Di 35 wilayah di Jawa Tengah, May Day dilaksanakan oleh lembaga tripartit daerah yang diikuti oleh pemerintah, organisasi pengusaha dan beberapa organisasi buruh. Kegiatannya diisi dengan jalan santai, panggung hiburan dan pembagian hadiah.  Tidak diketahui dengan pasti bagaimana acara tersebut berlangsung. Dalam lima tahun terakhir, Jateng merupakan salah satu wilayah relokasi industri dari Banten, Jawa Barat dan Jakarta. Sehari sebelum 1 Mei, Ketua Apindo Jateng Frans Kongi mengatakan kepada media massa bahwa perbaikan infrastruktur membuat iklim ekonomi semakin membaik. Ia pun menyatakan bahwa kenaikan upah minimum sebaiknya tidak terjadi setiap tahun. Barangkali, itulah yang dimaksud May Day is Fun Day dalam rangka menjaga hubungan harmonisRead More →

“Pak Polisi, dari pada panas-panasan ngatur lalu lintas yang macet,  mendingan sini join sama saya, kita main gaple saja!” (Mbah Ngatmin, tokoh fiksi). Polisi berdiri di perempatan jalan, berseragam, niup-niup peluit, berkeringat, haus, dan wajahnya penuh debu adalah satu hal. Sementara warga duduk di warung kopi, bergerombol sambil becanda ria, banting kartu gaple, dan membully yang kalah main dalam tawa yang renyah berderai, adalah hal lain. Kedua kejadian ini tidak bisa diperbandingkan atau dipertentangkan. Polisi yang berdiri di perempatan dengan segala kerepotannya adalah konsekuensi atas profesinya sebagai pelayan masyarakat. Mereka tidak pernah meminta untuk dikasihani. Justru mereka bangga dengan tugas itu sebab bisa jadi, mereka melewati prosesRead More →

Demonstrasi, rapat umum, peringatan 1 Mei, apalagi sembari menyanyikan Internasionale, tidak mungkin dilakukan di zaman Soeharto. Alih-alih menyediakan diri masuk penjara, bahkan mengantar nyawa. Karena buta sejarah, berhenti membaca dan malas berpikir, korban propaganda rezim Soeharto atau pendukung setia rezim Soeharto menyebut lagu Internasionale sebagai lagu komunis, bahkan menyebutnya sebagai, lagu PKI! Padahal Soekarno pernah berkata: “Apa lagu Internasionale itu hanya  dinyanyikan oleh komunis tok? Seluruh buruh! Komunis atau niet communist, right wing atau left wing, semuanya menyanyikan lagu Internasionale. Janganlah orang tidak tahu lantas berkata, siapa melagukan Internasionale, ee,  PKI ! God dorie! Lagu Internasionale dinyanyikan di London, di Nederland, di Paris, di Brussel, di Bonn, di Moskow,Read More →

Waktu belum menunjukan pukul 12.00 di seputaran Bundaran HI. Tetapi matahari seakan berada di ubun-ubun. Aku bersama lebih dari dua ratus orang anggota GSBI Tangerang. Kami berjalan di antara kerumunan orang berseragam organisasinya; ada yang berwarna hitam, merah, dan lain-lain. Dari tulisan di seragamnya aku tahu dari organisasi mana mereka berasal. Ada dari KASBI, FSPMI, PPMI, dan lain-lain. Agak sulit mencari titik kumpul massa GSBI. GSBI singkatan dari Gabungan Serikat Buruh Independen pada saat itu, adalah afiliasi dari organisasi yang kubentuk di pabrik. Panasnya hari ini bukan hanya karena sengatan matahari tetapi karena banyaknya orang-orang yang berkumpul, seperti semut. Kelak aku paham kalau orang-orang ituRead More →

Beberapa hari belakangan, di media sosial beredar surat edaran tentang May Day 2017. Kepala surat bergambar Garuda, stempel Kementerian Ketenagakerjaan dan tanda tangan Hanif Dhakiri itu ditujukan kepada Gubernur se-Indonesia. Melalui surat tersebut, Hanif Dhakiri berpesan bahwa kegiatan peringatan Hari Buruh Sedunia dilaksanakan dengan kegiatan positif berupa aksi sosial dan dialog, bukan aksi unjuk rasa. Kegiatan tersebut dilakukan oleh Lembaga Kerjasama Tripartit Daerah. Di surat tersebut juga dikatakan bahwa perlunya dialog dengan serikat buruh. Tema dialognya seputar ‘wawasan kebangsaan’, ‘nasionalisme’, ‘cinta tanah air’ serta ‘mengurai isu substantif yang diusung pada May Day’. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ‘aksi sosial dan dialog’ wujudnya adalah panggung hiburan, penanaman pohon,Read More →