Reading Time: 7 minutes
image_pdfPDFimage_printPrint

Oleh, Ilyas Gautama

Penyuka kucing dan film

Judul film: The International

Sutradara: Tom Tykwer

Penulis: Erick Warren Singer

Durasi: 118 menit

Rilis: 12 Februari 2009

Pemeran: Clive Owen, Naomi Watts

 

“You control the debt, you control everything” (Umberto Calvini).

Mendengar penjelasan yang keluar dari mulut pemasok senjata Umberto Calvini, Eleanor Whittman tersadar bahwa tujuan International Bank Business and Credit (IBBC) mendanai konflik bukanlah untuk mengendalikan konfliknya. Calvini berucap, tujuan utama industri perbankan adalah untuk membuat kita semua, dari orang biasa hingga negarawan sekalipun, bergantung pada hutang. Dan lewat ketergantungannya itulah, bank mengontrol semuanya, termasuk negara.

The International mengisahkan penelusuran jaksa asal Newyork Eleanor Whittman (diperankan Naomi Watts) dan agen interpol Louis Salinger (Clive Owen) terhadap kesepakatan bisnis IBBC dengan salah satu klien bank tersebut, yang berencana membeli sejumlah senjata misil percobaan dari Republik Rakyat Cina. Dengan menjual kembali senjata tersebut, IBBC berambisi menjadi satu-satunya perantara dagang, sekaligus mengendalikan semua pihak yang mereka danai dalam konflik.

Kisah bermula dari pertemuan rekan Salinger, Thomas Shcummer, dengan pembocor rahasia (whistleblower) bernama Andre Clement, di bawah hujan deras yang mengguyur pelataran parkir stasiun pusat Berlin pada 2008.

Di tengah kepulan asap rokok yang memenuhi kabin mobil, lewat kaca spion yang menggantung di kabin mobil, Clement menatap tajam ke arah Schummer.

“Jendela harus tetap tertutup,ujar Clement mencegah Schummer menurunkan kaca jendela.

Pria plontos tak ingin ada kecerobohan sekecil apapun. Clement sangat paham. Tindakannya membocorkan rahasia, untuk kasus sebesar ini, akan mengusik mereka yang berkuasa. Mereka tak akan tinggal diam. Bukan mustahil, dia sedang dalam incaran bidikan penembak jitu.

Dalam The International, IBBC digambarkan memiliki dana tak terbatas dan jaringan luas yang menjangkau pejabat di berbagai negara. Seperti IMF, Word Bank atau AIIB; bank yang berkantor pusat di Jerman ini memiliki kuasa serupa. Dan, selalu rapi dalam melancarkan kepentingannya.

Bagi mereka, Andre Clement dan Thomas Schummer hanyalah ibarat lalat-lalat kecil. Benar saja, umur mereka berdua memang tidak panjang. Setelah kematian Thomas Schummer dibantah oleh pejabat kepolisian Jerman, sekarang giliran polisi Perancis yang menjelaskan penyebab kematian Andre Clement sebagai kecelakaan tunggal. Sesudahnya, IBBC kembali melenggang menjalankan bisnisnya.

Uang dan Sarana Kekuasaan tak Terbatas IBBC sebagai Bank Internasional.

Dalam bukunya, Genealogi Kapitalisme: Antropologi dan Ekonomi Politik Pranata Eksploitasi Kapitalistik, Dede Mulyanto menjelaskan bahwa di dalam perekonomian kapitalistik, uang dianggap satu-satunya sarana hidup. Semua kebutuhan hidup hanya bisa diperoleh dengan perantaraan uang. Tanpa uang, tak seorang pun dapat memperoleh sarana hidupnya. Lembar-lembar kertas itu bahkan bisa membeli kebebasan dan kekuasaan.

Dalam hal ini, IBBC mewujud sebagai sebuah lembaga profit, dengan uang melimpah, mampu membeli kekuasaan. Kuasa inilah yang dipakainya untuk melancarkan kendali dan melanggengkan kepentingannya. Mereka mampu menyewa pembunuh bayaran dan menyuap pejabat kepolisian, untuk menghabisi siapa saja yang menghalangi kepentingan mereka.

Jika pada dua pembunuhan sebelumnya polisi tak berperan langsung, pada pembunuhan Calvini, polisi Italia berperan dominan. Mereka sendiri yang menyusun rencana dan menugaskan seorang mantan anggota Brigade Merah untuk membunuh Calvini. Ujungnya, penembak jitu ini justru dibunuh oleh pejabat kepolisian yang mengupahnya.

Dengan skenario licik ini, IBBC berhasil menyusun cerita seolah pembunuhan Calvini didalangi oleh organisasi Brigade Merah. Padahal, Calvini mati di tangan seorang penembak jitu lain. Pembunuh yang sama adalah juga yang menghabisi Shummer dan Clement, atas suruhan petinggi IBBC Wilhelm Wexler.

IBBC merentangkan tentakelnya tidak hanya pada struktur kekuasaan negara, melalui hubungan pribadi kliennya dengan para pejabat negara. Sebagai lembaga finansial international, bank ini menggelontorkan dana pinjaman ke berbagai negara, sebagai instrumen kontrol.

Hutang Dan Kontrol Terhadap Negara

Kalau kamu berhutang ke bank seratus ribu dolar, bank memilikimu.

Kalau kamu berhutang seratus juta dolar, kamulah pemilik banknya.”

pepatah Amerika (dikutip dalam Graber, Debt: The First 5,000 Years, 2011­).

Hutang adalah persoalan yang seringkali dibebani dengan urusan moral. Siapapun yang gagal membayar hutang, akan dikenai stigma negatif, dianggap tak bertanggung jawab. Tapi, bagaimana jika hutang ternyata lahir dari kondisi yang sengaja dibentuk? Dan bagaimana jika ada suatu kelas di masyarakat yang sengaja dikontruksi oleh kelas yang berkuasa untuk berhutang?

Dalam sebuah pertemuan di kantor pusat IBBC, justru tuan rumahlah yang menawarkan dukungan kepada sang tamu: Front Revolutionary Freedom (FRF), oposisi asal Nigeria yang sedang memerangi rezim berkuasa di negaranya saat itu. Skarseen, sebagai pejabat IBBC, tak hanya menjual senjata kepada kliennya. Ia bahkan menawarkan sejumlah bantuan logistik dan intelejen. Seluruh dukungan itu disepakati akan diperhitungkan sebagai hutang.

Hutang memiliki sejarah panjang sebagai alat kontrol dari kelas yang berkuasa terhadap kelas tertindas. Kemunculan hutang, menurut Graeber, bersamaan dengan lahirnya kepemilikan pribadi dalam masyarakat yang dipisah berdasarkan kelas. Mereka dari kelas yang berkuasa, menciptakan situasi dan kondisi untuk memaksa kelas yang tak memiliki apapun untuk berhutang.

Seiring perkembangan corak produksi yang terjadi di masyarakat, hutang dalam sistem kapitalisme telah memiliki fungsi tak hanya sebagai kontrol. Menurut Ellen Meiksins Wood dalam The Origin of Capitalism, keberadaan pasar dalam kapitalisme adalah sebuah keharusan. Lebih lanjut Wood menjelaskan, jika dalam dalam masyarakat pra-kapitalis, pasar lebih merupakan sebuah kesempatan (opportunities) bagi pembeli dan penjual; sementara dalam kapitalisme, pasar merupakan sebuah keharusan (imperatives). Agar tumbuh persaingan; agar dimungkinkan perburuan dan penumpukan keuntungan yang sebanyak-banyaknya.

Kembali ke The International, IBBC menawarkan paket dana, logistik dan persenjataan sebagai hutang, agar di kemudian hari jika oposisi FRF berhasil merebut kekuasaan, mereka dapat mempengaruhi kebijakan, birokrasi dan militer Nigeria. Maka, hutang adalah kendaraan bagi IBBC, untuk memastikan keberadaan pasar.

Menurut David Harvey (Neoliberalism and Creative Destruction, 2007), negara memiliki misi untuk menciptakan “iklim usaha yang baik” bagi akumulasi modal, tidak peduli dampak negatif sosial ekonominya. Selain tentunya perlu menjamin hak milik pribadi, dan kebebasan individu melalui privatisasi serta deregulasi, negara perlu juga menyiapkan militer, polisi dan lembaga-lembaga peradilan untuk menjamin semua itu bekerja. Untuk menggambarkan bagaimana masyarakat ditata untuk menjamin keberadaan pasar, film ini menggambarkan pelibatan pejabat-pejabat institusi kepolisian, juga kesepakatan antara pemasok senjata dan kelompok oposisi calon pembelinya.

Kesepakatan-kesepakatan semacam ini bukanlah turunan dari teori konspirasi, yang tak memiliki landasan nyata dalam berbagai konflik yang pernah ada. Untuk pengalaman Indonesia, tak sulit untuk mengatakan bahwa Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional memiliki jejak-jejak dalam pembantaian manusia tahun 1965, yang kemudian membuka lebar keran investasi asing di tahun-tahun selanjutnya.

Menurut Dani Setiawan, dalam CGI, Mafia Berkeley, dan Penghapusan Utang (dimuat dalam Indoprogress.com), Mafia Berkeley, sekelompok ekonom beraliran neoklasik, berpengaruh besar menentukan arah, strategi, dan kebijakan ekonomi Indonesia selama hampir 41 tahun sejak 1966-2007. Generasi pertama kelompok Mafia Berkeley terdiri dari Sumitro Djojohadikusumo, Widjojo Nitisastro, Emil Salim, M. Sadli, Subroto, Sudjatmoko, Barli Halim, Rachmat Saleh, dan Radius Prawiro. Mafia Berkeley sendiri memiliki jaringan internasional yang kuat dan luas seperti, USAID, IMF, Bank Dunia, dan Bank Pembangunan Asia (Ransom, 2006).

Dalam bukunya, Mafia Berkeley dan Pembunuhan Massal di Indonesia, David Ransom menuliskan peran Soemitro dalam meloloskan program Marshall Plan, sebuah program Amerika untuk membendung komunisme di dunia sebagai lawan dari kapitalisme. Pada awal 1949 bertempat di School of Advanced International Studies, Soemitro mengatakan sosialisme yang diyakininya adalah termasuk “akses seluas-luasnya” ke berbagai sumber daya alam Indonesia dan “insentif yang cukup” bagi investasi perusahaan Asing.

Setelah Soekarno menolak program stabilisasi IMF-WB dengan mengatakan “Go to Hell With Your Aid”, Mafia Berkeley bergerak untuk meloloskan hutang tersebut dengan melaksanakan program penggulingan Soekarno. Sebagai salah satu bagian dari Mafia Berkeley, Soemitro juga terlibat secara tidak langsung dalam persiapan kudeta Soekarno di tahun 1965 yang menewaskan jutaan manusia. Ia ditugaskan mempersiapkan regulasi-regulasi ekonomi pasca kejatuhan Soekarno dan mendidik para perwira di Sekolah Komando Angkatan Darat (SESKOAD) serta mahasiswa-mahasiswa di Fakultas Ekonomi UI, di mana ia menjabat sebagai dekan di sana.

Maka, dua tahun setelah kudeta, lahirlah Undang-Undang No.1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing. Salah satu yang berdampak panjang secara ekonomi dari regulasi ini adalah: memberikan kontrak karya kepada Freeport selama 30 tahun. Kontrak karya itu ditandatangani pada 7 April 1967. Hanya tiga pekan setelah Soeharto dilantik sebagai pejabat presiden.

Peristiwa ini mengingatkan pada salah satu adegan dalam The International, ketika Skarseen meminta imbalan dari FRF sebagai “rasa terimakasih dan upah dari teman yang sangat baik.Baik Indonesia pada 1966 maupun Nigeria, yang digambarkan dalam film tersebut, sama-sama dikendalikann oleh lembaga keuangan internasional, melalui satu demi satu paket pinjaman hutang.

Meski ceritanya dibangun dari narasi yang cukup kritis, alih-alih menyorot kebijakan ramah investasi dari negara neoliberal, The International terperosok menggambarkan persoalan ini sekedar sebagai peran dari oknum pejabat negara. Ini bisa terlihat dari cara sutradara menggambarkan bagaimana IBBC menyingkirkan pihak-pihak yang menghalangi rencananya. Pejabat-pejabat yang terlibat dalam pembunuhan digambarkan bertikai dengan pejabat lain yang mendukung Salinger untuk mengungkap kasus IBBC. Alih-alih melihat para pejabat kepolisian itu sebagai perwujudan institusi yang menjamin keberadaan pasar bagi IBBC, penonton malah disuguhi tontonan polisi baik –lawan- polisi jahat.

Sebagaimana film-film Amerika lainnya (semisal: Rambo, James Bond, dan Mission Impossible atau Sherlock Holmes), tokoh-tokoh antagonis juga digambarkan berlatar-belakang khas Timur Tengah, Eropa Timur; atau yang berideologi kiri. Jika dalam Sherlock Holmes para anarkis adalah kriminal, dalam film ini Whilem Wrexler digambarkan sebagai mantan anggota partai komunis Jerman yang pernah berkarir di dinas rahasia Stasi. Kepada Salinger, Whilem mengatakan bahwa sistem hukum yang ada saat ini tak akan mampu menyeretnya dan IBBC ke pengadilan. Sekalipun bisa, toh orang-orang dan bank seperti IBBC akan lahir kembali. Pernyataan ini terdengar kritis. Namun, ucapan dari mantan loyalis partai komunis ini terdengar seperti keputusasaan melawan kapitalisme.

Hingga di sini, agen interpol berkebangsaan Perancis ini akhirnya sepakat, memang mustahil menyeret IBBC ke meja hijau. Tapi, alih-alih mengikuti saran Wrexler untuk menempuh penyelesaian “di luar sistem,” Salinger justru memilih untuk memburu Jonas Skarseen. Untuk memuaskan hasrat membalas dendam akan kematian rekannya. Akhir film menegaskan pandangan sutradara, yang seolah ingin mengatakan bahwa melawan korporasi melalui jalur hukum formal adalah perbuatan sia-sia yang sangat berbahaya. The International berakhir sebagai film tenang balas dendam semata.

Pada momen pengejaran Skarseen, Salinger ternyata tak sanggup menarik pelatuk pistol yang sudah dia arahkan ke CEO IBBC tersebut. Di atas atap pemukiman padat di Timur Tengah, Salinger gemetar ketika Skarseen menantangnya untuk membunuhnya. Sesaat sebelum pistolnya memuntahkan peluru, suara tembakan terdengar dari arah belakang. Skarseen akhirnya mati, di tangan orang suruhan keluarga Calvini. Namun, IBBC tetap hidup dan kian menggurita. Tetap menjangkau dan mengendalikan negara-negara di berbagai belahan dunia.

Barangkali, yang menarik dari film ini adalah proses lobi untuk mencapai kesepakatan, -umumnya hanya diketahui oleh para pejabat, politikus dan aparat negara– yang digambarkan dengan begitu gamblang. Bahkan dalam situasi dan kenyataan yang paling kejam sekalipun. The International menggambarkan bagaimana dunia bekerja hari ini lewat tangan-tangan tak terlihat, yang juga mengendalikan hidup kita, dan yang menentukan apa yang pantas dan tidak pantas untuk kita.

Rujukan

Mulyanto, Dede. Genealogi Kapitalisme: Antropologi dan Ekonomi Politik Pranata Eksploitasi Kapitalistik. Resist Book, Januari 2012. Yogjakarta.

Graber, David. Debt: The First 5,000 Years. Melville House Printing, 2011. New York.

Ransom, David. Mafia Berkeley dan Pembunuhan Massal di Indonesia. Koalisi Anti Utang, 2006. Jakarta.

Wood, Ellen Meikins. The Origin of Capitalism. Monthly Review Press, 1999. New York.

David Harvey. Neo-Liberalism as Creative Destruction, dalam Jurnal Compilation Swedish Society for Anthropology and Geography, 2006. Dimuat di https://justassociates.org/sites/justassociates.org/files/neo-liberalism-as-creative-destruction-david-harvey.pdf, diakses pada 6 Februari 2020.

Baca juga:   Laissez Faire Regional, dari Maquiladora ke MEA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *