Oleh, Ismet Inoni Pengantar Tanpa terasa, sudah 14 (empat belas) tahun Undang-Undang Nomor 21 tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh diundangkan atau disahkan. Tentu ini bukanlah waktu yang singkat, selama empat belas tahun sejak reformasi bergulir tidak banyak aturan perburuhan yang berpihak kepada kepentingan klas buruh diciptakan oleh penguasa di negeri ini. Hingga tahun ke-14 sejak disahkan, kehadiran UU No 21 tahun 2000 belum memiliki peranan yang kuat dalam menjamin dijalankannya kebebasan berserikat yang menjadi salah satu masalah pokok bagi buruh di Indonesia. Undang-undang ini sendiri lahir sesungguhnya bukan karena rejim yang berkuasa pada saat itu secara sukarela membela kepentingan klas buruh, namun krisis politik danRead More →

Oleh, Nonon Cemplon   Anakku, empat tahun lalu Ibu adalah buruh pabrik. Ah, pasti kamu tidak mengerti apa itu buruh pabrik. Tidak apa-apa. Kelak kamu akan tahu. Dulu, Ibu bangun tidur jam setengah lima pagi. Kadang lebih pagi dari itu. Padahal, kata orang, itulah jam-jam yang paling nikmat menarik selimut. Di saat orang lain lelap, Ibu sudah berbenah, mandi, memasak, dan memastikan rumah dalam keadaan beres. Jam 6 pagi Ibu berangkat ke pabrik, setelah Ibu mengantarkan kamu ke rumah Bude. Bude-lah yang mengasuh kamu ketika Ibu bekerja di pabrik. Kamu tahu Nak, di pabrik Ibu harus menjahit sepatu. Setiap jam harus menjahit 180 pasang sepatu. IbuRead More →

Oleh, Abu Mufakhir     Benarkah Terjadi Gelombang Naik PHK Massal? LBH Jakarta melansir data pada tahun 2015 terdapat 50 ribu buruh di Jabodetabek yang di-PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Kemudian Kementrian Tenaga Kerja menganggap hanya ada 48 ribu buruh di-PHK. Penanda tambahan lainnya adalah berita tentang PHK di perusahaan elektronik asal Jepang. Sebagian pihak menyimpulkan sedang terjadi ‘PHK massal’ atau PHK ‘besar-besaran’ atau dalam jumlah yang sangat banyak.  Pelemahan nilai rupiah dan lesunya perekonomian nasional ditunjuk sebagai penyebabnya. Tulisan ringkas ini ingin mempertimbangkan apakah skala PHK yang terjadi baru-baru ini dapat dikategorikan sebagai “PHK besar-besaran”, atau persoalan yang jauh lebih gawat, yaitu semakin memburuknya perputaran manusia dalam pasarRead More →

Oleh, Dina Septi “Bagi buruh perempuan tidak ada waktu, tidak ada lagi tenaga! Apalagi jarak antara rumah dengan kantor serikat yang terlalu jauh membuat mereka kurang aktif di serikat dan program pendidikan apapun yang diselenggarakan. Buruh perempuan susah diajak ‘kumpulan’ karena Sabtu lembur. Sedangkan hari Minggu milih nyuci, setrika atau kumpul sama anak. Walaupun saya juga ada lembur di hari Minggu, tapi kalau tidak sedang lembur saya selalu datang ke pendidikan. Sabtu masuk setengah hari, jadi Sabtu sore masih bisa ‘kumpulan’. Bagaimana caranya membuat buruh perempuan mau lebih aktif di serikat?”  ~Narti, buruh PT Alim Rugi Bekasi.   Buruh Perempuan: Ibu dan Buruh Lebih dari sepertiga waktuRead More →

Oleh, Lami   Namaku Lami, bahasa Jawanya lama. Kata ibuku, aku diberi nama Lami karena lahirannya lama. Kalau kata kakekku arti nama Lami karena lama ditinggal bapaknya. Aku enam bersaudara, dari satu ibu lain bapak. Aku anak pertama. Ketika umurku tiga bulan, bapakku meninggal. Aku umur satu tahun ibuku dinikahkan oleh kakekku dengan bujang tetangga. Sejak itu aku mulai diasuh nenekku. Untuk bertahan hidup, sejak umur tiga tahun aku sudah ikut nenekku jadi buruh petik kapas di ladang orang. Masih ingat di benakku saat terik matahari aku disuruh berteduh di bawah pohon sukun, saat lapar makan sukun bakar. Saat aku mulai mengerti, aku mulai membantu nenekku.Read More →