Reading Time: 11 minutes Bambang TD Berminggu-minggu Bambang Harri terbaring di rumahnya. Sakit. Hari itu ia dilarikan ke Rumah Sakit Santo Yusuf, Bandung, setelah mengeluh sesak nafas. Berita menyebar cepat melalui telepon dan pesan singkat (sms). Keluarga dan teman-teman dekat bergantian menemaninya di rumah sakit. Beberapa kawan dari luar kota berdatangan menjenguk. Di ruang tunggu bangsal rumah sakit dering telepon genggam hampir tidak henti. Kawan lama menelepon menanyakan perkembangan keadaan Bambang Harri. Semua yang menunggu di rumah sakit tampak tertekan dan prihatin. Bambang Harri tubuhnya kurus kering digerogoti kanker getah bening. Bermacam peralatan bantu menempel ditubuhnya. Sebentar-sebentar hilang kesadaran dan melewati beberapa kali keadaan kritis. Sesudah empat hari dirawatRead More →

Reading Time: 4 minutes Mohammad Setiawan Hingga Minggu kedua Januari 2017 linimasa media sosial saya diramaikan tentang sosok Wiji Thukul dan film Istirahatlah kata-Kata. Film tersebut diputar serentak di 19 Januari di 19 Kota. Tak berhenti dengan jumlah tersebut, bertambah pula beberapa kota lainnya. Per 24 Januari, saya pun berkesempatan menghadiri salah satu rangkaian acara untuk mengenang Wiji Thukul, di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Selain menonton film, acara tersebut diiringi pula dengan ngamen puisi. Ngamen puisi dibuka oleh beberapa pembacaan puisi dua sampai tiga orang. Di acara itu Fitri Nganti Wani (27) dan Fajar Merah (22), dua anak Wiji Thukul, tampil memukau di hadapan sorotan mata seusia saya.Read More →

Reading Time: 9 minutes Dua tahun lalu, di sebuah diskusi serikat buruh di Bekasi Jawa Barat. Seorang pengurus serikat buruh mengeluhkan pertumbuhan cepat jumlah serikat buruh dan keadaan perburuhan semakin tidak menentu. Ia menandaskan bahwa pada zaman dulu, serikat buruh bersatu dipayungi FBSI (Federasi Buruh Seluruh Indonesia). Baru-baru ini pun tersiar kabar. Ada keinginan dari beberapa federasi serikat buruh di Jakarta ‘menyederhanakan’ kembali serikat buruh. Katanya, pendirian serikat buruh yang terlalu mudah membuat serikat buruh ‘terpecah’. Keadaan yang menguntungkan buruh dan persatuan buruh merupakan dua variabel yang berbeda. Relasi keduanya tidak linier. Tulisan ini tidak membahas tentang relasi tersebut. Namun, melihat kembali periode ‘persatuan’ di kurun 1970 hingga 1990.Read More →

Reading Time: 3 minutes Gafur Gavara[1] Suatu petang selepas Magrib di sebuah warung jamu di pinggiran ibu kota. Di luar sana suara hujan rintik, ditimpali parau teriakan kenek memanggil-manggil penumpang dan deru angkot yang ngetem dan lalu-lalang. Kami duduk melamun menghalau lelah, disertai beberapa gelas kecil bening jamu kuat, kawan sejati bagi kami untuk berlomba-lomba mengais rezeki. “Bray, maneh udah tahu kabar baru ?“ sapa si Ujang mengagetkanku. “Kabar apa?“ “Perusaahan kita mau di akusisi sama bule jepang.“ “Akuisisi apa?“ “Itu maksudnya sahamnya diambil.“ “Kata siapa Lae? Jangan aneh-aneh! Awak masih capeknya pun, baru kelar urusan kerja, kau pulak datang tak karuan,“ David menimpali. “Aku teh denger kabar teuRead More →