Reading Time: 5 minutes Presiden Korea Selatan (Korsel) Moon Jae-in melalui Wakil Juru Bicaranya, Ko Min-jung, meminta diadakan penyelidikan khusus terhadap pengusaha asal Korea Selatan di Indonesia yang kabur dan tidak membayar upah buruhnya. Moon pun meminta agar dilakukan kerjasama dengan Pemerintah Indonesia di bawah perjanjian ekstradisi untuk menindak para pengusaha Korsel yang melanggar hak perburuhan. Tidak hanya itu, Moon pun menginstruksikan agar dilakukan penyelidikan terhadap seluruh perusahaan Korsel di Indonesia agar kejadian yang sama tidak terulang. Demikian dikabarkan The Korea Times dan The Korea Herald (10 Maret 2019). Instruksi Presiden Korea Selatan selang dua hari setelah media daring berbahasa Korea Hankookilbo dan SBS News memberitakan tentang perusahaan garmenRead More →

Reading Time: 8 minutes Sylvia Tiwon Peran serikat buruh mengalami berbagai perubahan dalam gejolak politik ekonomi, tidak hanya di Indonesia, tetapi di hampir seluruh dunia. Berbagai data dan studi menunjukan kecenderungan menurun dalam tingkat keanggotaan dan densitas1 serikat buruh (OECD.Stat, 2018; Matthews, 2017; The Economist, 2015), termasuk di bagian dunia industrial di mana serikat buruh konvensional masih memegang peran utama. Namun, peran tersebut menunjukan penurunan tajam, terutama sejak sikap antiserikat buruh di Inggris dan Amerika Serikat menjadi bagian dari kebijakan pemerintah, ditopang oleh pilar kembar privatisasi dan deregulasi yang merebak dalam dasawarsa 1980-an dan membawa berbagai dampak ekonomi, budaya, sosial, dan politik yang berlangsung hingga sekarang.2 Pada abad ke-21,Read More →

Reading Time: 7 minutes Subono “Dulu kami korban ketidaktahuan dan pembodohan. Sekarang kami adalah pejuang untuk menciptakan kondisi kerja layak sehat dan aman bagi kesehatan.” Begitulah kesimpulan saya sekarang. Saya akan menulis pengalaman perjuangan melawan penyakit akibat kerja. Per 1998. Berawal saya sebagai buruh harian pembangunan proyek konstruksi fabrikasi (pembangunan gedung dari besi baja bukan bagian civil) di Karawang. Aku bekerja tanpa ada jaminan kesehatan, keselamatan dengan upah per hari waktu itu Rp 7500. Satu tahun bekerja sampai proyek pembangunan gedung selesai. Pada 1999 masih di perusahaan yang sama ada tawaran bekerja masih sebagai pekerja harian. Tetapi sebutannya sedikit berbeda yaitu pekerja harian kantor. Seperti itu bahasanya biasanya orangRead More →

Reading Time: 3 minutes Satu rangkaian diskusi menarik telah dipetik oleh Syarif Arifin, yang kemudian ditanggapi oleh Indrasari Tjandraningsih, dan terakhir oleh Abu Mufakhir. Artikel-artikel sebelumnya dapat dilihat di sini: Pemilu Sementara, Rasisme Abadi: Politik Rasisme di Serikat Buruh, Politik Rasisme di Serikat Buruh?: Sebuah Tawaran untuk Cara Pandang Lain, dan ‘Asing-Aseng’, ‘Cina-Illegal-Unskilled’, dan ‘Chinese-Heigong’. Tanpa perlu panjang lebar mengulas kembali intisari tulisan mereka, tulisan ini hendak ikut rembug dengan menawarkan satu sudut pandang. Yakni, bagaimana hukum melihat sentimen primordial, sebagaimana direkam dalam beberapa putusan pengadilan/Mahkamah Agung. 1. Putusan MA no. 234 K/ TUN/ 2006 Putusan ini menyangkut kasus PHK buruh Syarifuddin dan rekan-rekannya di PT Usaha Timor (diRead More →