perbulan, dengan mempekerjakan 19.851 pekerja di dalamnya.[2] Dua puluh tahun lebih, ratusan ribu pekerja perempuan muda dari berbagai pedesaan di Indonesia keluar-masuk untuk bekerja di Nikomas.

Masa remaja mereka dicuri oleh pabrik, dilemparkan ke dalam disiplin kerja yang kejam, untuk berhadapan dengan mesin, dan kemudian juga menjadi mesin. Mereka yang patuh dan segar, rata-rata hanya bekerja di Nikomas 2-3 tahun. Mereka yang menghuni lorong-lorong sempit di sekitar Nikomas seperti tidak pernah tua. Perempuan-perempuan muda silih berganti berdatangan, mengisi bagian-bagian produksi baru atau yang telah ditinggalkan pekerja sebelumnya. Mengisi ribuan kontrakan pengap di sekitar pabrik Nikomas.

Nikomas—juga pabrik garmen lainnya—lebih menyukai buruh pendatang, karena lebih mudah dikendalikan. Potensinya untuk melakukan perlawanan harian jauh lebih kecil dibandingkan dengan buruh ‘lokal.’ Dengan menggunakan buruh pendatang, Nikomas dapat lebih mudah memanfaatkan otoritas dan elemen kekerasan lokal yang telah tersedia untuk menekan dan meredam protes.

 

Jawara, Politik Lokal dan Industrialisasi

Keberadaan pabrik selalu berhubungan dengan kondisi sosial dan politik yang berlaku dimana pabrik tersebut berdiri. Selalu ada relasi kuasa antara pabrik dengan otoritas lokal di sekitarnya. Itu terjadi dimanapun. Pada kasus Nikomas yang berdiri di Serang Timur, Provinsi Banten, salah satu otoritas lokal itu adalah kelompok orang kuat yang merupakan satu elit sosial tersendiri, yang disebut jawara.

Sebagai sebuah elit sosial, jawara memiliki sumber kekuasaan yang berasal dari kemampuannya mengolah dan menguasai ilmu beladiri (silat), serta kekuatan simbolik lainnya yang berkaitan dengan segala yang magis. Jawara juga memiliki hubungan intim dengan kelas aristokrat Banten, ulama, dan militer. Dengan modal inilah jawara masuk ke dalam arena politik dan bisnis. Mereka tersebar di partai politik, menjadi pimpinan berbagai organisasi yang seringkali menjadi operator kekerasan seperti Pemuda Pancasila, dan berbagai asosiasi bisnis seperti Kadin, Gapensi, dan Gapeksi.[3]

Walaupun jawara bukan entitas yang padu—di antara mereka sendiri terdapat kompetisi internal, dan berbagai faksi—namun pada zaman Orde Baru kelompok utama para jawara (kelompok Chasan Sohib, ayah Gubernur Banten) berhasil ditempatkan sebagai mesin politik utama Soeharto melalui Partai Golkar. Dengan cara menempel pada pusat kekuasaan Soeharto, via militer dan Golkar, beberapa pemimpin jawara mampu meningkatkan statusnya dari ‘pendekar jalanan’ menjadi politisi lokal. Sampai kini, jawara merupakan susunan oligarki terpenting dengan jaringan politik terluas, dan menguasai nyaris seluruh institusi penting di provinsi Banten.

Nikomas adalah salah satu kisah, dimana ketika Banten mengalami industrialisasi, ceruk bisnis jawara semakin bertambah, salah satunya bisnis keamanan pabrik. Tugas utama mereka adalah memastikan pabrik-pabrik yang berdiri bebas dari protes masyarakat, khususnya pada saat pelepasan lahan dan ketika limbah industri mencemari perkampungan sekitar pabrik. Mereka juga bertugas untuk memastikan pabrik-pabrik bebas dari aksi buruh. Jawara membangun relasi saling menguntungkan dengan pabrik-pabrik yang berdiri di wilayah Banten, mereka mendapatkan bayaran, jatah limbah, jatah memasukan buruh, dan mendapatkan kontrak-kontrak bisnis, sementara perusahaan mendapatkan jasa keamanan. Berbagai kerjasama ini kemudian menempatkan jawara sebagai salah satu instrumen pengendalian buruh terpenting. Jawara menjadi bagian tak terpisahkan dari politik produksi di Nikomas. Mereka menjadi aparatus produksi yang bertugas melakukan pengendalian buruh dengan cara koersif baik di dalam maupun di luar pabrik.

 

Jawara dan Pabrik Nikomas

Nikomas terletak di Kecamatan Kibin, Serang Timur, dan dikelilingi oleh sembilan desa. Kecamatan Kibin merupakan satu dari empat kawasan yang merupakan zona industri Serang Timur, dengan luas area kawasan industri 1.115 hektar, dan menampung sebanyak 145 perusahaan yang sebagian besar berorientasi eksport.[4]Jarak Nikomas dengan Jakarta hanya berkisar 60 km, dan dapat ditempuh 1,5 jam melalui jalan tol. Di depan gerbang utama pabrik Nikomas terdapat jalur utama jalan tol Merak-Tangerang, dan kemudian Tangerang-Jakarta, yang dapat menghubungkan Nikomas dengan pelabuhan Tanjung Priok, sebagai pusat lalu-lintas barang dari dan keluar Indonesia. Jalan tol itu juga menghubungkan Nikomas dengan bandara internasional Soekarno-Hatta.

Nikomas terus berhasil meremajakan tenaga kerjanya, mengembangkan pembagian kerja, memperbaharui mesin dan teknologi. Namun, itu semua akan sulit berjalan jika Nikomas tidak berhasil membangun berbagai kesepakatan dengan jawara. Di sisi lain, jawara dengan berbagai legitimasi dan jaringan kekuasaannya dapat memaksakan berbagai kesepakatan kepada setiap modal yang ingin mendirikan pabrik di daerah Banten.

Jawara memainkan peran penting untuk turut menjaga stabilitas produksi. Salah satunya melalui kesepakatan pasokan kebutuhan buruh Nikomas dengan suatu mekanisme informal, yang dikenal dengan istilah Marlan (Mafia Lamaran). Jawara juga berperan untuk meredam setiap potensi perlawanan dengan melakukan berbagai intimidasi, menghambat proses kebebasan berserikat, mengelola limbah, sampai menyediakan kontrakan-kontrakan.

Posisi Nikomas yang dikelilingi sembilan desa: tiga di depan, empat di belakang, dua di sisi kiri dan kanannya, membuat Nikomas harus berurusan dengan sembilan kepala desa (biasa disebut lurah). Pada prakteknya, posisi lurah tidak hanya sekedar pemimpin administratif, namun lebih dari itu, mereka adalah orang kuat lokal, yang di daerah Banten selalu berkaitan dengan sistem jawara. Dapat dikatakan bahwa lurah merupakan salah satu bagian dari jaringan jawara di tingkat paling lokal yang memiliki hubungan dengan jawara di atasnya.

Setidaknya ada dua strategi umum yang ditempuh Nikomas ketika berhubungan dengan kesembilan lurah tersebut: membagikan upeti ke masing-masing lurah, dan mendekati salah satu lurah dari sembilan desa tersebut yang dinilai sebagai jawara kunci.

Pemberian upeti dilakukan melalui beberapa cara. Salah satunya dengan memberikan bantuan sosial melalui program Tanggung Jawab Perusahaan ke tiap-tiap desa. Juga beberapa bentuk pemberian upeti yang menandai hubungan timbal-balik antara Nikomas dan para lurah, seperti memberikan jatah limbah, jatah memasok tenaga kerja, serta bisnis keamanan pabrik.

Dalam praktek pemberian upeti melalui jatah memasok tenaga kerja, Nikomas memberikan sejumlah konsesi kepada beberapa lurah untuk memasok sejumlah buruh, yang kemudian dijual kepada siapapun yang ingin bekerja di Nikomas.[5] Secara aktual praktek ini tidak hanya terjadi di pabrik Nikomas, tetapi juga di pabrik-pabrik lainnya. Namun, perputaran uang dalam praktek ini di Nikomas dapat dikatakan yang terbesar, selain karena mobilitas keluar-masuk buruh yang tinggi dari satu pabrik ke pabrik lain, yang menjadi karakter industri sepatu dan garmen, juga karena jumlah buruh di Nikomas sendiri jauh lebih besar dibandingkan pabrik lainnya.

Tahun 2011, dengan jumlah buruh lebih dari 75.000 orang, angka keluar-masuk pekerja di Nikomas dapat mencapai 800 orang per bulan. Jumlah ini menjadi lebih banyak saat menjelang atau setelah lebaran, karena saat itu lebih banyak buruh yang memutuskan berhenti bekerja di Nikomas.

Para lurah yang mendapatkan sejumlah jatah lamaran ini kemudian menjualnya kepada mereka yang antri untuk mendapatkan pekerjaan di Nikomas. Dengan membayar sejumlah uang, calon buruh Nikomas tidak perlu lagi melalui prosedur formal penerimaan pekerja. Harga yang ditawarkan berbeda-beda, dan mengalami kenaikan setiap tahunnya. Perbedaan harga tersebut dipengaruhi oleh posisi kerja yang akan didapatkan. Tarif rata-rata per orang pada tahun 2011 berkisar antara Rp1,5 juta untuk buruh perempuan di bagian operator, Rp4 juta untuk buruh laki-laki di bagian mekanik, dan Rp7 juta untuk menjadi satpam. Harganya menjadi lebih mahal jika dibayar dengan cara berhutang atau kredit. Perhitungan sederhana, dengan angka keluar-masuk pekerja mencapai 800 orang per bulan, perputaran uang dari bisnis Marlan dapat dihitung mencapai Rp1,2 miliar per bulan, atau Rp14 miliar per tahun.

Melalui mekanisme Marlan, para lurah (sekaligus jawara) menempati posisi sebagai penghubung antara buruh dan majikan dalam ‘pasar gelap’ tenaga kerja, selain menjalankan fungsi pengendalian buruh. Mekanisme ini menjadi lebih efektif ketika calon pekerja Nikomas membayar dengan cara berutang.

Melalui praktek Marlan, paling tidak Nikomas telah mendapatkan tiga keuntungan sekaligus: mendapatkan kepastian pasokan tenaga kerja dengan model rekrutmen yang lebih praktis dan cepat; melimpahkan beban upeti untuk jawara kepada ratusan calon buruhnya setiap bulan, dan mendapatkan satu mekanisme pengendalian buruh sebagai bonus.

Selain itu, Nikomas juga memegang tokoh kunci. Salah satu kepala desa di kecamatan Kibin, sebut saja Desa Nagara yang nama lurahnya Ahmad.[6] Lurah Ahmad dikenal sebagai salah satu jawara terkuat di Kecamatan Kibin. Ayahnya adalah lurah Nagara sebelumnya, seorang makelar penting dalam proses awal pembebasan lahan Nikomas. Lurah Ahmad juga memiliki hubungan persaudaraan dengan dua mantan lurah di dua desa lainnya yang sama-sama berada di Kecamatan Kibin. Kedua anak dari kedua mantan lurah itu—salah satunya telah menjadi anggota DPRD Banten—kini menjadi lurah menggantikan ayahnya. Di sini, kelurahan sekitar pabrik yang merupakan ‘lahan basah,’ menggambarkan bagaimana oligarki pada tingkat kelurahan berlangsung vulgar.

Pada beberapa aksi serikat buruh di Nikomas, dan pabrik lainnya di Kecamatan Kibin, peran Lurah Ahmad sering terlihat paling menonjol. Keterlibatannya dalam memobilisasi para jawara dalam kasus hubungan industrial di Nikomas mulai terlihat pada tahun 1999. Ketika itu serikat buruh di Nikomas melakukan aksi massa menuntut dinaikannya Tunjangan Hari Raya (THR) dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Lurah Ahmad pun mengerahkan anak buahnya untuk membubarkan aksi. Tahun 2000, salah seorang jawara yang diduga orang suruhan Lurah Ahmad membacok ketua serikat buruh Nikomas. Walaupun kejadian ini dinilai sebagai salah sasaran, karena yang menjadi target sebenarnya adalah pengurus serikat pabrik PT Spindomill, yang berada tepat di depan pabrik Nikomas.

Pada aksi besar menuntut kenaikan upah minimum tahun 2012, Lurah Ahmad terlihat berupaya membubarkan aksi blokade jalan yang dilakukan oleh massa buruh yang mayoritas merupakan buruh Nikomas. Walaupun upaya pembubaran itu gagal, karena jumlah massa aksi yang terlanjur membesar. Pada pemilihan ketua serikat buruh Nikomas pada tahun 2008 dan 2013, Lurah Ahmad diduga mengorganisir persatuan pemuda lokal yang bekerja di Nikomas untuk mendukung salah satu kandidat, serta melakukan berbagai ancaman terhadap kandidat yang dinilai beseberangan dengan pihak manajemen. Salah satu bentuk ancamannya adalah mengirimkan santet. Terakhir, ketika Mogok Nasional 31 Oktober-1 November 2013, Lurah Ahmad bersama seratusan anak buahnya menjaga pintu gerbang Nikomas untuk menangkal aksisweeping.

 

Penutup

Di Nikomas, kekerasan seksual terhadap buruh perempuan, upah murah, upah lembur yang tidak dibayar, target produksi yang tinggi, janin bayi yang dibuang di toilet, wajah-wajah yang mengalami malnutrisi, merupakan bagian integral dari proses produksi.

Dalam rezim pabrik, pekerja dipaksa disiplin dan patuh untuk terus bekerja sekeras-kerasnya. Selain mekanisme pengendalian buruh melalui jam kerja, lembur wajib, sistem target, asrama buruh, pembagian kerja, juga terdapat mekanisme pengendalian buruh dengan jawara. Dalam kasus Nikomas, jawara merupakan salah satu aktor yang menjalankan fungsi melakukan pengendalian buruh, mulai dari dalam pabrik, dengan menempatkan jago lokal kelas teri sebagai petugas keamanan, sampai membangun organisasi pekerja pribumi di dalam pabrik. Jawara juga merupakan aparatus pengendali buruh yang berada di luar hirarki dan birokrasi pabrik Nikomas, dengan cara kerjanya yang informal dan cair, melalui jaringan Marlan dan melakukan tindakan-tindakan untuk menghambat kebebasan berserikat. Posisi jawara dalam politik produksi di Nikomas telah menempati posisi yang penting.

Kasus Nikomas menggambarkan hubungan antara yang tradisional-lokal dengan yang modern-global. Jaringan tradisional jawara menopang berlangsungnya akumulasi kapital melalui manajemen produksi modern. Antara jawara dengan rantai pasokan global sepatu bermerk internasional. Antara Lurah Ahmad (tukang pukul) dan David Beckham (bintang iklan). Antara pencak silat, golok, dan ilmu kebal, dengan canggihnya strategi pemasaran dan riset perusahaan sepatu raksasa Nike dan Adidas.

 

Catatan:

[1] Timothy Connor, We Are Not Machine, Oxfam, 2002.

[2] CSR Update, Nikomas Gemilang, PCI Adidas, 2012.

[3] Jawara elit nomor wahid di Banten adalah Chasan Sohib. Anak-anak, mantu, dan cucunya, menguasai pemerintahan Banten. Anak perempuanya menjadi Gubernur Banten.

[4] Lebih lanjut lihat di: http://www.humasprotokol.bantenprov.go.id/profil-kabupaten-serang/#sthash.dEVvSvhC.dpuf.

[5] Dalam prakteknya, tidak hanya lurah yang mendapatkan jatah lamaran tersebut. Anggota kepolisian dan militer setempat juga diduga kuat mendapatkan jatah lamaran, karena memang menawarkan jatahan lamaran tersebut. Sumber: wawancara beberapa pekerja Nikomas, 2011.

[6] Bukan nama sebenarnya.

Leave a Reply