MAJALAH SEDANE

Memuat halaman...

Sedane

Majalah Perburuhan

Bukan Sekadar Titipan

“Laa Ilaaha Illallaah”. Lafaz akhir azan Subuh terdengar. Entah di mesjid mana. Dan, untuk ketiga kalinya alarm di telepon genggamku berbunyi. Aku membuka mata: gelap.

Pagi ini aku kesiangan. Lebih setengah jam. Biasanya pukul 04.00 pagi aku sudah terjaga. Hari ini badan rasanya lelah sekali. Padahal kemarin libur hari minggu. Hari ini harus siap bekerja.

Kemarin tidak bekerja. Libur kerja di pabrik. Tapi, di rumah tidak. Pakaian kotor dan peralatan dapur bergerombol dan kompak melambai-lambai. Dari atas kursi, pakaian hasil jemuran dan gantungannya menatap sinis ingin diprioritaskan. Rumah mirip dengan kapal pecah: mainan bercampur dengan bungkus makanan kecil, dan geletakan sisa permen. Lantai rumah terasa lengket kalau diinjak. Tidak ada yang bisa aku andalkan untuk membantu melakukan pekerjaan rumah. Sementara aku, hanya memiliki waktu di hari libur untuk melakukan kerja-kerja domestik. Hidup diperantauan jauh dari sanak saudara. Tidak boleh bermalas-malasan.

Aku  perempuan single parent. Tiga tahun lalu memutuskan bercerai dengan suamiku setelah bersama-sama melewati hampir 21 tahun. Suka duka kami lewati. Percekcokan adalah bumbu rumah tangga kami. Namun, perselingkuhan yang dilakukannya berulang kali membuatku menyerah. Kini, empat anak: tiga laki-laki dan satu perempuan berusia tiga tahun, aku urus semua.

Irana namaku. Orang memanggilku Ayuk. Ketika becermin terlihat garis-garis di sudut mata dan bibir. Rambut keperakan menyelingi rambut hitamku. Tampak jelas keriput di kedua tanganku. Jika bertemu teman lama seumuran, aku merasa masih muda. Masih kuat. Jika melihat anak-anak, aku sadar sudah memasuki usia Jelita alias jelang lima puluh tahun. Usia di mana kolestrol, asam urat dan berbagai penyakit lain menjadi sangat akrab. Beragam obat warung untuk meredakan pegal, linu, encok dan masuk angin adalah bestie yang selalu setia di dalam tas.

Pempek, durian, sungai Musi yang sangat akrab dengan masa kecilku. Di usia 18 tahun aku menginjakan kaki di tanah Jawa, di “Kota Seribu Industri Sejuta Jasa”,[1] Kota Tangerang Banten.

Kurang lebih 29 tahun aku mengais kehidupan di Tangerang. Empat pabrik sudah menghisap tenaga dan pikiranku. Pertama kali aku bekerja di pabrik pembuat sepatu merek Filla. Pabrik tersebut tutup. Kemudian aku pindah ke pabrik garmen. Pabrik itu buruk karena bekerja terlalu lama: lebih dari delapan jam per hari. Aku pindah lagi ke pabrik sepatu lainnya. Lagi-lagi pabrik tutup karena manajerialnya buruk. Akibatnya buruh sering demonstrasi.

Saat ini, aku kerja di pabrik pembuat sepatu merek internasional, Nike. Aku dapat bertahan di pabrik ini selama delapan tahun. Dibanding pabrik lain, tempat kerja saat ini relatif lebih baik. Kerja-kerja serikat buruh memperlihatkan hasil yang dapat dinikmati buruh. Lagi pula, di usia setengah abad tidak mungkin aku mendapat pekerjaan baru di tempat lain. Karena pabrik lebih suka merekrut buruh muda, patuh, dan ikhlas dibayar murah.

Hidup sendiri atau bersuami, aku rasa tidak berbeda. Kenapa? Ketika bersama suami semua kebutuhan dan pengelolaan rumah tangga menjadi tanggung jawabku. Jika terjadi kesalahan di rumah, akulah yang pertama dipersalahkan. Suamiku kerja sebagai buruh di mal. Upahnya setengah dari upahku. Dari upahnya yang sedikit itu, ia sisihkan sedikit untuk membantu keluarga. Sisanya gajinya entah kemana. Sekarang pun tidak jauh berbeda.

***

Udara pagi menyelinap melalui kaca jendela. Menusuk tulang dan menggodaku untuk kembali ke balik selimut. Suara kodok dan jangkrik bersahutan di belakang rumah seperti menyuruhku tidak beranjak dari tempat tidur. Aku menahan diri. Pukul 4.50 pagi aku bangun.

Aku bersiap kerja. Setengah lima, waktu yang terlalu pendek untuk menyiapkan segalanya. Hanya sempat menanak nasi. Aku mengintip isi kulkas: ada ayam ungkep, tahu dan tempe, yang sudah aku masak kemarin. Aku merogoh dan menyimpan uang di atas kulkas. Aku membuka telepon genggamku dan mengirim pesan Whatsapp ke anak sulungku, yang masih terlelap. Mengingatkan dia agar membeli makan siang untuk adik-adiknya di Warteg (Warung Tegal) depan gang. 

Pukul 6.00 pagi aku berada di lautan kendaraan bermotor. Seperti para pembalap, sepeda motor dan mobil dengan kecepatan tinggi saling menyalip. Adu cepat takut terlambat masuk pabrik. Tak hirau dengan keselamatan. Lebih takut dipotong upah dan dihardik atasan. Suara klakson berhamburan memekakan telinga.

Pukul 6.30 pagi aku tiba di depan pabrik. Di kanan dan kiriku, berderet meja dagangan: ada cilok, gorengan, tahu gejrot, sayuran mentah, buah-buahan, pakaian, sandal sampai bumbu dapur tertutup. Semuanya berdesakan dengan pejalan kaki, sepeda motor yang melintas dan angkutan umum yang menurunkan penumpang di bahu jalan.

Pemandangan yang sama akan terlihat pukul 4.30 sore, saat pulang kerja dan pergantian shift kerja jam kerja, pukul 8 malam. Masuk dan keluar kerumunan, berdesakan sudah biasa aku temui ketika memasuki dan keluar pabrik. Gerbang pabrik mirip pasar tradisional.