“Pak Polisi, dari pada panas-panasan ngatur lalu lintas yang macet,  mendingan sini join sama saya, kita main gaple saja!” (Mbah Ngatmin, tokoh fiksi). Polisi berdiri di perempatan jalan, berseragam, niup-niup peluit, berkeringat, haus, dan wajahnya penuh debu adalah satu hal. Sementara warga duduk di warung kopi, bergerombol sambil becanda ria, banting kartu gaple, dan membully yang kalah main dalam tawa yang renyah berderai, adalah hal lain. Kedua kejadian ini tidak bisa diperbandingkan atau dipertentangkan. Polisi yang berdiri di perempatan dengan segala kerepotannya adalah konsekuensi atas profesinya sebagai pelayan masyarakat. Mereka tidak pernah meminta untuk dikasihani. Justru mereka bangga dengan tugas itu sebab bisa jadi, mereka melewati prosesRead More →

Pengantar[1] Hak cuti haid diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (UU Ketenagakerjaan). Pasal 81 menyatakan: (1) Pekerja/buruh perempuan yang dalam masa haid merasakan sakit dan memberitahukan kepada pengusaha, tidak wajib bekerja pada hari pertama dan kedua pada waktu haid. (2) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama.[2] Umum diketahui, meski sudah diakui dalam peraturan perundangan, tidak mudah mendapatkan hak cuti haid. Perempuan dipaksa untuk memperlihatkan surat keterangan dokter atau dipaksa memperlihatkan pembalutnya bahwa dirinya haid dan jenis-jenis pemeriksaan lainnya. Umum  diketahui pula, jika perempuan mengambil hak cuti haid, akan dituduh memanfaatkannya masaRead More →

-Merefleksi 13 tahun kematian Cak Munir- “Cak, kita ini hidup dalam situasi yang gawat. Melawan rezim tentara. Hidup kita setiap saat terancam oleh peluru. Pertanyaannya, siapa yang akan lebih dulu mati?” kenang Mas Bianto, pegiat buruh dari Surabaya, menirukan obrolannya[1] dengan Cak Munir pada puncak kekuasaan Orde Baru, sekitar 1993. Dengan berseloroh, Cak Munir menjawab, “Aku dhisik rapapa, Mas.” Artinya, ‘Aku duluan tidak apa-apa.’ Rasanya, selorohan itu menjadi sebuah penanda kesadaran bahwa semua punya risiko dibunuh. Entah siapa yang akan mengalami duluan. Sebelas tahun sesudah obrolan itu, Cak Munir pergi meninggalkan kita. Dialog tersebut muncul di tengah advokasi akan kematian Marsinah pada 1993. Mas Bi,Read More →

Suasana di ruang rapat masih sedikit ramai. Pak Fredi, Ketua Serikat, berniat membacakan poin-poin keputusan rapat. Dengan suara sedikit berat berwibawa, dia membaca beberapa keputusan: 1. Sumber keuangan yang utama adalah iuran dari anggota. 2. Pengurus tidak boleh menerima pemberian dari pihak lain semisal HRD atau Apindo atau pengacara perusahaan. 3. Pengurus harus menjaga nama baik organisasi dengan tidak korupsi, memakai uang iuran untuk urusan pribadi atau meminjam uang kepada anggota. Sesudah keputusan dibacakan, Pak Fredi bertanya,” Baiklah, sebelum rapat kita tutup apakah ada pertanyaan atau tambahan?” Dari sudut meja, Komar mengacungkan tangan meminta izin bicara. Setelah dipersilakan, dia berkata. “Bulan ini pengeluaran keluarga sayaRead More →

Emid Suhamidin, sore itu mengenakan kaos warna merah yang dipakainya dalam aksi May Day 2017. Itulah adalah May Day pertamanya sepanjang hidupnya dan sepanjang karirnya sebagai buruh. “Saya bangga, bersatu dalam barisan panjang berwarna merah dengan panji-panji perjuangan serikat,” ujar Emid. Peringatan May Day yang heroik, membekas dalam ingatannya sebagai buruh bahwa perjuangan tidak boleh terkungkung dalam tembok pabrik saja. Haruslah keluar dalam sekat-sekat dan bersatu dengan kekuatan yang lebih besar lagi dalam sebuah tema: Buruh untuk Rakyat. Apa yang membuatnya berkeputusan untuk berserikat? Pertanyaan ini dijawab dengan sederhana saja. Dia dan kawan-kawannya tidak mau hidup dalam belenggu yang membuatnya bodoh. Di pabrik, tenaganya sudahRead More →