Catatan Awal Pergerakan Buruh di Bekasi Pada bagian ini, saya  merasa perlu  mengutarakan beberapa pendapat yang tidak setuju terhadap aksi grebek pabrik, yang secara khusus dilakukan oleh FKI –karenanya tidak merujuk pada aksi grebek di luar FKI. Ketidaksetujuan ini berasal dari serikat buruh itu sendiri, bukan dari pihak pengusaha yang posisinya memang dirugikan oleh aksi-aksi grebekan pabrik tersebut. Beberapa pendapat serikat buruh yang tidak setuju:[1] pertama, aksi Grebek pabrik lebih mengedepankan strategi konfrontasi dibandingkan negosiasi. Tindakan ini dianggap telah merusak prinsip-prinsip Hubungan Industrial Pancasila, yang mengedepankan hubungan yang harmonis, dan kemitraan antara pihak pengusaha dan buruh, karena sama-sama saling membutuhkan. Kedua, aksi Grebek pabrik dipandang lebih merujuk pada tindakan-tindakan ancaman dan tekanan ketikaRead More →

Pada Juli 2o12, Sedane (S) melakukan wawancara panjang dengan salah satu pejuang buruh di Bekasi, Danial Indrakusuma (DI). Wawancara ini diharapkan dapat memberikan hikmah bagi gerakan buruh diwilayah, karena memotret pengalaman kemenangan gerakan buruh di Bekasi. Selain itu, wawancara pun memuat mengenai sejumlah kendala dan tangan apa saja yang sedang dihadapi dan perlu diselesaikan oleh pimpinan serikat buruh dalam menjaga atmosfir perjuangan. S: Bagaimana Anda melihat perkembangan gerakan buruh sekarang?  DI: Kalau mau membicarakan gerakah buruh sekarang, harus ditarik dulu ke belakang. Kalau tidak, tidak kelihatan sebab-akibatnya. Kelas buruh saat ini dan masa lalu memiliki saling keterkaitan sebab-akibat erat dengan sejarah pembentukan kelas buruh sejakRead More →

Catatan Awal Pergerakan Buruh di Bekasi 3 Oktober 2012, merupakan tanggal monumental dalam sejarah gerakan buruh Indonesia pasca kediktatoran rezim orde baru. Pada hari itu, tiga konfederasi besar serikat buruh yang tergabung dalam MPBI (Majelis Pekerja Buruh Indonesia), didukung beberapa federasi serikat buruh di luar MPBI, menjalankan aksi mogok nasional. Dengan jumlah massa ratusan ribu, yang berasal dari 754 perusahaan di 12 provinsi, 37 kabupaten/kota yang tersebar di pulau-pulau besar Indonesia seperti Jawa, Sumatera, Riau, dan Papua Barat,[1] MPBI menuntut penghapusan sistem kerja outsourcing, penolakan upah murah, dan pelaksanaan jaminan sosial. Inilah aksi mogok nasional pertamakali dalam sejarah gerakan buruh pasca-Soeharto. Pemogokan ini sukses melumpuhkanRead More →

DELAPAN RIBU orang berjalan kaki di pagi buta. Menapaki batu berkerikil, terjal serta menghadang hawa dingin pegunungan. Tidak mengenal jabatan dan status kerja, semuanya berduyun, bergembira, dan berdiri sejajar. Mereka menuju Kota Kuala Kencana-Timika, di mana rekan-rekan mereka telah menunggu. Sepanjang perjalanan 13 orang pingsan. Beberapa orang lainnya mengalami cedera kaki. Ternyata ada yang belum beristirahat setelah bekerja shift malam. Bahkan, ada yang belum mengisi perut. Sehari-hari mereka mengolah batuan tambang dari perut bumi menjadi emas, tembaga dan perak. Hasilnya dijual untuk berbagai keperluan ke seluruh penjuru dunia dengan harga internasional. Sesampainya ditujuan disambut mobil Baracuda milik Brimob. Dari pegunungan ke kota jaraknya kurang lebihRead More →

Jasad Marsinah diketahui publik tergeletak di sebuah gubuk berdinding terbuka di pinggir sawah dekat hutan jati, di dusun Jegong, desa Wilangan, kabupaten Nganjuk, lebih seratus kilometer dari pondokannya di pemukiman buruh desa Siring, Porong. Tak pernah diketahui dengan pasti siapa yang meletakkan mayatnya, siapa yang kebetulan menemukkannya pertama kali, dan kapan? Sabtu 8 Mei 1993 atau keesokan hari Minggunya? Seperti juga tak pernah terungkap melalui cara apapun: liputan pers, pencarian fakta, penyidikan polisi, bahkan para dukun maupun pengadilan, oleh siapa ia dianaya dan di(ter)bunuh? Di mana dan kapan ia meregang nyawa, Rabu malam 5 Mei 1993 atau beberapa hari sesudahnya? Kita cuma bisa berspekulasi danRead More →