Syarif Arifin Beraktivitas di Lembaga Informasi Perburuhan Sedane (LIPS) Pengantar[1] “Selama tiga tahun, sebagai buruh kontrak, saya selalu shift malam. Sebulan dibayar sesuai UMK dan didaftarkan ke Jamsostek. Tidak ada tunjangan lagi. Jika order sedang tinggi semua buruh diwajibkan lembur. Per jam dibayar hanya dibayar Rp 15 ribu. Lembur mati. Sebagian besar buruh adalah perempuan. Gak ada cuti haid. Perempuan kena shift malam, tapi gak dapat jemputan. Sehingga sering dengar perempuan kena rampok ketika pulang kerja malam.”  (Abdi, buruh pembuat pakaian untuk Walmart di  PT Ghim Li Indonesia, November 2014) Walmart adalah sebuah toko yang berpusat di Amerika Serikat. Dengan slogan everyday low price, perusahaanRead More →

Alfian Al’ayubby dan Abu Mufakhir   PER TANGGAL 5 Januari 2015, sebanyak 400 buruh di pabrik sepatu olahraga PT. Nikomas Gemilang, divisi Puma, mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) secara bertahap dengan alasan efesiensi. Menurut salah satu sumber yang bekerja di divisi Puma, PHK massal tersebut terjadi karena penurunan pesanan yang tajam, bahkan mencapai persentase 90 persen, dari yang biasanya 1 juta pasang sepatu olahraga berkurang menjadi hanya 100.000 pasang.[1] Sebelumnya, pada November-Desember 2014 secara bertahap para buruh juga telah di-PHK dengan alasan yang sama: efisiensi. Total buruh yang di-PHK sejak bulan November 2014 sampai Januari 2015 diperkirakan mencapai 800 buruh. Manajemen Puma menyatakan bahwa jumlahRead More →