The Lady Lies, Siluman Dedemit

Bambang Dahana

 

Hari sudah malam, waktunya bersantai. Karena perut kembali lapar, saya ke dapur membikin nasi goreng, sementara komputer di meja kerja tetap memutar musik secara acak. Dari pengeras suara meluncur satu lagu lama, yang dulu sering saya dengarkan bahkan sampai berulang-ulang. Lagu berbahasa Inggris itu ditulis tahun 1978 oleh Anthony Banks.[1]

Judulnya The Lady Lies. Artinya, kira-kira, perempuan perayu penuh tipu daya. Yang saya sukai dari lagu ini adalah liriknya, yang aneh dan misterius, mirip dongeng. Tokoh baiknya adalah seorang laki-laki. Pahlawan kesatria yang rela menghunus pedang, untuk menyelamatkan seorang perempuan yang hampir dimangsa raksasa jahat. Si kesatria lalu menempuh perjalanan menembus hutan lebat gelap gulita, mengantarkan perempuan itu pulang ke rumah.

Setiba di tujuan, perempuan itu berkata:

Temanilah. Aku membutuhkanmu di sini.

Aku takut akan gelap, dan aku hidup seorang sendiri.

Akan kusajikan anggur dan makanan.

Dan satu hadiah istimewa lainnya. Jika kamu menginginkannya…

Hm, rayuan manis menggiurkan. Tersihir bujuk rayu tak tertahankan, si kesatria mengenyahkan firasat buruk yang sebentar lewat di benaknya. Dia tak tahu, perempuan itu ternyata semacam siluman dedemit! Nasib kesatria berakhir tragis di pelukan perempuan (eh, siluman) itu.

***

Di banyak tempat di Nusantara, ada beberapa cerita rakyat yang mirip dongeng The Lady Lies; cerita tentang orang baik dengan dengan niat dan tindakan yang baik, yang teperdaya bujuk rayu, lalu hidupnya dilanda kesusahan yang tak berkesudahan. Tapi saya cukup tahu bahwa di dunia perburuhan cerita bujuk rayu dan tipu-tipu semacam itu melimpah ruah.

Para pencari kerja, muda-mudi, datang dengan niat mulia; hendak memikul tanggung jawab, mandiri, dan membantu orangtua. Di antara mereka rela meninggalkan kampung halaman dan menuju kota-kota industri. Mereka adalah pahlawan yang disanjung di kampungnya, pahlawan kebanggaan keluarga, atau setidaknya pahlawan bagi dirinya sendiri. Mereka yang pergi lebih jauh ke luar negeri (Saudi Arabia, Malaysia, Hongkong, dan sebagainya) akan diberi gelar tambahan: pahlawan devisa. Sampai di sini, sungguh tak ada yang salah dengan niat baik mencari kerja dan bekerja. Bukankah bekerja itu mulia?!

Ada banyak cerita, bagaimana niat mulia dan hasrat kepahlawanan para buruh (dan calon buruh) dimanfaatkan sedemikian rupa oleh siluman dedemit. Siluman dedemit yang bekerja sendiri-sendiri maupun yang membentuk aliansi. Di kota industri Serang, Jawa Barat, gerombolan penyalur tenaga kerja ke pabrik-pabrik punya julukan agak khusus: Marlan alias Mafia Lamaran.[2] Semua mafia lamaran akan menjanjikan, ‘pasti diterima, kok,’ asalkan pencari kerja membayarkan uang jasa yang mahalnya mencekik. Beberapa janji adalah gombal, kondisi kerja sesungguhnya tidaklah seperti dijanjikan.

Cukup sering juga kita mendengar cerita tentang calo penyalur tenaga kerja bodong yang berkeliaran di pedesaan (Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dll), yang menjanjikan pekerjaan mudah bergaji besar di luar negeri. Termakan bujukan ‘kerja aja di Arab, supaya bisa naik haji dan membantu orangtua,’ banyak keluarga rela melepaskan harta benda  (menjual sawah, ternak), agar anaknya bisa bekerja di luar negeri. Ketika para buruh migran itu dalam kesulitan dan butuh pertolongan (tubuhnya disetrika oleh majikan, gaji tak dibayar dan barang-barang pribadinya dirampas), para calo penipu itu tak bisa lagi dihubungi. Para siluman dedemit itu sulit dicari, sudah sembunyi di kedalaman samudra laut selatan.

Di pabrik-pabrik, buruh dibujuk untuk meningkatkan produktivitas demi mengejar target produksi (yang terus menerus naik). Supaya buruh mau bekerja keras, beberapa janji diberikan. Ada janji kenaikan bonus, ada juga janji piknik bersama akhir tahun dan piagam penghargaan sebagai karyawan teladan. Lalu begitulah. Karena diminta untuk menjadi pahlawan produktivitas, para buruh melakoni jam kerja yang panjang: Kerja biasa plus kerja lembur. Kerja lembur atas kemauan sendiri atau terpaksa setipis sehelai rambut dibelah tujuh, karena saat menawari lembur supervisor memasang tampang dingin tanpa senyum. Kalau target produksi sedang naik, buruh-buruh garmen sampai terpaksa menginap berhari-hari di pabrik.

Bagi serikat buruh, sungguh bencana mematikan apabila pengurus serikat termakan bujuk rayu dedemit. Pengurus serikat yang disuap imbalan material (uang, kendaraan dan kenaikan jabatan) sering sanggup mengkhianati anggotanya sendiri. Entah dengan memuluskan proses pemutusan hubungan kerja dengan pesangon jauh di bawah peraturan perundangan atau menyetujui penangguhan upah.  Kalau proses pengkhianatan berjalan lancar, manajemen akan menaburi pengurus dengan pujian, sebagai “pemimpin yang bisa mengatur anak buahnya.” Itulah pujian kosong. Sejak kapan anggota serikat buruh dianggap sebagai anak buah/bawahan pengurus serikat?!

Dan, tahukah Anda, siluman dedemit ada kalanya tidak berwujud manusia. Tapi berupa perusahaan.

Sekitar tahun 1990-an, di sebuah perusahaan tekstil di Majalaya, Jawa Barat, seluruh buruh diberhentikan. Pemilik menyatakan bahwa perusahaan bubar, dan akan dijual. Kemudian datanglah pemilik baru, yang membuka lowongan kerja baru. Belakangan diketahui, si pemilik baru tak lain adalah saudara sekandung pemilik lama. Siasat lama ini tampaknya masih dipakai sampai sekarang, dengan perubahan kecil-kecilan di sana-sini. Sebuah perusahaan di Bekasi menghindar tanggung jawab hukum, dengan menyatakan diri pailit. Lalu berdirilah sebuah perusahaan baru, yang namanya mirip betul dengan perusahaan sebelumnya, yang sudah dinyatakan almarhum.

Siluman buruk rupa dan memanggil-panggil dengan tipu daya menggoda. Datang dengan diundang dan pergi tanpa pamit dapat ditemui di kawasan-kawasan industri semisal Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Cakung Jakarta. Pengusaha kabur. Pergi begitu saja. Lenyap ditelan bumi. Kemudian pemerintah dan pemesan barang alias buyer saling lempar tanggung jawab. Yang tersisa hanya aset rongsokan tak bernilai yang hanya diminati para pembeli besi kiloan. Kejadiannya dipastikan berulang; pengusaha kabur, negara dan pemilik merek saling lempar tanggung jawab. Dan, puluhan hingga ratusan buruh dibuat bingung, jengkel, dan melalui hari-hari buruk yang tak berkesudahan.

Cerita yang lebih baru datang dari sebuah pabrik di Tangerang. Sebuah perusahaan menyatakan diri sudah tutup untuk cuci tangan dari kewajiban membayarkan pesangon. Karena ditagih terus oleh para ter-PHK, perusahaan yang sudah wafat itu lalu menawarkan uang tali asih (yang besarnya pastilah jauh lebih rendah dari pesangon). Bayangkan! Mahluk yang sudah mati, bangkit kembali dari kuburan untuk menawarkan belas kasihan. Benar-benar siluman dedemit sejati.

***

Omong-omong, ada yang sedikit aneh. Kenapa siluman dedemit perayu ulung, dalam banyak cerita  rakyat selalu digambarkan sebagai perempuan cantik?  Padahal calo tenaga kerja dan Marlan, atau perayu yang membujuk pengurus serikat buruh, dan lintah darat bermulut manis, banyak juga yang laki-laki. Tapi pertanyaan itu rasanya terlalu sulit. Malam sudah terlalu larut, dan saya sudah kelelahan. Lagi pula, sesudah sepiring nasi goreng dengan telor mata sapi, kantuk menyerang dan saya jatuh tertidur. Nyenyak. Syukurlah siluman dedemit tak datang di mimpi saya. ***

 

Catatan

[1] Lagunya bisa didengarkan di link ini: https://www.youtube.com/watch?v=im_qBNsFdUk

dan lirik lagunya bisa dibaca di link ini: http://www.azlyrics.com/lyrics/genesis/theladylies.html

[2] Ulasan yang cermat tentang Marlan lihat di sini. Nikomas dan Jawara: Politik Pengendalian Buruh. http://majalahsedane.org/2014/03/nikomas-dan-jawara-politik-pengendalian-buruh/

Leave a Reply