-Merefleksi 13 tahun kematian Cak Munir- “Cak, kita ini hidup dalam situasi yang gawat. Melawan rezim tentara. Hidup kita setiap saat terancam oleh peluru. Pertanyaannya, siapa yang akan lebih dulu mati?” kenang Mas Bianto, pegiat buruh dari Surabaya, menirukan obrolannya[1] dengan Cak Munir pada puncak kekuasaan Orde Baru, sekitar 1993. Dengan berseloroh, Cak Munir menjawab, “Aku dhisik rapapa, Mas.” Artinya, ‘Aku duluan tidak apa-apa.’ Rasanya, selorohan itu menjadi sebuah penanda kesadaran bahwa semua punya risiko dibunuh. Entah siapa yang akan mengalami duluan. Sebelas tahun sesudah obrolan itu, Cak Munir pergi meninggalkan kita. Dialog tersebut muncul di tengah advokasi akan kematian Marsinah pada 1993. Mas Bi,Read More →