Abu Mufakhir   SEPANJANG tahun 2012-2013 terjadi gelombang kebijakan persetujuan penangguhan upah minimum di berbagai wilayah padat industri di Indonesia. Tiga diantaranya terjadi pada propinsi Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta. Pada ketiga propinsi tersebut, kebijakan penangguhan upah yang dikeluarkan melalui Surat Keputusan Gubernur masing-masing propinsi mengalami berbagai bentuk perlawanan dari serikat buruh. Melalui berbagai aksi unjuk rasa, melayangkan somasi kepada Gubernur (Jakarta), dan menggugat kebijakan tersebut ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), serikat buruh berusaha membuktikan bahwa kebijakan tersebut merugikan buruh dan melanggar hukum. Kemudian melalui upaya serikat buruh di PTUN, kebijakan penangguhan upah minimum di propinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta dinyatakan batalRead More →

Abu Mufakhir Aktif di Lembaga Informasi Perburuhan Sedane (LIPS)   “Abdi sanes nyandak taneuh jang dikantongan, atanapi diasupkeun ka keresek. Abdi mah ngan ngolah taneuh kanggo melak cabe jeung tomat. Tibatan tanahna nganggur, bari ku nteu sapira luasna, lain ribuan hektare siga nu diangge ku perusahaan swasta, encan mun gagal panenna.” (Saya bukan mengambil tanah untuk dikantongin (dimasukkin saku celana), atau dimasukan ke kantong plastik. Saya mengolah tanah hanya untuk menanam cabe dan tomat. Daripada tanahnya nganggur, lagi pula luasnya juga tidak seberapa, tidak seperti ribuan hektare yang disewakan pada perusahaan swasta, belum lagi kalau gagal panen).   Politik perkampungan yang dimaksud dalam tulisan iniRead More →

Abu Mufakhir Buruh Nikomas: Perempuan, Muda, Pendatang Jumat, pukul 4 sore tahun 2010, saya datang ke kelurahan Tambak, Serang Timur, Banten, lokasi di mana pabrik sepatu Nikomas berdiri. Pabrik terbesar di Asia Tenggara yang mempekerjakan 75.000-80.000 pekerja. Kurang lebih 3 kilometer sebelum sampai ke gerbang utama, jalanan sudah mulai macet. Angkutan umum, bus jemputan karyawan, truk-truk peti kemas, ribuan sepeda motor, seluruhnya berjalan merayap. Di samping kiri-kanan jalan, ribuan pekerja Nikomas berjalan kaki dengan wajah lelah. Semakin mendekati pabrik Nikomas, kemacetan semakin parah, angkutan umum semakin sulit bergerak. Di sekitar pabrik Nikomas, berjejer pedagang kaki lima menjual pakaian, buah-buahan, makanan, dan DVD bajakan. Berjejer jugaRead More →

Pengantar           Barangkali memang tidak ada aksi jalanan buruh pasca-Soeharto yang lebih spektakuler dibanding pergerakan buruh di Bekasi Jawa Barat. Mereka menggelar aksi solidaritas antarpabrik atau secara popular disebut “grebek pabrik”. Aksi ini marak terjadi pada 2012. Aksi puluhan ribu buruh melakukan “grebek pabrik” telah sukses memaksa ratusan pabrik mengangkat puluhan ribu buruh outsourcing dan kontrak menjadi buruh tetap. Data dari Federasi Serikat Pekerja Metal (FSPMI) menunjukkan bahwa aksi-aksi grebek yang diinisiasi FSPMI berhasil menuntut lima puluhan pabrik mengubah status 40-an ribu buruh outsourcing menjadi buruh tetap (Febrianto, 2012). Jumlah ini akan bertambah besar jika ditambah dengan aksi ‘grebek pabrik’ yang dipelopori oleh Forum KomunikasiRead More →

Catatan Awal Pergerakan Buruh di Bekasi Pada bagian ini, saya  merasa perlu  mengutarakan beberapa pendapat yang tidak setuju terhadap aksi grebek pabrik, yang secara khusus dilakukan oleh FKI –karenanya tidak merujuk pada aksi grebek di luar FKI. Ketidaksetujuan ini berasal dari serikat buruh itu sendiri, bukan dari pihak pengusaha yang posisinya memang dirugikan oleh aksi-aksi grebekan pabrik tersebut. Beberapa pendapat serikat buruh yang tidak setuju:[1] pertama, aksi Grebek pabrik lebih mengedepankan strategi konfrontasi dibandingkan negosiasi. Tindakan ini dianggap telah merusak prinsip-prinsip Hubungan Industrial Pancasila, yang mengedepankan hubungan yang harmonis, dan kemitraan antara pihak pengusaha dan buruh, karena sama-sama saling membutuhkan. Kedua, aksi Grebek pabrik dipandang lebih merujuk pada tindakan-tindakan ancaman dan tekanan ketikaRead More →