Terima Kasih Serikat Buruh

Khamid Istakhori

 

 

Besok akan May Day, dan ini adalah May Day ke-16 sepanjang hidupku. Setelah May Day pertama di tahun 2001 bersama Komite Aksi Satu Mei 2001, maka perjalanan memperingati May Day seperti naik angkot di pinggiran kota Jakarta: kadang ngebut, kadang lambat dan bahkan ngetem di prapatan jalan.

Namaku Khamid Istakhori. Bekerja berganti-ganti pabrik. Sejak saat itu juga “mengenal serikat” dengan berbagai warna, ritme dan aroma. Ceritanya, masih sama kayak angkot Jakarta. Jatuh bangun bekerja di pabrik, di PHK, demikian pula serikat yang ku ikuti.

Tahun 1995 aku lulus STM Pembangunan di Temanggung,  jurusan Teknologi Hasil Pertanian. Ini STM hebat, sebab di negeri ini cuma ada 8 STM seperti ini dengan berbagai program kompetensinya. Programnya 4 tahun. Proyeksinya? Menyiapkan tenaga kerja yang mudah diserap industri. Maka ada program link and match, di mana lulusannya dicantolkan langsung ke pabrik.

Pada 1995 aku pertama bekerja di Wonosobo, di pabrik pengolahan jamur. Produknya di ekspor ke negerinya Obama. Kerja di pabrik ini aku langsung menjadi anggota serikat pekerja secara otomatis. Nama serikatnya SP. RTMM SPSI[1], PT. Dieng Djaya. Selama 7 bulan bekerja di sana, aku hanya tahu bahwa upah bulananku dipotong otomatis untuk iuran. Iurannya cuma 500 rupiah. Tapi, selama 7 bulan itu, aku tak pernah tahu apa aktivitas serikat. Yang aku tahu, nama ketua serikatnya adalah pak Farich. Pada bulan ke 7, ketika resign dari pabrik jamur ini, aku kaget, ternyata pak Farich yang tanda tangan surat pengalaman kerjaku sebagai manajer HRD[2]. Rupanya, lazim jika ketua serikat juga manajer HRD. Asyik kan?

Lepas dari Wonosobo, aku diterima kerja di Semarang. Sebuah pabrik pengolahan kopi yang sekarang terkenal dengan produk White Coffe itu. 26 bulan aku bekerja di sana, sampai akhirnya ter PHK karena krisis ekonomi dan jatuhnya Soeharto. Serikat di pabrik—PUK RTMM SPSI PT. ANM—bisa bikin PKB[3]. Tapi, selama 26 bulan itu saya tak melihat gebrakan apapun dari serikatnya kecuali hanya terlibat aktif dalam berbagai aktivitas seremonial. Malah, saya melihat serikat di pabrik ini seperti menjadi kepanjangan tangan perusahaan, menjadi event organiser-nya perusahan untuk acara-acara seperti 17-an, peringatan Maulid Nabi dan Halal bi Halal. Advokasi tidak jalan sebab ketika seorang buruh dipecat, mereka tidak melakukan apa-apa. Pendidikan juga tidak ada. Sampai akhirnya ketika pabrik tutup, kami berjuang menuntut pesangon.

Pada tahun 1998, setelah Ter PHK dari Semarang, saya dibantu Hendro untuk mengurus lamaran ke pabrik kertas besar di Karawang. Menunggu sebulan, saya diterima bekerja. Diawali dari orientasi pekerja baru, saya bertemu dengan ketua PUK KEP SPSI[4] PT. PDPPM, namanya Asep Zaenudin. Asep, dihadapan pekerja baru, bercerita panjang lebar mengenai hak dan kewajiban serta mengenai hubungan kerja yang harus harmonis. Sampai kemudian kami disodori formulir untuk mengisinya. Jadilah saya sebagai anggota serikat.

April 1999, pelataran pabrik yang besar itu riuh.  Seseorang, seperti kebakar amarah, mengajak pekerja di berbagai unit untuk demo. Rupanya, amarah itu disulut karena kenaikan upah yang tidak adil di pabrik kertas itu. Atas ajakan seorang kawan, saya terlibat dalam tim negosiasi. Aksi berakhir dan mesin bergerak kembali. Tapi kemarahan masih berlanjut. Kemarahan tetap ada karena bertahun-tahun serikat pabrik kertas tidak berfungsi dengan baik. Kira-kira demikian yang saya dengar dari pekerja yang sudah sangat lama bekerja di pabrik.

Paska demo, John Gabriel Situmorang,  pemimpin demo di PHK sampai masuk ke Perantaraan Disnakertrans Karawang. Kami mendampingi John dalam sidang hari itu. Asep Zaenudin juga datang, tapi anehnya dia berangkat bersama HRD dalam 1 mobil. Selama persidangan dia hanya diam. Sekali dua kali bicara, hanya mengiyakan apa yang dikatakan HRD.

Agustus 1999, melalui Musnik(Lub)[5], terbentuklah kepengurusan yang baru. Aku masuk menjadi wakil ketua. Sebulan sesudah kepengurusan terbentuk, datanglah 2 orang pengurus DPC[6] menemui kami, dan berbicara banyak hal. Intinya, kami bahagia karena ternyata kami punya orang tua untuk mengadu. Dalam pertemuan itu, saya bertanya bagaimana caranya untuk mendapatkan pendidikan dari DPC. Orang DPC mengatakan sampaikan saja permintaan, nanti mereka yang atur. Hari itu kami langsung merespon dengan meminta pendidikan secara resmi, dan sampai sekarang pendidikan yang  kami minta itu tidak pernah terlaksana.

April 2000, sesudah sekian bulan memimpin serikat, kami mendapat limpahan mandat  yang sangat besar. Rupanya, pekerja di pabrik begitu berharap agar pengurus serikat yang baru mampu mengatasi masalah-masalah lama di pabrik. Sampailah kemudian pada ritual tahunan kenaikan upah bulan April. Kenaikan upah tidak sesuai harapan, sehingga terjadilah mogok kerja yang sangat besar. Inilah mogok besar pertama yang aku ikuti, bukan hanya ikut tapi terlibat memimpin. Ibuku dari kampung menelpon, penuh khawatir bertanya kenapa ikut-ikutan demo. Aku menjawab bahwa aku tidak ikut-ikutan, tetapi menjadi pimpinan aksi mogok. Ibuku pasrah, ,” Yo Wis, ngati-ngati.”

Mogok terhenti karena perusahaan mengatur taktik meliburkan pekerja, sampai kemudian kami dipukul mundur. Pengurus dilarang masuk pabrik, kami terisolasi, kami pontang-panting. Dan selama kasus itu berjalan, kami tidak mendapatkan bantuan dari induk organisasi. Yang terjadi justru kebalikannya, ketika kami sedang berkutat dengan masalah besar ini, tiba-tiba, ketua PUK[7] kami beserta 14 orang lain menyatakan mundur dan mengambil pesangon. Atas dasar ini, kemudian DPC mencabut SK Kepengurusan kami, dengan alasan sudah tidak punya legitimasi. Atas dasar ini, kemudian kami mendapatkan kesulitan melakukan kerja advokasi. Perusahaan mengatakan kami sudah bukan pengurus sebab hanya tersisa 3 orang saja yaitu aku, Hendro dan Mutadi. Berbulan mengurus kasus, membuat kami seperti musafir yang bergerak ke sana kemari mencari solusi. 

Ah, itu kejadian tahun 2001 ketika kami terombang-ambing dan tertekan menghadapi pukulan korporasi dan tidak punya organisasi. Tapi, aku tidak mengira bahwa itulah awal aku tersesat dalam dunia persilatan yang keras ini, dunia serikat buruh yang keras tapi mengasyikkan. Itulah awal aku mengenal LBH Jakarta dan jaringan nasional yang masih terjaga sampai hari ini. Juga interaksi dengan serikat-serikat beraneka warna di dunia nyata.

Ah, Terima Kasih serikat buruh, sudah memaksaku menjadi kuat.

Selamat Memperingati Hari Buruh Internasional, May Day penuh gairah di tahun 2016 ini.

Sayup-sayup terdengar dari sebuah radio di angkot jurusan Cikarang yang aku tumpangi, sebuah lagu dangdut dari sang legenda Bang Haji Rhoma……  Lagunya berjudul Perjuangan dan doa :

Berjuang (berjuang)
Berjuang sekuat tenaga
Tetapi jangan lupa
Perjuangan harus pula disertai doa

 

 

Catatan

[1] Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan dan Minuman – Serikat Pekerja Seluruh Indonesia

[2] Human Resource Development

[3] Perjanjian Kerja Bersama

[4] Pimpinan Unit Kerja Kimia Energi Pertambangan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia

[5] Musyawarah unit kerja luar biasa

[6] Dewan Pimpinan Cabang

[7] Pimpinan unit kerja

Leave a Reply