Reading Time: 9 minutes
image_pdfPDFimage_printPrint

Oleh Uswatun Khasanah, Nindya Utami, Cecep Hidayat, Wisnu Prima

Kesurupan massal lagi-lagi terjadi. Kali ini kejadiannya merebak di Pabuaran, Subang. Menimpa buruh-buruh PT Pungkook Indonesia One. Pada Kamis malam Jumat itu (18 Maret 2021), bagian jahit sedang kerja lembur. Gara-gara ada kesurupan, mereka dipulangan lebih awal dari biasanya. Dengan demikian, seharusnya sudah tidak ada masalah. Ternyata, Jumat pagi keesokan harinya, kesurupan meledak lagi. Dimulainya tidak lama sesudah jam masuk kerja. Kali ini menimpa pada lebih dari 50 buruh bagian jahit, aksesoris, dan quality control.

Entah dari mana kesurupan bermula. Salah seorang buruh, Lia (22 tahun) menceritakan selagi bekerja tiba-tiba dia mendengar suara orang berteriak-teriak dan menangis. Dalam sekejap kesurupan menjalar. Ada yang tangannya memukul-mukul tak terkendali dan meronta-ronta. Lalu,  sekonyong-konyong tersungkur di lantai. Mereka yang kesurupan segera ditolong, dibopong ke lantai bawah. Sedangkan, mereka yang keadaannya baik-baik saja diminta tetap bekerja di lantai atas, sampai habis jam kerja seperti biasanya. “Tetap kerja, teh,” ungkap Lia. “Tapi disuruh kayak sadar gitu. Banyakin istighfar, jangan ngalamun. Jangan terlalu cemas, gitu,” tambahnya.  Beberapa buruh mengatakan bahwa kesurupan sudah terjadi berkali-kali di pabrik tas ini. Ada yang mengatakan, sudah terjadi sejak 2014 atau 2015, berulang hampir setiap tahun dan korbannya selalu banyak.

Dapat dipastikan kesurupan berulang pada 2016. Seseorang merekam kejadian kesurupan tahun itu dan memuatnya di kanal Youtube. Dalam rekaman video sepanjang enam menit lebih itu, pada detik-detik pertama jelas terdengar suara orang menangis sambil mengerang, bahkan sampai melolong-lolong. Beberapa buruh perempuan tampak terduduk di lantai sambil menangis di lantai teras sebuah bangunan (kemungkinan besar adalah klinik pabrik).

Di tengah kesemerawutan itu, yang tidak “tertular” kesurupan terlihat mondar-mandir. Tidak tahu apa yang harus diperbuat. Ada yang terlihat tetap tenang, malah sempat bersenda-gurau. Banyak pula yang berusaha menolong, menemani yang menangis sesengukan, mengamankan dompet korban, atau menenangkan korban yang berteriak mengumpat-ngumpat (“…anjing!”). Beberapa orang terlihat datang dan pergi membopong korban atau mengangkutnya dengan tandu.

Di dalam ruangan, seorang perempuan direbahkan di tempat tidur. Sebentar-sebentar dia melolong. dikelilingi beberapa orang memegangi tubuhnya. Seorang perempuan setengah baya  berusaha membujuk mahluk halus yang merasuki buruh perempuan itu untuk berhenti mengganggu. “Boleh berkeliaran di pabrik, tapi tolong janganlah berulah,” katanya. Kemudian dimohonkan maaf yang sebesar-besarnya, seandainya mahluk halus itu tersinggung karena kadupak (tertendang atau tersenggol secara tidak sengaja; bahasa sunda). Untuk beberapa sesaat berlangsung semacam negosiasi, karena mahluk halus bersangkutan (diduga) minta disediakan dawegan (kelapa muda). Karena pabrik bukan restoran, permintaan itu sulit untuk dipenuhi. Sesudahnya, doa dipanjatkan dan korban diminta untuk ikut beristighfar.

Tahun-tahun sebelumnya, setiap kali ada kesurupan perusahaan menyembelih sapi untuk sesajen (sajian). Penyebabnya, dulu ada buruh yang kesurupan lalu minta disediakan darah sapi. Hal ini dikaitkan dengan cerita dari masyarakat setempat bahwa lahan yang ditempati pabrik memang tempat angker. Konon, bekas tempat pembuangan mayat. Pada kejadian yang terakhir, sebagaimana diberitakan oleh Jabarnews, untuk menghentikan kesurupan pihak pabrik memanggil orang pintar. Tidak ada pemberitaan lebih lanjut, sehingga tidak diketahui apakah cara ini ampuh mengatasi kesurupan.

***

Kesurupan massal di pabrik memang kejadian yang selalu membingungkan bagi banyak orang. Buruh yang dihinggapi kesurupan benar-benar tidak paham apa yang terjadi pada dirinya. Pemilik perusahaan, manager produksi dan supervisor di lantai produksi sebenarnya juga sama bingungnya. Persoalan ini tidak diajarkan pada mata kuliah apapun, di jurusan teknik industri maupun sekolah manajemen manapun. Karena dianggap tidak berkaitan dengan hak-hak perburuhan, tak pernah terpikir oleh pengurus serikat buruh untuk mendesakkan adanya tunjangan rawan kesurupan, atau kompensasi atas kesurupan, dalam Perjanjian Kerja Bersama (PKB).

Meski kejadiannya berulang, Dinas tenaga kerja pun tidak merasa perlu untuk mengamati dan mencatat, apalagi menyelenggarakan lokakarya pengembangan statistik kesurupan tingkat kota/kabupaten, propinsi, hingga nasional. Paling tidak dalam waktu dekat, kecil kemungkinannya untuk mencantumkan kesurupan sebagai penyakit dan risiko kesehatan yang ditanggung melalui BPJS Kesehatan. Jika benar kesurupan adalah ulah makhluk gaib, persoalan ini tidak dapat dirundingkan di lembaga kerjasama tripartit. Sejauh ini tidak diketahui apakah para makhluk halus memiliki asosiasi atau tidak; sehingga sulit pula untuk mengundang perwakilan mereka dalam forum multistakeholder, atau untuk mengembangkan dialog sosial yang konstruktif dan harmonis.

Sementara itu, diam-diam sebenarnya ada semacam kesepahaman tidak tertulis bahwa penyebab kesurupan adalah makhluk halus yang, setidaknya berkeliaran, atau menghuni pabrik (secara illegal). Kapan saja ada kesurupan, makhluk halus selalu menjadi tertuduh. Di kawasan pabrik di Jawa Tengah, kesurupan massal sering dijelaskan karena sing nunggoni ora terimo (penunggunya tidak berkenan alias murka; bahasa Jawa).

Karena kesepakatan diam-diam di atas, ada kebiasaan untuk memanggil ‘orang pintar’ setiap kali ada kejadian kesurupan. Uraian tugas untuk orang pintar antara lain adalah membujuk makhluk halus agar berhenti berulah, menyuruh mereka pergi, dan kalau bisa jangan kembali. Mengikuti anjuran ‘orang pintar’ yang didatangkan, pihak pabrik kerap menyembelih beberapa ekor kerbau atau sapi, sebagai gratifikasi alias sogokan untuk makhluk halus bersangkutan.

Jika benar ini ulah makhluk halus, pelaku usaha hendaknya memperhitungkan secara seksama aspek ini, sebelum mendirikan pabrik, apalagi membangun kawasan industri besar. Ada baiknya menyiapkan tindakan antisipasi seperlunya. Sebagai contoh, tidak ada salahnya segera mempelajari fluktuasi harga kerbau dan sapi dari bulan ke bulan. Tindakan lebih mudah yang bisa dimulai segera adalah membangun kerjasama yang baik dengan jaringan ‘orang pintar’ serta peternak kerbau dan sapi setempat, untuk memastikan jasa dan keahlian mereka tersedia pada saat dibutuhkan. Pada tahap sekarang, kerjasama informal lebih disarankan daripada kontrak kerja formal-legal. Tidak perlu terburu-buru menyusun pemeringkatan peternak kerbau/sapi serta sertifikasi keahlian; karena kedua hal itu dapat dilakukan di kemudian hari. Manager produksi, manager keuangan, dan bagian pengadaan kiranya perlu pula untuk duduk bersama. Penting untuk menyepakati apakah pengadaan jasa orang pintar (plus belanja lain yang ditimbulkannya) merupakan biaya produksikah, atau biaya kesejahteraan buruh, atau biaya pemeliharaan gedung. Bisakah dibenarkan untuk mengongkosinya dari dana tanggung jawab sosial perusahaan?

Kiranya perlu disampaikan, beberapa hal di atas hanya sekadar saran. Saran terbatas yang hanya perlu dipertimbangkan bila benar bahwa kesurupan adalah perbuatan makhluk halus yang naik pitam tanpa sebab yang diketahui. Kiranya perlu dipertimbangkan, jangan-jangan pelakunya bukan mereka. Tidak patut pula kita menuduh secara serampangan tanpa dasar, apalagi tidak ada norma ketenagakerjaannya. 

***

Bersandar pada asas praduga tak bersalah tersebut, tulisan ini hendak menelusuri dan mempelajari dengan seksama dalang sebenarnya dari peristiwa kesurupan, sambil kalau bisa mengungkap berbagai serba-serbi tentang kesurupan. Agar terlihat meyakinkan, tulisan ini sengaja mengumpulkan berita kesurupan massal di tempat kerja dari berbagai media. Untuk alasan kemudahan, berita hanya dikumpulkan dari sumber online. Sebagai sapuan awal, pengamatan ini membatasi diri pada peristiwa kesurupan di tempat kerja di Jawa bagian barat (Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta) sepanjang 10 tahun (2010-2020). Catatan tambahannya, peristiwa kesurupan yang sama, meskipun dimuat di lebih dari satu media, akan dicatat sebagai satu peristiwa tunggal. Kemudian, kesurupan yang timbul tenggelam dalam satu hari, atau datang dan pergi dalam beberapa hari berturut-turut, dicatat sebagai satu peristiwa saja.

Berita kesurupan massal di tempat kerja dapat ditemukan di media online besar, seperti Tempo, Detik dan Kompas. Kadang dimuat juga di mikro-blog tidak ternama, yang baik penulis maupun pembacanya tidak diketahui jelas. Media yang lebih dapat diandalkan, dengan standar peliputannya yang baik, biasanya menulis urutan kejadian dengan cukup rinci. Beberapa berita ditulis dengan gaya yang lugas, seperti rubrik prakiraan cuaca. Ada pula media yang memampangkan judul berita yang tampaknya sengaja diseram-seramkan. Mungkin untuk menakut-takuti pembacanya, seperti judul berikut ini: Bikin Bulu Kuduk Berdiri, Cerita Dibalik Kesurupan Massal di Pabrik Garmen Sukabumi.

Berikut, beberapa hasil yang diperoleh dari penelaahan ini:

Sepanjang 2010-2020 tercatat ada 49 kejadian kesurupan massal di tempat kerja. Jumlah ini sangat kecil dibandingkan dengan besaran industri dan jumlah seluruh tempat kerja di Jawa bagian barat. Jumlah kejadian yang sebenarnya mungkin lebih besar. Kesurupan yang terjadi di tempat terpelosok sangat mungkin luput dari perhatian media. Kemudian, banyak berita tentang kesurupan yang menjelaskan bahwa kejadian di pabrik bersangkutan sudah berulang kali terjadi. Dari seluruh kejadian ini, 21 kesurupan massal (43 persen) terjadi di (kota/kabupaten) Sukabumi, Subang, dan Bogor. Makhluk halus terduga penyebab kesurupan justru enggan mendatangi wilayah-wilayah industri yang sarana transportasinya lebih baik (Jakarta, Tangerang, dan Depok).

Berikutnya adalah tentang pola kejadiannya. Tidak semua berita menyebut waktu kejadian secara jelas. Salah satu berita, secara tidak membantu, sekedar menyebutkan bahwa kesurupan massal pada buruh terjadi “pada jam kerja.” Tentu saja demikian. Kesurupan paling banyak terjadi pada pagi hari (22 kejadian). Rentang waktunya, sejak buruh baru mulai bekerja hingga antara jam 10.00. Empat kesurupan terjadi pada petang-malam hari, pada jam lembur. Salah satu kejadian kesurupan di Tangerang mula-mula merebak pada jam 08.00, beberapa saat mereda, tapi kembali dimulai pada jam 17.00.

Pola yang konsisten, kesurupan massal hampir selalu bermula dari ruang produksi. Satu orang buruh, -katakanlah, tenaga operator di satu lini produksi sekonyong-konyong dilanda perasaan tidak enak, tubuhnya lunglai, dan sesak nafas. Orang bersangkutan mulai berteriak-teriak dan menangis. Kesurupan kemudian merembet ke yang lain. Pada puncaknya, belasan hingga puluhan orang menjerit-jerit, berteriak-teriak, sambil menangis sejadi-jadinya.  Ada laporan menggambarkan buruh-buruh tersebut berteriak-teriak, melontarkan kata-kata tidak karuan, meronta-ronta dan berguling-guling hingga jatuh pingsan. Pada pabrik besar, jumlah yang kesurupan bisa mencapai ratusan orang. Jika sudah demikian, buruh dan perusahaan tergopoh-gopoh untuk menyelamatkan keadaaan.

Jenis tindakan yang diambil antara lain adalah segera menolong orang yang kesurupan, dengan membawanya ke  tempat terbuka, klinik perusahaan, ke puskesmas. Untuk mencegah penjalaran, yang kesurupan segera dipulangkan sesudah ditolong. Buruh yang selebihnya tetap bekerja. Ada kalanya pabrik menghentikan operasi dan memulangkan seluruh buruh.

Di tengah situasi yang membingungkan, lazim juga ada upaya mendatangkan bantuan dari luar. Dengan mendatangkan tenaga kesehatan, polisi, dan warga setempat. Berikutnya, didatangkanlah ‘orang pintar’, ulama, atau paranormal; atas inisiatif perusahaannya, atau atas saran dari buruh dan warga setempat. Bisa saja didatangkan satu ‘orang pintar’, bisa juga lebih. Pada satu kejadian di Karawang, paranormal yang didatangkan jumlahnya mencapai puluhan. Mungkin melebihi jumlah yang kesurupan. Penutup dari rangkaian peristiwa ini, pabrik menyelengggarakan pengajian, doa bersama atau selamatan dan potong hewan.

Kira-kira, demikianlah urutan kejadiannya. Di luar pola umum itu, tentu ada penyimpangan dan perkecualian. Ketidakpatuhan pada pola umum di atas terjadi di Karawang pada Januari 2018. Kesurupan ini menimpa 20 orang buruh. Salah seorang korban kesurupan diberitakan malah dimarahi bos dengan kata-kata kasar dan dipukuli menggunakan batang sapu hingga memar-memar. Buruh yang bersolidaritas menolong teman yang kesurupan juga kena marah lalu dipecat. Orang yang digambarkan sebagai bos dalam berita ini mungkin tidak percaya hantu. Setidaknya hantu dengan letak geografis  Karawang. Dapat dapat dipastikan dia tidak paham apa yang terjadi. Karena pemukulan dan pemecatan yang diceritakan di atas, orang Korea ini diperkarakan.

Wartawan yang meliput kejadian sering berusaha mencari tahu penyebab kesurupan dengan bertanya kesana-kemari. Manager pabrik, tidak ingin berita tersebar, sering tidak mau ditanyai. Dari sumber yang bersedia ditanyai (buruh, manager, Satpam, polisi, tokoh masyarakat) jawaban yang didapatkan lumayan beragam. Antara lain: kerasukan makhluk halus, penghuni pabrik merasa terganggu karena ada yang bekerja sampai malam, pembangunan pabrik menggusur kuburan warga, buruh kurang berdoa, cuaca buruk, udara panas, belum sarapan, dan kelelahan karena kerja lembur terus-menerus. Semua jawaban di atas perlu didengar dan dipertimbangkan. Jawaban “karena kelelahan” (atau yang serupa) banyak muncul dari buruh sendiri dan warga sekitar pabrik. Karena penyebab kesurupan adalah “kurang berdoa,” sebuah pabrik merencanakan untuk menyelenggarakan pengajian mingguan. “Belum sarapan,” mungkin ada benarnya. Dan, jawaban “udara panas” patut didengar oleh investor yang tengah gencar mendirikan pabrik sandang di negara-negara Afrika.

Tapi, yang tidak dapat dikesampingkan adalah jawaban yang mengaitkan kesurupan dengan makhluk halus. Alasannya pasti ada. Merujuk pada sumber paling terandalkan, yaitu berbagai film mistik di televisi, menjelang malam Jumat hantu lebih giat beraktivitas. Sesudah ditelusuri, kesurupan memang paling banyak terjadi pada Kamis. Hampir 60 persen kesurupan terjadi pada Kamis dan Jumat. Kesurupan pada Sabtu terjadi pada pabrik yang tega mempekerjakan buruh menjelang malam Minggu. Pada Selasa, hantu kemungkinan lebih suka bermalas-malasan. Ajaibnya, tidak ditemukan kesurupan pada Minggu, yang merupakan hari libur untuk buruh (dan hantu).

Tabel 1:

Sebaran peristiwa kesurupan menurut hari dalam seminggu.

HariMingguSenin SelasaRabuKamisJum'atSabtu
Jumlah kejadian627161315
Baca juga:   Relokasi dan ‘Ongkang-ongkang Kaki’ Para Pemilik Merek

*) menurut penanggalan Masehi.

Berita tentang kesurupan sering juga menampilkan foto korban. Beberapa video rekaman kejadian juga terserak di Facebook. Foto berita biasanya menampilkan korban yang sedang mendapatkan pertolongan, terduduk atau berbaring sambil berurai air mata. Fakta pentingnya, semua korban adalah perempuan.  Kalau diperiksa lebih lanjut, kebanyakan korban bekerja di pabrik pakaian jadi dan kain (26 kejadian) serta sepatu (9). Disusul dengan pabrik rambut palsu, bulu mata palsu, tas dan tas tangan (7). Selebihnya, kesurupan terjadi di pabrik boneka, elektronik, kosmetik; dan di gerai ayam geprek milik seorang pesohor yang sering muncul dan berteriak-teriak di layar televisi.  Kira-kira 70 persen kesurupan terjadi di pabrik pakaian jadi dan sepatu. Sudah lama diketahui, keduanya merupakan industri yang lebih banyak mempekerjakan buruh perempuan. Maka, tidak mengherankan jika korban kesurupan hampir seluruhnya adalah perempuan.

Tabel 2:

Jenis barang/jasa yang dihasilkan

Pakaian jadi (garment); kain26
Sepatu9
Bulu mata palsu, rambut palsu4
Tas, tas tangan3
Elektronik, kosmetik, gerai makanan, boneka6
Tidak diketahui1
49

Membaca membaca nama-nama perusahaan tempat kerja buruh-buruh perempuan ini, segera terlihat kesurupan terjadi di banyak pabrik sandang dan sepatu perpanjangan perusahaan asing, terutama Korea. Pabrik-pabrik itu didirikan untuk memproduksi sandang/busana dan sepatu bagi banyak merek dan jaringan toko kelontong internasional. Daftar di bawah memperlihatkan merek barang-barang yang sehari-hari diproduksi oleh buruh, sambil mereka sesekali-sekali. Daftarnya memang panjang sekali. Karena satu pabrik tertentu, pada saat yang sama, mungkin memproduksi berbagai jenis pakaian jadi untuk berbagai merek. Mungkin lain waktu kesepakatan dengan para buyer akan mencantumkan: barang ini tidak dibuat oleh buruh yang kesurupan.

Daftar 1:

Daftar Merek Pakaian Jadi dan Sepatu yang Dihasilkan Pabrik.

*) disusun alfabetis supaya kelihatan rapi;

**) sengaja ditampilkan agar terkesan tidak asing dengan merek-merek ini.

Pakaian Jadi, Tas, Rambut Palsu: Adidas, American Eagle Outfitters, Ann Taylor,  Ascena Retail,  ATHLETA,  BERGHAUS, Chicos,   Children Place,  Converse, Dallas, Delta Galil,  DKNY,  EXpress, FACE NORTH,  FERRINO,  Forever 21, GAP,  Gymboree,  H&M,  Hot Chocolate (Women’s and Men’s Apparel Retail)  James Worldwide J-Crew,  KJUS, KMart,  Macy’s,  MAJEXTIC,  Maurices,  Michael Kors, OAKLEY,  Old Navy, Ralph Lauren, Royal Imex, Oradell, SWIX, The Children’s Place,  The Excecutive, TJ International, Tweens,  UNDER ARMOR,  Uniqlo, Urban Outfitters,  Ventella, Wacoal, Wrangler. / Sepatu: Adidas, Converse, Nike, Puma.

Dari uraian sebelumnya, sudah diketahui kesurupan massal di pabrik jarang terjadi pada Selasa dan (tentu saja) Minggu. Ternyata, dari 49 kejadian kesurupan tersebut, tidak satu pun terjadi pada bulan September. Setidaknya dari sini dapat disimpulkan, terutama bagi buruh pabrik sandang dan sepatu, hari baik bulan baik untuk bekerja adalah Selasa September. Namun demikian, jangan lengah terutama pada Februari, Mei dan Desember. Pada bulan-bulan tersebut, kewaspadaan perlu ditingkatkan. Kita semua tentu dianjurkan untuk banyak berdoa. Disarankan untuk banyak beristirahat. Jangan terlalu lelah, jangan lupa sarapan, jangan berpanas-panasan, apalagi naik motor sambil hujan-hujanan. Bulan-bulan penting tersebut perlu juga diketahui oleh pihak manajemen, khususnya bagian pengadaan/pembelian barang dan jasa di pabrik, untuk antisipasi seperlunya.

Selidik punya selidik, kejadian kesurupan melejit pada Desember-Februari (18 kejadian, 37 persen). Puncaknya adalah pada Mei (7 kejadian) dan Desember (8 kejadian). Mengapa pada Desember? Jika pertanyaan ini diajukan pada buruh pabrik sandang dan sepatu, jawabannya kurang lebih begini. Menjelang Natal dan Tahun Baru, target produksi naik, sehingga mereka sering kerja lembur. 

Selidik punya selidik lagi, sandang bermerek internasional yang diproduksi di Indonesia terutama ditujukan untuk pasar luar negeri, yakni negeri-negeri empat musim di Amerika Utara, Eropa, Asia Timur, dan Timur Tengah. Repotnya, semua merek besar yang tercantum di atas selalu menerbitkan produk khusus baru pada setiap pergantian musim Semi/Panas dan Gugur/Dingin. Toko baju dan rantai-toko barang kelontong (semisal JCPenney, Walmart) di Amerika barangkali menjual produk khusus untuk pasar yang khusus, pakaian dalam musim panas khusus kuliah untuk pemuda senja kutu buku. Pada gilirannya, lonjakan pesanan barang menjelang pergantian musim di Amerika sana akan merepotkan buruh pabrik di Cileungsi, Bogor. Ada kemungkinan, kesurupan pada Mei berkaitan dengan peningkatan target produksi dan kerja lembur menjelang musim Panas di kawasan bumi utara.

Tabel 3:

Kejadian Kesurupan menurut Bulan

MusimBulanJumlah Kejadian
DinginDesember8
Januari4
Februari6
SemiMaret3
April3
Mei7
PanasJuni4
Juli4
Agustus3
GugurSeptember
Oktober4
November3
Baca juga:   Danial Indrakusuma: Saat Ini, Muncul Konsep, Kesadaran dan Tindakan ‘Tutup Kawasan’, ‘Tutup Tol’, dan ‘Solidaritas Antarpabrik’. Sebuah Kemajuan!

*) menurut penanggalan Masehi.

**

Hingga di sini, perlu kiranya kita bersikap proporsional, adil, dan bijak. Kesurupan bukan sepenuhnya perbuatan hantu pabrik. Mungkin ada benarnya, penyebab kesurupan adalah kelelahan akibat lembur. Tampaknya, kesimpulan sederhana dari kajian percobaan ini perlu diperhalus dengan dua kajian tambahan, yaitu studi komparatif antar-negara tentang kesurupan serta tinjauan dari ilmu kesehatan mental. Dua kajian itu akan dilakukan lain kali.

Beberapa minggu sesudah kejadian kesurupan di PT Pungkook Indonesia One, seorang buruh perempuan bercerita, sejak Februari lalu dia dan teman-temannya kerja lembur terus menerus untuk mengejar target ekspor. Intinya, dalam satu minggu mereka harus lembur 20 jam. Menurutnya, kerja lembur ini akan terus berlanjut sampai menjelang hari Lebaran.

Kalau boleh ditegaskan kembali, terlalu banyak lembur tidak baik bagi kesehatan mental. Tampaknya soal ini masih perlu terus disuarakan dengan lantang peringatan hari buruh internasional 2021.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *