Oleh, Abu Mufakhir   Seminggu lagi kita akan memperingati hari buruh internasional. Tahun ini, untuk ketiga kalinya May Day menjadi  hari libur nasional. Di banyak negara, May Day menjadi satu-satunya hari libur nasional yang tidak ada sangkut pautnya dengan peringatan hari besar keagamaan atau kenegaraan. May Day diperingati oleh kelas pekerja dengan agama dan kewarganegaraan apapun. May Day tahun lalu, salah satu pejuang buruh terbaik, Sebastian Manuputi, melakukan bunuh diri sebagai sikap politik. Kawan Sebastian adalah wakil dari generasi pejuang buruh yang lahir saat perlawanan buruh di Bekasi sedang menguat, pada masa grebek pabrik berlangsung dengan heroik selama tujuh bulan. Ia adalah bagian dari generasi mudaRead More →

Oleh, Ismet Inoni Pengantar Tanpa terasa, sudah 14 (empat belas) tahun Undang-Undang Nomor 21 tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh diundangkan atau disahkan. Tentu ini bukanlah waktu yang singkat, selama empat belas tahun sejak reformasi bergulir tidak banyak aturan perburuhan yang berpihak kepada kepentingan klas buruh diciptakan oleh penguasa di negeri ini. Hingga tahun ke-14 sejak disahkan, kehadiran UU No 21 tahun 2000 belum memiliki peranan yang kuat dalam menjamin dijalankannya kebebasan berserikat yang menjadi salah satu masalah pokok bagi buruh di Indonesia. Undang-undang ini sendiri lahir sesungguhnya bukan karena rejim yang berkuasa pada saat itu secara sukarela membela kepentingan klas buruh, namun krisis politik danRead More →

Oleh, Abu Mufakhir     Benarkah Terjadi Gelombang Naik PHK Massal? LBH Jakarta melansir data pada tahun 2015 terdapat 50 ribu buruh di Jabodetabek yang di-PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Kemudian Kementrian Tenaga Kerja menganggap hanya ada 48 ribu buruh di-PHK. Penanda tambahan lainnya adalah berita tentang PHK di perusahaan elektronik asal Jepang. Sebagian pihak menyimpulkan sedang terjadi ‘PHK massal’ atau PHK ‘besar-besaran’ atau dalam jumlah yang sangat banyak.  Pelemahan nilai rupiah dan lesunya perekonomian nasional ditunjuk sebagai penyebabnya. Tulisan ringkas ini ingin mempertimbangkan apakah skala PHK yang terjadi baru-baru ini dapat dikategorikan sebagai “PHK besar-besaran”, atau persoalan yang jauh lebih gawat, yaitu semakin memburuknya perputaran manusia dalam pasarRead More →

Oleh, Dina Septi “Bagi buruh perempuan tidak ada waktu, tidak ada lagi tenaga! Apalagi jarak antara rumah dengan kantor serikat yang terlalu jauh membuat mereka kurang aktif di serikat dan program pendidikan apapun yang diselenggarakan. Buruh perempuan susah diajak ‘kumpulan’ karena Sabtu lembur. Sedangkan hari Minggu milih nyuci, setrika atau kumpul sama anak. Walaupun saya juga ada lembur di hari Minggu, tapi kalau tidak sedang lembur saya selalu datang ke pendidikan. Sabtu masuk setengah hari, jadi Sabtu sore masih bisa ‘kumpulan’. Bagaimana caranya membuat buruh perempuan mau lebih aktif di serikat?”  ~Narti, buruh PT Alim Rugi Bekasi.   Buruh Perempuan: Ibu dan Buruh Lebih dari sepertiga waktuRead More →

Abu Mufakhir dan Alfian Al’ayubby Pelu   Kami bukan dipukul, bung, tapi dipukulin.” Manulang (salah satu korban kekerasan Pasukan Turn Back Crime)   PADA 30 Oktober 2015, lebih dari 10.000 buruh dari berbagai serikat yang tergabung dalam aliansi Komite Aksi Upah Gerakan Buruh Indonesia (KAU-GBI), melakukan demonstrasi di depan Istana Negara. Mereka menuntut pencabutan Peraturan Pemerintah (PP) Pengupahan No. 78 Tahun 2015, karena PP tersebut membatasi kenaikan upah minimum dan melemahkan partisipasi serikat buruh dalam penentuan upah minimum. Aksi di depan istana ini merupakan bagian dari rentetan aksi sebelumnya di berbagai daerah dan kawasan industri. Para buruh menuntut agar aspirasi mereka dalam penentuan upah tidak dikekang. ProtesRead More →