Alfian Al-Ayyubi Pelu dan Syarif Arifin Relokasi dan ekspansi pabrik bukan kejadian baru di Indonesia. Pada 2002, PT Sony Electronics, memindahkan pabriknya dari Cikarang Bekasi ke Malaysia. Kemudian PT Satria Sejati Multi Industri memindahkan pabriknya dari Bandung Barat ke Kota Bandung, pada 2006. PT Honey Lady memindahkan pabriknya dari KBN Cakung ke Bawen Jawa Tengah, pada 2007. Pemindahan PT Sepatu Bata dari Kalibata ke Purwakarta, pada 2008. Kecenderungan relokasi pabrik juga melanda beberapa negara di Asia Tenggara dan selatan, bahkan berlangsung sejak 1970-an. Tentu saja, pendirian pabrik Unilever dan Philips di zaman Belanda merupakan satu bagian dari ekspansi. Relokasi dan ekspansi merupakan salah satu strategiRead More →

Bambang TD, Abu Mufakhir, Syarif Arifin   Pendahuluan[1] Analisis mengenai keadaan pengupahan Indonesia mesti dimulai dari dua kebijakan, yaitu kebijakan upah minimum yang diberlakukan sejak 1980 dan lima tahun kemudian pembukaan kawasan-kawasan industri sebagai strategi utama menarik investasi asing. Sejak itu, Indonesia menjadi ‘kolam besar’ investasi asing untuk mendirikan industri manufaktur yang terintegrasi secara global, lokasi geografi yang strategis untuk menjangkau pasar Asia, dengan buruh murah yang tidak terorganisasi. Kebijakan upah murah telah mendorong terjadinya berbagai protes buruh di kota-kota industri seperti Tangerang, Bandung dan Medan, pada 1990-an. Pasca-Orde Baru, secara khusus dalam tiga tahun terakhir (2011-2014), perlawanan terhadap kebijakan upah murah semakin meluas. SetiapRead More →