Reading Time: 6 minutes Bambang TD, Abu Mufakhir, Syarif Arifin   Pendahuluan[1] Analisis mengenai keadaan pengupahan Indonesia mesti dimulai dari dua kebijakan, yaitu kebijakan upah minimum yang diberlakukan sejak 1980 dan lima tahun kemudian pembukaan kawasan-kawasan industri sebagai strategi utama menarik investasi asing. Sejak itu, Indonesia menjadi ‘kolam besar’ investasi asing untuk mendirikan industri manufaktur yang terintegrasi secara global, lokasi geografi yang strategis untuk menjangkau pasar Asia, dengan buruh murah yang tidak terorganisasi. Kebijakan upah murah telah mendorong terjadinya berbagai protes buruh di kota-kota industri seperti Tangerang, Bandung dan Medan, pada 1990-an. Pasca-Orde Baru, secara khusus dalam tiga tahun terakhir (2011-2014), perlawanan terhadap kebijakan upah murah semakin meluas. SetiapRead More →

Reading Time: 8 minutes Azhar Irfansyah Beraktivitas di Lembaga Informasi Perburuhan Sedane (LIPS) Pada suatu malam, saat tengah dipukuli suaminya, Sri mengancam akan pergi dari rumah. “Satu langkah kamu keluar dari pagar rumah, maka kamu menjadi perempuan nusyuz!” ancam suami Sri. Istilah nusyuz  dapat ditemukan dalam Al-Qur’an, surat Annisa ayat 34. Istilah ini sering ditafsirkan sebagai “sombong”, “arogansi”, “meninggikan diri sendiri”, atau “durhaka”. Sri tidak surut mendengar ancaman berbobot dalil dari suaminya. Apalagi baju-bajunya sudah dilempar keluar. Ia pun pergi meninggalkan suaminya yang ringan tangan dan bermalam di sekretariat Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP), di mana kawan-kawannya sesama buruh menyambut dengan hangat. Mulai malam itu Sri menjadikan sekretariat sebagaiRead More →

Reading Time: 12 minutes Oleh, Dina Septi “Bagi buruh perempuan tidak ada waktu, tidak ada lagi tenaga! Apalagi jarak antara rumah dengan kantor serikat yang terlalu jauh membuat mereka kurang aktif di serikat dan program pendidikan apapun yang diselenggarakan. Buruh perempuan susah diajak ‘kumpulan’ karena Sabtu lembur. Sedangkan hari Minggu milih nyuci, setrika atau kumpul sama anak. Walaupun saya juga ada lembur di hari Minggu, tapi kalau tidak sedang lembur saya selalu datang ke pendidikan. Sabtu masuk setengah hari, jadi Sabtu sore masih bisa ‘kumpulan’. Bagaimana caranya membuat buruh perempuan mau lebih aktif di serikat?”  ~Narti, buruh PT Alim Rugi Bekasi.   Buruh Perempuan: Ibu dan Buruh Lebih dari sepertiga waktuRead More →

Reading Time: 7 minutes Ada perempuan yang hendak belajar di luar, tapi harus ditemani. Perempuan tidak boleh pergi sendirian, meskipun sehari-hari berangkat dari rumah ke tempat kerja selalu sendiri. Kebetulan yang menemaninya bukan perempuan dan bukan mahram-nya. [1] Kejadian itu menjadi buar bibir dan mendekati tertawaan kalangan perempuan dan lelaki. Rupanya yang diperbincangkan bukan kebijakan serikatnya, tapi si perempuan. Ada pula yang mengeluh bahwa kuota 30 persen di serikat sekadar formalitas.[2] Begitu pula pembuatan departemen khusus di serikat dianggap hanya tempelan. Perempuan hanya ditempatkan sebagai bagian pendukung organisasi seperti pembuat surat-menyurat atau mengurus kwitansi keuangan. Perempuan tidak dilirik dalam pengambilan keputusan.[3] Ada kegembiraan, ketika 8 Maret kemarin, serikat-serikat buruhRead More →