Di Balai Kota Semarang. Dari mobil komando, lelaki bertubuh gempal berkaos merah berorasi penuh semangat. Mengecam kebijakan pemerintah dan politik upah murah. Di sela-sela orasi ia mengatakan, “Kita tidak antiinvestasi. Tapi kita menolak buruh kasar dari Tiongkok!”. Orasi diakhiri. Ia pun mengajak peserta demonstrasi menyanyikan lagu Internasionale. Tak jauh dari tempat tersebut. Di jalan menuju Patung Kuda Kantor Gubernur Jawa Tengah, peserta pawai yang terdiri dari perempuan dan lelaki berbaris di pimpin mobil komando. Poster-poster diangkat di atas kepala. Tertulis berbagai tuntutan tentang upah murah, tentang harga sembako, dan “Tolak TKA Ilegal!”. Di Jerman, sekitar 350 orang-orang berkaos merah turun ke jalan dengan membawa poster,Read More →

Di 35 wilayah di Jawa Tengah, May Day dilaksanakan oleh lembaga tripartit daerah yang diikuti oleh pemerintah, organisasi pengusaha dan beberapa organisasi buruh. Kegiatannya diisi dengan jalan santai, panggung hiburan dan pembagian hadiah.  Tidak diketahui dengan pasti bagaimana acara tersebut berlangsung. Dalam lima tahun terakhir, Jateng merupakan salah satu wilayah relokasi industri dari Banten, Jawa Barat dan Jakarta. Sehari sebelum 1 Mei, Ketua Apindo Jateng Frans Kongi mengatakan kepada media massa bahwa perbaikan infrastruktur membuat iklim ekonomi semakin membaik. Ia pun menyatakan bahwa kenaikan upah minimum sebaiknya tidak terjadi setiap tahun. Barangkali, itulah yang dimaksud May Day is Fun Day dalam rangka menjaga hubungan harmonisRead More →

Gerakan buruh di Indonesia perlu belajar dari Hong Kong. Di sini, aktivis buruh tidak mempertentangkan ‘pribumi’ dan asing. Sebaliknya, mereka justru bekerja dan berjuang bersama menuntut perbaikan kondisi kerja yang layak. Perayaan Hari Buruh Internasional (May Day) di Hong Kong 1 Mei yang lalu diramaikan oleh mobilisasi massa buruh Hong Kong dan tenaga kerja asing (buruh migran) [1]. Tidak ada perbedaan yang menonjol di antara ‘pribumi’ dan ‘asing’. Mereka membawa tuntutan yang sama: pembatasan jam kerja, perlindungan sosial yang universal dan gratis, penetapan upah minimum yang layak serta mendesak negara melindungi kehidupan pekerja. *** Pada pukul 09.00 sekitar 800 perempuan buruh migran yang tergabung dalamRead More →

Umur 14 tahun Semaun menjadi anggota serikat buruh. Umur 17 tahun menjadi pengurus serikat buruh kereta api Semarang, sebagai propagandis. Umur berapa Semaun mulai bekerja? Umur 13 tahun di perusahaan kereta api di Surabaya, pada 1912!  Umur 13 tahun zaman sekarang kelas I sekolah menengah pertama. Belia yang menghabiskan waktu seharian untuk bermain bola ato main game Mobile Legends. Di zaman itu, seumuran Semaun, merupakan usia bekerja. Remaja-remaja yang dipaksa menjual tenaga dan waktunya kepada pemilik modal.  Setahun sebelum Komune Paris, kapital Eropa berkeliaran di Asia. Ketika Selat Malaka semakin ramai dan Pelabuhan Deli sibuk. Jalan-jalan diperbaiki dan dihiasi lampu gemerlap, dan kota makin terbentuk.Read More →

“Pak Polisi, dari pada panas-panasan ngatur lalu lintas yang macet,  mendingan sini join sama saya, kita main gaple saja!” (Mbah Ngatmin, tokoh fiksi). Polisi berdiri di perempatan jalan, berseragam, niup-niup peluit, berkeringat, haus, dan wajahnya penuh debu adalah satu hal. Sementara warga duduk di warung kopi, bergerombol sambil becanda ria, banting kartu gaple, dan membully yang kalah main dalam tawa yang renyah berderai, adalah hal lain. Kedua kejadian ini tidak bisa diperbandingkan atau dipertentangkan. Polisi yang berdiri di perempatan dengan segala kerepotannya adalah konsekuensi atas profesinya sebagai pelayan masyarakat. Mereka tidak pernah meminta untuk dikasihani. Justru mereka bangga dengan tugas itu sebab bisa jadi, mereka melewati prosesRead More →