Di Sukabumi, Irfan tidak diperpanjang kontrak kerjanya karena sedang berusaha mendirikan serikat buruh. Ahmadi Suandi tidak diperpanjang kontrak kerjanya akibat protes pada sikap atasan yang sering berkata kasar. Sumiarti tidak diperpanjang kontrak akibat mempertanyakan hak cuti melahirkan. Dan masih banyak lagi nama-nama lainnya. Secara “resmi” perusahaan menyatakan bahwa yang bersangkutan tidak diperpanjang lagi kontraknya karena berkurangnya pekerjaan yang ada. Meski faktanya kemudian perusahaan merekrut lagi orang baru untuk meggantikan mereka. Sehingga alasan berkurangnya pekerjaan sulit diterima akal bahkan dapat dikatakan tidak benar adanya. Bahkan mayoritas nama-nama di atas tercatat memiliki kondite kerja yang baik. Dan secara “resmi” pula, isi paragraf pertama di atas adalah tuduhanRead More →

  Pengantar Aktivis buruh Darwin Mariano sehari-hari bekerja di Workers Assistance Center (WAC), organisasi perburuhan yang kantornya terletak sekitar 30 menit perjalanan darat menuju selatan Manila. WAC mulai dibangun pada 1995 oleh Alm. Pendeta Jose Dizon sebagai layanan sosial di gereja setempat. Di kemudian hari Pendeta Dizon mengubahnya menjadi sebuah organisasi non-pemerintah (ornop) di bidang perburuhan. Sebagian besar buruh yang disentuh program pengorganisasian WAC adalah para buruh pabrik. WAC juga menyediakan bantuan hukum misalnya untuk buruh-buruh yang kena PHK atau menghadapi masalah sejenis itu di tempat kerjanya. Selain itu, mereka menyelenggarakan berbagai program pendidikan, contohnya adalah pendidikan gender untuk buruh-buruh di Kawasan Ekonomi Cavite, diRead More →

Herry ‘Ucok’ Sutresna   Judul Buku: Menolak Tunduk: Cerita Perlawanan dari Enam Kota Penerbit: LIPS & Tanah Air Beta Tahun terbit: 2016 Penulis: Aang Ansorudin, Atik Sunaryati, Coeblink, Hera Sulistyowati, Hery Sofyan, Jumisih, Kokom Komalawati, Meen Martani, Mundori, Siti Saroh, Supinah, Sohari. Banyak buku yang membahas tentang perburuhan di luar sana, namun mayoritas merupakan buku-buku yang sifatnya reportase, analisa atau teori-teori mengenai gerakan buruh di Indonesia yang ditulis oleh akademisi, pemerhati atau aktivis. Di sini letak penting buku yang merupakan buku ke-2 dari seri “Buruh Menuliskan Perlawanannya” ini. Seperti halnya buku pertama pendahulunya, buku dengan ketebalan 425 halaman ini merupakan kumpulan tulisan yang ditulis olehRead More →

Bambang Dahana   Kawan saya, Wati (jangan percaya ini nama sebenarnya) bekerja di sebuah pabrik sepatu di Tangerang. Awal 2012, Wati mengumpulkan teman-temannya dan berencana membikin serikat buruh tingkat pabrik. Manajemen mengendus rencana Wati. Wati segera dipanggil untuk diajak bicara. Manajemen, alias juru bicara pengusaha, berkata kira-kira begini: “Wati, kamu jangan bergabung dengan serikat yang itu. Sebaiknya serikat yang ini saja.” “Kenapa begitu, pak?” “Soalnya serikat yang itu berpolitik. Kalau serikat yang ini tidak berpolitik.” Bagi saya cerita di atas amat luar biasa berharga, karena mengajarkan dua hal. Pertama, umumnya pengusaha rupanya memang hebat dan pintar. Mereka mampu mengendus dan tahu betul serikat buruh manaRead More →

Dina Septi Utami Beraktivitas di Lembaga Informasi Perburuhan Sedane (LIPS) Pendahuluan Tulisan ini akan merefleksikan hasil belajar tentang buruh borongan sebagai sebuah sistem yang diterapkan di pabrik di BIIE (Bekasi International Industrial Estate) di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat; kondisi kerja yang diakibatkan oleh sistem tersebut dan perlawanan buruh terhadap sistem tersebut. Sistem buruh borongan yang diterapkan di pabrik ini adalah sebuah implementasi piece-rate system yang khusus dan cukup aneh yang menempatkan buruh dalam situasi yang sangat mengenaskan. Pertanyaan yang akan dijawab dalam tulisan ini adalah apa itu sistem buruh borongan? Dan bagaimana ia diterapkan? Bagaimana kondisi kerja yang diakibatkannya dan bagaimana buruh melawannya? Tulisan iniRead More →