Serikat Buruh: Antara Menghadang dan Memulihkan

Ilustrasi Buruh PT. Victory Ching Luh Indonesia (Sumber : Ismayawati)

Lebih dari 150 aksi sudah dilakukan, belasan lembaga negara didatangi, aliansi internasional dibangun, sampai kini kasus PHK 1300 buruh PT Panarub DwiKarya (PDK) belum juga menemukan titik akhir. Bahkan ILO pun sudah mengeluarkan rekomendasi kepada pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini dengan cara yang sebaik-baiknya dan seadil-adilnya.

Kasus ini berawal pada 2012, ketika itu buruh PDK sepakat untuk mendirikan serikat. Perusahaan merespons hal tersebut dengan memecat sembilan orang pengurusnya. Serikat melawan PHK dengan melakukan mogok kerja yang diikuti lebih dari seribu orang buruh. Perusahaan melakukan serangan balik dengan memecat1300 orang yang terlibat pemogokan. Hak-hak 1300 buruh yang di-PHK inilah yang masih diperjuangkan sampai hari ini.[i]

Beberapa tulisan sudah menceritakan dinamika perjuangan emak-emak PDK, demikian mereka biasa disebut sampai hari ini. Bagi saya, yang terlibatnya kadang-kadang, ini adalah sebuah perjuangan sekelompok buruh dalam menghadang perusahaan yang kabur dari tanggung jawabnya untuk memberikan pesangon kepada buruh yang di-PHK sebagaimana yang diatur dalam undang-undang.

Pada kesempatan yang lain, pada satu hari, saya terkagum-kagum dengan cerita serombongan buruh perempuan di Cikarang. Mereka berkumpul dan membicarakan masalah hidup sehari-hari, walaupun mereka tidak berserikat. Hal yang mereka bicarakan terutama masalah ‘kebutuhan dapur’ yang habis di minggu kedua setelah gajian. Upahnya tidak bisa bertahan bahkan sampai minggu ketiga. Berangkat dari pengalaman dan kebutuhan yang sama ini, mereka akhirnya bersepakat masing-masing orang menabung Rp 1000 setiap hari. Tabungan ini kemudian dipinjamkan kepada anggota yang membutuhkan. Mereka punya aturan sendiri yang disepakati. Uang yang dipinjam pun tidak pernah besar. Saat ini, anggota rombongan ini mencapai tiga puluhan orang dengan simpanan melebihi Rp 35 juta. Menurut salah seorang anggota kelompok ini, mereka sekarang tidak lagi bergantung kepada rentenir ketika ada keperluan mendadak atau ketika kehabisan belanja bulanan.

Untuk memahami kedua kegiatan yang sangat berbeda ini, saya mencoba menebak-tebak perbedaan dan persamaan antara keduanya. Kasus pertama adalah cerita sekelompok buruh yang menuntut negara untuk memerintahkan perusahaan bertanggung jawab memenuhi hak-hak mereka. Aksi ini adalah aksi menghadang perusahaan yang mencoba kabur dari tanggung jawab. Kasus kedua adalah cerita tentang menciptakan cara memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan cara memobilisasi sumber daya yang ada dimiliki, sekecil dan sesederhana apapun itu.

Untuk mempelajari dua cerita di atas, tulisan ini akan meletakkannya dalam ruang yang lebih luas. Untuk itu, pertama-tama tulisan ini akan mendiskusikan apa yang dihadapi seorang buruh dalam hidup sehari-hari, untuk mengetahui apa yang sebenarnya mereka lawan. Pada bagian kedua, tulisan ini akan mendiskusikan gerakan kaum buruh dalam menghadapi masalah hidup sehari-hari tersebut, baik yang berhubugan dengan pekerjaan di pabrik atau yang berhubungan dengan kebutuhan hidup sehari-hari. Pada bagian ketiga, tulisan ini akan melihat batasan dan tantangan gerakan itu. Di bagian akhir, tulisan ini akan merangkum diskusi dan melihat kemungkinan agenda belajar lanjutan.

Yang Kita Hadapi Sehari-hari

Dalam demonstrasi, baik kecil maupun besar, kita sering mendengar teriakan para orator; kapitalisme! Imperialisme! Atau dalam forum-forum belajar, aktivis buruh atau pemateri-pemateri pendidikan sering juga menjelaskan tentang bagaimana cara kapital, bagaimana kaum kapitalis mengeksplotiasi kaum buruh termasuk peran negara dan aparat keamanan. Tetapi masalahnya adalah apa wujud dari istilah-istilah besar tersebut dalam kehidupan sehari-hari?

Bagi seorang buruh, pertama-tama tentu saja adalah pabrik. Seorang buruh menjual tenaga kerjanya ke sebuah perusahaan dan perusahaan kemudian ‘berhak’ untuk memeras buruh, paling tidak, selama delapan jam dalam satu hari. Di dalam pabrik, buruh akan bekerja. Pekerjaannya sederhana, tapi berulang-ulang. Terus sampai waktu istirahat tiba. Selama bekerja, buruh tidak akan bisa melakukan apapun, walau sekedar bertegur sapa dengan teman sebelah. Basa-basi bertanya kabar kepada sesama buruh akan mengakibatkan proses produksi terputus. Akibatnya bisa buruk dan sangat buruk.

Urusan dengan pabrik ini masih sangat panjang jika ditelusuri lebih detil. Mulai dari godaan genit supervisor atau semacamnya sampai ke masalah serius seperti PHK, lembur wajib, kontrak kerja yang tidak jelas, cuti haid dan cuti hamil, dan lain sebagainya.

Yang kedua, setelah selesai bekerja, buruh akan pulang ke rumah. Ada yang naik motor dan banyak juga yang naik angkutan umum. Seorang buruh pernah mencatat, perjalanan pulang adalah waktu untuk beristirahat dengan cara tidur di angkot.[ii] Sesampai di rumah, perkerjaan lain sudah menunggu, terutama bagi kebanyakan buruh perempuan. Masih ada piring yang harus dicuci, pakaian anak dan suami yang harus disetrika. Masak, bikin kopi, mengasuh anak dan lain-lain. Mungkin sudah menjelang tengah malam baru bisa beristirahat untuk kemudian bangun pagi-pagi dan berangkat lagi ke pabrik.

Tugas utama seorang buruh setelah pulang ke rumah adalah ‘merawat’ tubuh agar tetap segar-bugar hingga besok bisa berangkat ke pabrik dan bekerja kembali. Selain urusan tubuh yang harus selalu sehat, buruh juga bertanggung jawab merawat, membesarkan dan mendidik anak agar suatu hari ia siap untuk bekerja, menjadi buruh generasi berikutnya. Sebagai bagian dari masyarakat, buruh juga harus melibatkan diri dalam urusan ronda malam di lingkungan tempat tinggal, atau kondangan jika diundang menghadiri selametan sunatan atau resepsi pernikahan. Semua kebutuhan hidup ini tidak dapat dipenuhi kecuali dengan menggunakan uang. Dari pakaian sekolah anak sampai urusan bumbu dapur.

Uang yang dipakai untuk beli seragam sekolah anak, membayar listrik, mengisi amplop jika kondangan, atau untuk membeli bumbu dapur adalah uang yang didapat dari perusahaan tempat bekerja yang disebut dengan upah. Besaran upah ini ditentukan oleh sebuah forum yang disebut tripartit. Forum yang terdiri dari pemerintah, pengusaha dan utusan serikat buruh ini menentukan besaran harga tenaga kerja sesuai dengan harga kebutuhan hidup seorang buruh dalam satu bulan. Upah ini tentu saja tidak cukup. Banyak cerita teman-teman buruh terjerat hutang dengan bank atau para rentenir. Kadang rentenirnya teman sesama buruh.

Nah, kapital – lupakan dulu kapitalisme – adalah sebuah kekuatan sosial yang sangat bernafsu untuk merambah semua hal yang kita temukan sehari-hari dan menundukkannya ke dalam hukum penciptaan uang yang lebih banyak. Bentuk utama dari penundukan ini adalah pelucutan manusia dari sifat-sifat kemanusiaannya hingga yang tersisa adalah manusia yang siap diperas, terutama di ruang kerja: pabrik. Pelucutan ini terutama adalah pelucutan  hubungan manusia dengan manusia, hubungan yang tersisa di dalam pabrik adalah hubungan produksi. Hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan produksi, haram dilakukan di jam kerja.

Pelucutan ini tidak saja di dalam pabrik, di luar pabrik pun demikian. Semua sarana pemenuhan kebutuhan hidup dilucuti sedemikian rupa hingga untuk memenuhi kebutuhan hidup semua orang harus membeli. Karena membeli harus pakai uang, maka untuk memenuhi kebutuhan tersebut seorang buruh harus bekerja dan bekerja lebih banyak. Andaikan manusia tidak dilucuti dari sumber-sumber pemenuhan kebutuhan hidupnya maka tak satupun manusia yang terpaksa menjual tenaga kerjanya sebagai buruh. Tanpa pelucutan, tidak ada pemerasan. Tanpa pemerasan, kapital tidak akan bisa beroperasi menciptakan uang yang lebih banyak.

Menghadang dan Memulihkan

Pelucutan dan pemerasanan ini, baik di dalam pabrik maupun di luar pabrik, memicu perlawanan. Seperti pertarungan tarik tambang, atau perlombaan saling dorong – biasanya menggunakan bambu dan disebut dagongan. Kapital akan memperluas cakupannya, sedangkan masyarakat akan bertahan, bahkan melawan, apapun caranya. Bagi kapital, semua kebutuhan hidup itu harus menjadi barang dagangan. Apapun kebutuhan manusia tidak boleh terpenuhi kecuali dengan cara membeli atau membayar.

Menghadapai hal ini, ada dua model perlawanan yang muncul seperti yang ditunjukkan oleh dua ilustrasi yang saya sampaikan di bagian awal tulisan ini: menghadang dan memulihkan.

Terutama terhadap isu-isu yang berhubungan dengan hubungan kerja dengan perusahaan, seperti PHK, UMK/UMP, dan lain-lain, teman-teman buruh biasanya akan mengerahkan energi serikat untuk melakukan penghadangan terhadap pelucutan ini dengan cara melakukan aksi massa, menekan perusahaan dan pemerintah untuk memenuhi kewajiban mereka terhadap buruh. Demo tahunan menjelang penetapan upah minimum adalah salah satu bentuk penghadangan ini. Atau emak-emak PDK GSBI PDK yang sudah demo ratusan kali, yang menghadang perusahaan yang kabur dari tanggung jawab memenuhi kewajibannya kepada 1300 buruh yang di-PHK sejak tahun 2012 lalu. Atau gerakan buruh di Bekasi beberapa hari lalu yang menghadang PLN dalam memeras rumah tangga dengan cara menaikkan tarif dasar listrik – kita tahu bahwa kenaikan harga kebutuhan hidup seperti ini akan membuat buruh bekerja lebih banyak untuk mendapatkan uang yang cukup dengan cara mengambil lembur. Kasus penghadangan kenaikan tarif dasar listrik ini sangat menarik, ini adalah contoh penghadangan yang menyasar masalah di luar hubungan industrial tetapi berhubungan langsung dengan kebutuhan hidup buruh.

Gerakan menghadang kapital ini oleh Massio de Angelis disebut dengan gerakan protes.[iii] Disebut demikian karena gerakan ini biasanya diserukan dalam bentuk ‘tuntutan’ akan hak yang diajukan ke pihak perusahaan atau pemerintah. Hak untuk mendapatkan gaji layak. Hak untuk cuti haid dan cuti hamil bagi buruh perempuan. Dasar tuntutan bisa bermacam-macam, terutama jika hak tersebut sudah diatur dalam undang-undang atau peraturan menteri. Atau hak yang belum diatur, tuntutannya adalah agar dibuatkan peraturan yang melindungi dan menjamin hak tersebut terpenuhi.

Cara lain yang dilakukan teman-teman buruh dalam menghadapi kapital dalam kehidupan sehari-hari adalah dengan cara memobilisasi sumber daya yang dimiliki dan menyasar kebutuhan hidup sehari-hari secara langsung. Sebagaimana pada kasus tentang ibu-ibu buruh yang menabung seribuan yang sudah saya ceritakan di atas, gerakan ini langsung menyasar urusan dapur.

Banyak serikat yang telah melakukan hal ini dalam bentuk yang beragam, tergantung kebutuhan anggotanya. Di Cakung, sebuah serikat memobilisasi sumberdaya uang dan jaringan yang mereka miliki dalam penyediaan beras murah bagi anggotanya. Kegiatan seperti ini sungguh pun kecil tapi sangat berarti bagi anggota komunitas tersebut. Hanya saja seringkali kiat-kiat ini luput dari perhatian para aktivis serikat atau para peneliti perburuhan.

Dari beragam praktik yang bisa ditemukan, ada tiga ciri utama gerakan ini. Pertama, gerakan ini biasanya dimulai oleh serombongan orang yang berbagi cerita tentang kebutuhan hidup. Rombongan ini tidak mesti sebuah organisasi yang sudah mapan. Pada kasus ibu-ibu buruh di Cikarang tadi, rombongan tersebut terbentuk karena mereka bekerja di pabrik yang sama. Mereka bukan anggota aktif sebuah serikat, apalagi pengurus.

Kedua, gerakan ini mengatasi masalah kebutuhan hidup tadi dengan menggunakan sumber daya yang dimiliki atau bisa dimiliki. Sumber daya tidak selalu dalam bentuk uang. Bisa dalam bentuk jaringan pertemanan dalam rombongan atau pertemanan dengan orang-orang di luar rombongan. Dalam kasus ibu-ibu buruh di Cikarang tadi, saat ini mereka sedang belajar untuk mengelola sumber daya dalam bentuk peralatan bayi bekas. Peralatan bayi bekas, tentu saja masih bagus, akan dipinjam-pakaikan kepada anggota kelompok yang akan melahirkan. Setelah tidak digunakan lagi, peralatan bayi yang masih bagus akan dipinjam-pakaikan kepada anggota yang lain lagi. Begitulah seterusnya.

Ketiga, gerakan ini membicarakan dan membuat kesepakatan bersama tentang cara sumber daya itu dikelola dalam pemenuhan kebutuhan hidup. 

Massimo de Angelis dan banyak ahli yang lain menyebut gerakan seperti ini dengan kata common,[iv] yaitu sebuah gerakan yang menciptakan cara baru dalam berhubungan satu sama lain untuk mengatasi masalah hidup sehari-hari. Artinya, gerakan ini adalah gerakan yang memulihkan cara pemenuhan kebutuhan hidup yang telah dihancurkan oleh kapital. Pemulihan yang menciptakan suatu cara di mana apa yang harus dibuat, bagaimana caranya, dan berapa lama dikerjakan, dibicarakan bersama-sama dalam hubungan sosial yang tidak memeras antara satu sama lain.[v]

Tantangan dan Jebakan

Dua model gerakan ini bukan tanpa tantangan. Masing-masing punya jebakannya sendiri-sendiri. Gerakan penghadangan kita ambil sebagai contoh untuk memulai diskusi berikut. Gerakan ini biasanya lahir sangat dini, berbarengan dengan kelahiran serikat itu sendiri. Bahkan banyak serikat yang lahir karena ada kasus yang harus segera dihadang. Serikat yang didirikan demi menghadang kasus ini akan memusatkan semua kekuatan pada pengorganisasian taktis dan pendidikan-pendidikan hukum, terutama teks-teks hukum yang berhubungan langsung dengan kasus yang sedang dihadapi.

Hiruk-pikuk menghadang kasus biasanya melahirkan penggerak-penggerak serikat yang tangguh. Beberapa dari mereka menjadi sangat ahli dalam masalah-masalah hukum dan sanggup beracara di pengadilan hubungan industrial menangani sebuah kasus.

Saat ini, gerakan menghadang ini bergerak maju, ditandai banyaknya isu yang disasar; tarif dasar listrik, BPJS, biaya pendidikan, dan lain-lain. Bahkan isu keterwakilan politik di level pengelolaan negara pun menjadi perhatian. Dalam hal ini banyak cerita yang bisa didaftar, dari pendirian partai politik sampai pencalonan aktivis serikat untuk menjadi anggota legislatif atau menjadi bupati.

Sampai di sini, gerakan menghadang mendapat kendala. Kemenangan dalam politik pemilu atau pilkada tidak selalu berujung pada perubahan. Pada dasarnya, politik keterwakilan sangat penting untuk menciptakan kesempatan bagi perubahan. Dengan syarat hal ini diikuti oleh rentetan aksi dan menyalurkan energi gerakan ke arah tertentu dengan bidikan yang  akurat. Sama juga halnya dengan kesuksesan menghadang sebuah kasus, atau menggolkan sebuah aturan dan perundang-undangan yang berpihak kepada kepentingan buruh. Kesuksesan ini terkadang tidak serta-merta diikuti oleh perubahan sesuai dengan masalah yang dihadapi oleh buruh dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pengertian ini, gerakan penghadangan dalam segala bentuk dan pada semua tingkat adalah sangat penting untuk membuka peluang untuk melakukan pengembangan sistem radikal dan relasi sosial yang baru. Tetapi, bagaimana pun penghadangan itu sendiri tidak akan menciptakan perubahan sistem sosial seperti mengubah kapital menjadi sesuatu yang lain: penghadangan hanya baru sampai pada tingkat mengganggu kapital. Karena diganggu, kapital akan bereaksi dan beradaptasi. Mengembangkan cara baru menghadapi kaum buruh, menyerap perlawanan ke dalam sistem, mengooptasi, merepresi, atau menerapkan strategi campuran dari semua ini, tergantung perhitungan untung rugi dan dalam situasi apa reaksi itu dilakukan.

Misalnya, bagaimana sistem menyikapi perayaan Mayday yang baru lalu. Kemenangan merebut tanggal satu Mei sebagai hari libur nasional bukan saja menjadi kesempatan aksi besar-besaran menuntut hak-hak kaum buruh. Pada mayday yang baru lalu, kita menyaksikan bagaimana negara, pengusaha berusaha untuk menyesuaikannya dengan kepentingan mereka.

Kesuksesan dalam menghadang kapital harus diikuti dengan pemulihan kehidupan sosial terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Asumsinya adalah, sistem pengganti dari kapital tidak bisa menunggu kapital pupus dari muka bumi dan kemudian di-install-lah sistem yang baru. Semua modus produksi itu muncul dan diciptakan, bukan diterapkan. Begitu juga dengan sistem pengganti kapital, ia diciptakan baik dengan menggunakan sumber daya yang ada atau dengan memanfaatkan sumber daya yang bisa direbut. Bisa juga sumber daya yang ditinggalkan oleh sebuah perusahaan yang bangkrut.

Tantangan terbesar dalam gerakan menghadang kapital adalah menciptakan relasi sosial di dalam serikat yang merupakan proses pemulihan. Kegagalan dalam memulihkan relasi sosial ini akan menjebak serikat untuk menjiplak model pengelolaan organisasi produksi – hirarkis, birokratis, patriarkis, bahkan eksploitatif –  dan diterapkan dalam mengelola serikat. Tentu saja hal ini perlu dipelajari lebih detail agar tidak terjebak pada generalisasi yang tidak perlu.

Kedua model gerakan ini penting, tidak ada yang yang lebih utama dari yang lainnya. Keduanya harus berkembang bersama untuk memastikan perubahan radikal dalam cara pemenuhan kebutuhan hidup tercipta dan berkelanjutan.

Penutup

Untuk menutup tulisan ini, berdasarkan diskusi di atas, kapitalisme adalah cerita yang sangat besar dan mempunyai bentuk nyatanya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan sehari-hari, seorang buruh menghadapi dua hal: pertama, hubungan industrial yang memeras tenaga buruh di dalam pabrik; dan kedua, keterikatan, keterjebakan pada pasar dalam pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Tidak ada kebutuhan hidup yang bisa didapat selain dengan membeli.

Ada dua cara yang bisa ditemukan dari gerakan buruh – juga gerakan petani – selama ini yaitu: menghadang, dan memulihkan. Dua hal ini berjalan seiring karena dunia ini hanya bisa diubah dengan cara memulihkan cara kita memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sambil menghadang laju kapital yang melucuti semua sumber-sumber pemenuhan kebutuhan hidup, bahkan kemanusiaan kita.

Masing-masing model gerakan mempunyai batasan dan tantangannya sendiri-sendiri. Kemenangan dalam menghadang kapital akan menemukan masalah jika tidak diikuti dengan pemulihan, begitu juga sebaliknya.

Tulisan singkat ini menyisakan banyak pertanyaan. Perlu proses belajar bersama untuk bisa melihat lebih detil batasan-batasan dari gerakan menghadang kapital dan melihat kemungkinan-kemungkinan pemulihan yang bisa dilakukan oleh serikat atau komunitas lainnya. Perlu proses pemeriksaan bersama-sama oleh kaum buruh untuk melihat lorong-lorong baru yang harus disumbat agar kapital tak lewat situ. Atau penciptaan jalur-jalur baru penghadangan dan ruang-ruang baru pemulihan, sungguh pun usaha pemulihan itu adalah hal yang sangat sederhana, sepele, dan kecil.

Dina Septi dan Swanvri

Catatan Kaki :

[i]           Untuk mempelajari kasus lebih detil, silahkan lihat beberapa tulisan di majalansedane.org.

[ii]           Sunaryati, A., 2016. Kehidupanku Sebagai Buruh: Bertahan dan Melawan. dalam B. T. Dahana, ed. Menolak Tunduk: Cerita Perlawanan dari Enam Kota. Bogor, Yogyakarta: LIPS, Tanah Air Beta.

[iii]         Angelis, M. De, 2012. Crises, Movements and Commons. borderlands, 11(2), pp.1–22.

[iv]         Ibid.

[v]            Angelis, M. De, 2004. Separating the doing and the deed: Capital and the continuous character of enclosures. Historical Materialism, 12(2), pp.57–87.

Leave a Reply