Tahanan Politik Somyot Prueksakasemsuk Menerima Anugerah Buruh Jeon Tae-il

Siaran Pers Serikat Buruh Kesehatan dan Pengobatan Korea (KHMU)

5 November 2016

Prakaidao Phurksakasemsuk
Prakaidao Phurksakasemsuk bersama KHMU di makan Jeon Tae-il

○ Pada 5 November 2016 Ketua Yayasan Jeon Tae-il, Lee Soo-ho (mantan Ketua Konfederasi Serikat Buruh Korea/KCTU) mengumumkan Somyot Prueksakasemsuk, narapidana politik karena pandangan-pandangannya, sebagai pemenang anugerah buruh Jeon Tae-il yang ke-24.

○ Anugerah buruh Jeon Tae-il diberikan sejak tahun 1988. Hingga tahun lalu anugerah telah diberikan kepada tujuh individu dan 29 organisasi. Penerima anugerah diusulkan oleh individu dan organisasi buruh, namun keputusan akhir ditentukan oleh juri dari Yayasan Jeon Tae-il. Upacara penyerahan anugerah dilakukan setiap awal November, bertepatan dengan Pawai Buruh Nasional, untuk mengenang semangat perjuangan pahlawan buruh Jeon Tae-il. 

○ Anugerah kehormatan ini diberikan oleh kaum buruh kepada mereka yang sepenuhnya menghayati semangat perjuangan dari Jeon Tae-il. Penerima penghargaan adalah mereka yang telah memberikan andil penting bagi kemajuan gerakan buruh dan hak-hak perburuhan khususnya menyangkut pengorganisasian buruh; dan memiliki komitmen, moralitas, serta penghormatan dan kepercayaan mendalam terhadap kemanusiaan.

○ Anugerah Jeon Tae-il sebelumnya hanya diberikan kepada aktivis buruh atau organisasi dari Korea. Namun tahun ini Yayasan menyetujui untuk melayangkan anugerah ini kepada kawan seperjuangan dari Thailand, Somyot. Nama Somyot diusulkan oleh Serikat Buruh Kesehatan dan Pengobatan Korea/KHMU (Presiden: Yoo Ji-hyun). Dengan demikian, Somyot merupakan penerima anugerah pertama yang bukan berasal dari Korea.

○ Bersamaan dengan penyerahan anugerah ini, Yayasan memutuskan untuk memberikan anugerah khusus kepada Ketua Han Sang-gyun dari Konfederasi Serikat Buruh Korea/KCTU yang saat ini juga tengah ditahan. Karena kedua pemenang saat ini masih dalam penahanan, mereka tidak dapat hadir pada upacara penyerahan anugerah. Putri kawan Somyot hadir mewakili ayahnya pada upacara penyerahan anugerah tanggal 12 November 2016.

○ Pemenang anugerah, Somyot (55 tahun) lebih dari 30 tahun terlibat dalam gerakan buruh sebagai aktivis dan jurnalis, sebelum ditahan oleh penguasa militer pada 30 April 2011. Dia dikenai pasal lese majeste, dituduh melanggar undang-undang tentang penistaan terhadap Kerajaan. Pada 2013 Somyot dijatuhi hukuman 11 tahun penjara, namun kemudian dia dihukum lima tahun enam bulan penjara.

○ Somyot adalah pendiri dari Centre for Labour Information Service and Training (CLIST). Melalui organisasi ini, Somyot mempersatukan buruh dan menyelengarakan pendidikan untuk buruh dari berbagai industri (kimia, pakaian-jadi, kendaraan bermotor); guna membantu para buruh untuk membangun serikat yang demokratis dan menanamkan semangat solidaritas di antara para aktivis buruh. Selama ini Somyot menaruh perhatian khusus terhadap gerakan buruh demokratis di Korea, dan banyak bekerjasama dengan gerakan buruh Korea sejak tahun 1990-an. Dia ikut menyelenggarakan pelatihan dan program pertukaran pengalaman antara gerakan buruh Korea dan Thailand; selain menerjemahkan lagu perjuangan buruh Korea “March for the Beloved” ke bahasa Thailand. Lagu solidaritas itu sekarang dikenal luas di kalangan serikat buruh Thailand.

○ Somyot juga kerap memimpin berbagai kegiatan solidaritas internasional. Kapan pun KCTU mendapat hantaman dari pemerintah Korea, Somyot akan berpawai menyuarakan protes di depan Kedutaan Korea di Thailand.

○ Serikat Buruh Kesehatan dan Pengobatan Korean/KHMU pertama kali berjumpa kawan Somyot pada 2008, pada suatu program kerjasama pelatihan untuk para pemimpin serikat buruh Thailand. Sejak Somyot ditahan, KHMU bersama kelompok-kelompok sipil tiada henti menyerukan pembebasan Somyot. Bersamaan dengan pengumuman penyerahan anugerah ini, KHMU mendesak pemerintah Thailand untuk segera membebaskan seluruh tahanan politik di Thailand, termasuk kawan Somyot.

○ Jeon Tae-il (August 26, 1948–November 13, 1970) adalah seorang penjahit dari Pyeonghwa Sijang, Seoul. Dia adalah aktivis buruh ternama yang membakar diri untuk mendesak pengusaha agar mematuhi Undang-Undang Perburuhan Korea 1970. Para pendiri Konfederasi Serikat Buruh Korea menaruh hormat akan semangat pengorbanannya. Konfederasi serikat buruh demokratis menyelenggarakan Pawai Buruh Nasional pada setiap November untuk mengenang semangatnya. Ibunda mendiang Jeon, Lee So-seon (30 Desember 1929–3 September 2011) sepeninggal anaknya kemudian menyerahkan sisa hidupnya untuk membela hak-hak perburuhan dan demokrasi. Ibu Lee kemudian mendapatkan julukan “Ibunda para buruh.”

 

Sambutan dari putri Somyot,

Prakaidao Phurksakasemsuk, pada penyerahan anugerah bagi ayahnya, Somyot Prueksakasemsuk

Nov 13 2016,Seoul

Dengan rendah hati dan puji syukur saya menerima anugerah ini, mewakili ayah saya, Somyot Phurksakasemsuk. Saya ingin mengucapkan terimakasih yang tulus kepada Yayasan Chun Tae-il dan Serikat Buruh Kesehatan dan Pengobatan Korea untuk dukungannya.

Ayah sudah berjuang untuk membela hak-hak buruh sejak saya masih gadis kecil. Dia selalu sibuk, jarang tinggal di rumah bersama kami. Tapi, beliau adalah akivis buruh yang banyak dihormati. Tiga hari sebelum saya tiba di sini, ayah berkata bahwa dia tak akan pernah bisa menyamai kebesaran Jeon Tae-il.

Dia terpanggil sesudah mendengar kisah Jeon Tae-il. Kematian Jeon Tae-il mengingatkan orang banyak akan buruknya kondisi perburuhan, dan mempercepat pembangunan gerakan buruh di Korea Selatan. Tapi, kondisi perburuhan masih saja buruk. Itulah sebabnya ayah tergerak untuk mengikuti seruan Jeon Tae-il.

Sesudah dewasa, sedikit demi sedikit saya tahu pekerjaan ayah, mengerti apa perubahan yang ingin dia lihat di dunia, dan paham mengapa dia tetap berjuang, sampai akhirnya dia dipenjara. Jawabnya sederhana saja. Karena kita semua adalah manusia. Menjadi manusia adalah mengerti bahwa kita semua tidaklah sendiri di dunia ini, dan kita semua mampu membuat kehidupan kita dan kehidupan orang lain menjadi lebih baik. Itulah hakikat dari hidup.

Saya mengenal ayah dari membaca halaman depan surat kabar dan dari melihat banyak foto. Salah satunya adalah foto ayah sedang menyambangi makam Jeon Tae-il. Saya sulit percaya, hari ini saya berdiri tepat di tempat dia dulu berada. Saya tiba di sini bukanlah karena tiba-tiba. Saya berada di sini karena semua kerja keras ayah untuk memperbaiki kondisi hidup kaum buruh.

Terakhir, sebagaimana Anda semua paham, ayah sudah ditahan selama lebih dari lima tahun hanya karena beliau menggunakan haknya yang sah untuk menyampaikan pendapatnya. Saya tak akan berdiri di sini seandainya dia tidak dipenjara. Apa yang saya mintakan bagi ayah saya, dari Anda semua di sini, adalah dukungan semangat. Dari semua kawan-kawan Korea di sini. Kami ingin Anda semua mengirimkan surat dukungan, bagi keberanian dan bagi perjuangan panjang melawan penindasan atas kebebasan berpendapat di Thailand. Kirimkanlah surat dukungan itu ke alamat berikut:

Somyot Pruksakasemsuk

at Bangkok Remand Prison, Section 1 33 Ngam wong wan road, Ladyao, Jatujak, Bangkok 10900

Sekali lagi, terima kasih banyak.

 

Leave a Reply