Salah satu pertemuan penting di luar pertemuan tahunan International Monetery Fund (IMF) dan World Bank Group (WBG) di Bali adalah Forum Tri Hita Karana, yang dilaksanakan pada 9 – 11 Oktober. Kemudian disusul dengan pertemuan IMF-WBG pada 12 -14 Oktober. Seluruh kegiatan tersebut menelan pagu anggaran lebih dari Rp800 miliar. Dana yang relatif cukup untuk menyejahterakan guru-guru honorer yang mogok mengajar bulan September kemarin. Pertemuan Tahunan IMF-WBG dihadiri oleh hampir 20.000 peserta negara anggota IMF-WBG, investor industri keuangan dan sebagainya. Isu yang dibahas dalam pertemuan tahunan ini cukup luas; dari proteksionisme hingga persoalan gender. Pertemuan IMF-WBG ini selayaknya pertemuan multilateral tahunan, akan mengeluarkan resolusi, rekomendasiRead More →

“Bertahun-tahun saya rela masuk kerja lebih awal. Jam 6 pagi sudah bekerja padahal masuknya jam 7 pagi,” kata N, perempuan 41 tahun. Sembilan belas tahun N bekerja di PT Kaho 2 Bekasi Jawa Barat. “Apa balasan dari perusahaan?!,” nada N meninggi. “Line saya mengerjakan Nike,” cerita N bahwa dirinya bekerja di bagian sewing. “Pernah membuat celana pendek perempuan. Sejam harus selesai 200 potong. Kalau sehari bisa menyelesaikan 1800 sampai 2000 potong. Kalau membuat celana klub olahraga bisa mencapai 500 potong sehari. Kerjaanya keteter”. N mengetahui bahwa pakaian yang dibuatnya berharga mahal karena itu perusahaan dan Nike mendapat untung besar dari hasil kerja kerasnya. “Kalau bagianRead More →

Umat Islam seyogyanya bahagia ketika bertemu dengan bulan Ramadan. Berduka ketika bulan Ramadan berakhir. Demikian kata sebuah hadis Nabi SAW. Inilah bulan yang mulia, penuh ampunan dan kasih sayang. Bulan yang disarankan untuk diisi dengan baca Quran, berzikir, bersedekah, dan kegiatan ibadah lainnya. Tapi tidak demikian dengan orang-orang yang bekerja di perkantoran dan pabrik. Harap-harap cemas mengintai. Ramadan seperti pertanda buruk. Tiap jelang Ramadan diberitakan orang-orang kehilangan pekerjaan. Modusnya beragam. Ada yang putus kontrak, efisiensi, pengalihan hubungan kerja, jeda sementara, dirumahkan, dan istilah-istilah lain yang membingungkan. Kejadian demikian berlangsung lebih dari sepuluh tahun terakhir. Tepatnya, ketika peraturan perundangan memberikan kelonggaran merekrut tenaga kerja kontrak jangkaRead More →

Tulisan ini akan mendiskusikan siasat-siasat pemilik modal merespons kebijakan upah minimum pasca-Soeharto, periode yang disebut Reformasi. Di masa Reformasi perwakilan serikat buruh dilibatkan untuk merumuskan peraturan perundangan dan merumuskan kebijakan pengupahan. Lima belas tahun lalu, kenaikan upah selalu diperhadapkan dengan pungutan liar dan infrastruktur yang buruk. Kini jalan tol diperluas, perizinan usaha dipermudah, tapi kenaikan upah apalagi ditambah demosntrasi dikecam; ‘buruh tidak tahu diri’ dan membuat iklim investasi tidak kondusif. Studi-studi upah minimum umumnya memerhatikan dampak kenaikan upah minimum terhadap kelangsungan usaha dan penyerapan tenaga kerja (Rama, 2001; Priyono, 2002; Suharyadi, dkk, 2002, Papanek, 2015). Hal tersebut berangkat dari asumsi: sebagai kebijakan, upah minimum akanRead More →

Poster dan spanduk merupakan bagian dari atribut aksi massa. Melalui poster dan spanduk, organisasi menyampaikan sikap politik organisasi atau tuntutan. Mengajak masyarakat tergerak dan terlibat serta pihak yang bertanggung jawab bersedia memenuhi harapan yang diinginkan organisasi. Selama ini, poster atau spanduk demonstrasi diungkapkan dengan kalimat perintah negatif atau positif atau gabungan keduanya. Kata-kata yang dipilih antara lain: ‘Tolak!’, Stop!’, ‘Lawan!’, ‘Hancurkan!’ ‘Wujudkan!’, ‘Laksanakan!’ dan sebagainya. Empat tahun terakhir May Day, muncul jenis poster dan spanduk lain. Spanduk dan poster yang dibuat dengan kalimat pernyataan. Berikut adalah beberapa poster dan spanduk yang muncul dari May Day 2014. “Kurangi jam kerja Bapakku! Aku Bahagia Sama Bapakku!” PosterRead More →