Khamid Istakhori Sabtu yang hujan sejak pagi, saya ingin menuliskan beberapa catatan. Catatan ini berkaitan dengan kongres yang ke-3 FSP (Federasi Serikat Pekerja) Media Independen yang digelar di Jakarta hari ini, (29/10/2016). Memulai tulisan ini, saya mengenang May Day pertama yang saya ikuti, sebuah May Day di Lapangan Monas tahun 2001. Bayangkan, seperti apa May Day kala itu sebab Dita Indah Sari, Staff Menteri Ketenagakerjaan hari ini adalah salah satu orator yang tegas menyatakan, Tolak Upah Murah! Sekarang, dia adalah bagian dari rezim upah murah. Kala itu, saya naik kereta dari Karawang dan sampai di lokasi kepagian. Bersama beberapa kawan dari Pindo Deli yang sedangRead More →

Khamid Istakhori     Besok akan May Day, dan ini adalah May Day ke-16 sepanjang hidupku. Setelah May Day pertama di tahun 2001 bersama Komite Aksi Satu Mei 2001, maka perjalanan memperingati May Day seperti naik angkot di pinggiran kota Jakarta: kadang ngebut, kadang lambat dan bahkan ngetem di prapatan jalan. Namaku Khamid Istakhori. Bekerja berganti-ganti pabrik. Sejak saat itu juga “mengenal serikat” dengan berbagai warna, ritme dan aroma. Ceritanya, masih sama kayak angkot Jakarta. Jatuh bangun bekerja di pabrik, di PHK, demikian pula serikat yang ku ikuti. Tahun 1995 aku lulus STM Pembangunan di Temanggung,  jurusan Teknologi Hasil Pertanian. Ini STM hebat, sebab diRead More →

Oleh, Nonon Cemplon   Anakku, empat tahun lalu Ibu adalah buruh pabrik. Ah, pasti kamu tidak mengerti apa itu buruh pabrik. Tidak apa-apa. Kelak kamu akan tahu. Dulu, Ibu bangun tidur jam setengah lima pagi. Kadang lebih pagi dari itu. Padahal, kata orang, itulah jam-jam yang paling nikmat menarik selimut. Di saat orang lain lelap, Ibu sudah berbenah, mandi, memasak, dan memastikan rumah dalam keadaan beres. Jam 6 pagi Ibu berangkat ke pabrik, setelah Ibu mengantarkan kamu ke rumah Bude. Bude-lah yang mengasuh kamu ketika Ibu bekerja di pabrik. Kamu tahu Nak, di pabrik Ibu harus menjahit sepatu. Setiap jam harus menjahit 180 pasang sepatu. IbuRead More →

Oleh, Lami   Namaku Lami, bahasa Jawanya lama. Kata ibuku, aku diberi nama Lami karena lahirannya lama. Kalau kata kakekku arti nama Lami karena lama ditinggal bapaknya. Aku enam bersaudara, dari satu ibu lain bapak. Aku anak pertama. Ketika umurku tiga bulan, bapakku meninggal. Aku umur satu tahun ibuku dinikahkan oleh kakekku dengan bujang tetangga. Sejak itu aku mulai diasuh nenekku. Untuk bertahan hidup, sejak umur tiga tahun aku sudah ikut nenekku jadi buruh petik kapas di ladang orang. Masih ingat di benakku saat terik matahari aku disuruh berteduh di bawah pohon sukun, saat lapar makan sukun bakar. Saat aku mulai mengerti, aku mulai membantu nenekku.Read More →

Syarif Arifin     Media massa komersial mewartakan kasus perburuhan, mengenai buruh ‘meracuni’ teman sekerjanya. Noviana Wulandari harus dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah Koja setelah menenggak air minum yang telah dicampuri tiner oleh Ayu Lestari. Kejadiannya pada 3 Februari 2016. Kemudian ramai diberitakan pada 4 Februari 2016. Akibat tindakan tersebut, Ayu akan dijerat Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan. Laman berita, detik.com 4 Februari 2016 pukul 18:36 WIB menurunkan judul,  Ayu Lestari Dicokok Polisi karena Racuni Temannya Pakai Thiner. Kamus besar bahasa Indonesia menyebutkan, ‘cokok’ berarti ditangkap. Kata tersebut digunakan untuk hewan. Misalnya, mencokok ayam atau ikan. Media massa milik Chairul Tanjung di bawah payungRead More →