Reading Time: 4 minutes Oleh, Kokom Komalawati Sejak ditetapkannya kebijakan #kerjadirumah dan #belajardirumah, rata-rata buruh perempuan berkeluarga yang saya temui di Tangerang memiliki cerita yang sama. Mereka harus bersiasat dengan kebutuhan sehari-hari yang semakin mahal karena menghadapi bulan Ramadan dan Idul Fitri sekaligus harus menangani anak-anak belajar di rumah. Para buruh lebih khawatir kehilangan pendapatan dan pekerjaan ketimbang terpapar virus Corona. Awal Maret pemerintah mengumumkan kebijakan #kerjadirumah, #belajardirumah, dan #ibadahdirumah. Disusul dengan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Ketika kebijakan #belajardirumah berlaku, keluarga buruh pontang-panting. Mereka harus meluangkan waktu, menyiasati pengeluaran dan mengalokasikan energi menghadapi anak-anak. Serangkaian bujukan yang dibumbui ancaman mewarnai hari-hari anak-anak mengerjakan tugas-tugas sekolah di rumah.Read More →

Reading Time: 4 minutes Ficky Alfira Wiratman Aku bekerja di PT Grahawita Cendikia, perusahaan yang mengelola bisnis perhotelan, yaitu Hotel Santika Bogor. Aku bekerja sebagai steward di Departement Food and Beverage Product. Pada 22 Juli 2016 aku menandatangani kontrak kerja dengan status daily worker dengan gaji Rp 125.000 per hari. Dalam surat perjanjian tercantum hanya 8 jam kerja. Nyatanya, aku bekerja 12 jam per hari. Selama bekerja aku membeli sendiri atribut sebagai pekerja, seperti sepatu safety. Posisiku bekerja yaitu di dapur selalu berurusan dengan alat-alat dapur, pengoperasian mesin, chemical dan air. Alat dan bahan-bahan yang aku kerjakan turut merusak sepatu kerja. Lapisan kulit luar sepatu akan terlihat rusak danRead More →