“Pak Polisi, dari pada panas-panasan ngatur lalu lintas yang macet,  mendingan sini join sama saya, kita main gaple saja!” (Mbah Ngatmin, tokoh fiksi). Polisi berdiri di perempatan jalan, berseragam, niup-niup peluit, berkeringat, haus, dan wajahnya penuh debu adalah satu hal. Sementara warga duduk di warung kopi, bergerombol sambil becanda ria, banting kartu gaple, dan membully yang kalah main dalam tawa yang renyah berderai, adalah hal lain. Kedua kejadian ini tidak bisa diperbandingkan atau dipertentangkan. Polisi yang berdiri di perempatan dengan segala kerepotannya adalah konsekuensi atas profesinya sebagai pelayan masyarakat. Mereka tidak pernah meminta untuk dikasihani. Justru mereka bangga dengan tugas itu sebab bisa jadi, mereka melewati prosesRead More →

Pak M. Hanif Dhakiri yang terhormat, Membuka akun FB Kemenaker terkejut saya dengan slogan MAYDAY IS A FUN DAY. Bukan tidak sepakat dengan kegiatan kegiatan yang digagas pihak kementrian dalam merayakan Mayday. Lomba masak, lomba senam dan lain-lain bukan hal negatif untuk dilakukan. Tetapi bukan untuk merayakan Mayday. Pak M. Hanif Dhakiri yang terhormat, Mayday Is a Fun Day adalah kata-kata yang menyakiti kaum buruh. Bapak tentu paham sejarah may day, dan bapak tentu tahu bahwa delapan jam kerja yang hari ini dinikmati oleh kaum buruh bukan hadiah dari pengusaha ataupun penguasa. Delapan jam kerja yang hari ini dinikmati adalah hasil perjuangan dengan mengorbankan darahRead More →

Kenaikan harga BBM kembali membuat resah masyarakat. Seperti yang kita ketahui, di bulan Maret 2018 pemerintah kembali menaikan BBM jenis pertalite. Di Sulawesi Selatan (Sulsel) kisaran kenaikan sebesar Rp200. Keresahan masyarakat bukan tanpa sebab. Sudah menjadi fenomena alamiah, ketika BBM mengalami kenaikan, maka sebagai dampaknya harga bahan pokok pun akan terkena imbas. Sebab, biaya operasional untuk distribusi barang juga akan meningkat jika harga BBM naik, yang selanjutnya berpengaruh pada kenaikan harga penjualan di pasar. Gambaran ini secara jelas bisa ditemui di Sulsel. Pasca kenaikan harga BBM diumumkan, harga kebutuhan bahan pokok di beberapa pasar tradisional mengalami kenaikan seperti komoditas bumbu dapur, diantaranya jenis cabe danRead More →

Demonstrasi, rapat umum, peringatan 1 Mei, apalagi sembari menyanyikan Internasionale, tidak mungkin dilakukan di zaman Soeharto. Alih-alih menyediakan diri masuk penjara, bahkan mengantar nyawa. Karena buta sejarah, berhenti membaca dan malas berpikir, korban propaganda rezim Soeharto atau pendukung setia rezim Soeharto menyebut lagu Internasionale sebagai lagu komunis, bahkan menyebutnya sebagai, lagu PKI! Padahal Soekarno pernah berkata: “Apa lagu Internasionale itu hanya  dinyanyikan oleh komunis tok? Seluruh buruh! Komunis atau niet communist, right wing atau left wing, semuanya menyanyikan lagu Internasionale. Janganlah orang tidak tahu lantas berkata, siapa melagukan Internasionale, ee,  PKI ! God dorie! Lagu Internasionale dinyanyikan di London, di Nederland, di Paris, di Brussel, di Bonn, di Moskow,Read More →

Waktu belum menunjukan pukul 12.00 di seputaran Bundaran HI. Tetapi matahari seakan berada di ubun-ubun. Aku bersama lebih dari dua ratus orang anggota GSBI Tangerang. Kami berjalan di antara kerumunan orang berseragam organisasinya; ada yang berwarna hitam, merah, dan lain-lain. Dari tulisan di seragamnya aku tahu dari organisasi mana mereka berasal. Ada dari KASBI, FSPMI, PPMI, dan lain-lain. Agak sulit mencari titik kumpul massa GSBI. GSBI singkatan dari Gabungan Serikat Buruh Independen pada saat itu, adalah afiliasi dari organisasi yang kubentuk di pabrik. Panasnya hari ini bukan hanya karena sengatan matahari tetapi karena banyaknya orang-orang yang berkumpul, seperti semut. Kelak aku paham kalau orang-orang ituRead More →