Bambang TD, Abu Mufakhir, Syarif Arifin   Pendahuluan[1] Analisis mengenai keadaan pengupahan Indonesia mesti dimulai dari dua kebijakan, yaitu kebijakan upah minimum yang diberlakukan sejak 1980 dan lima tahun kemudian pembukaan kawasan-kawasan industri sebagai strategi utama menarik investasi asing. Sejak itu, Indonesia menjadi ‘kolam besar’ investasi asing untuk mendirikan industri manufaktur yang terintegrasi secara global, lokasi geografi yang strategis untuk menjangkau pasar Asia, dengan buruh murah yang tidak terorganisasi. Kebijakan upah murah telah mendorong terjadinya berbagai protes buruh di kota-kota industri seperti Tangerang, Bandung dan Medan, pada 1990-an. Pasca-Orde Baru, secara khusus dalam tiga tahun terakhir (2011-2014), perlawanan terhadap kebijakan upah murah semakin meluas. SetiapRead More →