Bandung Reporter: Adi Seperti tahun-tahun sebelumnya, peringatan hari buruh internasional tahun ini terpusat di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro. Menariknya, peringatan tahun ini disambut bukan hanya oleh buruh tapi juga petani, mahasiswa, hingga kaum muda di wilayah urban. Butuh kebesaran hati dari berbagai pihak untuk turun bersama ke jalan dan bekerjasama. Di samping orasi dari berbagai wakil organisasi yang ikut-serta, Mayday dimeriahkan pertunjukkan musik. Sebuah band buruh tampil di atas mobil mobil komando. Mereka menghibur penonton, membawakan beberapa lagu yang mengangkat kesulitan hidup rakyat biasa. Mereka mengakhiri penampilannya mengajak mengajak semua yang hadir untuk menyanyikan “Darah Juang.” Peringatan Mayday berakhir sekitar pukul 17.00. ***  Read More →

Poster dan spanduk merupakan bagian dari atribut aksi massa. Melalui poster dan spanduk, organisasi menyampaikan sikap politik organisasi atau tuntutan. Mengajak masyarakat tergerak dan terlibat serta pihak yang bertanggung jawab bersedia memenuhi harapan yang diinginkan organisasi. Selama ini, poster atau spanduk demonstrasi diungkapkan dengan kalimat perintah negatif atau positif atau gabungan keduanya. Kata-kata yang dipilih antara lain: ‘Tolak!’, Stop!’, ‘Lawan!’, ‘Hancurkan!’ ‘Wujudkan!’, ‘Laksanakan!’ dan sebagainya. Empat tahun terakhir May Day, muncul jenis poster dan spanduk lain. Spanduk dan poster yang dibuat dengan kalimat pernyataan. Berikut adalah beberapa poster dan spanduk yang muncul dari May Day 2014. “Kurangi jam kerja Bapakku! Aku Bahagia Sama Bapakku!” PosterRead More →

Di Balai Kota Semarang. Dari mobil komando, lelaki bertubuh gempal berkaos merah berorasi penuh semangat. Mengecam kebijakan pemerintah dan politik upah murah. Di sela-sela orasi ia mengatakan, “Kita tidak antiinvestasi. Tapi kita menolak buruh kasar dari Tiongkok!”. Orasi diakhiri. Ia pun mengajak peserta demonstrasi menyanyikan lagu Internasionale. Tak jauh dari tempat tersebut. Di jalan menuju Patung Kuda Kantor Gubernur Jawa Tengah, peserta pawai yang terdiri dari perempuan dan lelaki berbaris di pimpin mobil komando. Poster-poster diangkat di atas kepala. Tertulis berbagai tuntutan tentang upah murah, tentang harga sembako, dan “Tolak TKA Ilegal!”. Di Jerman, sekitar 350 orang-orang berkaos merah turun ke jalan dengan membawa poster,Read More →

Di 35 wilayah di Jawa Tengah, May Day dilaksanakan oleh lembaga tripartit daerah yang diikuti oleh pemerintah, organisasi pengusaha dan beberapa organisasi buruh. Kegiatannya diisi dengan jalan santai, panggung hiburan dan pembagian hadiah.  Tidak diketahui dengan pasti bagaimana acara tersebut berlangsung. Dalam lima tahun terakhir, Jateng merupakan salah satu wilayah relokasi industri dari Banten, Jawa Barat dan Jakarta. Sehari sebelum 1 Mei, Ketua Apindo Jateng Frans Kongi mengatakan kepada media massa bahwa perbaikan infrastruktur membuat iklim ekonomi semakin membaik. Ia pun menyatakan bahwa kenaikan upah minimum sebaiknya tidak terjadi setiap tahun. Barangkali, itulah yang dimaksud May Day is Fun Day dalam rangka menjaga hubungan harmonisRead More →

Gerakan buruh di Indonesia perlu belajar dari Hong Kong. Di sini, aktivis buruh tidak mempertentangkan ‘pribumi’ dan asing. Sebaliknya, mereka justru bekerja dan berjuang bersama menuntut perbaikan kondisi kerja yang layak. Perayaan Hari Buruh Internasional (May Day) di Hong Kong 1 Mei yang lalu diramaikan oleh mobilisasi massa buruh Hong Kong dan tenaga kerja asing (buruh migran) [1]. Tidak ada perbedaan yang menonjol di antara ‘pribumi’ dan ‘asing’. Mereka membawa tuntutan yang sama: pembatasan jam kerja, perlindungan sosial yang universal dan gratis, penetapan upah minimum yang layak serta mendesak negara melindungi kehidupan pekerja. *** Pada pukul 09.00 sekitar 800 perempuan buruh migran yang tergabung dalamRead More →