Reading Time: 7 minutes Subono “Dulu kami korban ketidaktahuan dan pembodohan. Sekarang kami adalah pejuang untuk menciptakan kondisi kerja layak sehat dan aman bagi kesehatan.” Begitulah kesimpulan saya sekarang. Saya akan menulis pengalaman perjuangan melawan penyakit akibat kerja. Per 1998. Berawal saya sebagai buruh harian pembangunan proyek konstruksi fabrikasi (pembangunan gedung dari besi baja bukan bagian civil) di Karawang. Aku bekerja tanpa ada jaminan kesehatan, keselamatan dengan upah per hari waktu itu Rp 7500. Satu tahun bekerja sampai proyek pembangunan gedung selesai. Pada 1999 masih di perusahaan yang sama ada tawaran bekerja masih sebagai pekerja harian. Tetapi sebutannya sedikit berbeda yaitu pekerja harian kantor. Seperti itu bahasanya biasanya orangRead More →

Reading Time: 3 minutes Satu rangkaian diskusi menarik telah dipetik oleh Syarif Arifin, yang kemudian ditanggapi oleh Indrasari Tjandraningsih, dan terakhir oleh Abu Mufakhir. Artikel-artikel sebelumnya dapat dilihat di sini: Pemilu Sementara, Rasisme Abadi: Politik Rasisme di Serikat Buruh, Politik Rasisme di Serikat Buruh?: Sebuah Tawaran untuk Cara Pandang Lain, dan ‘Asing-Aseng’, ‘Cina-Illegal-Unskilled’, dan ‘Chinese-Heigong’. Tanpa perlu panjang lebar mengulas kembali intisari tulisan mereka, tulisan ini hendak ikut rembug dengan menawarkan satu sudut pandang. Yakni, bagaimana hukum melihat sentimen primordial, sebagaimana direkam dalam beberapa putusan pengadilan/Mahkamah Agung. 1. Putusan MA no. 234 K/ TUN/ 2006 Putusan ini menyangkut kasus PHK buruh Syarifuddin dan rekan-rekannya di PT Usaha Timor (diRead More →

Reading Time: 9 minutes Beberapa hari lalu Majalah Sedane menerbitkan dua tulisan yang penting untuk kita diskusikan bersama. Tulisan pertama ditulis oleh Syarif Arifin, berjudul “Pemilu Sementara, Rasisme Abadi: Politik Rasisme di Serikat Buruh”. Tulisan ini menyajikan detail yang penting tentang bagaimana perawatan narasi kebencian rasial berlangsung dan keberterimaan serikat buruh terhadap isu tersebut. Tulisan kedua yang berjudul “Politik Rasisme di Serikat Buruh?: Sebuah Tawaran untuk Cara Pandang Lain”, ditulis oleh Indrasari Tjandraningsih, merupakan respon yang lugas dengan mempertanyakan beberapa argumen dari tulisan pertama. Kedua tulisan itu penting untuk terus kita diskusikan setidaknya karena dua alasan: pertama karena membahas salah satu persoalan paling panjang dan prinsip dalam sejarah gerakanRead More →

Reading Time: 4 minutes Dunia ketenagakerjaan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini diwarnai pro-kontra tentang buruh atau tenaga kerja asing terutama dari Cina dan memuncak ketika keluar PP no 20 tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing. Sikap kontra terutama muncul dari sebagian serikat buruh dengan argument bahwa peraturan tersebut akan merugikan tenaga kerja Indonesia dan menguntungkan tenaga kerja asing. Dalam konteks itu Syarif Arifin menulis sebuah artikel yang amat kaya dengan informasi berjudul Pemilu Sementara, Rasisme Abadi: Politik Rasisme di Serikat Buruh. Argumen utama tulisan tersebut adalah serikat buruh Indonesia mengidap rasisme karena menolak tenaga kerja asing (baca: tenaga kerja dari negara Cina) dan bahkan menerapkan politikRead More →