Reading Time: 9 minutes Syarif Arifin Tulisan ini bercerita tentang kondisi kerja orang-orang yang bekerja di perkantoran di Jakarta. Saya mengambil contoh orang-orang yang bekerja di kawasan perkantoran terpadu atau central business district (CBD) di Segitiga Emas Jakarta. Ketika menuliskan istilah buruh kantoran, apalagi di Jakarta, pikiran saya terasosiasikan pada kosa kata ‘kelas menengah’ yang mendapat kata sifat ‘ngehek’. Gabungan kata tersebut popular ketika dituliskan oleh Arman Dhani dan ditayangkan di http://www.kandhani.net, pada November 2013. Judulnya Surat Terbuka Seorang Buruh Tentang Kelas Menengah Yang Budiman, pada November 2013. Pesan Arman Dhani cukup jelas ada yang bersikap sinis terhadap demonstrasi tapi turut menikmati hasil demonstrasi, yaitu kelas menengah ngehek. Di luar pembicaraan ‘kelasRead More →

Reading Time: 10 minutes Syarif Arifin Pengantar IBRAHIM (70 tahun), menggarap lahan seluas 9600 meter. Lelaki asal Desa Sukamantri, Kecamatan Tambelang, Kabupaten Bekasi itu dapat memperoleh sekitar delapan ton padi gabah kering sekali panen dari lahan yang digarapnya. Hasilnya dibagi dua dengan pemilik lahan, setelah dikurangi biaya penanaman, seperti beli pupuk, bibit, sewa traktor, bayar buruh tanam, dan obat pembasmi hama. Padahal, selama tiga kali menanam hingga panen, Ibrahim harus membeli atau merawat alat-alat kerja serta memelihara saluran dan pasokan air. Jika gagal panen, semua kerugian ditanggung Ibrahim. Sekitar duapuluh tahun lalu, Ibrahim menggarap lahan seorang pensiunan tentara yang bertempat tinggal di Kabupaten Bogor. Ketika Kabupaten Bekasi ditetapkan sebagaiRead More →

Reading Time: 6 minutes Sylvia Tiwon*   “[I]t was in the Silicon Valley that the new world economy was being forged, the new historical and contemporary capitalism,”  demikian Yann Boutang, pengamat ekonomi politik Perancis. Menurutnya, di tempat bernama Silicon Valley [Lembah Silikon] kapitalisme baru sedang dibentuk, sebuah sistem ekonomi dunia baru yang berbeda dengan bentuk kapitalisme industrial yang timbul pada abad ke 19 dan mencapai puncaknya pada abad ke-20.[1] Bentuk kapitalisme baru ini oleh Boutang disebut sebagai “kapitalisme kognitif” (“cognitive capitalism“), yaitu bentuk penumpukan keuntungan yang tidak sekedar bertumpu pada tenaga kerja fisik sebagai sumber daya sosial yang dihisap dan diuangkan, tetapi semakin bertumpu pada penghisapan (ekspropriasi) sumber dayaRead More →

Reading Time: 13 minutes Yasmine Soraya   Pendahuluan Sebut saja Febri, mahasiswi asal Indonesia lulusan Master Hukum Publik Internasional Universitas Erasmus Rotterdam. Awal 2007, ia kembali ke Belanda untuk internship di Court of Sierra Leone, pengadilan khusus yang dibentuk sementara untuk menangani kasus di Sierra Leone. Febri menjalani internship selama enam bulan yang lalu. Kontrak internship-nya diperpanjang untuk 6 bulan ke depan. Awal 2008 Febri diangkat menjadi staf. Meski demikian, kontrak yang ia dapatkan hanya setahun. Pada akhir 2008, kontrak kerja Febri diperpanjang kembali untuk tiga tahun ke depan. Febri, sebagai migran di Belanda merasa lega bahwa ia dapat meneruskan kerja. Sebenarnya, setiap akhir kontrak, perasaan was-was selalu menghantuiRead More →