Gerakan buruh di Indonesia perlu belajar dari Hong Kong. Di sini, aktivis buruh tidak mempertentangkan ‘pribumi’ dan asing. Sebaliknya, mereka justru bekerja dan berjuang bersama menuntut perbaikan kondisi kerja yang layak. Perayaan Hari Buruh Internasional (May Day) di Hong Kong 1 Mei yang lalu diramaikan oleh mobilisasi massa buruh Hong Kong dan tenaga kerja asing (buruh migran) [1]. Tidak ada perbedaan yang menonjol di antara ‘pribumi’ dan ‘asing’. Mereka membawa tuntutan yang sama: pembatasan jam kerja, perlindungan sosial yang universal dan gratis, penetapan upah minimum yang layak serta mendesak negara melindungi kehidupan pekerja. *** Pada pukul 09.00 sekitar 800 perempuan buruh migran yang tergabung dalamRead More →