Tidak Segemerlap Pergantian Tahun Baru

Minggu, 31 Desember 2017 adalah hari terakhir yang dilewati di penghujung 2017. Aku ibu rumah tangga yang aktif di organisasi buruh. Aku adalah satu dari 1300 buruh pembuat sepatu merek Adidas di PT Panarub Dwikarya Tangerang Banten, yang dipecat ilegal pada 2012. Sejak pemecatan kejam itulah aku mulai terlibat dalam kegiatan organisasi; terlibat rapat, diskusi, demonstrasi dan sebagainya.

Di hari Minggu ini aku bangun pagi, seperti biasa. Lalu melakukan aktivitas; menyiapkan makan dan bersih-bersih di rumah. Setelah itu ada jadwal yang sudah diagendakan sebelumnya; pertemuan dengan salah satu pimpinan yang sudah tidak aktif lagi di organisasi.

Namun sebelumnya harus briefing dulu dengan kawan-kawan lain di Sekretariat. Hari ini hujan dan pertemuan ditunda sampai hujan reda.

Dua jam kemudian hujan reda dan pertemuan siap dilaksanakan. Setelah agenda dilakukan kembali ke kantor Sekretariat, namun harus mampir dulu ke toko roti Mawar. Aku dan kawanku membeli tiga roti untuk mengganjal perut.

Hari ini tidak seperti hari-hari biasa. Orang-orang tampak sibuk dengan persiapan menyambut malam tahun baru; berlibur, menyiapkan bakar-bakaran jagung, ayam, ikan, berkumpul di pusat kota, dan ada pula yang berangkat karaokean.

Sementara aku, hanya berdua dengan temanku, di Sekretariat organisasi. Persis seperti tahun-tahun sebelumnya. Aku dan kawanku menghabiskan malam tahun baru di Sekretariat. Kami masih membicarakan dan mencari jalan keluar menyelesaikan persoalan yang menimpa kami.

Juli mendatang kasus kami mencapai enam tahun. Sejak pemecatan Juli 2012, nasib kami diombang-ambing. Rasanya hampir semua cara sudah ditempuh tapi tidak berbuah manis. Pemerintah seolah angkat tangan. Sementara pemilik merek, Adidas dan Mizuno melempar tanggung jawabnya kepada pemilik perusahaan. Pemilik perusahaan berkeras kepala dengan pendapatnya; buruh mogok ilegal dan hanya layak mendapat uang tali asih.

Kekejaman pemilik usaha PT Panarub Dwikarya tidak sekadar pendapat. Mereka mengirim ‘agen-agen’ ke kawan-kawan kami agar menerima uang dengan nilai tidak seberapa, yang disebut dengan uang tali asih. Sebagian dari kawan kami ada yang menerima uang tali asih tersebut. Perlahan kawan kami meninggalkan medan tempur. Saat ini kami hanya tersisa 345 orang dari total 1300 orang.

Tidak hanya itu, tersebar pula rumor lain. Parahnya rumor itu diungkapkan oleh beberapa pimpinan serikat buruh. Dikatakan bahwa sebenarnya perusahaan selalu bersedia bernegosiasi, tapi kami yang selalu menolaknya. Ada juga yang membuat gosip yang lebih menyakitkan. Katanya, perusahaan sudah bersedia membayar tapi kami menolaknya karena ingin menjadikan kasus ini sebagai ‘dagangan’ kepada jaringan buruh internasional.

Semua rumor dan gosip itu tidak benar. Hanya memiliki satu tujuan: menjatuhkan mental kami dan membuat kami terpecah belah. Faktanya, perusahaan selalu berdalih dan tidak bersedia bernegosiasi. Fakta lainnya, para pejabat pemerintah selalu mengatakan bahwa kasus kami sudah selesai. Padahal hidup kami tidak pasti!

***

Menghadapi pergantian tahun baru, keadaan begitu ngenes, “Oh, my God!” batinku. Di Sekretariat tidak ada beras. Tidak ada belanjaan apapun. Kosong. Iuran dari anggota tidak ada yang masuk. Sementara aku belum menerima upah dari tempat kerjaku. Saat ini aku bekerja di perusahaan, masih sebagai pembuat sepatu.

Malam itu, aku dan temanku hanya berbincang sambil minum teh. Sesekali memainkan telepon genggam. Tak lama kemudian aku bersiap pulang. Sebelum pulang aku teringat dengan beras tiwul yang didapat dari kawan yang bekerja di PT Panarub Industry dan baru pulang kampung. Besok aku akan masak tiwul.

“Mbak, malam tahun baru indah ya. Orang mah bakar-bakaran dan bersenang-senang. Kita mah masih mikir kalau besok mau makan sama nasi tiwul,” seloroh temanku.

Setelah membahas agenda buat besok, aku pun pulang ke rumah. Jarak dari Sekretariat ke rumahku sekitar sejam perjalanan normal. Tapi malam itu aku harus menghadapi macet. Orang-orang hilir mudik, berduyun-duyun, berkelompok, berpasangan; dengan jalan jalan kaki maupun menggunakan kendaraan bermotor. Semuanya memenuhi jalanan. Konon akan ada acara malam tahun baru di pusat kota Tigaraksa Kota Tangerang. Orang sebanyak ini berasal dari tempat yang berbeda. Mereka datang dengan sukarela. Tanpa surat seruan ataupun instruksi. Tidak pula memerlukan surat pemberitahuan kepada kepolisian sebagaimana kegiatan demonstrasi yang biasa kami lakukan.

Aku sampai di rumah dalam keadaan lelah. Energi terkuras di jalan. Aku hanya mencuci muka, menuju tempat tidur dan terlelap. Tidak tahu apa yang terjadi dengan pergantian tahun baru 2017 ke 2018.

Bangun pagi badanku terasa remuk. Kalender memperlihatkan tanggal merah. Aku? Aku mesti ke Sekretariat. Hari ini, 1 Januari 2018, aku dan kawan-kawanku mesti berkumpul dan membahas keuangan organisasi.

Aku pun berangkat ke Sekretariat. Setibanya di Sekretariat, aku merogoh saku. Ternyata, uang yang tersisa hanya Rp 23 ribu.

Hari ini aku memasak tiwul dan membuat sambel mentah lalapan labu siam rebus. Tak lama kemudian kawan-kawan yang lain pun berdatangan. Mengetahui di Sekretariat tidak ada apa-apa, kawan-kawan segera membeli beras dan telur. Ada pula kawan yang membawa kerang hijau seember. Semua bahan makanan segera dimasak. Sembari menunggu masakan matang, kami melangsungkan rapat. Rapat pun selesai dan ditutup dengan makan bersama-sama.

 

Baca juga:   Marsinah: Korban Orde Baru, Pahlawan Orde Baru

 

Ratna Indarti – buruh Panarub Dwikarya

Leave a Reply