Syarif Arifin Beraktivitas di Lembaga Informasi Perburuhan Sedane (LIPS) Pengantar[1] “Selama tiga tahun, sebagai buruh kontrak, saya selalu shift malam. Sebulan dibayar sesuai UMK dan didaftarkan ke Jamsostek. Tidak ada tunjangan lagi. Jika order sedang tinggi semua buruh diwajibkan lembur. Per jam dibayar hanya dibayar Rp 15 ribu. Lembur mati. Sebagian besar buruh adalah perempuan. Gak ada cuti haid. Perempuan kena shift malam, tapi gak dapat jemputan. Sehingga sering dengar perempuan kena rampok ketika pulang kerja malam.”  (Abdi, buruh pembuat pakaian untuk Walmart di  PT Ghim Li Indonesia, November 2014) Walmart adalah sebuah toko yang berpusat di Amerika Serikat. Dengan slogan everyday low price, perusahaanRead More →

Khamid Istakhori     Besok akan May Day, dan ini adalah May Day ke-16 sepanjang hidupku. Setelah May Day pertama di tahun 2001 bersama Komite Aksi Satu Mei 2001, maka perjalanan memperingati May Day seperti naik angkot di pinggiran kota Jakarta: kadang ngebut, kadang lambat dan bahkan ngetem di prapatan jalan. Namaku Khamid Istakhori. Bekerja berganti-ganti pabrik. Sejak saat itu juga “mengenal serikat” dengan berbagai warna, ritme dan aroma. Ceritanya, masih sama kayak angkot Jakarta. Jatuh bangun bekerja di pabrik, di PHK, demikian pula serikat yang ku ikuti. Tahun 1995 aku lulus STM Pembangunan di Temanggung,  jurusan Teknologi Hasil Pertanian. Ini STM hebat, sebab diRead More →

Abstrak Tulisan ini mendeskripsikan mengenai peringatan May Day di Indonesia sejak pra-Kemerdekaan hingga ditetapkannya kembali 1 Mei sebagai hari libur nasional, pada 2013. Selain memperlihatkan watak internasionalisme gerakan buruh, 1 Mei menjadi ajang penting mengekspresikan berbagai persoalan perburuhan. Dalam konteks itu pelarangan 1 Mei di zaman Soeharto, meski pada masa Kemerdekaan 1 Mei menjadi hari raya besar bagi masyarakat umum, merupakan upaya menghapus jejak metode perlawanan buruh dan menundukkan buruh dalam skema pelipatgandaan keuntungan. Tulisan ini memperlihatkan pula mengenai perbedaan penting mengenai pengakuan 1 Mei di masa Kemerdekaan dan di Era Reformasi. Dengan menguatnya rezim pasar kerja fleksibel, perlu memikirkan strategi-strategi yang lebih efektif untukRead More →

Oleh, Abu Mufakhir   Seminggu lagi kita akan memperingati hari buruh internasional. Tahun ini, untuk ketiga kalinya May Day menjadi  hari libur nasional. Di banyak negara, May Day menjadi satu-satunya hari libur nasional yang tidak ada sangkut pautnya dengan peringatan hari besar keagamaan atau kenegaraan. May Day diperingati oleh kelas pekerja dengan agama dan kewarganegaraan apapun. May Day tahun lalu, salah satu pejuang buruh terbaik, Sebastian Manuputi, melakukan bunuh diri sebagai sikap politik. Kawan Sebastian adalah wakil dari generasi pejuang buruh yang lahir saat perlawanan buruh di Bekasi sedang menguat, pada masa grebek pabrik berlangsung dengan heroik selama tujuh bulan. Ia adalah bagian dari generasi mudaRead More →

Oleh, Ismet Inoni Pengantar Tanpa terasa, sudah 14 (empat belas) tahun Undang-Undang Nomor 21 tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh diundangkan atau disahkan. Tentu ini bukanlah waktu yang singkat, selama empat belas tahun sejak reformasi bergulir tidak banyak aturan perburuhan yang berpihak kepada kepentingan klas buruh diciptakan oleh penguasa di negeri ini. Hingga tahun ke-14 sejak disahkan, kehadiran UU No 21 tahun 2000 belum memiliki peranan yang kuat dalam menjamin dijalankannya kebebasan berserikat yang menjadi salah satu masalah pokok bagi buruh di Indonesia. Undang-undang ini sendiri lahir sesungguhnya bukan karena rejim yang berkuasa pada saat itu secara sukarela membela kepentingan klas buruh, namun krisis politik danRead More →