Swakelola Buruh dalam Perspektif Sejarah

James Petras

 

 

Swakelola buruh (worker self-management disingkat WSM) muncul kembali sebagai sebuah gerakan utama di Argentina, khususnya pada tahun ini dengan lebih dari 200 pabrik diorganisir dan dikontrol oleh buruh-buruhnya, dan adanya koordinasi bersama tingkat nasional dari perusahaan-perusahaan yang dikelola sendiri dan sedang berada dalam proses pengorganisiran.

Dalam sejarah, WSM telah menjadi inti proyek sosialis, sejak pernyataan terkenal Karl Marx bahwa “pembebasan kaum buruh hanya bisa dicapai oleh kaum buruh itu sendiri.” Ini berarti WSM sebagai jalan menuju sosialisme bertentangan dengan sentralisme birokratik bekas Uni Soviet dan sistem manajemen kapitalis yang hierarkis.

Esai ini akan meninjau secara singkat potensi WSM yang sangat besar dan kemudian mengulas beberapa pengalaman sejarah selama abad ke-20 untuk menunjukkan beberapa pelajaran sejarah yang relevan dengan pengalaman Argentina sekarang ini.

 

Potensi-Potensi WSM

WSM benar-benar merupakan sebuah pengalaman yang membebaskan, baik dalam arti membebaskan kelas buruh dari ketidakamanan dan kekejaman kapitalis maupun dalam arti memberikan mereka kebebasan untuk menciptakan bentuk-bentuk hubungan sosial produksi dan distribusi yang baru. Secara singkat, WSM memberikan kaum buruh kekuasaan pengambilan-keputusan untuk:

  • menentukan apa yang akan diproduksi dan untuk siapa
  • mengamankan pekerjaan dan/atau meningkatkan lapangan kerja
  • menetapkan prioritas dalam apa yang akan diproduksi
  • menentukan landasan dari siapa mendapat apa, di mana dan bagaimana
  • menggabungkan produksi sosial dan pengambilan keuntungan secara sosial
  • menciptakan solidaritas kelas di tingkat pabrik, sektoral atau nasional/internasional
  • mendemokratisasikan hubungan-hubungan sosial produksi.

Pengalaman Argentina dengan WSM menunjukkan beberapa potensi ini. Di pabrik tekstil Brukmann dan pabrik keramik Zanon serta juga di perusahaan-perusahaan WSM yang didirikan oleh para buruh tuna karya (unemployed workers) di Solano dan di tempat-tempat lain, keputusan-keputusan produksi dan distribusi diambil oleh dewan seluruh buruh (lihat Wawancara-Wawancara oleh Mario Hernandez 23-08-02 FSM (La Casona)). Tingkat solidaritas yang tinggi terlihat dari slogan yang populer, “serangan terhadap satu adalah serangan terhadap semua” (“Tocas uno, Tocas todos”).

Dalam sejarahnya, realisasi potensi WSM menghadapi kegagalan dan keberhasilan yang terbatas. Ada gunanya mengulas beberapa pengalaman utama WSM dalam konteks sejarah yang berbeda-beda.

 

Kasus-kasus WSM dalam sejarah: Yugoslavia, Chile, Bolivia, Peru

WSM pernah terjadi di beberapa negara pada momen dan konteks yang berbeda-beda. Kita akan mengamati empat kasus: Yugoslavia, Chile, Bolivia dan Peru, serta menyorot kekuatan dan kelemahannya.

 

Yugoslavia

WSM adalah doktrin resmi rezim sosialis Yugoslavia antara tahun 1950 sampai pecahnya Federasi Yugoslavia. Di seluruh Yugoslavia, semua pabrik besar berada di bawah sistem WSM, menghasilkan pengaruh yang lebih besar atas produksi dan pendapatan daripada di bekas negara-negara sosialis yang lain. Pendidikan dan kesehatan gratis serta pekerjaan yang stabil dijamin oleh WSM. Gerakan WSM di Yugoslavia muncul dari kekalahan fasisme, revolusi sosialis dan putusnya hubungan Presiden Yugoslavia Tito dengan Stalin dan Uni Soviet.

WSM di sini berjalan melalui beberapa tahap, pada periode pertama 1950-64, WSM beroperasi di tingkat pabrik ketika Partai Komunis mengontrol kebijakan nasional; dari 1965-1972, di bawah “pembaruan pasar”, pabrik-pabrik WSM mulai terpengaruh oleh tekanan kapitalis, sehingga menghasilkan pengangguran dan ketimpangan sosial yang lebih besar di antara pabrik-pabrik dan sektor-sektor ekonomi; pada periode 1973-1990, munculnya chauvinisme etnis, tekanan IMF dan kemerosotan Partai Komunis Yugoslavia akhirnya berdampak pada kematian WSM.

Keberhasilan awal WSM dalam eksperimen WSM di Yugoslavia selama lebih dari 30 tahun disebabkan oleh perjuangan massa yang mendahului WSM selama periode anti-fasis, anti-Stalinis pada 1940-1950, yang mempolitisasi dan memobilisasi kelas buruh serta meningkatkan kesadaran kelas dan organisasi. Keterbatasan WSM di Yugoslavia adalah karena hal itu selalu dibatasi oleh kenyataan bahwa Negara masih berada di tangan Partai Komunis yang membatasi jangkauan WSM hanya di tingkat lokal atau sektoral, sehingga menciptakan sistem kekuasaan ganda antara negara birokratis dan gerakan WSM berbasis-pabrik. Ketika birokrasi beralih ke pasar dan kemudian ke politik etnis, hal itu merusak sistem WSM.

 

Chile

Di Chile, di bawah pemerintahan Allende (1970-73), lebih dari 125 pabrik berada di bawah semacam sistem WSM. Paling banyak setengahnya dikontrol oleh para pejabat negara, sementara lima puluh persen sisanya dikontrol oleh komisi-komisi buruh di pabrik. Kajian yang ada menunjukkan bahwa pabrik-pabrik yang berada di bawah WSM lebih produktif, efisien dan dengan kebiasaan bolos kerja lebih sedikit dibandingkan dengan pabrik-pabrik yang dijalankan negara di bawah manajemen yang tersentralisir. Gerakan WSM menciptakan “cordones industriales”, yaitu wilayah-wilayah industri yang mengkoordinir produksi dan pertahanan-diri dari serangan-serangan kapitalis. Di pabrik-pabrik yang sukses dan dikontrol dari bawah, perselisihan partai dan serikat buruh disubordinasikan di bawah kekuasaan dewan rakyat, di mana semua buruh di pabrik berpartisipasi.

WSM mempertahankan pabrik-pabrik dari penutupan, melindungi pekerjaan buruh dan banyak memperbaiki kondisi sosial dan kerja. Yang terpenting, hal itu meningkatkan kesadaran politik para buruh. Sayangnya, WSM berjalan di bawah sebuah rezim sosialis parlementer dan negara kapitalis. WSM menciptakan situasi kekuasaan ganda antara kekuasaan buruh yang mewujud di pabrik-pabrik dan cordones, serta di sisi lain, aparatus negara borjuis-militer. Pemerintahan Allende berusaha menyeimbangkan dua pusat kekuasaan itu, menolak mempersenjatai atau menindas buruh. Hasilnya adalah kudeta militer 1973 yang mengarah pada penggulingan Allende dan penghancuran gerakan WSM.

Pelajarannya jelas: ketika keberhasilan WSM meningkat dan menyebar di seluruh negeri, kelas kapitalis dan tuan tanah yang tergeser beralih ke kekerasan dan represi untuk mengambil kembali kontrol atas alat-alat produksi. Para kapitalis pertama-tama mencoba mensabotase distribusi dan produksi melalui pemogokan supir truk, kemudian mereka mencoba memblokir pembiayaan dan akhirnya mereka beralih ke militer dan kediktatoran.

WSM berusaha menekan Allende untuk bertindak lebih tegas di depan ancaman yang sudah di ambang pintu, tetapi ia dengan buta berkomitmen pada prosedur-prosedur parlementer dan WSM pun kalah. Jika WSM di Chile, seperti juga di Yugoslavia, bergerak dari organisasi berbasis pabrik atau sektoral menuju ke pengambilalihan kekuasaan negara, para buruh akan berada di posisi unggul untuk mempertahankan sistem WSM.

 

Bolivia

Sistem swakelola buruh di Bolivia muncul dari revolusi rakyat tahun 1952, ketika sebuah aliansi borjuis kecil nasionalis, petani dan buruh tambang yang sadar kelas menggulingkan rezim pro-imperialis yang oligarkis. Dalam tahap pertama revolusi, milisi buruh dan petani berhasil menghancurkan tentara, mengambilalih tambang-tambang dan melaksanakan redistribusi tanah. Meskipun demikian, milisi buruh tambang bersenjata, melalui dewan-dewan dan serikat mereka, terkurung secara geografis dan politis di kubu-kubu pertahanan mereka di pegunungan dan terisolasi dari massa petani, yang berada di bawah pengaruh kaum nasionalis borjuis kecil (Gerakan Nasionalis Revolusioner atau MNR) yang memperoleh kontrol atas pemerintah dan mengorganisir kembali sebuah negara borjuis.

Hal ini menciptakan sistem kekuasaan ganda yang mengarah pada konflik yang semakin intensif pada periode pasca-revolusioner. Selama tahun 1950-an, Gerakan Buruh Bolivia melakukan aksi militan, pemogokan umum, konfrontasi bersenjata untuk mempertahankan capaian-capaian Revolusi, sementara MNR membirokratisasikan tambang-tambang yang dinasionalisasi, mendirikan sebuah Perusahaan Tambang Negara, COMIBAL, yang secara efektif mengambil kontrol dari kaum buruh seraya mempertahankan kepemilikan negara.

Pada tahun 1964, sebuah kudeta militer mengakibakan pendudukan sementara militer atas tambang-tambang tersebut. Meskipun demikian, sebuah aliansi buruh-petani dengan pemerintahan militer progresif J.J. Torres pada tahun 1970 menyebabkan kemunculan kembali kekuasaan rakyat di Dewan Rakyat Nasional. Sekalipun Dewan menyetujui legislasi revolusioner, ia tidak memiliki kekuasaan negara. Sebuah kudeta militer yang dipimpin oleh Jenderal Banzer membubarkan Dewan dan menghancurkan milisi buruh tambang.

Pelajaran dari pengalaman Bolivia adalah bahwa WSM di satu sektor tunggal (pertambangan) itu rentan apabila ia tidak membentuk aliansi dengan sektor-sektor rakyat lainnya; bahwa sebuah Dewan Konstituante Rakyat tanpa dukungan negara atau milisi rakyat rentan terhadap kudeta; Pelajaran ketiga adalah bahwa negaraisasi (statification) pabrik-pabrik yang dikontrol-buruh bisa mengakibatkan para birokrat dan teknokrat borjuis kecil mengambil kontrol dari para buruh dan mensentralisirnya pada aparatus negara, serta menjalankan perusahaan publik itu seperti sebuah perusahaan kapitalis.

 

Peru: Revolusi Dari Atas

Pada tahun 1967, sekelompok perwira militer nasionalis progresif yang dipimpin oleh Jenderal Velasco Alvarez merebut kekuasaan. Rezim baru ini mengambilalih sejumlah besar tambang, pabrik dan perkebunan serta membuat dua jenis inovasi: koperasi industrial dan komunitas industrial. Koperasi industrial didasarkan pada partisipasi buruh-manajemen dan menghasilkan pertumbuhan produktivitas yang signifikan serta manfaat sosial-ekonomi, tetapi pada akhirnya manajemen mengambilalih pembuatan kebijakan dan memarginalisasi serta mengkooptasi para perwakilan buruh.

Komunitas industrial seharusnya merupakan sebuah bentuk partisipasi bersama antara para perwira militer dan buruh, tetapi de facto, para perwira militer mempertahankan kontrol tersentralisir dari kepemilikan kapitalis sebelumnya dan juga diferensiasi upah. Ketika para buruh menyadari bahwa koperasi dan komunitas industrial yang diorganisir dari atas tidak akan berjalan sesuai dengan kepentingan mereka, para buruh mengorganisir untuk mendemokratisasikan koperasi dan komunitas industrial itu serta untuk mengamankan keadilan dan kontrol yang lebih besar, seringkali dengan mengadakan pemogokan terhadap perusahaan-perusahaan mereka sendiri. Pada akhirnya, di bawah penguasa neo-liberal, pabrik-pabrik dan perkebunan itu diprivatisasi kembali dan hukum perburuhan progresif di bawah Velasco dicabut.

Pelajaran dari Peru adalah bahwa negaraisasi atau nasionalisasi dari atas mereproduksi struktur hierarkis kapitalisme dan memarginalisasi peran buruh di sektor publik. Capaian-capaian sosial yang telah diraih para buruh dalam perjuangan kemudian dikurangi oleh para birokrat yang bertugas, yang beroperasi dengan kriteria kapitalis. Korupsi dan salah urus oleh para birokrat serta kurangnya kontrol buruh mengakibatkan de-nasionalisasi dan privatisasi.

 

Pengalaman Sejarah dan Argentina

Beberapa pelajaran penting dari pengalaman WSM di masa lalu relevan bagi pabrik-pabrik yang dikelola-buruh di Argentina, yang jumlahnya semakin besar.

Keberhasilan pabrik-pabrik yang dikelola-buruh di masa lalu dilandaskan pada struktur horizontal yang didasarkan pada dewan-dewan rakyat. Pelaksanaan yang berhasil di Chile dan Yugoslavia didasarkan pada dewan-dewan buruh dan dewan-dewan pabrik.

Keberhasilan di satu sektor, pertambangan di Bolivia, manufaktur di Chile, bergantung pada perluasan WSM ke sektor-sektor lain dan aliansi dengan kelas-kelas lain, sebuah fenomena yang gagal dijalankan oleh para pelopor buruh.

Kemenangan-kemenangan lokal dan kekuasaan ganda meningkatkan kesadaran kelas dan memperbaiki kondisi kerja, tetapi juga menimbulkan reaksi yang keras dari kelas-kelas yang berkuasa. Kegagalan WSM di Bolivia dan Chile untuk bergerak dari kekuasaan lokal ke kekuasaan negara mengakibatkan represi borjuis lewat kudeta militer: kekuasaan pengimbang atau kekuasaan ganda adalah sebuah situasi sementara dan tidak stabil, yang pada akhirnya diselesaikan oleh pertanyaan tentang kekuasaan negara.

Konteks pertumbuhan gerakan WSM berbeda dari satu negara ke negara lain dan di bawah kondisi-kondisi khusus. Di Yugoslavia, WSM dimulai dengan perang anti-fasis para buruh, dan memuncak pada pendudukan pabrik secara masif di bawah Partai Komunis Yugoslavia. Di Chile, WSM merupakan hasil kebijakan negara dan intervensi langsung dari buruh untuk mencegah sabotase dan lockout kapitalis. Di Bolivia, WSM tumbuh dari sebuah insureksi rakyat anti-oligarki. Hanya di Yugoslavia, WSM mengkonsolidasikan kekuasaannya selama 3 dekade, dan ini sebagian besar karena kekuasaan negara berada di tangan sebuah Partai Komunis non-Stalinis. WSM, agar bisa terkonsolidasi dan berjalan perlu bergerak dari lokal ke nasional, dari pabrik ke negara, dari buruh industrial ke para penganggur, pemuda, perempuan dan minoritas etnis.

Gerakan WSM di Argentina yang semakin besar, khususnya di pabrik-pabrik yang diduduki dan di perusahaan-perusahaan yang diorganisir oleh gerakan buruh tuna karya, MTD, telah membuka sebuah perdebatan yang luas mengenai struktur, trayektori dan politik gerakan ini. Dalam perdebatan di Foro Social Mundial mengenai “barrio sebelumnya di mana para pemimpin dibeli atau korup. Seperti yang ditunjukkan oleh pembahasan kami sebelumnya mengenai pengalaman WSM di Peru dan Bolivia, ini merupakan persoalan yang nyata.

Gerakan WSM, khususnya di antara para aktivis di pabrik yang diduduki, sadar akan kebutuhan untuk bersolidaritas dengan sektor-sektor rakyat dan gerakan lain. Sebagai contoh, karena berhadapan dengan ancaman pengusiran dari pabrik oleh negara, mereka telah meminta dewan-dewan kampung, dan gerakan para penganggur untuk bergabung mempertahankan tempat kerja mereka. Koordinasi antara gerakan buruh pabrik dengan buruh tuna karya sudah meningkat, khususnya di momen-momen krisis, dan di hadapan represi negara yang semakin tinggi. Seperti yang dinyatakan oleh Hector (MTD dari Guernica) ancaman militerisasi menimbulkan kebutuhan persatuan yang seluas-luasnya antara pabrik-pabrik, dewan-dewan dan MTD.

Beberapa pemimpin gerakan buruh tuna karya tidak hanya memahami keterbatasan wilayah kecil WSM dalam pasar kapitalis, tetapi juga memproyeksikan kebutuhan untuk berpartisipasi secara aktif dalam perjuangan politik umum di tingkat nasional. Seperti yang dinyatakan oleh Martino dari MTR di pertemuan FSM, selain menyelesaikan kebutuhan-kebutuhan yang segera dan mengakui pentingnya pembangunan kekuatan lokal, adalah penting untuk memahami bahwa kekuatan lokal ini dihubungkan dengan pembangunan sebuah kekuatan politik, sebuah kekuatan sosial nasional. Pembangunan aliansi antara gerakan buruh tuna karya dengan WSM di pabrik-pabrik yang diduduki digambarkan oleh seorang delegasi dari Zanon dalam ungkapan ringkas berikut. Selama masa awal pendudukan pabrik, para buruh tuna karya yang terorganisir bergabung mempertahankan pabrik keramik dari usaha pemilik lama untuk mengusir para buruh secara paksa, dengan memanggil polisi. Perlawanan massa yang bersatu menahan mereka secara efektif. Setelah itu, keramik Zanon, sebuah produk yang terkenal dan dihormati, memperluas produksi dan merekrut sepuluh buruh dari para penganggur di dalam gerakan.

Gerakan WSM di Argentina mengorganisir dua acara nasional, sebuah aksi massa pada tanggal 24 Agustus, 2002, yang melibatkan lebih dari 3000 buruh dan delegasi dari pabrik-pabrik yang diduduki, didukung oleh para pemimpin serikat buruh yang membangkang, menuntut kontrol buruh atas semua unit produksi yang bangkrut, yang tidak melakukan pembayaran upah, memecat buruh, atau menjual peralatan dan mesin-mesin.

Meskipun demikian, gerakan WSM sedang berada di tengah-tengah perdebatan besar mengenai beberapa isu:

  • bentuk perusahaan yang diduduki, apakah berbentuk koperasi atau swakelola buruh?
  • aliansi, apakah ia harus mencakup para politisi dari partai-partai tradisional atau sama sekali tidak melibatkan partai (otonomi) atau hanya partai-partai Kiri (dan yang mana)?
  • perspektif, apakah fokusnya harus secara eksklusif lokal, regional, sektoral atau nasional?

Pengalaman sejarah yang lalu memberikan kita beberapa panduan.

Pertama, aliansi dengan partai-partai tradisional telah mengkooptasi para pemimpin, mengisolasi WSM dari perjuangan yang lebih luas dan membirokratisasi struktur internalnya. Aliansi yang paling sukses adalah aliansi horizontal, jaringan buruh dan kelas-kelas rakyat yang diorganisir dalam dewan-dewan dan dengan perspektif kelas untuk mentransformasikan kekuasaan negara.

Kedua, sekalipun koperasi telah memperbaiki standar kehidupan anggota mereka, mereka biasanya menemukan celah dalam sistem kapitalisme. Ketika hampir 60% penduduk berada di bawah garis kemiskinan dan 4 juta dari 8 juta anak berada di bawah garis kemiskinan, menderita kurang gizi dan penyakit-penyakit terkait, kebutuhan politiknya adalah untuk melampaui kesuksesan-kesuksesan ”kecil” menuju perubahan mendasar dalam struktur sosial-ekonomi, sebuah transformasi dari kapitalisme yang biadab menuju sosialisme yang dikelola-sendiri oleh buruh.

Ketiga, sekalipun otonomi gerakan WSM dan para penganggur itu positif sejauh mereka menolak pengawasan negara dan kontrol partai, adalah keliru untuk menolak beraliansi dengan partai-partai Kiri dan gerakan sosial lainnya yang memiliki taktik aksi langsung dan tujuan yang sama. Contoh Bolivia dengan sektor pertambangannya yang sadar-kelas, tetapi terisolasi, adalah contoh bagaimana otonomi yang dilaksanakan secara ekstrim akan menghancurkan-diri sendiri.

Keempat, terdapat paling banyak 100.000 dan 200.000 buruh tuna karya yang diorganisir dan berada dalam aksi, kira-kira terdapat 5 sampai 6 juta penganggur dan setengah-penganggur yang tidak terorganisir.

Keberhasilan organisasi sosial dan politik kelas-kelas rakyat dalam gerakan WSM dan para penganggur, seperti yang telah kita lihat di negara-negara lain, akan memunculkan represi dan kekerasan oleh kelas-kelas yang berkuasa. Di satu titik, ketika berkembang dan mendapatkan momentum, gerakan harus membangun mekanisme pertahanan-diri dan berbagai bentuk perlawanan, untuk menghindari nasib gerakan WSM di Chile dan Bolivia.

Kunci keberhasilan WSM di Argentina tergantung dari upaya memperdalam ikatan ke jaringan yang ada, dengan dewan-dewan kampung, serikat-serikat buruh progresif, dan organisasi dari mereka yang tidak terorganisir. Kesatuan aksi menjadi prioritas tertinggi ketika krisis semakin dalam, penutupan pabrik bertambah dan represi meningkat. Kebijakan dasar solidaritas “tocas uno tocas todos” adalah sebuah pijakan awal yang baik untuk menuju pembangunan sebuah gerakan politik nasional yang mampu menantang kekuasaan negara.***

 

September 25, 2002

 

Artikel ini diterjemahkan oleh Mohamad Zaki Hussein dari James Petras, “Worker self-management in historical perspective,” http://petras.lahaine.org/?p=137.

 

Leave a Reply