Tidak lama setelah melahirkan anaknya, Intan (33 tahun) pergi ke Hong Kong mencari nafkah sebagai pekerja domestik. Intan ingat betul detail proses yang ia tempuh untuk menjadi pekerja domestik. “Saya mengetahui ada kesempatan kerja di Hong Kong dari sponsor yang merupakan tetangga di desa,” ujar Intan yang berasal dari Semarang. “Kamu kan butuh uang, sudah kamu kerja saja biar dapat gaji,” sambung Intan menirukan tawaran dari sponsor. Sponsor atau Petugas Lapangan (PL) merupakan istilah umum yang digunakan untuk merujuk pada seseorang yang mencari calon buruh migran dari desa. Oleh sponsor, Intan kemudian dibawa ke ‘PT’. PT istilah harian yang merujuk pada Pelaksana Penempatan Tenaga KerjaRead More →

Gerakan buruh di Indonesia perlu belajar dari Hong Kong. Di sini, aktivis buruh tidak mempertentangkan ‘pribumi’ dan asing. Sebaliknya, mereka justru bekerja dan berjuang bersama menuntut perbaikan kondisi kerja yang layak. Perayaan Hari Buruh Internasional (May Day) di Hong Kong 1 Mei yang lalu diramaikan oleh mobilisasi massa buruh Hong Kong dan tenaga kerja asing (buruh migran) [1]. Tidak ada perbedaan yang menonjol di antara ‘pribumi’ dan ‘asing’. Mereka membawa tuntutan yang sama: pembatasan jam kerja, perlindungan sosial yang universal dan gratis, penetapan upah minimum yang layak serta mendesak negara melindungi kehidupan pekerja. *** Pada pukul 09.00 sekitar 800 perempuan buruh migran yang tergabung dalamRead More →