Reading Time: 5 minutes Seperti tahun-tahun sebelumnya. Pagi-pagi 1 Mei, saya sudah berada di sekitar Monas. Di Patung Arjunawiwaha atau yang lebih dikenal dengan Patung Kuda. Di tempat itu sudah berkumpul massa SPN (Serikat Pekerja Nasional). SPN tahun ini tidak seperti tahun sebelumnya, tidak bersama dengan KSPI (Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia). SPN bersama dengan FNPBI (Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia), SBMI (Serikat Buruh Migran Indonesia), SPOI (Serikat Pekerja Otomotif Indonesia), SRMI (Serikat Rakyat Miskin Indonesia), dan LMND (Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi). Beberapa tuntutan yang mencolok adalah “Bubarkan BPJS”. Di ujung lain, terdapat kelompok terdiri tidak lebih dari 25 orang. Mereka adalah “buruh Nike” yang masih menunggu kedatangan teman-temanRead More →

Reading Time: 5 minutes Alfian Al-Ayyubi Pelu dan Syarif Arifin Relokasi dan ekspansi pabrik bukan kejadian baru di Indonesia. Pada 2002, PT Sony Electronics, memindahkan pabriknya dari Cikarang Bekasi ke Malaysia. Kemudian PT Satria Sejati Multi Industri memindahkan pabriknya dari Bandung Barat ke Kota Bandung, pada 2006. PT Honey Lady memindahkan pabriknya dari KBN Cakung ke Bawen Jawa Tengah, pada 2007. Pemindahan PT Sepatu Bata dari Kalibata ke Purwakarta, pada 2008. Kecenderungan relokasi pabrik juga melanda beberapa negara di Asia Tenggara dan selatan, bahkan berlangsung sejak 1970-an. Tentu saja, pendirian pabrik Unilever dan Philips di zaman Belanda merupakan satu bagian dari ekspansi. Relokasi dan ekspansi merupakan salah satu strategiRead More →

Reading Time: 6 minutes “Violence begets violence,” (Martin Luther King Jr, 1834, The Times, hal. 2) Kekerasan apapun, seksual, fisik, verbal ataupun kekerasan nonverbal merupakan topik yang berat untuk dibicarakan. Bagi yang sekadar mendengarkan pun akan berat, apalagi bagi yang mengalaminya. Tulisan ini lebih mirip omelan dan luapan kemarahan ketimbang disebut artikel ilmiah. Tulisan ini dirangkum dari berbagai potongan cerita penyintas kekerasan. Bukan hal yang mudah bagi penyintas kekerasan bentuk apapun untuk bisa meluapkan kemarahan. Terlebih lagi tidak bisa meluapkan kemarahan kepada si pelaku. Sekian banyak kasus kekerasan, dalam bentuk apapun, hanya ditelan dan disimpan sendiri. Pertanyaanya, “Mengapa demikian? Mengapa ‘korban’ tidak melaporkan kejadian kekerasan, atau mengambil tindakan dalamRead More →

Reading Time: 5 minutes Laporan ini memberikan gambaran empiris mengenai spektrum kekerasan berbasis jender di pabrik-pabrik pemasok H&M, GAP dan Walmart di Asia. Lokasi penelitian dilakukan di Dhaka, Bangladesh; Phnom Penh, Kamboja; Jawa Tengah dan Jakarta Utara Indonesia; Bangalore, Gurgaon, dan Tiruppur, India; dan di Gapaha dan Vavnuniya, Srilangka. Metode penggalian data dilakukan dengan wawancara mendalam kepada 898 buruh perempuan di 142 pabrik, serangkaian diskusi terfokus, studi kasus dan pengamatan terlibat. Riset dilakukan selama Januari hingga Mei 2018. Pemahaman mengenai kekerasan berbasis gender di tempat kerja merujuk pada pengertian yang telah disepakati secara umum, yaitu pada Rekomendasi Umum 19 yang diadopsi oleh Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW). Faktor-faktorRead More →